Bab 32

1805 Kata

Bukannya tidur, Melisa malah berguling ke sana kemari, karena rasa gerah yang kini ia rasakan. Meskipun sebuah kipas angin telah menyala di dekatnya. Dan padahal, ia hanya menggunakan tanktop dan celana pendek di atas lutut. Hingga akhirnya, Melisa bangkit menuju dapur. Untuk mengambil segelas minuman. "Nan …," desah Adara. Saat Adnan mulai menancapkan miliknya. Satu kata yang diiringi oleh desahan dan erangan yang saling bersahutan, mengundang Melisa untuk berhenti di depan pintu kamar yang tertutup. Dari ventilasi Melisa melihat, hanya cahaya remang yang menyinari kamar tersebut. Kamar yang ditempati oleh Adara dan Adnan. Sekaligus tempat suara desahan yang menggoda indra pendengaran Melisa. Sekaligus suara yang membakar seluruh dadanya. Kembali menguatkan hati, Melisa melanjutkan

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN