"Jika kau bertemu seorang Xenia, maka turutilah semua perkataannya!" perintah Tuan Daeron kepadaku, beberapa ratus tahun yang lalu.
Pesan itu hanya menjadi angin lalu, karena aku memang tidak pernah bertemu dengan salah satu dari para Xenia. Hingga akhirnya, wanita di depanku mengakui dirinya sebagai salah satu dari sepuluh Xenia.
Wanita ini memakai gaun berwarna biru muda yang panjangnya sampai menyentuh tanah, dengan belahan d**a rendah. Di kedua pergelangan tangannya, dia memakai banyak gelang berwarna emas yang berkilau.
Selain gaun yang tampak terlalu mewah, wanita ini memakai topi dengan tepian lebar dan rumbai hitam yang menutupi wajahnya. Wanita ini membuat pakaian Nuvian tampak seperti wanita pada umumnya.
Setelah mengucapkan salam dengan suara anehnya kepadaku, wanita ini membuka topinya dan menunjukkan wajahnya.
Aku hampir saja mengira bahwa dia adalah seorang elf dari klan Silinde. Dia memiliki kulit putih bersih, dan dua bola mata besar berwarna biru muda seperti gaunnya. Hidung dan mulutnya, juga begitu kecil. Melihatnya, membuatku teringat dengan para wanita warga Tekoa.
Satu-satunya hal yang membuat wanita ini gagal menjadi elf adalah warna rambutnya. Alih-alih berwarna pirang, wanita ini memiliki rambut berwarna hitam legam.
"Kita akan mulai dengan sebuah perkenalan," ucapnya sembari mengulurkan tangannya. "Aku adalah Eion, Xenia pelindung cinta, nafsu, dan harapan semua makhluk yang ada di Ueter."
Di antara sepuluh Xenia yang ada, aku selalu ingin bertemu dengan Cyprian, sang Xenia pelindung alam liar. Alasannya, karena aku ingin belajar langsung dari sumber alam liar itu sendiri, tentang cara paling mudah untuk menjadi satu dengan alam itu sendiri.
Konon, hanya Tuan Daeron yang pernah bertemu Cyprian secara langsung, sebelum akhirnya sang Xenia memilih untuk menemui Lass secara pribadi.
Setelah Cyprian, Xenia nomor dua di daftarku adalah Juri-ore, sang penyeimbang. Dia adalah satu-satunya Xenia yang tidak melindungi aspek apa pun di Ueter, karena dia adalah Xenia dengan peran paling penting di Ueter. Penyeimbang, begitulah Tuan Daeron memperkenalkan Juri-ore kepadaku.
Juri-ore bisa menjadi pribadi yang membalaskan dendam orang lain padamu, atau menjadi pemberi banyak keberuntungan padamu. Intinya, dia adalah makhluk yang paling bertanggung jawab untuk mengizinkan bencana atau keberuntungan menimpamu. Dia adalah wujud dari kata penyeimbang itu sendiri.
Keinginanku untuk bertemu dengan Juri-ore semakin kuat, di saat aku berperang melawan ribuan Ogrotso di Votlior. Di desa para buronan dan penjahat besar dari seluruh Adon, ternyata terdapat sebuah organisasi hebat yang dibentuk oleh sang Xenia sendiri. Serdadu Juri-ore.
Selama hidupku, aku selalu bermimpi untuk bertemu dengan pemimpin Serdadu Juri-ore, yaitu Orodreth, seorang legenda dari ras elf cahaya. Namun aku tetap bahagia, meskipun aku hanya bertemu dengan Wasita dan Gala. Mereka berdua memang menunjukkan Serdadu Juri-ore memiliki tingkatan yang berbeda, dari segi kekuatan dibanding manusia, bahkan ras lain.
Singkatnya, dari antara sepuluh Xenia, aku tidak pernah menginginkan untuk bertemu wanita di depanku ini. Bagiku, cinta, nafsu, dan harapan, bukanlah tiga aspek penting yang memerlukan seorang Xenia menjaganya. Tiga hal itu malahan menjadi penyebab banyak perang yang terjadi di seluruh Ueter, sepanjang garis waktu.
Cinta yang berlebihan, nafsu akan kekuatan yang terlalu besar, dan harapan mengalahkan musuh kuat, selalu menjadi alasan dibalik banyak perang besar yang terjadi di Adon dan Laustrowana.
Seharusnya, seorang Xenia yang menjaga tiga aspek penting itu, bisa mengendalikan peperangan, bukan malah memicu perang. Itulah alasanku selalu menempatkan wanita ini, di tempat terbawah dalam daftar Xenia yang ingin kutemui. Eion tidak terlalu penting, meskipun statusnya tetaplah seorang Xenia.
Aku menyambut uluran tangan Eion dengan enggan. "Eleandil," jawabku sekenanya. "Wakil Briaron, jenderal perang desa Tekoa, tempat tinggal para elf malam pimpinan Daeron."
Eion menyunggingkan senyum kepadaku, sembari menggoyangkan tangan kami yang saling menjabat. "Sebagai orang yang tidak terlalu ingin bertemu denganku, kau masih memiliki sedikit sopan santun," sindirnya pelan.
Terbiasa berbincang dengan Lid lewat pikiran, membuatku semakin sering mengutarakan perasaanku dalam hati. Aku sampai melupakan fakta penting, bahwa para Xenia bisa membaca pikiran makhluk hidup di bawahnya. Mereka memiliki kuasa sebesar itu, untuk menjaga keutuhan Ueter.
Selain itu, Lid yang biasanya mengoceh saat bertemu dengan orang baru, hanya diam tanpa kata. Apakah Eion bisa memisahkan Lid dan aku, saat dia membawaku ke dunia yang katanya berada di bawah kuasanya?
"Benar," ucap Eion bangga. "Pribadi lain dalam dirimu, kutinggalkan di dalam tubuhmu yang tergeletak di atas gurun Salayne. Sebagai informasi, tubuhmu sedang dalam keadaan sekarat. Pribadi lain itu, sedang mencoba untuk menyelamatkan tubuhmu."
Ucapan Eion pasti merupakan sebuah kebenaran. Dengan seluruh rasa sakit yang kuterima saat melawan sang ular raksasa, maka bukanlah sebuah hal yang aneh, jika tubuhku sekarang berjuang untuk hidup. Dan lagi-lagi, Lid adalah sosok yang berusaha menyelamatkanku.
"Jadi, ini tempat apa?" tanyaku.
Aku melihat ke sekelilingku. Aku baru menyadari sesuatu yang aneh, saat aku mulai fokus untuk memandang setiap detail benda-benda, juga peritiwa yang terjadi di sekitarku.
Dua prajurit berbaju zirah hitam yang menyusul teman mereka, hanya melewatiku tampak melihatku sama sekali. Bahkan, mereka bisa mengangkat prajurit dengan luka besar di kepalanya itu, dengan terlalu mudah. Padahal, beberapa saat lalu tanganku hanya menembus tubuhnya.
Mereka mulai menggotong teman mereka yang terluka, dan meninggalkanku sendirian. Apakah mereka tidak melihatku berdiri di sini, atau mereka takut untuk menyapaku karena keberadaan wanita aneh di sisiku?
"Tidak ada yang bisa melihat kita di sini," ucap Eion pelan. Wanita itu memandangi tiga prajurit yang berjalan menjauhi tempat kami berdiri, dengan sebuah senyuman yang tampak aneh.
"Aku membawa pikiranmu ke hutan besar yang berada di ujung barat laut Laustrowana." Eion menunjuk sebuah pohon besar yang menjulang tinggi di antara pohon yang lain. Aku merasa tidak pernah melihat pohon itu, sejak pertama kali sampai di sini. "Itu adalah pohon Aglos, yang merupakan tempat tinggal elf klan Faeron."
"Para prajurit yang tadi berlarian ke arahmu, adalah prajurit suruhan Raja Skardolav. Mereka memiliki misi untuk memaksa klan Faeron bertekuk lutut di bawah kedaulatan Skardolav, karena Knox butuh banyak pihak berada di bawahnya, sebelum berperang melawan Preant di timur." Eion mengangkat kedua bahunya. "Kebiasaan manusia."
Kedua mataku masih tidak bisa melepaskan pandanganku ke arah tiga prajurit itu. Perasaanku mulai campur aduk, saat Eion mengatakan kebenaran dibalik ketakutan mereka. Dan aku malah mencoba untuk menolong seorang penjahat yang memaksa klan Faeron, untuk berperang di sisi mereka.
Sebuah pertanyaan muncul di dalam pikiranku. Apakah kebaikan juga harusnya berdampingan dengan logika yang spesifik?
"Mereka berlari menjauh, karena klan Faeron memilih untum menyerang mereka?" tanyaku.
"Ternyata kau cukup tertarik soal hal ini," sahut Eion geli. Wanita itu menjentikkan jarinya, dan kami berpindah ke depan sebuah rumah kecil beratapkan jerami, yang berdiri tepat di mulut sebuah hutan.
Seorang pria tua dengan janggut panjang sedada, keluar dari dalam rumah itu. Aku melupakan fakta bahwa tidak ada seorang pun yang bisa melihatku, kecuali Eion. Aku bersembunyi di sebelah rumah itu, dengan iringan tawa dari sang Xenia pelindung cinta.
Tawa Eion perlahan memelan, selagi kami mulai mengikuti pria tua ini masuk ke dalam hutan yang berbeda dengan hutan sebelumnya.
Hutan di depan kami, memiliki pepohonan yang rindang, namun tidak terlalu rapat. Cahaya matahari bisa masuk dan menerangi bagian dalam hutan ini, sehingga kami bisa mengikuti si pria tua dengan mudah.
Pria tua di depanku memakai jubah yang terlalu panjang, jika dibandingkan dengan tingginya. Selain itu, dia juga tidak memakai alas kaki, sehingga telapak kakinya memiliki banyak luka yang masih segar.
Aku tidak tahu alasan Eion memindahkan pikiranku ke tempat ini, namun aku merasa bahwa sang Xenia ingin menunjukkanku sesuatu. Sesuai perintah Daeron, aku hanya perlu menuruti semua hal yang dikatakan oleh seorang Xenia. Nyawaku adalah taruhannya.
Tidak ada yang perlu kukatakan, sehingga aku berjalan dalam diam. Di sebelahku, Eion juga memincingkan matanya dengan raut wajah serius, dengan sesekali tertawa geli saat melihat si pria tua terhuyung karena tersandung akar pohon, atau ranting yang tergeletak di tanah.
Beginikah sang Xenia pelindung cinta, nafsu, dan harapan? Menertawakan kesusahan dan kemalangan seseorang, sambil menikmati dengan melihat orang itu dari belakang. Apakah aku terlalu berharap tinggi, saat membicarakan soal Xenia? Atau apakah Tuan Daeron tidak mengetahui fakta bahwa tidak semua Xenia, memiliki kepribadian yang baik seperti Cyprian?
Lamunanku terhenti, saat Eion menepukku pundakku pelan. "Ini adalah tontonan utamanya," ucapnya antusias. Dia menunjuk ke depan. Tempat terjadinya peristiwa yang membuat sekujur tubuhku menegang.
Ular raksasa yang menyerangku di gurun Salayne beberapa saat lalu, sekarang berada di hadapan si pria tua. Seperti terakhir kali aku melihatnya, ular itu mendengus pelan kepada si pria tua.
Namun bukannya berbalik arah dan lari, pria tua itu malah terus berjalan dengan tenang ke arah sang ular raksasa. Dari sorot mata si ular, hewan itu tidak tampak terganggu dengan kehadiran pria tua itu. Apakah mereka sudah saling mengenal?
Tindakan selanjutnya yang dilakukan si pria tua, membuatku langsung bergidik ngeri. Pertama, dia berlutut di depan hewan raksasa itu, lalu menyembah si ular hingga mukanya menyentuh tanah.
Selanjutnya, dia mengeluarkan sebuah benda berwarna merah yang meneteskan cairan merah pekat, dari saku celananya. Lalu, dia mengangkat tinggi, dan memberikan benda itu selayaknya sebuah persembahan, ke hadapan sang hewan besar.
"Kau bisa mendekat, untuk mendengar doa yang dia panjatkan," ucap Eion sambil menaikkan alisnya.
Aku beradu pandang dengan Eion untuk beberapa saat. Akhirnya, aku memilih untuk menuruti sarannya. Lagipula tidak ada ruginya bagiku, jika aku berhasil mendengar gumaman si pria tua yang ternyata adalah sebuah doa.
Rasa sesak terkumpul di dalam dadaku, bersamaan dengan semakin dekatnya jarakku dengan sang ular raksasa. Rasa sakit di betisku, masih terngiang dan bisa kembali kurasakan. Ular ini benar-benar memberiku trauma yang nyata.
Berbeda denganku yang masih ketakutan, si pria tua malah terus menerus bersujud di depan sang ular. Tidak ada ketakutan dalam dirinya. Sebaliknya, dia malah terus menatap hewan raksasa di depannya dengan tatapan memuja.
"Aku adalah orang berdosa," gumam si pria tua, yang hampit seperti sebuah rintihan. Dia terus menganggukkan kepalanya, sembari saling menggosokkan kedua telapak tangannya. "Ampuni aku yang adalah orang berdosa."
"Dia menyembah ular ini?" tanyaku kepada Eion yang memandangi si pria tua dengan senyum mengerikan di wajahnya.
Eion mendesis pelan, sembari menempelkan jari telunjuk di depan bibirnya. "Kau harus melihat ini semua sampai selesai," bisiknya lirih.
Aku berniat untuk mendebat Eion, sebelum si pria tua malah tiba-tiba berteriak nyaring, "Berikan aku kekuatan untuk mengambil alih Skardolav dari cucuku, Falereus!"
"Dia sudah melakukan hal bodoh, dengan mengikat perjanjian damai bersama Preant. Aku harus membatalkan perjanjian itu, lalu menjadi penyebab dari kehancuran Laustrowana dan Preant! Itulah takdir Skardolav, bukan malah menjadi kerajaan pembawa damai!" serunya lebih nyaring.
Pria tua itu bahkan merobek jubah kusutnya, dan menaburkan debu tanah di sekujur tubuhnya. "Kembalikan Skardolav kepadaku, dan aku akan membuatnya menjadi kerajaan yang ditaku—" Seruan pria tua itu berhenti.
Kejadiannya begitu cepat, hingga hampir tidak bisa ditangkap oleh kedua mataku. Ular raksasa yang disembah dan diagungkan oleh pria tua itu, malah melahapnya, selagi permintaanya belum selesai.
Di sebelahku, Eion malah tertawa terbahak-bahak sambil memegangi perutnya. Sedangkan aku masih diam terpaku, karena tidak bisa mengerti apa yang baru saja terjadi di depanku.
Sebelum otakku selesai mencerna peristiwa mengerikan beberapa detik lalu, ular ini malah memuntahkan tulang belulang ke depanku. Setelah itu, hewan raksasa itu masuk ke dalam tanah, dan pergi ke kedalaman hutan dalam bentuk bukit berumput yang bergerak.
Aku hanya bisa mengerjapkan mata dengan penuh kebingungan, atas apa yang dilihat oleh kedua mataku. Seseorang yang mengklaim bahwa dirinya adalah raja yang lebih baik daripada raja Skardolav saat ini. Pria tua itu mengaku bahwa dirinya adalah kakek dari raja saat ini.
Selain itu, dia bahkan mempersembahkan sebuah benda yang tampak menjijikkan kepada si ular. Bukannya terkesan, hewan itu malah melahapnya tanpa sisa. Sebuah ironi yang membuatku tercengang.
"Nafsu untuk kekuatan yang lebih besar, dan berujung kepada hukuman yang harus dijalani seumur hidup." Eion mendengus, lalu tertawa geli. "Mereka menginginkan terlalu banyak, sedangkan umur mereka hanya sampai di seratus tahun."
Dia beralih kepadaku, lalu menaikkan alisnya. "Bagaimana menurutmu?" tanya Eion. "Apakah para manusia sudah terlalu jauh, dalam memanfaatkan tiga aspek yang berada di bawah perlindunganku? Haruskah aku menghukum mereka?"
Permainan kata dari Eion, membuat maksudnya malah menjadi kabur. "Apa maksudmu dengan mempelihatkan semua ini kepadaku?" sergahku. "Apa yang kau inginkan dariku?"
Sang Xenia pelindung cinta, tersenyum sinis kepadaku. "Aku tidak membutuhkan apa pun darimu," gerutunya. "Namun hanya kau pribadi yang paling bersih di seluruh Ueter, sampai saat ini. Aku terpaksa menemuimu, karena aku diperintahkan untuk mencari Anx pribadiku."
Aku hampir menyelanya, namun aku langsung terdiam saat Eion mengatakan bahwa dia memilihku menjadi Anx baginya. Seseorang yang dia percaya, untuk menjadi wakil dari sang Xenia di Ueter. Apakah aku layak mendapatkan tanggung jawab sebesar itu?
"Bagaimana, kau bersedia?" tanya Eion sembari memberikanku sebuah mata anak panah, dengan rumbai berwarna merah. "Jika kau mengambil ini, maka kau bersedia untuk menjadi Anx bagi Eion, pelindung cinta, nafsu, dan harapan."