"Jangan terlalu memaksakan diri!" seru Lid di otakku.
Seruan Lid tidak terdengar seperti peringatan, melainkan lebih cocok disebut sebagai perintah. Nada suaranya membuatku merasa bahwa dia memaksaku melakukan perkataannya.
Di depanku, ular raksasa ini mencoba untuk melahapku dengan rahangnya yang begitu luas. Bagaimana aku bisa tidak memaksakan diri, selagi musuh yang ada di depanku adalah hewan buas dengan ukuran yang begitu besar?
Aku berguling ke kanan, sembari menusukkan tombak di tanganku, ke pipi sang ular. Sebuah serangan yang seharusnya melukainya, malah hanya memantul tanpa menimbulkan luka yang berarti.
Sebuah pelajaran penting bagiku, bahwa semua hewan raksasa selalu memiliki kulit tebal yang susah untuk ditembus senjata biasa. Masalahnya tombak di tanganku ini, bukan senjata biasa. Tombak ini adalah senjata para Xenia, yang seharusnya memiliki kekuatan yang besar.
Seranganku tidak menimbulkan luka, tapi malah membuat si ular semakin marah kepadaku. Hewan ini mencoba untuk mengejarku dengan sorot mata yang memiliki aura membunuh. Sang ular sudah bersungguh-sungguh untuk bertarung melawanku.
Kali ini ular raksasa tidak mencoba untuk melahapku, melainkan menyundul tubuhku dengan keras. Aku cukup terkejut dengan serangan langsung dari depan, yang dia lancarkan kepadaku. Untungnya tombak perak Normen, berhasil menjadi tameng yang tangguh bagiku. Bahkan, sang ular sampai memundurkan kepalanya, setelah menabrak gagang tombak ini.
Ada satu pelajaran penting, yang aku dapat dari pengalaman berburu selama ratusan tahun di Hutan Hitam. Bahwa seekor hewan buas, hanya akan mencoba untuk menggigit, jika mereka ingin mengusir orang asing dari teritorinya.
Para hewan buas seperti singa, harimau, serigala, atau para reptil, tidak selalu merasa senang, saat ada mangsa di depannya. Kadangkala, mereka malah mengusir para hewan lemah dari sekitar area kekuasaan mereka, karena waktu makan belum tiba. Dan itulah yang dilakukan ular ini sampai beberapa saat lalu.
Hewan melata ini, mencoba untuk melahapku dan Normen dengan serangan yang lambat, agar kami pergi dari daerah yang dikuasainya. Gurun pasir yang luas ini.
Ular ini terus menerus melakukan serangan yang sama, karena aku terus menghindarinya. Aku sadar bahwa dia mencoba untuk mengusirku dari wilayahnya. Namun aku tidak berniat melarikan diri, karena Anyx, Hunjar, dan Normen, membutuhkan waktu untuk lari dari gurun ini. Satu-satunya cara agar hewan ini teralihkan, adalah dengan menjadikan diriku sebagai target utamanya.
Setelah menerima seranganku dengan tombak Normen, ular ini mengubah serangannya. Dia menyerangku dengan agresif. Hewan ini tidak lagi berniat mengusirku, melainkan melumpuhkanku.
Ciri khas seekor hewan buas saat sedang berburu mangsa, adalah mereka selalu mencoba untuk melumpuhkan calon mangsa. Alasannya sederhana, mereka tidak ingin sang mangsa malah melarikan diri setelah tertangkap. Di depanku, ular raksasa ini sudah menguarkan aura membunuh yang sangat kuat.
Melihat ular ini mengubah gaya bertarungnya membuatku mengambil keputusan yang mungkin akan kusesali di kemudian hari. Aku menyampirkan tombak perak Normen di punggungku, dan menghunus pedang-panahku sebagai gantinya. Aku hanya ingin bertarung dengan senjata kesukaanku.
Sang ular raksasa menyerangku dengan kepalanya sekali lagi. Kali ini, aku hanya diam di tempatku. Pertarungan ini, akan aku anggap sebagai pertarungan terakhirku. Karena itu, aku berniat untuk menyerangnya dengan seluruh kekuatanku.
Beberapa detik sebelum kepala sang ular hampir menabrakku, aku langsung menolakkan kakiku ke lautan pasir di bawahku. Tujuanku adalah naik ke atas kepalanya, dan menyerangnya dari atas tubuh hewan ini.
Menyerangku dengan kepalanya, membuat tinggi hewan ini tidak terlalu jauh di atasku. Aku bisa meraih dahinya, dengan sebuah lompatan yang tidak terlalu kuat. Sekarang saatnya aku menyerang balik.
Sang ular raksasa mulai menggoyangkan kepalanya, setelah merasakan aku sudah berada di atas kepalanya. Namun aku tidak mau digagalkan secepat itu. Aku menghujamkan pedangku ke atas kepalanya, dan berpegangan pada gagang senjataku, selagi ular ini mencoba untuk melemparkanku dari atasnya.
Untungnya para Xenia tidak membiarkanku mati dengan mudah hari ini. Pedangku bisa menembus kulit kepala bagian atas si ular, di saat tombak Normen gagal melakukannya. Dengan begitu, aku bisa mempertahankan diriku di atasnya.
Aku hanya perlu bertahan di atas kepala hewan ini, selama beberapa saat. Cepat atau lambat, ular raksasa ini akan kehabisan stamina dan berhenti untuk meronta. Hewan besar pun, pasti memiliki batasan energi.
Entah sudah berapa menit aku berpegangan kepada pedangku, selagi sang ular masih mencoba untuk menyingkirkanku dari kepalanya. Dari gerakannya yang masih cepat, sepertinya ular ini tidak akan kehabisan stamina dalam waktu dekat. Berarti, aku harus melakukan hal lain. Satu-satunya yang terpikirkan olehku, adalah tombak perak milik Normen.
"Kau harus mengerti tombak itu lebih dulu, sebelum memakainya!" ucap Lid memperingatkanku. "Senjata itu akan mencapai potensi terbesarnya, saat kau mengerti identitasnya."
"Apa yang harus kumengerti!?" balasku tak sabar.
Ular raksasa mengganti gerakan merontanya, menjadi semakin agresif. Awalnya dia hanya menggerakkan kepalanya ke kanan dan kiri, sehingga aku hanya perlu bertahan agar tidak terlempar ke dua sisi ular ini.
Sekarang, ular ini menambahkan gerakan mendongak ke atas secara tiba-tiba. Jika aku tidak bertahan dengan memegang gagang pedangku, maka aku bisa terlempar ke sisi terjauh gurun ini.
"Senjata Xenia memiliki sebuah ciri khas penting," ucap Lid di waktu yang tidak tepat. Saat ini, aku tidak bisa fokus ke dua hal. Aku harus mencurahkan seluruh perhatianku untuk bertahan di atas punggung ular ini, bukan mendengarkan ceramahnya soal tombak perak yang tersampir di punggungku.
Namun Lid tidak peduli. Dia terus melanjutkan nasihatnya, meskipun aku tidak terlalu membutuhkannya. "Ciri khas itu adalah penguasaan akan salah satu elemen penting di Ueter," ucapnya. "Kalau aku tidak salah, tombak ini berkuasa atas tanah."
"Dan apa artinya semua itu!?" bentakku cukup keras.
Biasanya, aku tidak pernah mengucapkan kalimatku, jika sedang berbicara dengan Lid. Namun kali ini mulutku malah mengeluarkan suara, karena tubuhku yang terombang-ambing di atas kepala si ular, membuat fokusku benar-benar terpecah.
Lid tidak marah atau tersinggung, karena aku membentaknya. Dia mengerti bahwa aku sedang di posisi yang tidak menguntungkan, dan aku sedang tidak memiliki waktu untuk memikirkan hal lain, selain bertahan di atas kepala makhluk ini.
"Artinya, kau harus berada di atas tanah, untuk memaksimalkan kekuatan tombak itu," ucap Lid pelan, namun terdengar begitu jelas. "Itulah alasan Normen tidak pernah menggunakan metode bertarung sepertimu, saat memutuskan memakai tombaknya."
Ucapan Lid membuat bibirku tersenyum. Ada sebuah hal sederhana, yang harus kulakukan untuk membuat tombak ini berguna. Bertarung dengan keadaan terkuat tombak ini, akan membuat senjata Xenia menjadi sebuah benda yang hebat.
"Selain itu," sambung Lid cepat. "Arator, tombak perak itu, tidak mengizinkan kau untuk mengendalikannya. Sama sepertiku, dia ingin kau melepaskan kendali atas tubuhmu, dan membiarkan dia bergerak sesuka hatinya."
"Kau mengetahui soal ini, hanya dengan melihat Normen bertarung dua kali dengan tombaknya?" balasku penasaran.
"Tentu tidak," jawabnya santai. "Aku mengetahuinya, saat kau memegang tombak itu sebentar. Ada kekuatan baru yang masuk ke pikiranmu, dan memaksa agar kau tidak mengendalikan tubuhmu terlalu banyak."
"Kekuatan itu sempat kebingungan, karena dia terbiasa dengan pikiran dan tubuh Normen. Namun akhirnya kekuatan itu tetap menerimamu, karena kau memiliki tujuan untuk menggunakannya demi sebuah kekuatan besar."
"Aku memiliki tujuan seperti itu?" sergahku.
Pertahanan dan fokusku yang terbelah, akhirnya berhasil dimanfaatkan oleh si ular. Dia berhasil melemparkanku dari atas kepalanya, setelah membuat dua gerakan tiba-tiba, yang membuat seluruh tubuhku terkejut.
Genggaman terhadap pedang-panahku terlepas, dan membuatku terlempar cukup jauh dari tempat ular raksasa itu. Dia masih menggoyangkan kepalanya, karena menganggapku masih berada di atasnya.
"Jelaskan arti ucapanmu barusan!" pintaku kepada Lid, sembari membersihkan pasir yang masuk ke sela-sela pakaianku.
Saat ini adalah waktu yang paling tepat, untuk berbicara dengan Lid, selagi ular itu masih mengira aku berada di atasnya. Aku harus mengetahui semua yang perlu kutahu, tentang tombak perak milik Normen ini.
"Aku tidak tahu jelasnya, namun aku bisa merasakan bahwa tombak itu memaksa penggunanya untuk menjadi pribadi yang serakah," ucap Lid. "Dia tidak mengizinkan siapa pun yang berhati lemah, memakai dan menggunakannya."
"Dia merasakan keinginanmu untuk mengalahkan sang ular raksasa. Baginya, itu adalah bukti bahwa kau menginginkan kekuatan yang besar. Sebaiknya, kau tetap menjaga perasaan itu dalam dirimu, agar senjata itu tetap mau mengeluarkan kemampuan terbaiknya," sambungnya.
Membayangkan kekuatan senjata yang disebut sebagai senjata Xenia saja, sudah membuat pikiranku sakit. Sekarang, Lid menambah bebanku dengan mengatakan bahwa senjata ini bisa berpikir dan mengendalikan diriku.
Aku sudah memiliki pribadi lain dalam diriku, yaitu Lid, yang bertujuan untuk mengendalikan tubuhku saat menggunakan kekuatan klan Zabash. Sebuah fakta yang membuatku tenang, karena aku tidak perlu takut akan kemungkinan kekuatan besar melahapku.
Namun konsep yang ditawarkan tombak ini, jauh berbeda dengan kekuatan klan Zabash. Menurut Lid, tombak ini ingin aku membiarkannya menguasai tubuhku. Sesuatu yang kutakuti, sebelum aku mengenal Lid.
Lalu , bagaimana jika kekuatan tombak ini malah membuat pikiranku menciptakan pribadi baru lagi? Tiga pribadi dalam satu tubuh, bukanlah sebuah ide yang baik. Lama kelamaan, Eleandil, pribadiku yang asli, malah bisa jadi akan terusir, dan aku malah tidak bisa mengenali diriku sendiri.
Ular raksasa yang berada cukup jauh dariku, sudah berhenti menggoyangkan kepalanya. Dia sudah menyadari bahwa aku tidak lagi berada di atas kepalanya. Artinya, sebentar lagi pertarungan akan berlanjut.
Aku sebenarnya masih memiliki pilihan lain, yaitu melarikan diri dari hutan ini. Namun aku harus mengurungkan niatku, agar Normen dan dua hewan itu bisa pergi sejauh mungkin. Menahan ular ini bersamaku, adalah satu-satunya tindakan yang akan menyelamatkan Normen.
Setelah beberapa detik memeriksa sekitarnya, sang ular raksasa akhirnya memutar kepalanya. Dua mata besarnya, pasti bisa melihatku meskipun di jarak sejauh ini. Aku akan kecewa, jika dia tidak menyerangku dan kembali tidur di bawah lautan pasir.
Harapanku terwujud. Ular itu mendengus setelah melihatku, dan kembali membenamkan dirinya ke dalam lautan pasir. Kali ini, bukit pasir itu bergerak cepat ke arahku.
Tetap berpijak di tanah, dan berpikir untuk memiliki kekuatan besar yang sanggup untuk mengalahkan ular raksasa. Aku akan melakukan dua hal itu, selagi menunggu bukit pasir sampai di depanku.
Sang ular keluar dari bukit pasir tepat di depanku. Namun aku sudah mempersiapkan diri, untuk serangannya yang tiba-tiba.
Aku berkelit ke sisi kiri, saat dia menyundulku dengan kepalanya. Setelah itu, aku menusukkan tombak perak di tanganku, ke arah matanya. Selagi aku membuat gerakan menusuk, aku mencoba untuk membiarkan tubuhku bergerak sendiri.
Hasil dari keputusanku membiarkan tubuhku dikendalikan oleh Arator, tombak senjata Xenia, begitu mengejutkan bagi kedua mataku sendiri.
Tombak perak ini memanjang, dan terus bertambah besar, hingga ujungnya yang berwarna emas, berhasil menusuk bagian bawah mata sang ular. Sebuah luka yang besar, berhasil dibuat oleh tombak ini.
Ular raksasa ini mendesis untuk pertama kalinya, sejak kami mulai bertarung. Suaranya benar-benar menunjukkan kemarahan dan kesakitan akibat luka yang disebabkan oleh Arator. Senjata ini memang harus dibiarkan untuk bergerak sendiri.
Semua kesusahanku melawan ular raksasa beberapa saat lalu, telah berubah menjadi kemudahan. Sekarang, ular ini malah terdesak oleh setiap serangan yang dilancarkan oleh Arator.
Tombak ini membuatku melompat tinggi, lalu memaksa lenganku mengayunkannya ke kepala si ular, dan tombak ini tiba-tiba membesar saat berada di udara. Berkali-kali Arator menggerakkan tubuhku untuk memukul kepala si ular, dengan pukulan kuat yang pastinya menyakitkan.
Bukan hanya pukulan, Arator juga beberapa kali menyerang dengan menusuk ke bagian-bagian penting di kepala si ular. Bawah mata, atas mulut, dan dahi, adalah target Arator.
Semua serangan tombak ini, hampir semuanya berhasil melukai si ular. Lautan pasir yang kering dan tandus, akhirnya mulai dibasahi dengan darah segar dari hewan yang tinggal di dalamnya.
Setelah melukainya di banyak tempat, ular itu mulai mendengus pelan. Kedua bola matanya yang berbentuk segitiga, juga mulai mengecil. Hewan ini tidak lagi memandangku tajam. Sebaliknya, dia mulai menghindari tatapan mataku.
Pertarungan sudah selesai. Sorot mata ular ini sudah menunjukkan bahwa dia mengakui kekalahannya.
Aku menurunkan tombak perak di genggamanku. Napas dan jantungku yang terlalu cepat, juga mulai kuatur kembali. Aku tidak akan membunuh hewan ini, karena dia sudah mengakui kekalahannya.
Seperti kata Tuan Daeron, bahwa setiap makhluk yang bernyawa, selalu memiliki tujuan. Membunuh makhluk hanya karena mereka tampak buas dan jahat, bukanlah sesuatu yang terpuji. Sebaliknya, melepaskan mereka ke tempat asalnya, adalah tindakan yang harus dilakukan oleh ras yang luhur seperti elf.
Kedua mata ular ini, masih terus memandangku dengan tajam, namun juga tampak memelas. Aku menyampirkan tombak perak milik Normen di punggungku, dan mengangkat tanganku di depan hewan raksasa ini. Aku memberi tanda kepadanya, bahwa aku juga sudah selesai. Sebuah tindakan yang terkesan bijak, namun sangat bodoh.
Tepat saat aku membalikkan badan, dan meninggalkannya, sebuah benda tajam menusuk betisku. Rasanya begitu sakit, hingga aku tidak sanggup untuk berteriak.
"Minum darah, dan berikan kendali tubuhmu kepadaku!" desak Lid di otakku.
Dengan sisa tenagaku, aku menggigit bibirku dengan sangat keras. Darahku mengalir masuk membasahi tenggorokanku, dan perlahan semua warna di sekitarku berubah menjadi merah.