Bab 41 - Kedatangan Seekor Sahabat Lama

2002 Kata
Tidak ada perasaan yang bisa menggambarkan kebahagiaanku saat ini. Alasannya karena Hunjar, harimau putih tungganganku, berhasil menyusulku sampai ke Laustrowana. Hewan ini bahkan mengajak serigala hitam besar milik Normen bersamanya. Cerita pertemuanku dengan Hunjar setelah berhari-hari berpisah karena berbeda pulau, dimulai sejak aku berhasil mengatasi dilemaku. Beberapa jam lalu, aku memilih untuk mengajak Zafra dan para warga Rowyn untuk berbicara, alih-alih kembali ke Yifn untuk memberi kabar kepada Normen soal rencana Tequr yang akan menaklukkan ibukota Skardolav. Perkataan Yared soal keselamatan para pengungsi merupakan target utama, membuatku memilih untuk bernegosiasi dan berusaha mengamankan orang-orang ini lebih dulu. Dengan penataan kalimat yang jauh dari kata baik, aku memberanikan diri untuk bertemu dengan kepala desa, dan Zafra. Ratusan tahun berada di sisi Briaron seharusnya membuatku terciprat sedikit kemampuannya. Untungnya Zafra masih mengenaliku, sehingga dia langsung meminta para warga untuk membuka gerbang selatan dan membiarkanku masuk ke Rowyn. Selanjutnya, Zafra mengajakku berbicara bersama kepala desa di ruangan kecil dari sebuah rumah. "Elf ini adalah yang menolong saya dari serangan Valerio," ujar Zafra kepada kepala desa, sambil mengarahkan tangannya kepadaku. "Dia adalah salah satu yang paling berperan penting, untuk keselamatan hidup saya." Kepala desa menganggukkan kepalanya pelan. "Terimakasih karena telah menyelamatkan salah satu warga terbaik Rowyn," katanya sembari mengulurkan tangannya kepadaku. "Salam kenal. Nama saya adalah Gradito, putra Grasius." Kepala desa Rowyn adalah seorang pria paruh baya dengan rambut perak yang panjangnya menyentuh bahu. Aku tidak bisa menebak umurnya, karena manusia memiliki pertumbuhan yang jauh berbeda dengan para orc. Namun, aku sangat yakin bahwa pria ini adalah salah satu orang tertua di desa ini. Gradito si kepala desa, berjalan dengan dibantu sebuah tongkat pendek dengan ukiran kepala ular di pegangannya. Ukiran itu membuatnya tampak sedikit berwibawa. Selain kaki yang lemah, bagian tubuh lain dari sang kepala desa juga menunjukkan bahwa dirinya tidak lagi muda. Pertama, mata kirinya yang hampir menutup, hingga menimbulkan kesan sayu. Lalu keriput yang ada di wajah, punggung tangan, juga lehernya, terlihat sangat jelas. Aku tidak tahu alasan para warga desa Rowyn memilihnya menjadi kepala desa. Seharusnya, orang lain yang lebih muda dan kuat, yang memimpin sebuah desa. Apalagi, Rowyn adalah batas paling utara dari Al-Valayne. "Biarkan mereka masuk!" tegasku tepat setelah aku baru saja duduk di hadapan mereka berdua. "Aku sangat mengerti alasan kalian melarang mereka masuk. Namun, mereka semua tetaplah warga kerajaan kalian." "Larangan kami, bukanlah soal asal kerajaan mereka," ucap Gradito. "Sama seperti mereka menginginkan keamanan, warga Rowyn juga menginginkan hal yang sama." Suaranya jauh berbeda dibandingkan saat pria tua ini memperkenalkan dirinya padaku. Suaranya yang tegas dan berwibawa, tiba-tiba berubah menjadi bergetar khas orang tua. Apakah ini adalah suara aslinya. "Mereka hanya orang tua dan para orang cacat," balasku. "Mereka tidak bisa membela diri mereka sendiri. Jika kalian tidak membiarkan mereka masuk, maka mereka akan membusuk di luar gerbang dalam beberapa hari." "Aku lebih memilih pilihan itu," pungkas Zafra tajam. "Rowyn sudah menjadi tempat tinggal seorang pembunuh berantai selama empat bulan. Kami tidak bisa memercayai Yifn, atau Alvalay lagi." "Anda adalah alasan dibalik tertangkapnya Valerio, bukan para petugas, atau prajurit Alva." Zafra menatapku dengan tajam. Di mata anak ini, tidak terlihat keraguan sedikit pun. Dia berubah dalam sekejap, hanya karena kematian yang hampir menyergapnya. "Aku akan menerima Anda, Tuan Yared, atau Tuan Normen, jika kalian yang meminta izin untuk masuk. Namun tidak dengan para orang asing itu. Gerbang Rowyn akan tertutup untuk mereka," sambungnya tegas. "Yared hilang, dan Normen harus mempertahankan Yifn dari serangan seorang penyihir kuat," kataku sembari menghela napas. "Jika kalian tidak menerima orang-orang ini, maka aku juga tidak bisa mencari Yared yang diculik." "Sayang sekali Tuan Yared harus diculik," desah Zafra. Anak ini ingin terdengar peduli akan Yared yang sudah menyelamatkannya, namun telingaku tidak bisa dibohongi. Aku tidak merasakan kejujuran dalam setiap kata yang dia ucapkan. Aku menunjuk Zafra dengan balas menatapnya tajam. "Sebagai orang yang hampir mati mengenaskan, kau seharusnya tahu rasanya hampir menghadap Xenia penguasa jiwa orang mati," desisku. "Bukannya menganggap kematian sebagai hal yang sakral, kau malah memilih untuk membunuh ratusan orang itu demi keselamatanmu sendiri." Gradito beranjak berdiri sambil mengangkat tangan kanannya. Sebelum pria tua itu menghentikanku, aku juga berdiri dan segera melanjutkan kalimatku. "Aku, Normen, Yared, dan Aldcera, berani bertaruh nyawa demi keselamatanmu!" semburku. Aku tidak bisa lagi menahan diri. "Yared bahkan terus berada di sisimu, selagi tiga orang memojokkan Valerio. Apakah kau tidak peduli dengan orang yang sudah berusaha menyembuhkanmu?" Untuk sejenak, ketegangan benar-benar meliputi udara di sekitar kami. Gradito yang tadinya berniat angkat bicara, malah kembali duduk di kursinya. Pria tua ini pasti mengerti alasanku marah kepada Zafra. Jika kau hanya memikirkan keselamatanmu sendiri, janganlah menghambat keselamatan orang lain. Itulah pesan Tuan Daeron kepadaku, saat aku bertanya jika sebuah pilihan sulit ada di hadapanku. Pesan Tuan Daeron adalah yang memimpinku untuk mengambil setiap keputusanku selama ini. Yang paling dekat adalah keputusanku untuk memperjuangkan keselamatan para pengungsi, alih-alih kembali ke Yifn, untuk segera mempersiapkan misi pencarian Yared. "Jika ... Jika mereka tinggal di sini, di manakah kami harus memberi mereka tempat tinggal?" cicit Yared dengan suara rendah sambil menundukkan kepalanya. Kekesalanku kepada Zafra hanya karena dia malah takluk dengan ketakutan dan pengalaman buruknya. Padahal anak ini memiliki potensi untuk menjadi seorang pemimpin, sejak pertama kali aku berbicara dengannya. Dibandingkan dengan Ezra yang lebih radikal, Zafra memiliki karakter yang jauh lebih logis. Dia selalu melakukan segala sesuatu berdasarkan pertimbangan matang, bukan karena mengikuti hatinya. Karena itu, aku jauh lebih memercayai Zafra ketimbang Ezra. Aura yang dimiliki Zafra, lebih kental dengan kebaikan dan ketulusan. Sedangkan adiknya kadang-kadang menguarkan hawa membunuh, saat dia sudah dikuasai emosi. Aku melepaskan senyum yang sejak tadi seharusnya muncul sejak melihat wajah Zafra di balik gerbang selatan. "Akhirnya aku bisa melihat karaktermu yang asli," ucapku. "Zafra yang kukenal, bukanlah pribadi yang dikuasai oleh ketakutan." Zafra mendongak melihatku. Matanya berkaca-kaca, untuk menahan tangis yang dia tahan karena ketakutannya. "Maafkan aku, Tuan Eleandil," katanya dengan suara bergetar. "Aku hanya tidak mau sesuatu yang buruk menimpa para warga desa ini, seperti yang telah menimpaku dan Ezra." "Adikmu baik-baik saja," kataku pelan. Kedua mata Zafra langsung membesar. Dia memegang tanganku erat. "Anda sudah bertemu dengannya? Apakah sekarang dia ada di Yifn? Apakah dia terluka?" Aku membalas genggamannya dengan tepukan pelan di punggung tangannya dan menatap matanya lekat. "Adikmu baik-baik saja," jawabku. "Anak itu bahkan menjadi pemimpin para warga Yifn, untuk mempertahankan kota itu dari serangan seorang penjahat besar." "Adikmu, Ezra, berniat untuk kembali ke Rowyn bersama dengan para pengungsi ini. Jika adikmu yang di sini, akankah kau tetap menolak mereka semua untuk masuk ke Rowyn?" tanyaku sembari menaikkan alis. Aku mengalihkan pandanganku kepada kepala desa Rowyn, Gradito. "Apakah desa ini tidak memiliki sebuah bangunan besar yang kosong?" tanyaku. Pria tua itu menatap langit-langit ruangan ini selama beberapa detik, sebelum akhirnya memberi jawaban atas pertanyaanku, "Peternakan di dekat gerbang selatan, tidak memiliki penghuni. Bangunan itu bisa menampung sekitar empat puluh orang." "Di luar gerbang barat dan timur, juga ada bangunan serupa, namun ukurannya sedikit lebih kecil. Mungkin hanya bisa menampung sekitar dua puluh orang untuk setiap bangunan. Sedangkan untuk para prajurit, saya menyarankan agar mereka tinggal di rumah Valerio di gerbang utara," terang Gradito. Ternyata pria tua ini mendengarkan semua pembicaraanku dengan Zafra. Selagi kami berdebat, dia memikirkan solusi terbaik untuk para pengungsi yang ada di luar, jika akhirnya Zafra memutuskan untuk menerima para pengungsi. Mendengarnya mengatakan semua tempat itu dalam satu tarikan napas, membuatku mengerti alasan para warga Rowyn memilih orang ini sebagai pemimpin mereka. Gradito memiliki kebijaksanaan dan wibawa yang unik, namun membuat kita bisa bergantung pada keputusannya. Karena keputusan Zafra dan Gradito sudah bulat, maka kejadian selanjutnya berlangsung begitu cepat. Para warga yang menolak masuknya para pengungi dari Yifn, kebanyakan berasal dari kalangan orang kaya yang tidak membiarkan harta mereka dipakai untuk berbagi. Sedangkan orang-orang sederhana di Rowyn, malah menyambut para pengungsi dengan tangan terbuka. Mereka menuntun para orang tua ke tiga bangunan yang sudah disebutkan oleh Gradito, sebagai tempat tinggal sementara untuk mereka. Bahkan, para tabib dan penyembuh malah membawa orang-orang cacat ke rumah mereka. Secara moral, para manusia memang jauh di bawah elf. Namun kadangkala hatiku bisa terasa hangat, hanya karena melihat kebaikan manusia kepada sesamanya. Mungkin karena aku jarang melihat para manusia membantu sesama mereka. Aku berpamitan kepada dua prajurit tersisa, dari empat prajurit yang berangkat dari Yifn. Mereka berdua tinggal di rumah Valerio, sekaligus bertugas sebagai penjaga gerbang utara Rowyn. Aku juga memberi mereka berdua mandat untuk menjaga para pengungsi, sampai aku datang untuk menjemput mereka. Setelah berpamitan kepada dua prajurit itu, aku juga mengucapkan salam perpisahan kepada Zafra dan Gradito. Zafra bahkan memintaku untuk mengajaknya ke Yifn, sekaligus mencari Yared yang hilang. Untungnya Zafra tidak memiliki prinsip yang teguh. Dia langsung berhenti memaksaku untuk pergi bersamanya, setelah aku mengatakan bahwa menjaga para pengungsi adalah pesan terakhir yang dititipkan Yared kepadaku. Sekarang, aku menyerahkan pesan itu kepada Zafra. Kebaikan warga Rowyn masih berlanjut. Pemilik peternakan di dekat gerbang barat membiarkanku mengambil satu kudanya. Padahal, orang itu ternyata sudah memberi lima kuda epada Aldcera, di perjalanan pertama kami saat membawa Ezra dalam tubuh Valerio ke Yifn. Aku menargetkan sampai di Yifn hanya dalam waktu satu hari, dengan menunggangi kuda yang diberikan sang pemilik peternakan kepadaku. Tanpa siapa pun di sisiku, seharusnya aku bisa melakukan perjalanan dengan cepat. Dua puluh menit setelah aku keluar dari Rowyn, adalah awal mula kebahagiaanku. Seekor binatang dengan kecepatan tinggi, tiba-tiba menghadang lari kuda hitam yang kutunggangi. Sang kuda berbelok tajam, hingga terjatuh dan membuat kami berdua berguling di tanah. Kekesalan meluap dalam hatiku terarah penuh kepada hewan yang menyebabkan aku terjatuh dari punggung seekor kuda, hingga mulutku harus memakan beberapa rumput. Kemarahan dan kekesalan dalam hatiku langsung hilang, setelah melihat wujud hewan yang telah menghadang lari kuda tungganganku. Seekor harimau putih dengan loreng hitam yang tingginya hampir mencapai dadaku, menatapku dengan mata besarnya. Hewan ini adalah makhluk yang selalu ada di sisiku selama aku tinggal di Tekoa. Dia adalah teman baikku selain Briaron. Tidak ada yang bisa kulakukan selain memeluk lehernya erat. Hunjar membalas pelukanku dengan menyundulku pelan. Jika hewan ini bisa berbicara seperti Orion, kuda milik Lass, aku bisa memastikan bahwa Hunjar akan mengatakan bahwa dia merindukanku. Ternyata Hunjar tidak sendirian. Di sebelahnya, seekora serigala hitam yang tingginya hampir setara denganku, mendengus tak sabar. Hewan ini adalah tunggangan Normen yang bisa menyamai, bahkan melebihi kecepatan tunggangan para elf klan Daeron di alam liar. Anyx, itulah nama serigala ini. Meskipun memiliki penampilan yang menakutkan, Anyx bukanlah hewan ganas yang menakutkan. Bagiku, dia lebih tampak seperti anjing besar yang lucu dan memiliki ketaatan kepada pemiliknya. Aku melepaskan pelukanku kepada Hunjar, dan mengelus kepala Anyx sambil tersenyum kepadanya. Anyx tidak melakukan hal manja kepadaku, seperti yang dilakukan Hunjar. Dia malah memamerkan deretan gigi tajamnya kepadaku, yang bisa dianggap sebagai sebuah senyuman. Kedatangan dua hewan cepat ini, seperti sebuah berkat dari para Xenia di tengah situasi yang sulit. Normen pasti akan sangat senang, setelah melihat Anyx berhasil menyusulnya sampai ke Laustrowana. Atau apakah Normen yang menyuruh Anyx menyusulnya? Apa pun alasan kedua hewan ini berhasil menyeberangi selat yang memisahkan Adon dan Laustrowana, bukan menjadi hal yang penting. Toh, mereka sudah ada di sini. Aku melepaskan tali kekang kuda pemberian warga Rowyn, dan memberinya isyarat untuk kembali ke rumahnya. Kuda itu langsung memacu larinya, setelah aku memerintahkannya untuk pergi. Elf memang memiliki kemampuan memahami para hewan dengan baik. Adanya Hunjar di sisiku, membuatku sedikit lebih tenang untuk menyongsong banyak hal menakutkan yang mungkin akan terjadi beberapa hari lagi. Entah peperangan di Yifn, Una Vujic, atau dimana pun, Tequr pasti akan menyerang salah satu kota di pulau ini. Dan sekarang, dua bala bantuan terbaik sudah datang. Hunjar dan Anyx. Aku tidak lagi membutuhkan beberapa jam untuk sampai ke Yifn. Kecepatan Hunjar dan Anyx, akan mengantarkanku ke Yifn dalam waktu beberapa menit saja. Setelah itu, aku bisa langsung menyusun rencana bersama Normen, selagi matahari masih bersinar terik. Tujuan awalku untuk membunuh Tequr karena perintah dari Tuan Daeron, harus sedikit aku ubah. Mulai hari ini, aku tidak mengejar Tequr hanya dengan niat untuk mengalahkannya. Aku mencari penyihir gila itu, untuk menyelamatkan seorang teman yang baru kudapatkan di Laustrowana. Itulah janjiku dalam hati. Aku akan menyelamatkan Yared, apa pun taruhannya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN