“Mas kenapa wajahmu mendadak takut seperti itu? apa ada sesuatu?" Sasa menelisik menatap wajahku yang menegang ini, sungguh ucapan sasa yang mengatakan ini adalah obat jantung membuatku dilanda ketakutan yang luar biasa. “Mas hey, jawab aku jangan diam seperti itu mas." Aku melirik menatap sasa, “Aku baik-baik saja sasa, sudah jangan pikirkan aku." “Huh, sasa menghembuskan nafasnya dengan kasar, kemudian sasa mengeluarkan handphonenya dan menunjukkan sesuatu padaku. “Mas, professor danil memintaku untuk datang kembali ke Amerika. professor danil sendiri yang akan membantuku untuk sembuh dari penyakit ini, professor mengatakan jika pengobatan dulu harusnya sudah berhasil tapi entah kenapa sel kanker itu muncul kembali." Aku langsung menegakkan punggungku, “Kamu akan pergi lagi? ak

