Bab 47 - Kemenangan Penuh Darah

1924 Kata
Di dalam ruangan gelap pun, aku masih kesakitan karena benda tajam yang menusuk kakiku. "Aku hanya bisa bertahan beberapa menit!" seru Lid yang sekarang mengambil alih kendali atas tubuhku. "Dan aku akan menggunakan waktu sempit ini, untuk mencoba kabur darinya!" "Terserah!" rintihku. Aku melihat betisku yang merupakan sumber rasa sakit ini, namun tidak ada luka sedikit pun. Bagaimana sebuah serangan bisa tetap membuatku kesakitan, meskipun aku sudah berada di dalam ruangan gelap, yang berada di dalam pikiranku sendiri? Lid yang mengendalikan tubuhku, juga terlihat sempoyongan. Namun, dia tetap memaksakan tubuhku untuk menjauhi ular raksasa yang semakin mendekat. "Sebenarnya serangan apa yang dilepaskan oleh ular itu?" tanyaku. "Aku juga tidak tahu!" balas Lid. Dari dalam ruangan ini, aku bisa melihat bahwa tubuhku sudah mencapai batasnya. Ular raksasa itu, pasti akan menangkap Lid sebentar lagi. Aku menyadari bahwa pertemuan dan perkenalanku dengan Lid, malah menyebabkanku terlalu bergantung padanya. Di saat hal-hal genting seperti ini, aku tidak bisa selalu mengandalkan Lid. Aku harus bisa menyelamatkan diriku sendiri, alih-alih terus membiarkan Lid menyelamatkan tubuhku. Namun niat untuk menolong Lid, hanya bisa menjadu niat tanpa tindakan. Aku hanya bisa berbaring di ruangan gelap ini, sembari menonton tubuhku bergerak menjauhi sang ular. Apa yang kutakutkan, akhirnya menjadi kenyataan. Ular raksasa yang mengejar di belakang tubuhku, masuk ke dalam lautan pasir, dan muncul di depan Lid. Bahkan dengan kekuatan klan Zabash pun, tetap tidak bisa menyembunyikan kecepatan lari tubuhku sudah jauh menurun akibat serangan benda tajam di kakiku. Sang ular raksasa menjulang tinggi di hadapan Lid, dengan napas pelan yang membuatnya tampak semakin mengerikan. Aku tahu bahwa kekuatan klan Zabash, tidak akan bisa menyelamatkan tubuhku. "Kembalikan kepadaku!" perintahku senyaring mungkin. Hanya mengucapkan dua kata itu saja, rasa sakit langsung menjalari seluruh tubuhku. Aku merasa seperti menerima tusukan banyak senjata di sekujur tubuhku. "Kau gila!" balas Lid dengan nada tinggi. "Entah kau atau aku yang mengendalikan tubuh ini, orang itu pasti akan mati! Masih ada kemungkinan bahwa tubuhmu masih hidup, jika kesadaran Eleandil juga masih hidup!" "Aku hanyalah pribadi yang kau ciptakan, di saat pikiranmu tidak mampu menanggung kekuatan klan Zabash. Jadi, tidak ada pilihan lain untuk situasi ini, kecuali membiarkanku mati!" sambungnya lagi. "Kembalikan!" bentakku tak sabar. Aku memusatkan pikiranku untuk kembali mengambil alih tubuhku. Lid masih bertahan dengan idenya, meskipun aku sudah mendesaknya untuk pergi. Dia sudah bertekad untuk mengorbankan dirinya, demi keselamatanku. Namun aku bukanlah pribadi yang bisa melihat orang lain mengorbankan dirinya untukku. Aku sudah terbiasa berjuang, untuk keselamatan banyak orang. Dan saat ini, aku akan memperjuangkan keselamatan kami berdua. Entah karena Lid yang mengalah, atau karena tubuh ini lebih menuruti perintahku. Aku berhasil mengambil alih tubuhku, dan berhadapan dengan makhluk besar ini sekali lagi. Kali ini, aku berada di posisi yang tidak menguntungkan akibat serangan pengecut dari ular ini. Kembali menguasai tubuhku, membuat rasa sakit di kedua betisku kembali menyelimuti seluruh bagian tubuhku. Aku melihat sumber rasa sakit ini, dan ternyata sebuah benda berbentuk putih kekuningan, menancap di betisku cukup dalam. Semoga saja tebakanku salah, karena benda ini begitu mirip dengan taring sang ular yang terus menerus dia pamerkan kepadaku. Saat aku berbalik, dua mata kuning yang besar, berada di depanku dan memandangiku tanpa berkedip. Ular ini sepertinya sedang menimbang untuk menjadikanku mangsa, atau sekedar membuatku menjadi mainannya. Untungnya aku mengingat peringatan Lid, sebelum aku memutuskan bertarung melawan hewan ini. Peringatan untuk tidak menatap mata sang ular, selama lebih dari tiga detik. Mengingatnya, membuat kepalaku langsung menunduk dan melihat lautan pasir di bawahku. Namun hal yang aneh malah terjadi dalam diriku. Momen ini seharusnya membuatku takut, dan tubuhku menegang. Dua hal normal yang terjadi saat kematian berada di depanmu. Tetapi dua hal itu tidak terjadi dalam diriku. Alih-alih berdetak sangat cepat, jantungku malah berdegup dengan kecepatan yang biasa. Tubuhku juga begitu tenang, meskipun aku berhadapan dengan makhluk yang tinggi kepalanya tiga kali lipat dari tinggi badanku. "Arator," gumam seseorang di telingaku, yang akhirnya kusadari sebagai suara dari Lidnaele. Aku hampir tidak mengenali suaranya yang terdengar begitu kelelahan, karena biasanya dia selalu terdengar bersemangat dan dingin. "Ambil Arator dari punggungmu, karena hanya inilah kesempatanmu!" imbuhnya lagi. Suara Lid semakin menghilang, hingga hampir tidak terdengar. Hanya beberapa menit menggunakan kekuatan klan Zabash, membuatnya langsung kehabisan energi sebanyak itu. Kepala sang ular, semakin mendekat ke depan wajahku. Hewan ini mungkin penasaran dengan alasanku menundukkan kepala, dan menghindari tatapannya. Saat ini, aku bahkan bisa merasakan napasnya berhembus di atas rambutku. Hembusan napas hewan ini, membuatku seperti terlempar ke dekat Mazrog. Tempat dengan bau paling busuk, yang membuatku menyesal pernah ke sana. Mazrog juag membuatku harus sedikit menghormati Tequr, karena bisa tinggal di markas dengan bau yang sangat busuk seperti itu. Karena hewan ini terus memandangiku, maka aku harus bergerak dengan sangat hati-hati. Aku tidak boleh membuat gerakan tiba-tiba, yang membuatnya langsung menyerangku. Tubuhku sedang tidak dalam posisi untuk bisa bertarung secara terbuka. Aku harus menyelesaikan pertarungan ini, dengan sebuah serangan mematikan. Aku menggerakkan tanganku dengan pelan, untuk mengambil tombak perak bernama Arator, yang tersampir di punggungku. Bahkan gerakan kecil ini pun, membuat rasa sakit dari betisku malah semakin menjadi-jadi. Aku hanya memiliki satu pilihan, memaksa diriku untuk menyerangnya dengan sisa tenagaku. Senjata Xenia, bukan hanya kabar burung. Saat telapak tanganku bertemu dengan gagang Arator, sebuah kekuatan yang menyakitkan, namun melegakan, seolah masuk ke tubuhku. Rasa sakit di sekujur tubuhku, bisa berkurang sedikit, hanya karena menggenggam Arator. Karena aku menundukkan kepala, aku tidak tahu apakah ular di hadapanku ini, melihat tangan kananku yang sudah menggenggam tombak perang di belakang punggungku. Tiga detik adalah batas akhirnya. Aku mendongak dan dengan sisa tenagaku, langsung melemparkan Arator ke arahnya. Sebuah tindakan yang membuat dua pupilnya membesar. Tubuhku terasa sangat berat, hanya karena melakukan konta mata dengan sang ular selama hampir satu detik. Namun, Arator berhasil kulepaskan dengan sekuat tenagaku. Harapanku hanya ada di Arator yang melayang di udara. Tubuhku sudah tidak sanggup bergerak, dan memberikan perlawanan lagi. Sekarang tergantung kepada para Xenia yang melindungi peperangan, atau alam liar. Aku jatuh terlentang ke atas lautan pasir yang terasa begitu nyaman. Sedangkan dari sudut mataku, aku bisa melihat Arator sudah menjadi ukuran yang sangat besar, hingga menembus bagian depan bibir sang ular, hingga belakang kepalanya. Sesuai harapanku, pertarungan benar-benar selesai. Ular raksasa yang di kepalanya tertancap Arator, akhirnya memejamkan dua matanya yang besar. Dengan sisa tenagaku, aku melihat kepala besar hewan itu, terhuyung dan menghantam pasir di bawahnya. Kekalahan sang ular raksasa, membuatku bisa memejamkan mataku untuk memberi tubuhku waktu beristirahat. Hari ini adalah pencapaian terbesarku, karena aku bisa mengalahkan makhluk sekuat itu sendirian. Sinar matahari mengintip dari sela-sela langit subuh. Kedua kelopak mataku mulai menutup, selagi cahaya fajar hari yang baru, datang untuk menerangi lautan pasir yang tandus ini. **** Aku terbangun di tempat yang jauh berbeda dengan tempat terakhirku memejamkan mata. Alih-alih berada di atas lautan pasir, aku malah berbaring di atas tumpukan jerami yang kasar, namun empuk. Di sebelahku, tidak ada bangkai ular raksasa yang kubunuh beberapa saat sebelum aku jatuh tertidur. Setelah aku mendudukkan diriku, aku mulai melihat sekelilingku. Tempat ini bukanlah gurun yang menjadi medan pertempuran antara aku dan ular raksasa. Aku sedang berada di sebuah hutan yang begitu mirip dengan Hutan Hitam. Deretan pepohonan rindang, yang membuat cahaya matahari, atau bulan, tidak bisa menerangi tempat ini. Rasa sesak yang menjalar di d**a, saat belum membiasakan diri di dalamnya. Terakhir perasaan curiga, karena selalu merasa diawasi oleh sesuatu. Semuanya mengingatkanku akan Hutan Hitam. Satu-satunya perbedaan tempat ini dengan Hutan Hitam adalah tanahnya. Hutan Hitam memiliki rumput yang tumbuh liar, dan menjadi makanan untuk banyak hewan yang tinggal di dalamnya. Sedangkan hutan ini malah memiliki tanah berwarna jingga kemerahan, dengan beberapa daun kering. Aku memutuskan untuk berjalan lurus ke depan, sambil berharap menemukan sesuatu yang bisa menjadi petunjuk keberadaanku. Meskipun aku kembali tersesat, namun kali ini hatiku terasa lebih tenang. Penyebabnya sudah jelas karena aku berada di dalam hutan. Daripada gurun yang tandus dan terkesan asing, aku lebih nyaman untuk berada di alam liar dengan pepohonan yang rapat. Aku merasa semua kemampuan terbaikku, bisa berada di puncaknya saat aku berada di dalam hutan. Ketenangan dan kebahagiaanku, membuatku berjalan dengan santai di dalam hutan ini. Aku mengenali beberapa jenis pohon, juga serangga yang kadang-kadang melewatiku. Hutan selalu menjadi tempat yang menarik bagiku. Seperti biasa, para Xenia sepertinya tidak terlalu senang, saat melihatku sedang ceria. Tiba-tiba suara derap langkah puluhan orang, datang dari sisi kanan, ke arahku. Mereka seperti sedang dikejar oleh sesuatu yang menakutkan, dan mereka tidak berniat untuk memperlambat laju dari lari mereka. Ketenanganku berubah menjadi kewaspadaan. Aku memilih untuk tidak mengeluarkan senjata, untuk menghindari pertarungan yang tidak penting. Yang kulakukan adalah bersembunyi di balik batang pohon paling besar, agar aku bisa mengamati alasan orang-orang itu berlari. Suara derap langkah itu semakin dekat, hingga akhirnya aku melihat wujud orang-orang yang dikejar. Para prajurit dengan baju zirah berwarna hitam, dengan gambar kepala seekor serigala abu-abu di bagian depan baju zirah mereka. Aku pernah melihat lambang itu di suatu tempat, namun aku tidak mengingatnya. Aku yakin bahwa lambang itu adalah lambang milik kerajaan di luar pulau Adon. Para prajurit itu berjumlah sekitar lima belas orang. Beberapa di antaranya, masih memakai helm dengan ujung mengerucut, sedangkan sisanya tidak memakai pelindung kepala apa pun. Yang mereka lakukan hanya satu, berlari ke arahku. Memiliki mata merah hasil adaptasi ratusan tahun di dalam Hutan Hitam, adalah sebuah kemampuan sederhana yang patut untuk kusyukuri lebih lagi. Ternyata kemampuan melihat dalam gelap, adalah hal yang penting, saat aku melihat tindakan para prajurit yang berlarian secara liar ke arahku. Mereka harus beberapa kali menubruk batang pohon, terjegal oleh akar pohon yang tumbuh hingga keluar dari tanah, bahkan menabrak teman mereka sendiri. Melihat dalam kegelapan, ternyata merupakan kemampuan yang penting. Keanehan dari peristiwa yang terjadi di depanku, dimulai saat para prajurit melewati pohon tempatku bersembunyi, satu per satu. Seorang prajurit yang tidak memakai pelindung kepala dan berada di barisan paling belakang, menabrak pohon dengan cukup keras, hingga dia terpental dan dahinya mengucurkan darah segar. Aku tidak berniat keluar dari tempat persembunyianku, karena aku takut akan memperkeruh suasana. Namun, para prajurit yang berada di depan, tidak menyadari satu temannya sedang berbaring dengan luka besar di dahinya. Selama beberapa saat, aku hanya melihat prajurit itu mengerang kesakitan di depan kedua mataku. Dan selama itu, tidak ada satu pun temannya yang kembali untuk mencarinya. Prinsipku sebagai seorang elf, akhirnya memaksaku keluar dari tempat persembunyianku dan mencoba untuk menolongnya. Aku tidak bisa meninggalkan seseorang yang terluka dan tak sadarkan diri di tengah hutan. Minimal, aku bisa membantunya menutup luka, juga menjaganya dari kemungkinan datangnya binatang buas. Dimulailah keanehan yang cukup menguncangku. Aku berlutut di sebelah si prajurit yang sedang terbaring tak sadarkan diri. Dengan sedikit pengetahuan soal sihir hutan, aku meletakkan tanganku di atas dahinya. Dan yang terjadi malah telapak tanganku menembus kulitnya. Yang paling parah, tanganku bahkan bisa menembus seluruh kepalanya. Aku langsung mencoba untuk memegang tubuhku sendiri. Anehnya aku bisa merasakan setiap bagian dari tubuhku. Aku mencoba untuk memegang prajurit itu di bagian dadanya. Hasilnya tetap sama. Tanganku menembus tubuhnya, dan malah berakhir menyentuh tanah. Apakah aku sudah berkeliaran sebagai arwah penasaran, akibat pertarunganku melawan sang ular raksasa? Sesuatu yang aku tunggu sejak tadi, akhirnya sungguh terjadi. Dua orang prajurit terlihat dari jauh, sedang berlari dengan wajah cemas ke arahku. Mereka pasti ditugaskan untuk menyusul, setelah pemimpin pasukan menyadari hilangnya satu orang. "Di sini!" seruku sembari melambaikan tanganku tinggi. Dua penyusul itu malah memeriksa sekeliling mereka dengan wajah yang semakin cemas. Mereka mungkin tidak mendengar seruanku. Aku harus melakukan sesuatu yang lebih baik. "Selamat datang di dunia saya, Tuan El," sapa seorang wanita, yang tiba-tiba berada di sebelahku. "Saat ini, Anda sedang berada di alam mimpi yang berada di bawah kuasaku. Jadi, dengarkan aku baik-baik!"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN