Ternyata ada beberapa hal yang Lid tidak ketahui. Salah satunya adalah identitas dari gurun ini.
Ditolak oleh Lid, membuatku hanya memiliki satu pilihan. Tidur. Karena, hanya itulah kegiatan yang akan mempercepat waktu.
Entah aku harus bersyukur, atau malah mengutuki diriku sendiri. Hanya lima menit setelah aku memejamkan mata, tiba-tiba gurun luas ini berguncang. Bahkan pasir berterbangan ke arah kami, dengan kecepatan yang cukup tinggi.
Anyx dan Hunjar yang memiliki indra tajam, langsung terbangun dengan sedikit terkejut. Hunjar berlari ke arahku sambil menggeram pelan, sedangkan Anyx mulai membangunkan Normen dengan kaki depannya.
Guncangan ini, sama persis dengan guncangan yang terjadi saat aku bertemu dengan Lid di ruangan gelap. Masalahnya guncangan yang baru saja kurasakan ini, bukan terjadi di dalam pikiranku.
"Kau kenapa?" gerutu Normen sembari meregangkan tubuhnya. Dia melihat ke sekeliling, lalu kembali tidur dengan tenang, karena aku tidak mengatakan apa pun.
Tidak lama kemudian, guncangan kembali terjadi. Kali ini lebih keras daripada yang pertama, hingga membuat Normen langsung beranjak berdiri dan menghunus pedangnya.
"Sudah berapa kali?" tanya Normen dengan nada mendesak kepadaku. Meskipun kedua matanya masih berusaha menahan kantuk, aku bisa melihat bahwa pria tua ini sudah fokus secara penuh.
"Ini yang kedua," jawabku. Aku juga menghunus pedangku, setelah melihat Normen sudah siap dengan senjatanya. "Guncangan kedua ini lebih keras daripada yang pertama."
Normen tidak menanggapi informasi dariku. Pria tua itu hanya memincingkan mata ke sekitarnya, untuk mencoba mencari penyebab dari guncangan yang melanda gurun ini.
Sebuah guncangan yang lebih kuat, kembali terjadi. Kali ini, efeknya bahkan begitu mengerikan untuk dilihat kedua mataku. Aku mengumpat dalam hati, karena mengikuti Normen untuk menghunus pedang.
Penyebab tiga guncangan yang terus bertambah kuat ini, adalah seekor makhluk yang menggeliat di bawah lautan pasir ini.
Awalnya aku berpikir bahwa bukit yang ada di depan kami adalah memang sebuah bukit pasir. Anggapan itu langsung hancur seketika, di saat bukit pasir itu malah menerjang kami dengan cepat.
"Naik ke harimaumu!" seru Normen dengan buru-buru. Pria tua itu langsung berlari ke arah Anyx, dan segera memacu sang serigala untuk berlari menjauhi bukit yang bergerak itu.
Bukit itu hampir saja menabrak kami, jika Hunjar dan Anyx tidak melompat ke kedua sisi yang berbeda. Setelah itu, aku langsung berteriak untuk menyuruh Hunjar mengejar Anyx.
Ternyata kami belum mengalahkan bukit yang bergerak itu. Gundukan pasir yang besar itu, kembali menerjang ke arah kami dengan kecepatan yang lebih tinggi dari sebelumnya.
Kali ini, harimauku menjadi korbannya. Naiknya permukaan tanah secara tiba-tiba, membuat Hunjar dengan aku di atasnya, langsung terlempar cukup jauh. Untungnya, kami mendarat di atas pasir. Tubuh kami tidak terlalu sakit, jika hanya mendarat di pasir.
Tak jauh dariku, aku melihat pemandangan yang lebih mengerikan ketimbang bukit pasir yang bisa bergerak. Normen memegang tombak perak yang memantulkan sinar rembulan. Pria tua itu berdiri di hadapan sebuah bukit pasir yang sejak tadi bergerak secara liar.
Melawan dan membunuh serangga raksasa Hutan Hitam, adalah sesuatu yang hampir terlalu sering kulakukan. Melawan dan hampir mengalahkan singa raksasa di dalam gunung Alcyne, bisa disebut sebagai keberuntungan. Untuk melawan gundukan pasir, sudah jelas bahwa itu adalah mimpi di siang bolong. Hanya ada satu hasil, untuk orang yang berani melawan bukit yang dapat bergerak ini. Kematian.
Aku langsung berlari ke arah pria tua itu, tanpa berpikir apa pun. Aku tidak akan membuang waktu, dengan berteriak atau melakukan sesuatu yang tidak penting. Setelah kehilangan Yared, aku juga tidak mau kehilangan Normen. Apalagi, jika dia mati tepat di depan mataku.
Hatiku hanya bisa menggumamkan doa yang mungkin terlalu muluk untuk kami. Aku hanya tidak ingin kehilangan harapan, di saat hanya itulah yang aku miliki saat ini.
Mimpi buruk itu telah tiba, dan wujudnya begitu mengerikan. Lupakan semua makhluk yang pernah datang ke mimpimu, karena wujud asli dari bukit pasir yang bergerak ini, akan berkali-kali lipat lebih menakutkan dari semua makhluk terburuk yang pernah kau bayangkan.
Kepala seekor ular dengan dua tanduk yang mencuat di atas matanya, tiba-tiba keluar dari dalam bukit pasir di depan Normen. Binatang itu membuka mulutnya lebar, dan langsung mengarahkan rahangnya yang terbuka kepada sang prajurit tua dari Donater.
Jika aku berhenti di kalimat itu, mungkin kau akan berkata, "Apakah seekor ular dengan dua tanduk, bisa semenakutkan itu? Bukankah Normen memegang tombak hebatnya?"
Lalu aku akan menjawab, "Ya!" sekeras mungkin. Masalahnya ular yang membuka mulutnya ini, memiliki ukuran kepala yang sangat besar. Lebar kepalanya mungkin bisa sama dengan empat sampai lima elf klan Daeron yang berbaring bersebelahan. Sedangkan tinggi kepalanya, mungkin setinggi tiga elf dewasa. Dan fakta mengejutkannya, baru kepala hewan ini yang muncul.
Normen hanya terpaku di tempatnya, setelah melihat kepala ular yang sangat besar, muncul dari dalam bukit pasir di depannya. Untungnya aku berhasil menyadarkannya dengan melemparkan tubuhku ke arahnya. Hasilnya, ular raksasa itu hanya menelan pasir di tempat Normen tadinya berdiri.
"Kau gila!" bentakku.
Pasir di sekitar kami, kembali berguncang hebat. Bukit yang sekarang aku tahu adalah kepala si ular raksasa, berada beberapa langkah di sebelah kiriku. Bukit itu mendekat dengan pelan, sedangkan Normen masih belum sadar akan situasinya.
Namun bentakan dan tabrakan langsung dariku, tidak membuat Normen sadar dari ketakutannya. Sorot matanya masih tetap kosong, dengan mulut yang menganga lebar.
Aku berada di dua pilihan yang sulit. Menolong Normen, atau bertarung dengan sang ular raksasa. Dua hal ini tidak bisa aku lakukan bersamaan. Aku harus memilih salah satunya.
Semakin dekat gundukan pasir itu ke arahku, jantungku semakin berdegup kencang. Aku harus segera memilih tindakanku selanjutnya.
Tidak jauh dariku, aku melihat Anyx sudah bisa berdiri, sambil menggoyangkan tubuhnya untuk membersihkan pasir yang menempel di bulu hitamnya. Sedangkan Hunjar juga sudah berlari ke arahku dengan sorot mata cemas.
Dua tunggangan itu, bukanlah hewan biasa. Aku yakin kalau aku bisa menyerahkan tanggung jawab untuk keselamatan Normen, kepada mereka berdua. Itulah pilihanku. Aku akan bertarung, dan membiarkan Anyx dan Hunjar untuk membawa Normen pergi dari gurun ini.
Saat bukit pasir itu tepat di depanku, aku langsung melemparkan diriku ke sisi kiri, dengan Normen yang berada di punggungku. Inilah gunanya memiliki otot besar. Agar aku bisa mengangkat orang-orang kuat, di saat genting seperti ini.
Hunjar tiba di saat yang tepat. Dia menggeram pelan kepadaku, dan aku hanya bisa membalasnya dengan senyuman lemah. "Bawa Normen keluar dari gurun ini!" kataku kepada si harimau. "Jaga Anyx, karena serigala itu sepertinya masih kesakitan!"
Kedua mata harimau putih ini, memandangiku dengan sorot mata bingung. Bukan karena dia tidak mengerti perkataanku, melainkan karena dia tidak mengerti alasanku mengambil keputusan ini.
Aku memeluk lehernya dengan tulus, namun seluruh tubuh Hunjar masih menegang. Dia tidak mau berpisah denganku, setelah kami berpisah cukup lama sejak perang terakhir di Adijaya. Bukan hanya dia, aku juga tidak ingin berpisah lagi dengannya. Tapi hanya ini pilihan yang bisa aku ambil, daripada harus mengorbankan Normen. Elf tidak pernah menukar nyawa siapa pun.
Sang ular raksasa yang masih menyembunyikan diri di bawah gurun, tidak membiarkanku berpamitan secara layak kepada Hunjar. Gundukan pasir itu, kembali menerjang ke arahku. Dan kali ini, gundukan itu berada di kecepatan yang sangat tinggi.
Untungnya, kedua mataku hanya terfokus kepada gundukan itu. Aku bisa kembali menghindarinya, sekaligus mendekat ke tempat Anyx. Tidak ada waktu untuk berdebat dengan Hunjar. Normen harus dibawa sejauh mungkin dari sini.
"Anyx, bawa pergi Normen sejauh mungkin dari gurun ini!" seruku di depan moncong sang serigala hitam.
Hunjar menyundulku pelan, sambil menggeram tanpa menunjukkan taringnya. Aku mengerti bahasa tubuhnya. Harimauku sudah berubah pikiran, dan mau menuruti perintahku.
Aku segera memindahkan Normen dari punggungku, ke atas punggung Anyx. Setelah memastikan bahwa Normen sudah memeluk leher Anyx dengan erat, aku menepuk punggung Anyx sebagai isyarat agar dia segera pergi.
Kali ini, giliran Anyx yang menggeram pelan kepadaku. Serigala itu memajukan kepalanya ke arahku, sembari mengangkat satu kaki depannya untuk menunjuk sesuatu yang ada di punggungnya.
Hewan ini ingin memberiku sesuatu, namun aku tidak memiliki waktu untuk mengerti maksudnya. "Kalian pergi saja!" pintaku pelan. Dari sudut mataku, aku bisa melihat sang ular raksasa menyadari keberadaanku, dan mulai bergerak ke arahku.
Hunjar yang juga berbicara dengan bahasa geraman, akhirnya menunjukkan apa yang dimaksud oleh Anyx. Harimau putihku mengangkat tubuh depannya sedikit, dan menggigit tombak perak Normen dengan gigi tajamnya. Lalu, Hunjar memberikan senjata itu padaku.
Anyx menganggukkan moncongnya pelan, sembari melolong pelan saat aku mengambil tombak perak dari mulut Hunjar. Anyx langsung memacu larinya. Hunjar ikut berlari di belakang Anyx, setelah menyundulku pelan. Akhirnya, aku ditinggalkan sendirian, untuk bertarung melawan ular raksasa ini.
Dengan pimpinan Anyx, kedua hewan itu mengambil jalan yang berlawanan dengan jalur bukit pasir yang merupakan persembunyian dari kepala si ular. Seperti biasa, Anyx selalu bisa diandalkan.
Sekarang, aku tidak perlu lagi menghindari ular ini. Kepercayaan diriku semakin bertambah, karena tombak perak milik Normen yang ada dalam genggamanku. Senjata milik Xenia, begitulah Normen mendeskripsikan senjata ini.
Namun aku masih belum ingin menggunakan tombak perak ini. Aku memilih untuk menaruhnya di punggungku, dan tetap menggenggam pedangku untuk melawan sang ular.
"Jangan melihat matanya lebih dari tiga detik!" bentak seseorang sangat keras.
Karena aku sudah memastikan bahwa tidak ada orang lain di gurun ini selain aku dan Normen, maka pemilik suara ini sudah pasti hanya berbicara di pikiranku. Lidnaele.
"Kau tahu identitas makhluk ini?" balasku bertanya.
"Hindari serangannya lebih dulu!" desaknya sengit. "Untuk melawannya, kau perlu strategi yang baik. Ular ini bukan makhluk sembarangan."
Aku mulai terbiasa untuk percaya kepada Lid. Memilikinya dalam diriku, seolah memiliki kamus lengkap dalam pikiranku. Lid adalah pribadi yang paling bisa diandalkan, di saat-saat genting seperti ini.
Bukit pasir itu, tidak menerjangku. Sebaliknya, si ular besar malah keluar dari dalam pasir yang menyembunyikannya, dan menyeringai lebar padaku.
Sesuai saran dari Lid, aku berlari ke sisi kanan si ular untuk menghindarinya. Sembari berlari, aku mengerti alasan Lid melarangku agar ridak melihat mata si ular selama lebih dari tiga detik.
Tubuhku terasa sangat berat, hingga aku kesulitan untuk berlari menjauh. Padahal aku hanya melihat mata si ular tidak lebih dari satu detik. Hewan raksasa dengan kemampuan menyebalkan, adalah musuh yang menyusahkan.
"Hewan ini memiliki tatapan dengan kekuatan yang mirip seperti anugerah milik Yared?" tanyaku dalam hati.
Meskipun aku tidak pernah terkena efek dari anugerah Yared, aku bisa menyimpulkan perasaan dari para korban anugerah anak itu. Tubuh yang membeku dan perasaan intimidasi yang kuat, akan membuatmu ketakutan.
"Aku juga tidak tahu," jawab Lid. "Aku hanya menyimpulkannya, setelah melihat keadaan Normen. Tebakanku, kekuatan Yared masih jauh di bawah ular ini."
"Maksudmu?" balasku.
Aku mengubah pedangku menjadi busur, dan mulai membidik kepala ular itu, sebelum dia kembali masuk ke dalam lautan pasir.
Ular ini memiliki tubuh yang terlalu besar, sehingga gerakannya pun sedikit lambat. Atau mungkin, dia terkesan lambat saat berada di luar pasir. Apa pun itu, aku cukup lega karena bisa sedikit bersantai untuk melawannya, meskipun aku tidak yakin bisa mengalahkannya.
"Normen melakukan kontak mata dengan ular itu selama tiga detik," terang Lid. "Karena itu, aku memperingatkanmu soal kemungkinan terburuk yang bisa terjadi kepadamu."
Aku hampir saja melupakan fakta bahwa Lid tinggal dalam diriku, yang artinya dia bisa melihat semua hal yang kulihat. Artinya aku bukan hanya memiliki dua pikiran. Aku juga bisa melihat banyak hal dengan fokus yang berbeda. Kesimpulan dari Lid adalah contoh nyatanya.
Di saat aku fokus berlari untuk menyelamatkan Normen, Lid malah berfokus untuk mencari tahu soal calon lawan kami. Akhirnya, dia dapat menarik kesimpulan untuk tidak melakukan kontak mata dengan si ular.
Melawan ular ini sendirian, adalah sebuah tindakan bunuh diri. Namun aku bersyukur karena adanya Lid dalam diriku. Dia membuatku merasa tidak sendiri, sekaligus memberiku harapan akan kemenangan yang sepertinya mustahil.
Kesimpulan sederhana yang ditarik oleh Lid, karena melihat segala sesuatu dengan fokus yang berbeda denganku. Lalu kelihaianku memakai pedang dan busur, juga senjata Xenia yang ada di punggungku. Pertarungan ini mungkin bisa kumenangkan.
Ular raksasa kembali bersembunyi di dalam lautan pasir, yang mendekat kepadaku. Kali ini, aku menghunus tombak perak di punggungku. Sudah saatnya untuk mengalahkan hewan ini dalam sekali serang.
Tugas berat itu, akan menjadi tanggung jawab tombak perak milik Normen.