Lupakan Rawa Abu, karena kami langsung berhenti tepat di luar tembok Yifn.
Bukan karena diserang oleh musuh. Bukan karena kami ketahuan oleh Ezra dan Bella, atau hal-hal lain yang merupakan masalah berat. Penyebab kami berhenti, adalah karena Anyx yang menabrak seorang pria.
Beberapa saat lalu, Normen membangunkanku dan langsung mengajakku untuk pergi. Sesuai ucapannya, dia memang memiliki akses untuk ke luar Yifn melalui jalan rahasia.
Rumah ajaib milik Normen di Yifn, ternyata dapat berujung ke sebuah jalan kecil yang mengarah ke luar tembok kota bagian selatan. Yang lebih hebat lagi, jalan kecil ini bukan jalan yang berukuran sangat kecil. Karena masih ada ruang di sisi kiri dan kanan Anyx, sebagai makhluk paling lebar di antara kami.
Hanya beberapa menit berjalan, kami sudah berhasil keluar dari Yifn, tanpa perlu diketahui banyak orang. Setelah itu, aku dan Normen langsung memacu tunggangan kami untuk berlari secepatnya.
Saat Anyx baru saja akan berlari, tiba-tiba seorang pria muncul di depan moncong serigala besar itu. Tabrakan yang tak disengaja pun, harus terjadi.
Pria dengan rambut berwarna merah menyala, dan baju zirah lengkap itu pun, langsung ambruk setelah menabrak Anyx. Sesuatu yang pasti terjadi, saat kau menabrakkan dirimu ke depan seekor hewan besar.
Untungnya, Anyx bukanlah hewan buas. Sang serigala hanya membalikkan tubuh pria yang mengerang kesakitan di bawahnya, sambil mengerjapkan dua mata besarnya.
Aku dan Normen langsung bergegas turun dari tunggangan kami masing-masing. Normen berlutut di sebelah pria itu. "Kau tidak apa-apa?" tanya Normen.
Pria itu membalas pertanyaan Normen dengan mengerang kesakitan, namun dia malah memaksakan diri untuk berdiri. "Apakah ada orang yang masih baik-baik saja, setelah ditabrak oleh serigala sebesar ini?" gerutunya.
Dia mengibaskan debu dari pakaiannya, lalu meregangkan pinggang dan keseluruhan tubuhnya. "Kalian beruntung, karena aku memilih untuk memaafkan kalian," geramnya sambil menunjukku dan Normen bergantian. "Aku akan menganggap ini tidak pernah terjadi. Sebaiknya, kalian juga berpikir hal yang sama."
Setelah mengucapkan ancaman yang tidak terdengar menakutkan sama sekali, pria itu kembali menghilang bersama dengan angin yang berhembus di depanku.
Aku memandangi Normen, untuk mendengarkan pendapatnya. Namun pria itu malah kembali naik ke punggung Anyx, seolah tidak terjadi apa pun.
Dari raut wajah dan gelagatnya, Normen sepertinya tidak ingin membuang waktu untuk membahas orang aneh berambut merah itu. Karena itu, aku mengikuti tindakannya dengan kembali menunggangi Hunjar.
Perjalanan kami kembali berlanjut, dengan banyak dugaan di otakku soal identitas pria tadi. Orang itu mungkin adalah seorang penyihir, atau malah pribadi dengan niat jahat kepada Yifn.
Pikiran buruk itu, membuatku menoleh ke belakang. Yifn, sang kota megah, masih berdiri dengan kokoh. Semoga Yifn masih tetap seperti ini, saat aku kembali nanti. Aku akan mengutuk diriku sendiri, jika pria berambut merah tadi, adalah orang aneh yang melakukan hal buruk kepada Yifn.
Apakah aku perlu membangunkan Lid, untuk menanyakan soal pria berambut merah, yang bisa menghilang dan berubah menjadi angin?
Saat melihat makhluk dan ras lain di pulau ini, aku selalu merasa bahwa aku memang bertemu mereka untuk kali pertama. Namun, perasaanku berbeda setelah kemunculan orang aneh tadi. Otakku mengatakan dengan tegas, bahwa aku pernah melihatnya di suatu tempat.
"Dia adalah seorang Uxeder!" seru Normen yang ternyata menunggang tepat di sebelahku. "Begitulah penampilan mereka, saat mereka memutuskan untuk berada di luar rumah!"
Uxeder. Ras yang harus kuhindari, menurut Lid. Ras yang tinggal di bawah tanah, dan memiliki rumah di seluruh Laustrowana. Normen bahkan bisa mengenali ras itu, hanya dengan melihatnya sebentar.
"Jangan memikirkan Uxeder tadi!" seru Normen lagi. "Dia mungkin hanya ingin keluar dari tanah, saat merasakan kota besar di depannya. Hal seperti tadi, sudah merupakan sesuatu yang biasa terjadi di Laustrowana!"
Kemunculan tiba-tiba dari ras Uxeder, adalah hal yang biasa terjadi di Laustrowana. Sebuah informasi yang membuatku semakin penasaran dengan ras itu. Aku mencoba untuk membongkar otakku, dan mencari soal ras Uxeder.
Masih menurut Lid, ras Uxeder bukanlah ras yang jahat. Pria berambut merah barusan, memang tidak menguarkan aura membunuh yang kuat. Bahkan, dia juga memilih untuk langsung pergi dan tidak memperpanjang masalah ini.
Beberapa kemungkinan terburuk yang bisa ditimbulkan orang itu, berkecamuk di pikiranku. Karena otakku perlahan mulai mengingat beberapa informasi soal Uxeder, yang tadinya kuanggap sebagai hal yang tidak penting.
Ingatan soal pria yang kutemui di desa Tortila, berhasil aku dapatkan. Itu adalah misi ke delapan belas, yang aku dapatkan dari Tuan Daeron. Sebuah misi sederhana, untuk mengantarkan kayu Hutan Hitam ke desa itu.
Karena misi itu merupakan misi sederhana, maka Tuan Daeron mengizinkanku untuk memimpin misi, bersama empat elf yang membawa kereta kuda berisi kayu dari Hutan Hitam. Malam itu, aku bertolak dari Tekoa ke selatan Adon, hanya dengan iring-iringan para elf.
Aku tidak berekspetasi apa pun, saat berangkat dari Tekoa. Saat itu di otakku hanya ada pikiran untuk berangkat, dan pulang secepatnya. Hanya itu, tidak lebih.
Tortila merupakan sebuah desa yang terlihat kumuh dari luar, namun sebenarnya adalah desa yang sederhana dan menyenangkan.
Bukan menyenangkan seperti desa Eroa, atau Aiden. Tortila memiliki kesenangan sendiri, yang hampir sangat dekat dengan suasana Tekoa. Kenyamanan dan sambutan warga, membuatku serasa di rumah. Meskipun jarak Tortila dan Tekoa cukup jauh.
Sebenarnya misiku selesai hanya dalam waktu tiga menit. Tepatnya setelah kepala desa Tortila memberikan izin untuk menurunkan gelonggongan kayu ke desanya. Namun semua berubah, karena sebuah teriakan banyak wanita terdengar dari luar rumah kepala desa.
Adalah para penduduk wanita Tortila, yang pertama kali melihat pemandangan mengerikan itu. Sontak yang bisa mereka lakukan hanya berteriak dan lari menjauhi pusat desa, tempat terjadinya hal tersebut.
Karena hanya aku dan para elf klanku yang bersenjatakan lengkap, maka kami langsung bergegas ke sumber suara. Dan itulah awal dari misi tambahan untukku.
Saat melihat penyebab ketakutan mereka, aku bisa memaklumi alasan para wanita langsung berlari menjauhi pusat desa. Sesuatu yang datang ini, bisa jadi merupakan mimpi buruk seseorang yang menjadi kenyataan.
Seorang pria dengan baju compang-camping, dan rambut acak-acakan, berdiri diam di tengah lapangan yang merupakan pusat desa. Pria itu hanya menunduk lemas, tanpa berkata apa pun.
Yang membuatnya tampak mengerikan adalah sekujur tubuhnya bersimbah darah segar, yang masih menetes membasahi tanah lapang desa Tortila. Dia bukan seperti para elf klan Zabash, saat sedang berada dalam kekuatan mereka. Pria ini lebih tampak seperti orang yang baru saja mandi darah segar.
Karena aku adalah pemimpin para elf yang bertugas ke desa itu, maka aku langsung mengambil inisiatif untuk mendekatinya. Ada satu moral yang diajarkan Tuan Daeron kepada elf di klannya, bahwa kami harus menjadi penengah, bukan pemicu masalah. Moral dan prinsip itulah, yang membuatku berani.
Aku hanya beberapa langkah dari pria itu, sebelum dia mendongakkan wajahnya dan menoleh kepadaku. Ternyata, rambut pria ini juga berwarna merah seperti darah. Sedangkan saat dia menyeringai, dia menunjukkan deretan giginya yang begitu tajam bak hewan buas.
"Anda siapa?" tanyaku pelan sambil mengangkat kedua tanganku, untuk memberinya isyarat bahwa aku datang dengan maksud damai.
Pertanyaanku malah dibalas dengan sebuah gerakan cepat darinya. Dia menerjang ke arahku, dan saat tubuhku menyentuhnya, kami berdua langsung berada di sebuah lorong dengan atap rendah, yang gelap dan lembap.
"Aku hanya akan mengatakan ini sekali saja," kata pria itu. Suaranya seperti derik ular, dengan gema yang besar, akibat sempitnya lorong ini. Yang lebih mengejutkan, aku tidak merasakan hawa jahat yang menguar dari orang itu. Sebuah perasaan yang kuyakini sampai sekarang.
"Para Uxeder akan melewati Samudera Alaus, untuk datang ke pegunungan barat pulau ini. Kau hanya perlu membiarkan mereka lewat, dan pulau ini akan tetap berdiri seperti semestinya," paparnya dengan tenang.
"Dari semua hal penting soal kedatangan mereka, aku hanya akan memeperingatkanmu soal ini. Gempa, banjir, hujan deras, dan hal-hal aneh yang lain, adalah pertanda kedatangan mereka. Untuk tetap menjaga pulau ini, yang harus para warga lakukan adalah membiarkan," sambungnya.
Setelah mengatakannya, pria itu langsung pergi ke dalam lorong gelap di belakangnya. Sebelum dia menghilang, untungnya dia sempat menyentuhku dan membuatku kembali ke pusat desa Tortila. Ingatanku hanya sampai di situ.
Kejadian itu terjadi beberapa puluh tahun yang lalu, atau mungkin lebih lama lagi. Aku yakin bahwa pria itu masih mengatakan banyak hal, yang otakku tidak pedulikan. Aku akan menunggu Lid bangun, dan segera menanyakan soal Uxeder kepadanya.
Memikirkan soal Uxeder, membuatku tidak menyadari bahwa tanah yang ada di bawah kaki Hunjar sudah berubah. Begitu pun pemandangan sekitar, yang membuatku merasa telah berpergian terlalu jauh.
Di luar tembok kota Yifn, padang rumput adalah pemandangan yang selalu menyambut mataku. Rowyn yang merupakan desa terdekat dari Yifn pun, juga memiliki pemandangan serupa.
Bedanya, rumput di Rowyn tidak tumbuh secara liar, karena para warga desa Rowyn masih berternak di luar pagar. Sedangkan rumput di luar Yifn tampak lebih kasar dan tak beraturan, karena warga kota sudah jarang untuk memilih berternak sebagai profesi utama. Toko pakaian, perhiasan, dan penginapan, adalah bangunan yang paling sering ada di Yifn.
Semua hal yang mengingatkanku pada Yifn, sudah berubah total. Di sekitarku tidak ada lagi padang rumput dengan pohon-pohon besar yang tumbuh hanya beberapa, juga beberapa bukit kecil yang biasanya dipenuhi kambing dan babi liar. Sekarang di sekitarku hanya ada pasir.
Di bawah sinar bulan purnama malam ini, aku hanya bisa melihat lautan pasir sejauh mataku memandang. Untuk pertama kalinya dalam hampir tiga ratus tahun, aku berada di sebuah gurun.
Bagian selatan pulau Adon yang memiliki iklim panas, memang memiliki gurun-gurun kecil. Kalau tidak salah, di selatan Rebeliand, desa asal Lass dan Amicia, juga terdapat gurun di sebelah pantai.
Namun, gurun yang sedang kujejaki ini jauh berbeda dengan gurun di Adon. Aku merasa begitu kecil di tengah lautan pasir yang luas ini. Napas Hunjar yang terengah-engah pun, membuktikan bahwa gurun ini sangat keras bahkan di malam hari.
Anyx juga menghentikan larinya beberapa langkah di depan kami. "Kita tidak bisa melanjutkan perjalanan," ucap Normen sembari turun dari punggung serigalanya. "Kita harus bermalam di sini, dan melanjutkan perjalanan sebelum matahari pagi tiba."
Hunjar menggeram pelan, yang mungkin berarti dia setuju atas usul dari Normen. Namun aku tidak mau setuju secepat Hunjar. Aku harus mengetahui alasan dibalik keputusan Normen berhenti di gurun ini.
"Kenapa kita berhenti di sini?" tanyaku. Aku melangkah ke tempatnya berdiri. "Kau tidak mengatakan apa pun soal gurun, sebelum kita berangkat."
Normen tidak melihatku sama sekali. Dia hanya fokus memandang sekitarnya, sambil melukis sesuatu di lautan pasir yang ada di bawah kami. Beberapa kali, dia mengambil pasir dalam genggamannya, dan mengendus pasir itu.
Aku langsung bisa menebak arti dari tindakannya. Semua yang dilakukan Normen, adalah untuk mengidentifikasi lokasi kami sekarang. Singkatnya, kami sedang tersesat.
Daripada memastikan bahwa kami memang benar-benar tersesat dengan bertanya pada Normen, aku langsung naik ke punggung Hunjar, untuk memeriksa area di sekitar gurun ini.
Normen tidak bertanya apa pun kepadaku, sebelum Hunjar mulai berlari untuk mengelilingi gurun ini.
Saat aku sudah cukup jauh dari Normen, aku menarik anak panah yang sudah kuikat dengan tali panjang, dan menembakkannya ke arah Normen, yang hanya tersisa sebuah siluet. Tujuanku hanya satu, aku tidak mau kami terpisah dan sama-sama tersesat. Aku hanya akan memeriksa sekitar, dengan batasnya adalah panjang tali ini.
Anggapanku bahwa gurun ini jauh lebih besar daripada yang ada di selatan Adon, memang sebuah fakta.
Aku hanya membawa Hunjar untuk berlari memutar, saat tali di busurku sudah mencapai ujungnya. Namun, gurun ini masih tetap saja belum tampak ujungnya. Apakah melewati gurun ini di pagi hari, lebih baik daripada di malam hari?
Dengan berbagai pertanyaan di otakku, aku memutuskan untuk kembali ke tempat Normen dan Anyx berhenti.
Kedua makhluk itu, memang tampak seperti sahabat lama. Anyx sudah berbaring dan mendengkur di atas pasir, sedangkan Normen meletakkan kepalanya di atas perut Anyx yang naik turun karena napasnya. Mereka berdua langsung tidur, meskipun aku hanya meninggalkan sejenak.
Aku sudah tidur sebelum memulai perjalanan ini, sehingga badanku masih sangat bugar. Aku tidak ingin menghabiskan waktuku untuk kembali tidur, hingga matahari terbit di atas kami. Aku harus memastikan bahwa kami bisa menentukan arah yang tepat, sebelum memulai perjalanan esok hari.
Di pikiranku, hanya ada satu cara. Meminta bantuan pribadi yang memiliki akses ke banyak informasi yang terkubur di otakku. Lidnaele.