“Beres-beres terus ya,” ucap Andra pada Andini yang baru saja selesai membereskan sisa sarapan pagi.
“Aku pulang dari bengkel, langsung pergi kita.”
Pukul tujuh pagi, Andra keluar dari rumah. Ia berpamitan pada Andini untuk membawa mobil ke bengkel servis karena sudah lama mobil itu tak diservis. Bukan. Itu hanya akal-akalan Andra agar terlihat memiliki waktu untuk keluar rumah.
Jalanan hari Minggu tak terlalu padat di pagi hari. Ia bergerak melajukan mobilnya dengan sedikit kencang. Lelaki itu pergi ke hotel di mana Laura menunggu untuk dijemput, seperti yang dijanjikan oleh Andra semalam.
Andra keluar dari mobil setelah memarkirkan kendaraannya. Ia masuk ke hotel dan disambut dua resepsionis yang tersenyum ramah. Lelaki itu ingin naik lift dan menuju lantai dua, di mana kamar Laura berada. Baru saja ia melangkah dari meja resepsionis menuju lift, sebuah suara memanggilnya hingga membuat Andra berhenti.
“Mas Andra!” panggil seorang lelaki yang baru saja membuka pintu masuk.
“Hei, Dimas!” ucap Andra sedikit canggung. Namun, tetap ia sembunyikan rasa itu, karena yang kini berdiri di depannya merupakan adik iparnya.
Dimas tersenyum melihat Andra. Ia datang bersama seorang teman yang terlihat sebaya dengannya.
“Kenalin Abang ipar aku, Ga.” Dimas berkata pada Arga, teman yang kini mengulurkan tangan pada Andra. Andra tersenyum dan menjabat balik tangan yang terulur itu. Ada degup yang sedikit mengencang dalam dadanya, bukan degup karena jatuh cinta, tapi degup berlebih karena ketakutan yang sedang menyelimuti hatinya.
Ketakutan akan ketahuan sedang ingin menjemput seorang perempuan lain selain istrinya, kakaknya Dimas.
“Pagi-pagi di sini ngapain, Mas?” Dimas bertanya pada Abang iparnya. Ia penasaran kenapa sepagi ini Andra sudah berada di hotel, lelaki itu hanya butuh jawaban.
“Tadi, Mas lagi sarapan sama Iyan sama Andini, eh tiba-tiba si bos manggil nyuruh ke hotel ini. Ada perlu katanya.”
“Oh,” Dimas mengangguk-angguk mengerti. Bekerja sebagai karyawan tentu harus mendengar arahan dari bisa. Termasuk jika ia ingin bertemu di hari libur seperti ini.
“Kamu sendiri ngapain?” tanya Andra basa-basi. Sebenarnya saat ini ia ingin segera pergi dari hadapan Dimas. Takut jika tiba-tiba Laura muncul, atau gadis itu menelepon tiba-tiba. Bahaya!
“Aku nginap di sini semalam. Arga baru nyampe dari Sumatera semalam, sekalian aja check in bareng. Maklum aja, udah dari tamat SMA nggak ketemu, haha.” Dimas terkekeh di ujung kalimatnya. Ia merasa pertemuannya dengan Arga, seperti pertemuan antara cewek. Namun, yang namanya rindu tetap saja sama rasanya.
“Yaudah, Mas pulang dulu ya.” Andra akhirnya pamit dari hadapan keduanya.
Dimas mengangguk, “nitip salam buat Iyan ya, Mas.”
Andra mengangguk seraya mendorong pintu hotel untuk keluar. Ia menuju ke mobilnya. Andra mengeluarkan ponsel dan mengirimkan pesan untuk Laura.
[Turun sekarang ya! Abang di parkiran. Nggak bisa naik ke atas, tadi keserempet sama adik ipar.]
.
Laura berjalan ke sana ke mari di dalam kamar itu. Sesekali ia melirik ponselnya, masih menunggu Andra dengan hati yang resah. Pasalnya, ia tak punya sepeser pun uang jika harus membayar angkutan umum. Atau jika yang dikatakan Andra tentang bayaran kamar yang baru dibayar setengah adalah kebenaran, maka akan menjadi musibah baginya. Ia tak mengenal siapa pun di hotel itu, tak juga terbayangkan akan disuruh apa untuk membayar biaya kamar untuk semalam.
Tiba-tiba ponsel di tangan Laura berbunyi. Sebuah pesan masuk dari Andra. Laura membacanya dan mengerti. Ia segera mengambil tas dan turun dari kamarnya.
Laura juga harus bisa menjaga rahasia hubungan antara ia dan Andra. Meskipun kerap kali rasanya ia merasa serupa menjadi bayang. Namun, di dekat Andra selalu membuatnya menjadi lebih baik.
Laura tiba di parkiran. Gadis itu mengedarkan pandangan ke sana ke mari mencari sebuah mobil yang ia kenali. Mobil yang sering kali mengantar jemput dirinya pergi ke sekolah.
Laura membuka pintu setelah memastikan di mana mobil Andra berada. Setelah itu ia naik dan duduk di sebelah Andra.
“Takut ketahuan ya?” Laura terkekeh menatap Andra sejenak, lalu ia memasang seat beltnya.
Andra mengendikkan bahu. Ia tak tahu harus merasa takut atau bagaimana. Namun, yang pasti bayangan Iyan dan Andini saat ini memenuhi ruang pikirannya.
“Lagian kita juga nggak ngapa-ngapain,” ucap Andra sebelum menyalakan mesin mobilnya.
“Kalau ada ngapa-ngapain?” tantang Laura mengedipkan sebelah matanya. Itu membuat Andra menelan ludahnya dengan susah payah. Pesona Laura sungguh bisa menggeser kewarasannya.
“Jangan mancing!” sahut Andra.
“Mancing mah di sungai, masa iya mancing di mobil Abang,” tawa Laura pecah. Ia suka membuat Andra merasa gerah.
Sejenak Andra menatap Laura intens, kemudian ia condongkan tubuhnya menjadi lebih dekat dengan Laura. Andra menatap penuh cinta bola mata Laura yang cantik itu, membuat gadis itu bersemu dan menunduk diiringi degup jantung yang berlebih.
“Abang ...,” Laura memanggil lirih meminta Andra untuk berhenti bertingkah seperti itu. Gadis itu terlihat gugup dan meng ulum bibirnya sendiri.
“Makanya jangan mancing!” Andra tertawa melihat tingkah Laura yang gugup sekaligus ketakutan. Namun, ia sendiri memilih berhenti bukan karena Laura, tapi karena takut tak bisa menahan keinginannya sendiri untuk menyentuh gadis itu.
Mobil bergerak melintasi jalan raya, Laura dan Andra saling diam sejenak. Masih terasa degup jantung Laura yang membuat wajahnya menjadi merah.
Beberapa menit kemudian, keduanya tiba di depan gang rumah Laura. Andra menghentikan mobilnya. Ia tak berani mengantar Laura sampai di depan rumah, takut orangtuanya menduga yang bukan-bukan. Dari jarak beberapa meter Andra melihat rumah yang tak terlalu luas itu.
Rumah kontrakan yang dihuni Laura dan orangtuanya.
Laura melepas seat belt yang menempel di tubuhnya. Ia menghela napas panjang dan bersiap untuk turun. Lebih tepatnya bersiap untuk keadaan yang seperti berulang-ulang dalam hidupnya. Keadaan yang membuat kepala Laura hampir pecah karena mendengar keributan orang tuanya.
“Masuk aja, mereka pasti nungguin.” Andra berkata saat melihat raut ragu dari wajah Laura.
Dari beberapa meter, Andra melihat dua orang dewasa berdiri di depan pintu rumah Laura. Mama dan papa Laura berdiri begitu melihat sebuah mobil berhenti di depan gang. Lelaki dewasa itu melangkah maju saat melihat yang keluar dari mobil adalah anak gadisnya yang semalam tak pulang ke rumah.
“Laura!” teriak lelaki itu. Sementara Laura terus melangkah hingga sampai di depan kedua orangtuanya.
Tak ada cium tangan, tak ada pelukan. Laura hanya berdiri mematung di depan mama dan papanya.
Lalu, tubuh gadis itu sedikit terhuyung ke samping saat sebuah tamparan mendarat di pipinya.
Andra memegang pintu mobil, ingin keluar dari sana. Namun, ia urung dan memilih diam. Diam dan melihat gadis itu dipukuli dan dima ki. Ia takut jika keluar malah membuat masalah baru untuk Laura.
“Mela cur kamu ya, hah?” maki papa Laura.
“Pa!” Perempuan dewasa yang sejak tadi diam, kini meneriaki papa Laura, suaminya.
“Belain terus!” sergah papanya lagi.
Hampir saja pukulan kedua mendarat di pipi mulus Laura. Namun, sigap ditahan oleh mamanya. Sementara gadis itu menangis sambil meringis kesakitan. Namun, kilatan benci terpancar jelas di matanya. Andra yang melihat itu seolah tahu persis apa yang tengah dirasakan Laura kini.
Ada rasa marah dalam hati Andra, tapi untuk saat ini ia tak bisa melakukan apa-apa. Ia hanya tak bisa melihat gadis yang ia cintai terluka.
Andra menggeleng pelan, merasa ada yang salah dengan pikirannya. Ia ingin bertanya pada diri sendiri tentang perasaannya.
Cinta atau simpati?