Jangan berbohong

1004 Kata
Aku menggapai handphoneku dan melihat pesan masuk itu, ternyata dari Sasa. ah ternyata dia sudah tiba di kantorku, aku yakin pasti dia sedang cemberut sekarang karena menungguku. “Sepertinya ada urusan penting yang harus mas selesaikan sayang, emmm kalau mas..." “Tidak masalah mas, pergilah. pekerjaan mu membutuhkanmu sekarang. jangan khawatir aku baik-baik saja." "Kamu yakin sayang? keadaan mu bagaimana, mas hanya takut kamu." "Sudahlah mas, pergilah aku hanya butuh istirahat sejenak nanti pasti keadaanku akan pulih." Aku mengangguk, khumaira memang wanita yang kuat. wanita tangguh yang sangat amatku cintai, tak sia-sia aku menikah dengannya. Aku mengecup kening khumaira dan mengecup kedua tangan nya, begitu juga dengan khumaira iya ikut mencium tanganku. Tak lupa aku berpamitan pada Saka, ah jagoanku walaupun dia masih kecil dia begitu bisa di andalkan. Saka aku letakkan di samping khumaira agar anaku itu tidur bersama ibunya, setelah memastikan semua aman aku lantas pamit untuk berangkat bertemu Sasa. "Sayang aku berangkat ya, jaga dirimu dan Saka aku akan usahakan pulang secepatnya." Khumaira mengangguk, tapi saat aku ingin berjalan keluar. khumaira menarik tanganku, dan mengatakan sesuatu yang membuat jantungku serasa tidak aman. Khumaira menatap ku dan berujar, “Mas aku sungguh mencintaimu, ku mohon jangan sembunyikan apapun dariku. Karena aku selalu berdoa untuk keselamatanmu, allah sangatlah mudah membuka suatu rahasia jadi aku mohon teruslah jujur padaku." Aku sampai tak bisa berkata-kata mendengar itu, ya allah apa khumaira tau soal Sasa? Tak ingin berlama-lama dengan situasi seperti itu, aku langsung mengiyakan ucapannya. meski aku mengakui ada ketakutan tersendiri di hatiku, aku takut khumaira tau dan iya meninggalkanku. “Iya sayang, mas tidak akan menyembunyikan apapun kita sudah saling berjanji untuk membangun rumah tangga ini dengan kejujuran." Khumaira tersenyum senang, “Terimakasih mas, aku percaya pada dirimu aku yakin suamiku adalah pria sholeh yang paham akan kewajibannya." “Cupp! aku berangkat sayang, Saka jaga mama ya nak." Aku langsung mempercepat langkahku keluar dari dalam kamar, dan langsung menutup pintu begitu saja tanpa ada lambaian hangat seperti biasa aku lakukan pada Saka dan khumaira. Aku bersender di pintu kamar sembari menarik nafas dalam, mendadak jantungku berdetak kencang jika mengingat ucapan khumaira tadi. drt drt! Aku mengangkat handphoneku lebih dekat untuk melihat siapa lagi yang menghubungiku, ternyata Sasa dia sudah kesal sekarang karena sudah satu jam menungguku. "Ah sudahlah ada yang lebih penting sekarang," Aku langsung memasukkan handphone itu ke dalam tas kantorku dan pergi dari sana. Ceklek (Tanpa Latif sadari ada seseorang yang membuka pintu dan menatap kepergiannya dengan tatapan sendu, berusaha untuk tegar atas segala hal yang mungkin secepatnya akan terjadi). ********************************************** Cittt! Ban mobilku terseret dengan kuat karena aku menekan rem mobil dengan kuat, dua orang yang ada di depan pintu kantor menatapku dengan pandangan berbeda. “Mas Latif!" teriaknya sambil melambai ke arahku, sebelum aku sempat turun dari dalam mobil. lebih dulu Sasa berlari menghampiriku. “Sayang! aku sudah lama menunggu mu," ujarnya sambil membuka pintu mobil. Aku tersenyum gemas melihat tingkahnya itu, tidak pernah berubah selalu seperti anak kecil yang butuh di manja setiap waktunya. Aku mengalihkan pandanganku ke arah kantor, salah satu rekanku yang juga seorang pengacara menatapku dengan pandangan berbeda. aku tahu pasti dia paham apa yang kini telah terjadi, dan aku yakin pasti Sasa sudah memberitahu padanya soal hubungan kami. Aku memberi kode padanya untuk tutup mulut, dan berjanji akan bercerita nanti padanya soal semua ini. namun, dia tidak merespon justru iya berbalik dan langsung masuk ke dalam kantor. "Sayang kamu lihat apa," tegur Sasa yang juga ikut melirik ke arah kantorku. “Ah tidak ada, kita akan kemana sekarang?" tanyaku mengalihkan fokusnya. Sasa langsung cemberut mendengar ucapanku, dia melipat tangannya sambil menatapku kesal. “Kenapa lupa, kita kan akan makan bersama dan juga pergi ke rumah sakit." “Ah iya benar, kita langsung berangkat saja ya," aku tak mau membuat nya lebih kesal langsung aku hidupkan mobil dan kami berangkat. Sepanjang jalan tak hentinya Saşa bercerita, sedangkan aku hanya ber oh saja membuat Saşa kesal. Bukan tanpa alasan aku seperti itu, tapi pikiran ku sedang terbagi pada Saşa dan juga khumaira terlebih sekarang teman ku juga tahu soal Saşa. “Sayang, kamu kenapa kok gak semangat gitu sih? ayo dong, dari tadi cuma jawab iya iya aja kalo enggak ngangguk doang!" “Gak kok, aku cuma mikirin kerjaan," jawabku sekenanya. Aku menopang kepala ku dengan sebelah tangan yang bertumpu pada jendela mobil, kepalaku terasa berdenyut nyeri sekarang. “Sayang, kamu sakit? atau ada sesuatu yang buat kamu pusing?" "Aku serius Saşa, aku cuma pusing karena pekerjaan!" “Huh yasudah, tapi temani aku makan ya setelah dari rumah sakit aku mau kita refreshing jalan - jalan ke tempat wisata." Aku hanya mengangguk tanda setuju dengan permintaannya itu, tak apalah untuk sekarang aku setuju lagipula aku tidak selingkuh karena menurutku hubunganku dan Saşa telah usai. Hanya tinggal menunggu waktu untuk aku mengatakan yang sebenarnya padanya. Sekarang Sasa masih butuh aku, tidak mungkin aku langsung mengatakan padanya bahwa aku telah menikah. Aku tak mau Sasa kecewa, lagipula apa salahnya sekarang aku berteman dengannya? yang penting aku tetap mengutamakan keluarga kecil ku. Kami akhirnya tiba di rumah sakit, Sasa menggandengku dengan mesra masuk ke dalam area rumah sakit. hemm entah kenapa aku merasa nyaman dengan hal ini. Serasa begitu cocok dengan Saşa karena dia dokter dan aku seorang pengacara, ah tapi bukan maksudku mengatakan aku tak cocok dengan khumaira. Khumaira lebih dari segalanya. Sepanjang koridor rumah sakit Sasa kerap di sapa oleh perawat dan juga dokter yang ada disana, wajar saja Sasa terkenal dan dia juga lulusan terbaik dari luar negeri. "Khumaira," gumamku. Tiba-tiba pegangan tanganku pada Sasa sedikit menguat, membuatnya sadar dengan perubahanku. "Sayang ada apa hey?" Sasa menepuk pelan lenganku dan ikut menatap memfokuskan pandangannya ke ara yang ku tuju. "Dimana khumaira, tidak aku tidak salah lihat tadi itu khumaira." “Lepaskan Sasa, tunggu disini aku harus mengecek sesuatu. Jangan pergi kemanapun, atau menyusulku." Aku melepaskan pegangan tangan Saşa dan langsung meninggalkan nya begitu saja, masih terdengar Saşa berteriak memanggil namaku. Tapi aku sama sekali tak berbalik padanya. Sekarang yang ku cari adalah khumaira, sayang kamu kah itu?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN