Jesi begitu kesal dengan apa yang terjadi. Bahkan saat ini ia begitu malas untuk melanjutkan pekerjaannya. "Bagaimana bisa semuanya bisa gagal seperti ini. Apa yang mereka lihat dari Rere dan Adara? Sampai-sampai, segala cara yang kulakukan tidak ada yang berhasil. Ini lagi, adiknya Marcel. Pake acara mengancam aku segala. Yang dua ini saja belum bisa dipisahkan, ini mau nambah lagi," gerutunya. Sambil menghidupkan kembali komputer yang ada di hadapannya. "Sudah jam segini, tapi Adnan belum juga memanggilku. Ngapain sih dia di dalam sana?" Jesi melirik jam yang menggantung di dinding. Pukul setengah dua siang. Jam yang biasanya Adnan memintanya untuk masuk dan memberikan jadwal untuk besok. Karena pria itu tidak pernah mau membawa pekerjaan ke rumah. Sehingga ia akan berusaha mengerjak

