Nesya hanya bisa menurut ketika Alvino membawanya ke belakang Mushola. Seperti biasa tempat itulah yang akan mereka jadikan sebagai tempat untuk bertemu. Hanya ada mereka berdua di sana, tak ada orang lain yang mengganggu. “Mana?” Nesya hanya melongo saat melihat Alvino menengadahkan tangannya, bagai anak kecil yang baru saja minta dibelikan cokelat. “Apanya yang mana?” Tanya Nesya, pura-pura tak mengerti padahal dia tahu apa yang dimaksud Alvino. “Bekal makan siangku mana?” Nesya tanpa sadar meremas bungkus berisi gorengan di tangannya, tak menyangka pemuda itu benar-benar serius dengan ucapannya kemarin. “Jangan bilang kamu gak bawain aku makanan?” Nesya meringis, pemuda itu menebak dengan tepat. “Jadi benar ya kamu nggak bawain aku makanan?” “Maaf ya,” sahut Nesya, mera

