Kecepatan Hunjar tidak pernah mengecewakan.
Harimau ini berhasil sampai di depan menara Yifn, hanya dalam waktu beberapa jam. Yang lebih hebat lagi, baik Hunjar maupun Anyx, tidak terlihat kelelahan sama sekali.
Anyx hanya menggaruk telinga dengan kaki depannya, sambil duduk dengan tenang. Sedangkan Hunjar malah berbaring di depan gerbang Yifn yang tertutup rapat, setelah menguap cukup lama.
Dua binatang ini sepertinya hanya menganggap perjalanan dari Rowyn ke Yifn, sebagai pemanasan. Mereka berdua telah terbiasa untuk melakukan perjalanan jauh, sehingga perjalanan antar dua tempat di dalam sebuah kerajaan, bukan hal yang sulit.
Keadaan Yifn berbanding terbalik dengan ketenangan dua hewan hebat di sebelahku. Ibukota Alcyne telah berubah menjadi kota yang sangat sepi, dan tertutup.
Gerbang yang biasanya terbuka dan menampakkan bagian dalam kota, sekarang tertutup rapat. Bahkan ada enam prajurit dengan lambang bunga Kanna di baju zirah mereka, yang berjaga di depan pintu gerbang.
Sepertinya Nuvian dan Hunra telah berhasil melakukan misi mereka. Enam prajurit ini tidak tampak seperti prajurit biasa. Mereka pasti merupakan prajurit elit yang dikirim Alvalay ke kota ini.
Aku sudah membungkukkan badanku sedikit, untuk menyapa para prajurit itu. Namun, mereka malah mempersilahkanku masuk dengan senyuman ramah dari balik helm yang menutupi hampir seluruh wajah mereka.
Gerbang Yifn terbuka dengan menimbulkan bunyi yang cukup keras. Aku bersama dua hewan besar dari Adon, memasuki ibukota Alcyne yang udaranya dipenuhi dengan aura muram.
Hanya dalam satu hari, Yifn yang adalah kota yang penuh toleransi, telah berubah menjadi kota yang dipenuhi ketakutan dan kecemasan. Kemungkinan datangnya perang, telah mengubah wajah kota ini.
Di balik pintu gerbang, para warga Yifn telah berubah menjadi prajurit dadakan. Tidak ada pria dengan kemeja santai, atau wanita dengan gaun rumit yang berjalan di jalanan utama. Pemandangan yang kulihat selama beberapa saat di Yifn, sudah berganti sepenuhnya.
Untungnya aku tidak perlu mencari Normen terlalu lama. Pria tua itu sedang mengasah pedang besarnya, bersama para pria Yifn. Atau lebih tepatnya, Normen sedang mengajari mereka cara mengasah pedang.
Saat aku sudah berada di sebelahnya, pria tua itu malah menatap takjub ke Anyx yang ada di sebelahku. "Kau berhasil menyusulku hingga ke Laustrowana?" tanya Normen. Dia meninggalkan pedangnya di atas batu asahan, dan langsung memeluk leher serigalanya.
Aku merasakan hubungan yang dekat antara keduanya, meskipun mereka jarang sekali memperlihatkan di depan umum. Normen dan Anyx adalah sahabat yang sama-sama saling peduli.
Setelah selesai melepas rindu dengan Anyx, pandangan Normen beralih kepada Hunjar dan aku. "Harimaumu juga berhasil menyusul hingga ke pulau ini?" ucap Normen dengan tatapan yang sama takjubnya. "Ternyata kalian para elf juga memiliki tunggangan yang hebat."
"Anyx juga hebat," kataku dalam hati. Aku harus mengakui kehebatan sang serigala hitam yang besar ini, karena dia juga berhasil sampai di Laustrowana dengan selamat. Hunjar dan Anyx memang berada di bawah Orion dalam hal kekuatan. Namun kedua hewan ini membuktikan kepada kami, bahwa mereka patut diberi perhatian lebih.
"Kita harus bicara di tempat yang sepi," kataku dengan suara rendah. "Sesuatu terjadi kepada Yared."
Normen yang sedang mengelus kepala Anyx dengan lembut, langsung mendongak kepadaku dan menganggukkan kepalanya. Raut wajahnya langsung berubah menjadi serius dalam beberapa detik.
Pria tua itu beranjak berdiri, tanpa mengatakan satu kata pun. Tidak lupa, dia juga mengambil pedang besar yang telah dia asah dan menyarungkankan senjata itu di belakang punggungnya.
Aku mengikuti langkah Normen, yang anehnya seolah sudah menghapal setiap lika-liku kota ini. Dia membawaku ke sisi kanan kota, yang ternyata berisi banyak pasar-pasar kecil.
Ternyata beberapa wanita masih menjual bahan-bahan pokok, selagi banyak dari mereka yang sudah mulai bersiap untuk perang. Aku menyadari satu hal, bahwa ekonomi adalah sesuatu yang penting bagi hidup manusia.
Meskipun kota ini ditinggali oleh berbagai macam ras, bukan berarti berbagai budaya bisa hidup berdampingan di kota ini. Sebaliknya, sebuah budaya yang dianut oleh ras manusia, malah menjadi sangat dominan di kota ini. Yaitu menjual dan membeli.
Manusia hidup dengan mengagungkan sebuah benda yang mereka gunakan sebagai alat tukar bernama uang. Di setiap kerajaan, uang selalu memiliki nama yang berbeda-beda.
Uang adalah tujuan utama bagi manusia untuk hidup. Mereka menjual makanan, pakaian, rumah, dan bantuan fisik, hanya untuk mendapatkan uang. Itulah alasan mengapa para manusia yang masih tinggal di kota ini, malah tetap berjualan seperti hari-hari biasa. Mereka hanya berharap untuk mendapatkan keuntungan di situasi sulit seperti ini.
Pasar-pasar kecil ini, terus berada di kedua sisiku, hingga Normen tiba-tiba berbelok ke kiri di pertigaan yang ada di depan kami. Jalan ini terlalu sempit untuk dilewati Hunjar dan Anyx, namun Normen tidak ragu sedikit pun untuk melangkah.
Jajaran rumah yang awalnya berderet dengan rapi, mulai digantikan oleh rumah-rumah dengan kesan kumuh yang sangat kuat. Sepertinya kota megah ini juga ditinggali oleh orang-orang yang terpinggirkan. Wilayah ini adalah buktinya.
Lupakan semua orang dengan penampilan bak bangsawan, di dekat menara gerbang Yifn. Aku sangat yakin bahwa warga yang tinggal di daerah ini, memiliki penampilan seperti para gelandangan di depan gerbang utara kota Donuemont. Semoga tidak ada satu orang pun yang keluar dari rumah-rumah ini, dan semoga Normen tidak membawaku masuk ke dalam salah satu dari rumah-rumah ini.
Sepertinya aku memang tidak diizinkan untuk memanjatkan doa kepada para Xenia. Tepat setelah aku selesai berharap, Normen langsung masuk ke dalam sebuah rumah yang mungkin paling kumuh di daerah ini.
Aku, Anyx, dan Hunjar hanya berdiri di depan rumah kecil yang baru saja dimasuki oleh Normen. Alih-alih rumah, tempat ini lebih cocok disebut sebagai lorong dengan pintu. Hari ini adalah pertama kalinya aku melihat sebuah rumah yang lebarnya hanya sedikit lebih besar dari bahuku.
Permintaanku untuk berbicara di tempat yang sepi, terlalu dianggap serius oleh Normen. Rumah ini bukan hanya sepi, melainkan juga terasing dari kemegahan kota Yifn.
Setidaknya ada sisi baik dari pilihan Normen membawaku ke tempat ini. Aku tidak perlu khawatir akan kemungkinan orang lain mendengar pembicaraan kami. Tidak akan ada orang normal, yang mau untuk masuk ke wilayah kumuh ini.
Normen memang seorang pria tua penuh kejutan. Bagian dalam rumah kumuh ini, berbeda dengan tampilan luarnya. Hunjar bahkan mengaum pelan, sebagai tanda bahwa dia juga sama terkejutnya denganku. Sedangkan Anyx malah mendengus setiap sudut rumah dengan penasaran.
Kemegahan Eroa, atau istana Raja Yifn, bisa disejajarkan dengan bagian dalam rumah ini. Semua benda di rumah ini, terbuat dari logam mulia dalam berbagai jenis. Sedangkan bagian dalam rumah ini, tidak terasa sempit sama sekali.
Langit-langit rumah tidak bisa dijangkau oleh tanganku, meskipun aku melompat setinggi mungkin. Sedangkan luas rumah ini juga sedikit kalah luas dibandingkan aula istana Raja Yifn. Sehingga Hunjar dan Anyx yang tergolong hewan besar, tidak terlihat sesak berada di dalam rumah ini.
Ruangan pertama yang menyambutku, kemungkinan adalah ruang yang biasa dipakai untuk pertemuan. Alasanku menebak ruangan ini sebagai ruang pertemuan adalah karena ada sebuah meja panjang, dengan dua belas kursi di kedua sisinya.
Hanya melihat meja ini sekilas, aku sudah tahu bahwa bahan pembuat meja ini, pasti jenis kayu yang mahal. Apalagi di keenam kaki meja ini, terdapat ukiran kepala naga yang membuka mulut.
Aku jarang memuji perabotan yang dimiliki oleh ras lain, namun aku harus melakukannya sekarang. Meja ini benar-benar berkualitas tinggi, dan aku tidak bisa menyembunyikan fakta itu.
"Ini adalah rumah yang aku beli puluhan tahun lalu," kata Normen sambil membawa dua cangkir kecil di tangannya, yang berasal dari ruangan sebelah. "Rumah ini biasanya ditinggali oleh teman lamaku yang merupakan salah satu perwira tinggi prajurit Alva. Namun, sepertinya dia tidak sedang berada di Yifn."
Pria tua itu duduk di kursi paling tengah. Dia meletakkan dua cangkir itu di atas meja, dan memberiku isyarat sopan, untuk duduk di depannya.
"Anyx, bawa harimau putih ini ke tempat makananmu!" perintah Normen sambil tersenyum kepada sang serigala hitam, yang hanya dibalas oleh Anyx dengan mendengus pelan. Setelah itu, Anyx berjalan pelan ke arah ruangan sebelah.
Anehnya, Hunjar mengikuti Anyx tanpa perlu kusuruh. Sepertinya para hewan memiliki bahasa sendiri, yang mereka pahami satu sama lain. Sama dengan Anyx yang mengerti perkataan Normen, Hunjar juga selalu mengerti apa yang kukatakan.
"Apa yang terjadi kepada Yared?" tanya Normen untuk memulai pembicaraan kami. Dia kembali berdiri, dan pergi ke ruangan sebelah. "Aku akan mengambil cemilan. Kau bisa menceritakan semua detailnya, karena telingaku masih berfungsi dengan baik."
Selepas kepergian Normen, aku mulai menceritakan semua hal yang terjadi kepadaku dan Yared. Mulai dari keputusan untuk berhenti di padang rumput yang tak jauh dari Yifn, p*********n tiga Ashtonas di pagi hari, hingga pertemuanku dengan para pengungsi di Rowyn Selatan.
Cerita yang aku lewatkan adalah soal Lidnaele. Aku tidak mau Normen menganggapku tidak waras, karena bersaksi memiliki pribadi lain dalam diriku. Biarlah fakta soal Eleandil dan Lidnaele tetap menjadi rahasiaku.
Akhirnya ceritaku berakhir, setelah aku memberi tahu Normen soal pesan terakhir Tequr yang akan menyerang ibukota kerajaan Skardolav, Una Vujic.
Reaksi pertama dari Normen adalah meneguk cangkir di depannya, yang ternyata berisi teh hangat.
Aku tidak bisa menebak apa yang dipikirkan oleh Normen. Raut wajahnya tampak biasa saja, namun sorot matanya mengisyaratkan sebuah kecemasan.
"Kita akan menyusulnya?" tanyaku lirih.
Normen masih menyesap tehnya dengan sesekali meniup pelan isi cangkirnya. "Skardolav bukan kerajaan yang menyambut orang asing dengan tangan terbuka seperti Al-Valayne." Akhirnya dia membuka mulutnya.
"Aku akan langsung berangkat menyusul Yared, jika dia berada di kerajaan selain Skardolav," ujar Normen sambil menatapku. "Knox dan seluruh warga kerajaan itu, adalah para manusia yang mementingkan kekuatan di atas segalanya. Harga diri mereka terlalu besar, bahkan untuk meminta tolong kepada kerajaan lain."
"Skardolav adalah kerajaan tempat keluarga Knox berkuasa!?" sergahku.
Normen menganggukkan kepalanya dengan wajah muram. "Dari semua keluarga para Raja dan Ratu di seluruh Ueter, keluarga Knox adalah yang paling kuhindari," terang Normen. Dia beranjak dari kursinya, dan masuk ke sebuah ruangan yang ada di sebelah kiri meja besar ini.
"Aku akan menunjukkan sesuatu padamu, masuklah!" seru Normen dari dalam ruangan itu.
Ternyata di sebelah meja besar ini, terdapat sebuah kamar yang juga sama megahnya. Kasur besar yang empuk, meja kerja yang luas, lemari dengan kemeja mewah, juga sebuah rak gantung yang penuh dengan berbagai jenis senjata.
Normen sedang berlutut di sudut sebelah kasurnya. Di depannya ada rak-rak kecil yang berisi banyak buku. Pria tua itu sedang mencari sebuah buku.
"Kau adalah orang pertama yang kuizinkan masuk ke kamarku," ucapnya setelah berhasil menarik sebuah buku bersampul kuning. Dia melemparkan buku tipis itu ke atas kasurnya. "Buka di halaman empat, dan kau akan mengerti alasanku memutuskan untuk tidak pergi ke Skardolav."
Aku tidak langsung menuruti perintahnya, melainkan memandangi pria itu dengan tatapan tajam. "Kau tidak berniat menolong Yared?" tanyaku.
"Baca halaman empat buku itu!" balasnya dengan sebuah senyuman ramah.
Akhirnya aku tetap menuruti permintaanya. Aku mengambil buku yang ada di atas kasurnya, dan mulai membalikkan halaman ke halaman empat, tanpa melihat judul buku ini.
Halaman empat buku ini, berisi sebuah gambar yang menunjukkan perang antara dua pasukan. Di sisi kiri, pasukan perang memakai baju zirah berwarna hitam legam, dengan mengangkat panji bergambar kepala serigala putih, dengan latar biru tua.
Di sisi kanan, ada kumpulan prajurit lain, yang mengangkat panji bergambar menara, pedang, kapak, panah, dan tombak. Jika pasukan di sisi kiri tampak dari satu pihak yang sama, maka pasukan di sisi kanan lebih tampak seperti sebuah aliansi dari banyak kelompok kecil.
"Apa ini?" tanyaku.
"Ramalan," jawab Normen. "Para penduduk di seluruh Laustrowana, mengetahui sebuah ramalan besar yang menjadi sebuah rahasia umum. Ramalan soal kejatuhan Laustrowana."
"Bagaimana Laustrowana bisa jatuh?"
"Lihat bagian belakang buku itu, dan kau akan menemukan jawabannya," balas Normen.
Aku mengikuti sarannya, dan melihat bagian sampul belakang buku ini. Tertulis sebuah puisi, yang ternyata adalah ramalan dengan tulisan yang indah. Bunyinya :
Laustrowana dalam kabut tebal
Keturunan Knox akan menjadi bebal
Pangeran di timur adalah lawan tangguh
Musuh besar satukan lawan menjadi teguh
Tiga pahlawan akan jatuh
Namun Ueter akan tetap utuh
"Ada baris yang hilang di ramalan itu," terang Normen. "Lebih tepatnya, dua baris telah hilang dari ramalan itu. Namun kita tetap bisa mendapatkan pesan dari ramalan itu."
"Knox dan pangeran dari timur akan berperang," gumamku. Jika berhubungan dengan pangeran, maka hanya ada satu jawaban. "Apakah pangeran di timur adalah pemimpin Preant?"
Normen tersenyum bangga kepadaku. Dia menganggukkan kepalanya pelan. "Itulah tujuan kita," ucapnya. "Preant akan menjadi musuh yang tangguh bagi Skardolav."