Bab 43 - Jalan yang Lebih Sulit

2104 Kata
"Katakan bahwa kau sedang bercanda!" desakku Aku tidak mengerti dengan jalan pikiran Normen, yang malah memutuskan ke Preant, alih-alih Skardolav. Jika ramalan soal kehancuran Laustrowana diakibatkan oleh perang antara Skardolav dan Preant, maka seharusnya kita menghentikan perang itu. Bukan malah ke Preant, dan mempercepat terjadinya perang. Namun Normen tidak memedulikanku. Dia sedang memandangi senjata di kamarnya, sambil mengelus dagunya. "Kita harus ke Skardolav, bukan Preant!" seruku lagi. "Menyelamatkan Yared adalah prioritas utama. Sedangkan menghentikan rencana Tequr untuk menaklukkan Una Vujic adalah prioritas selanjutnya!" "Menurutmu begitu?" balas Normen dengan nada yang menjengkelkan. "Ternyata kau masih belum mengerti soal perseteruan dua kerajaan itu." "Apa yang tidak aku mengerti?" balasku sengit. Normen menghela napas panjang. Dia akhirnya menghadap kepadaku. "Pertama, dua kerajaan itu sudah terlibat perang, sejak Skardolav berdiri sekitar seribu tahun yang lalu," terangnya. "Preant merasa bahwa berdirinya Skardolav akan menjadi penghambat untuk perluasan kekuasaan ke bagian barat Laustrowana." "Mimpi Pangeran Greas, pemimpin pertama Preant adalah menyatukan seluruh wilayah selatan Laustrowana di bawah panji Preant." Normen menaikkan sebelah alisnya. "Dan tiba-tiba sebuah kerajaan didirikan, dengan keluarga Knox sebagai penguasanya." "Ada apa dengan keluarga Knox?" selaku. "Bukankah mereka hanya keluarga bangsawan sejak zaman dulu?" Kepala prajurit Donater Selatan menggelengkan kepalanya tegas. "Keluarga Knox bukan hanya keluarga bangsawan, melainkan keturunan langsung dari Reimd, putra pertama Reimund, raja Valayne di awal pecahnya Laustrowana," jawab Normen. "Selain itu, Xlmain Knox, raja pertama Skardolav memiliki darah penyihir dari ibunya. Darah raja kerajaan besar di utara, ditambah dengan darah penyihir dari ibu, adalah kombinasi yang buruk. Tidak akan ada yang berani melawan musuh dengan dua darah hebat mengalir di dalam tubuhnya." Aku mengangguk pelan. "Menyerang Skardolav, berarti menyerang Al-Valayne," gumamku. Normen memetik jarinya cukup keras. Dia tersenyum sambil berkata, "Skardolav bukan hanya kuat, melainkan juga dipenuhi kesombongan. Itulah yang membuatku tidak pernah berkunjung ke salah satu kota mereka." "Jika kau membawa kabar soal invasi Tequr ke Una Vujic, maka aku bisa memastikan bahwa kau akan dipenjara oleh Knox," ucap Normen. "Di mata Knox, hanya Preant yang sanggup memberinya perlawanan sulit. Dia tidak akan peduli kepada ancaman lain yang datang ke kerajaannya." "Ramalan yang sudah kau baca, memberi kita sedikit harapan untuk menyelamatkan Yared. Kita bisa datang ke Preant, menyebabkan perang pecah antara dua kerajaan itu, dan menyusup ke Una Vujic untuk melepaskan Yared dari genggaman Tequr," imbuhnya. Aku tidak memberi pendapatku atas idenya, karena aku menunggunya meralat semua kalimat yang dia ucapkan. Namun, Normen malah kembali fokus pada rak senjata di depannya. "Kau baru saja membuat ide untuk menyebabkan perang antara Preant dan Skardolav?" tanyaku curiga. Bukannya menggelengkan kepala, Normen malah mengangguk dengan tenang. Dia mengambil sebilah pedang dengan gagang yang memiliki ukiran kepala naga, dari rak di depannya. "Kau memiliki ide lain?" Dia balas bertanya kepadaku. Ada perasaan aneh yang menjalari tubuhku. Aku merasa bahwa orang yang ada di depanku bukanlah Normen, tetapi orang asing dengan pikiran yang aneh. Perasaan yang sama, yang kudapatkan saat pertama kali ada di Laustrowana bersama Normen. Setelah pertemuanku dengan Lid, aku mulai terbiasa dengan adanya kemungkinan bahwa orang lain memiliki dua kepribadian di dalam dirinya. Mungkin Normen juga memiliki pribadi lain dalam dirinya. Aku mencoba untuk tetap tenang, meskipun aura aneh menguar di udara sekitarku. "Aku adalah seorang elf, dan aku paling membenci peperangan," tegasku. "Aku tidak akan menyetujui rencanamu, jika itu menyangkut perang dan mengakibatkan banyak jiwa tak bersalah meninggal." "Sudah kuduga," desah Normen. Dia menyarungkan pedang barunya ke pinggangnya. "Kalau begitu, kita akan mengambil jalan yang sedikit sulit. Kau siap?" "Apa pun selain perang," tegasku lagi. Normen memandangiku selama beberapa detik, sebelum akhirnya kembali berlutut di depan rak kecil. "Aku akan menjelaskan perjalanan kita," katanya ramah. "Dan kau bisa menilai rencanaku sesuai dengan prinsipmu atau tidak." Dari dalam rak kecil itu, Normen mengeluarkan sebuah gulungan yang cukup besar. Dia membuka gulungan itu di atas tempat tidurnya. Ternyata gulungan itu adalah peta pulau Laustrowana, beserta setiap kota dan kerajaan yang ada di dalamnya. Aku bisa melihat banyak hal yang ada di pulau ini, hanya dengan fokus memandangi gambar di gulungan ini. Manusia benar-benar hebat, jika menyangkut soal penemuan dan kreatifitas. Bagi elf, mengingat arah dan letak sebuah tempat, adalah kemampuan yang harus kami miliki. Sedangkan manusia cukup cerdik dalam menyikapi hal itu. Mereka tahu bahwa umur mereka tidak sepanjang elf, sehingga mereka memilih untuk menuangkan setiap hal yang mereka lihat, dalam bentuk gambar. "Skardolav ada di sini," kata Normen sambil menunjuk sebuah area dengan latar berwarna biru, di bagian barat daya pulau Laustrowana. Setelah itu, dia menunjuk sebuah area di hadapan kerajaan Skardolav, yang dipenuhi oleh warna hijau. "Sedangkan ini adalah Preant." "Dua kerajaan ini, dipisahkan oleh sebuah lembah luas yang bernama Lembah sunyi." Aku menemukan lembah yang dimaksud Normen. Tempat itu berada di tengah dua gunung, dan menjadi perbatasan antara area berwarna biru dan hijau. "Lembah sunyi, selalu menjadi tempat bertarungnya dua kerajaan ini. Meskipun sampai sekarang, keduanya belum pernah berperang dalam skala besar." Aku mulai memandang ke seluruh peta, untuk mencari tempat kami berada. Aku menemukan sebuah gambar menara kecil, dengan tulisan Yifn di bawahnya. "Ini tempat kita berada?" tanyaku. Pertanyaanku hanya untuk mengonfirmasi jarak yang begitu jauh, antara Yifn dan dua kerajaan itu. Aku hampir melupakan fakta bahwa Laustrowana merupakan pulau terbesar di Ueter. Artinya jarak tempuh antara bagian utara pulau, tempat kami sedang berada, dan bagian selatan yang merupakan tujuan kami, mungkin membutuhkan waktu hingga satu bulan. Normen mengangguk sambil tersenyum, namun hanya sebelah bibirnya yang naik. "Tiga minggu adalah waktu tempuh paling cepat, dengan menunggangi Anyx," ucapnya. "Mari berharap, agar Tequr belum menyerang Una Vujic dalam rentang waktu itu." Bahkan dengan kecepatan Anyx pun, mereka tetap sampai di Una Vujic dalam tiga minggu. Jarak yang jauh ini, harus kita pikirkan dengan baik. Pulau yang begitu besar, tidak memungkinkan untuk kami sampai dalam waktu cepat. "Sekarang, beginilah rencanaku," sela Normen dengan tenang. Dia memberi isyarat padaku untuk melihat ke gulungan di atas tempat tidur. "Kita akan ke Preant, dengan mengambil jalur ini." Aku tidak salah lihat, Normen menunjuk sebuah area berwarna hijau kehitaman. Di bawahnya tertulis 'Rawa Abu', sebuah nama yang buruk untuk didatangi. "Kau yakin akan memilih jalan ini?" tanyaku. "Aku yakin kita akan mati di tengah jalan," jawab Normen tanpa melihatku. "Rawa Abu tidak akan mengizinkan siapa pun untuk melewatinya dengan mudah." Setelah Normen mengatakannya, aku mengingat bahwa Tuan Daeron pernah mengatakan hal yang sama soal Rawa Abu. Salah satu dari banyak tempat mengerikan di Laustrowana, yang harus aku hindari. Tempat para hewan dan makhluk gelap bersarang, juga tempat tinggal ras yang terasing. Begitulah cara Tuan Daeron mendeskripsikan Rawa Abu kepadaku. Biasanya, aku tidak akan datang ke tempat yang dilarang oleh Tuan Daeron. Namun sekarang situasinya berbeda. Normen pasti memiliki alasan kuat, yang membuatnya menyarankan kami melewati Rawa Abu. "Kapan kita akan berangkat?" tanyaku. Normen langsung menatapku dengan memincingkan matanya. Dia memandangku tajm. "Kau tidak menolak usulku untuk melewati Rawa Abu?" tanya dengan nada bingung. "Kau lebih memilih untuk mati di tempat mengerikan itu, ketimbang memicu perang antara dua kerajaan yang memang saling bermusuhan?" Aku mengangguk cepat. "Lebih baik mempertaruhkan nyawaku, daripada harus memicu perang yang akan mengakibatkan banyak nyawa hilang," jawabku. "Aku selalu memilih untuk menyelamatkan lebih banyak orang." "Lagi-lagi, aku belajar sesuatu yang baru darimu," ucap Normen sambil menepuk pundakku. Dia mengencangkan ikat pinggang tempat pedangnya tersarung. "Kita akan berangkat saat hari sudah malam." "Aku mengetahui sebuah jalan rahasia, yang akan membawa kita keluar dari Yifn, tanpa diketahui banyak orang. Setelah itu, kita akan langsung pergi ke Rawa Abu, yang mungkin memakan waktu selama beberapa hari." "Bagaimana dengan kota ini?" selaku. "Bagaimana jika Tequr memutuskan untuk menyerang Yifn, alih-alih Skardolav." "Yifn tidak akan jatuh dengan mudah," balas Normen. "Suku Aidenia, para prajurit elit dari Alvalay, dan Ezra si Ashtonas, adalah kumpulan pribadi yang akan mempertahankan kota ini. Aku percaya Tequr tidak akan bisa mengalahkan pertahanan kuat dari ibukota kerajaan Alcyne." Penjelasan dari Normen membuatku membayangkan keadaan kota ini, jika Tequr sungguh memutuskan untuk menyerang Yifn. Sepertinya, prediksi Normen memang benar. Tequr akan sangat kesulitan, jika memaksakan diri menyerang Yifn. Sekarang, aku harus mengalihkan pikiranku ke rencana untuk ke Preant lewat jalur Rawa Abu. Otakku harus mencoba untuk mengingat banyak hal yang dikatakan oleh Tuan Daeron soal tempat itu. "Mengapa harus mengambil jalur Rawa Abu?" tanyaku. "Karena kita harus menghindari jalan utama," balas Normen. Dia menunjuk garis hitam di petax yang menghubungkan antara banyak desa dan kota. "Tidak ada jalan dari Al-Valayne yang mengarah langsung ke Preant. Dengan mengambil jalur utama, kita hanya bisa ke Preant dengan melewati Skardolav." "Tujuan rencanamu tetap ke Preant?" gerutuku. "Bukan untuk memicu perang," jawab Normen. "Kita akan melihat situasi di Skardolav, melaui Preant. Langsung datang ke Skardolav sama saja dengan menyerahkan nyawa kita. Di Preant, kita bisa menyusun rencana untuk menyusup ke Skardolav, daripada masuk ke Skardolav memakai jalur utama." Aku mengangguk pelan. Rencana Normen yang baru, terdengar lebih baik ketimbang berusaha memicu perang antara dua kerajaan yang sudah saling membenci sejak lama. "Kau bisa beristirahat di kamarku," kata Normen. Aku sudah membuka mulutku untuk menolaknya, namun pria tua itu sudah keluar dan menutup pintu. "Selamat istirahat, El!" serunya dari luar. Bukan hanya membiarkanku melihat dan masuk ke rumah rahasianya di Yifn, Normen juga memberiku kamarnya untuk beristirahat. Pak tua itu memang salah satu manusia dengan karakter yang baik. Aku membaringkan tubuhku di atas kasur empuk milik Normen. Dari semua kasur yang menopang punggungku, hanya kasur ini yang paling mendekati kenyamanan tempat tidurku di Tekoa. Alasan itulah yang membuatku langsung tertidur lelap. Sayangnya, tidurku harus diganggu oleh seorang elf dengan wajah yang sama persis denganku, namun sekujur tubuhnya penuh darah. Lidnaele, pribadi lain yang ada dalam tubuhku selain Eleandil. Seperti biasa, Lid menemuiku di ruangan gelap yang kemungkinan besar berada di dalam otakku sendiri. "Bukannya kau harus tidur selama dua hari?" gerutuku. Lid menghampiriku dengan wajah malas. "Bagaimana aku bisa tidur dengan nyenyak, jika kau menyetujui untuk pergi ke Rawa Abu?" balasnya. "Setidaknya aku harus mencoba untuk menahanmu pergi." Aku melupakan fakta ini. Di antara semua pribadu yang aku anggap sahabat dan orang terdekatku, hanya satu pribadi yang mengerti semua rahasiaku. Lidnaele. Hal itu sudah pasti. Kami berdua saling berbagi tubuh dan pikiran. Apa yang aku dengar dan lihat, juga bisa didengar dan dilihat oleh Lid. Inilah resiko memiliki pribadi lain dalam dirimu. "Kau tahu soal Rawa Abu?" "Tentu saja!" pekik Lid tak sabar. "Aku melihat dan belajar banyak hal, saat aku tidak kau izinkan menguasai dirimu. Bisa dibilang, aku tahu lebih banyak daripada yang kau kira." "Bagaimana kau tahu lebih banyak hal dariku?" balasku. "Kau hanya bisa muncul saat aku memberimu izin. Lalu, bagaimana kau belajar sesuatu dari luar?" Lid menunjuk kepalanya dengan bangga. "Dengan ini," katanya. "Pikiranmu memiliki banyak informasi yang tersimpan, dan tidak kau pedulikan. Di situlah aku belajar banyak hal, agar aku bisa membantumu saat kau membutuhkanku." "Kadangkala, kau menyimpan banyak informasi berharga begitu saja. Kali lain, kau hanya mendengar informasi, tanpa membiarkan otakmu menyimpannya." Kali ini, Lid menunjuk dirinya dengan senyum cerah. "Itulah peranku. Mengambil informasi-informasi penting, yang menurutmu adalah sampah." Perkataan Lid membuatku terdiam. Dia mengakui secara terang-terangan, bahwa perannya di hidupku hanyalah untuk membantuku. Sebuah pengakuan yang tidak mudah untuk seorang pribadi yang tidak memiliki tubuh sendiri. "Katakan semua yang kau tahu soal Rawa Abu, hingga kau melarangku untuk pergi ke sana!" pintaku pelan. "Di Rawa Abu, ada sebuah pintu masuk ke dunia bawah tanah milik ras Uxeder." Lid mulai menjelaskan kepadaku dengan detail. "Kau mendapat informasi ini dari seorang pria di sebuah desa bernama Tortila." "Menurut pria ini, ras Uxeder adalah ras peranakan silang antara orc dan kurcaci. Mereka menguasai kemampuan menggali dan menambang milik para orc, ditambah tubuh kuat khas para orc. Kabarnya, ras Uxeder menyebar di seluruh Laustrowana. Namun, mereka bukan ras yang hidup di permukaan. Mereka memilih untuk hidup di kegelapan bawah tanah, bersama semua logam berharga di dalamnya," paparnya. "Ras Uxeder bukanlah ras jahat, tapi juga bukan ras yang mudah bersahabat. Mereka akan membunuh semua orang asing yang masuk ke wilayah yang dekat dengan pintu masuk kerajaan mereka. Ini adalah alasan pertamaku melarangmu ke Rawa Abu," tegas Lid. "Masih ada alasan lain!?" tanyaku penasaran. Lid mengangguk muram. "Di Rawa Abu, seekor Al-Sin berbentuk setengah ular dan setengah babi, hidup di sana," katanya. "Al-Sin?" "Roh Alam Liar," jawab Lid cepat. "Singa raksasa gunung Alcyne, dan serangga raksasa di Hutan Hitam, adalah contoh lain dari Al-Sin. Jika kau beruntung untuk tidak bertemu Uxeder, maka kau bisa saja bertemu dengan Al-Sin Rawa Abu." Dua lawan yang sama-sama sulit untuk dikalahkan. Pantas saja Normen mengatakan bahwa pergi lewat Rawa Abu berarti kematian. Ada banyak hal yang berbahaya, yang tinggal di tempat itu. Sebuah guncangan yang cukup keras, membuat ruangan gelap ini bergoyang keras. Sebelum Lid menghilang, dia sempat berseru kepadaku, "Jangan pernah setuju untuk pergi ke Rawa Abu, karena aku masih perlu beristirahat!"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN