Bab 40 - Tugas Utama

2042 Kata
Aku terbangun di padang rumput tempatku terakhir kali melihat tiga Ashtonas menyerang para pengungsi. Hal pertama yang kulakukan adalah berdiri dan melihat keadaan sekitar. Lid tidak menceritakan padaku soal jalannya pertempuran. Dia hanya membangunkanku di ruangan gelap itu, dan memintaku untuk mengambil alih tubuhku. "Sekarang giliranku untuk tidur," kata Lid beberapa saat lalu kepadaku. "Berusahalah untuk tidak bertemu musuh yang kuat. Dalam dua hari ke depan, aku akan tidur akibat kehilangan banyak kekuatan setelah melawan tiga Ashtonas itu." Saat itu aku ingin mendebatnya, karena aku tidak bisa menjanjikan sesuatu yang selalu datang ke hidupku selama beberapa hari terakhir. Bertemu dengan musuh yang kuat. Aku mengurungkan niatku untuk berdebat dengannya, karena wajah Lid benar-benar tampak letih dan pucat. Penampilannya juga tampak lebih menyedihkan daripada biasanya, meskipun seluruh tubuhnya selalu penuh dengan darah. Lid tampak tidak memiliki energi lagi untuk berdiri. Karena dia juga adalah aku, maka aku membiarkannya beristirahat sejenak. Selain itu, aku juga harus berharap agar tidak perlu membangunkannya dengan menghindari musuh yang kuat. Ruangan gelap yang menjadi tempatku bertemu dengan Lid, membuat cahaya matahari siang terasa terlalu menyilaukan mataku. Aku harus mengerjapkan mataku beberapa kali, untuk membiasakan diri dengan sinar matahari. Setelah mulai terbiasa dengan sekitarku, aku menyadari bahwa padang rumput ini bukanlah tempatku pertama kali bertemu dengan para Ashtonas. Sekilas memang tampak sama, namun aku menyadari ada beberapa perbedaan penting antara padang rumput ini dan padang rumput dekat Yifn. Jenis rumput. Padang rumput tempat para Ashtonas menyerang kami, ditumbuhi rumput liar yang kasar dan gatal. Rumput jenis itu hanya bisa ditemui di alam liar yang tak terjamah oleh manusia, elf, kurcaci, atau orc. Singkatnya, padang rumput itu adalah milik para binatang liar. Sedangkan rumput yang ada di bawahku adalah rumput yang terlihat dipotong dengan rapi, dan tidak terlihat liar. Tebakanku, padang rumput ini adalah tempat para gembala hewan ternak membawa hewan-hewannya untuk makan. Tak jauh dari tempatku berdiri, tergeletak tiga mayat Ashtonas dengan luka yang menganga di sekujur tubuh mereka. Aku tidak menyangka bahwa tubuhku memiliki kekuatan sebesar ini, jika Lid yang mengendalikannya. Aku tidak tahu letak padang rumput ini, sehingga aku tidak bisa menentukan arah yang akan aku tuju. Aku juga seudah berjanji untuk tidak mengganggu Lid selama beberapa hari ke depan. Satu-satunya pilihan yang ada di depanku adalah terus berjalan. Dengan ciri khas padang rumput seperti ini, maka setidaknya ada rumah gembala atau sebuah peternakan di dekat sini. Dan di tempat itulah, aku akan menanyakan lokasiku saat ini. Aku sebenarnya tidak terbiasa dengan sinar matahari yang terik, namun banyaknya kejadian penting selama beberapa minggu terakhir memaksaku untuk terus berada di bawah matahari. Meskipun mencoba untuk menambah kecepatan, aku tidak akan bisa menyamai kecepatan lari hewan tunggangan. Lari seorang elf hanya membantuku di pertarungan, bukan di perjalanan jauh seperti ini. Setelah beberapa jam menjadi orang yang hilang, akhirnya aku berhasil melihat siluet rumah besar di kejauhan. Sepertinya, aku berhasil menemukan peternakan yang menjadi alasan padang rumput ini tidak terlalu liar. Ternyata rumah besar yang aku lihat di kejauhan, adalah sebuah lumbung yang berada di tengah-tengah ladang jagung yang luas. Lumbung besar itu dikelilingi pagar dari bambu yang dililit kawat, untuk mencegah orang dari luar memanjatinya. Namun saat aku berada di depan pintu masuk ke area lumbung itu, aku melihat alasan lain dibalik kawat yang melilit pagarnya. Rumah besar itu ternyata bukan lumbung, melainkan tempat tinggal bagi puluhan, atau bahkan ratusan hewan ternak. Mulai dari sapi, domba, ayam, kuda, bahkan babi. Pemilik bangunan ini pasti adalah salah satu orang terkaya di daerah ini. Langkahku untuk masuk dan menggedor pintu rumah si pemilik bangunan, langsung hilang seketika. Alasannya karena aku membaca sebuah tulisan kecil di atas pintu lumbung yang mengejutkan, sekaligus membuatku lega. Tulisan berwarna putih itu, dipahat di atas sebuah batu hitam. Meskipun kecil, aku masih bisa membacanya dengan jelas. Tulisan itu berbunyi: PETERNAKAN WARGA ROWYN SELATAN Pikiranku langsung berkecamuk setelah membaca tulisan itu. Jika peternakan ini adalah milik warga Rowyn Selatan, maka seharusnya desa Rowyn tidak jauh dari tempat ini. Namun tulisan itu juga berarti pertarungan Lid dan tiga Ashtonas berlangsung sangat sengit. Aku ingat bahwa para Ashtonas datang menyerang kami, setelah aku memimpin para pengungsi baru keluar dari Yifn dalam beberapa jam. Tempatku mulai bertarung dengan para Ashtonas tidak terlalu jauh dari Yifn, sehingga aku memerintahkan mereka untuk kembali ke kota itu. Namun, di sinilah aku sekarang. Alih-alih terbangun di dekat Yifn, Lid malah mengembalikan kendali tubuhku di padang rumput dekat peternakan khusus, milik warga Rowyn. Sebuah pertanyaan muncul di otakku. Apakah Yared malah memaksakan diri untuk memimpin para pengungsi ke Rowyn, daripada menuruti perintahku untuk kembali ke Yifn? Tulisan di atas pintu lumbung tadi memang nyata. Hanya perlu beberapa menit berjalan ke utara, aku sudah bisa melihat siluet desa Rowyn yang dikenali oleh kedua mataku. Sore ini, Rowyn tampak lebih ramai dibandingkan dengan kunjungan terakhirku. Ada banyak orang yang berbaris di depan gerbang selatan, dan mereka semua terdiri dari banyak orang tua. Aku segera berlari ke arah gerbang selatan. Dugaanku tepat. Semakin dekat dengan gerbang selatan Rowyn, aku berhasil memastikan bahwa kumpulan orang tua yang berbaris ini, adalah pengungsi dari Yifn yang seharusnya berada di bawah pimpinanku. Para orang tua itu memandangiku dengan takjub sekaligus takut. Mereka seolah baru saja melihat hantu yang hidup kembali dari kematian. Mungkin itulah yang memang terjadi. Seorang wanita tua menghampiriku sembari memberikan roti dengan sebuah senyuman ramah. "Makanlah ini, Anda telah menolong kami semua!" pintanya dengan lembut. Aku mengingat wanita tua ini. Yared memberikan sepotong roti kepadanya, di malam sebelum kami diserang oleh para Ashtonas. "Terimakasih," kataku. Aku mengambil roti dari tangannya. "Anda melihat temanku, pemuda yang memberi Anda roti kemarin malam?" Senyum ramah di wajah wanita ini langsung berubah muram. Dia menundukkan kepalanya, dan tidak berani menatap mataku. "Katakan apa yang terjadi!" pintaku dengan nada serendah mungkin. Si wanita tua tetap menundukkan kepalanya. Sepertinya dia sudah bertekad untuk tidak menjawab pertanyaan yang berhubungan dengan Yared. "Tuan Eleandil!" pekik seseorang dari barisan depan, yang ternyata berasal dari salah satu prajurit Alva, yang bertugas membantuku dan Yared untuk mengawal para pengungsi. Aku meninggalkan wanita tua itu, dan bergegas menghampiri si prajurit. "Bagaimana kalian bisa sampai ke Rowyn dalam satu malam?" tanyaku. "Sebaiknya Anda membantu kami untuk masuk ke Rowyn lebih dulu," balasnya. "Para warga Rowyn menentang kami untuk masuk ke desa mereka, setelah mendapat kabar bahwa Valerio adalah pelaku pembunuhan yang meneror desa ini selama empat bulan." Prajurit Alva itu mengantarkanku ke depan barisan, untuk menuju ke gerbang selatan desa Rowyn. Dan ternyata, barisan para pengungsi lebih panjang dari dugaanku. Ada dua hal yang janggal. Pertama, soal bagaimana cara Yared dan empat prajurit Alva bisa memimpin kumpulan orang tua dan orang cacat ke Rowyn, hanya dalam satu malam. Sesuatu yang bahkan tidak bisa dilakukan olehku dan Aldcera, dengan menunggangi kuda. Dan yang kedua adalah tentang kabar soal Valerio yang merupakan tersangka pembunuhan. Aldcera sudah berhati-hati saat memutuskan untuk membawa Valerio (yang ternyata adalah Ezra), ke Yifn pada malam hari, agar tidak ada satu orang pun yang tahu. Lalu bagaimana kabar itu bisa tersebar? Dari dua pertanyaan yang muncul di otakku, jawaban untuk pertanyaan keduaku langsung tersedia di depanku. Tepatnya, di balik gerbang selatan. Seorang pria muda dengan wajah dan tubuh yang sama persis dengan Ezra, namun tanpa bintik hitam dan kaki yang cacat, sedang berteriak seperti orang gila untuk menolak para pengungsi dari Yifn masuk ke Rowyn. Zafra, putra Ezmar. "Kita tidak boleh membiarkan orang-orang dari tempat asing masuk ke Rowyn!" seru Zafra hingga otot lehernya menegang. "Valerio adalah buktinya! Orang asing hanya akan membuat Rowyn berada dalam bahaya!" Aku tidak bisa menghakimi sikap Zafra. Dia layak untuk membenci Valerio, setelah semua yang dilakukan penjaga gerbang utara itu kepadanya. Namun, dia tidak seharusnya melimpahkan kebenciannya kepada para pengungsi ini. Belum lagi jika Zafra menyadari fakta bahwa Valerio yang menyerangnya saat itu, bukanlah Valerio, melainkan Ezra, adik kandungnya. Zafra tidak hanya sendirian. Di sekitarnya terdapat banyak orang dengan seruan yang sama. Mereka semua menentang para pengungsi untuk masuk ke Rowyn. Di situasi seperti ini, aku sangat membutuhkan kelihaian Briaron atau Amicia dalam bernegosiasi. Warga yang marah dan takut, harus ditenangkan dengan wibawa yang tulus. Dan aku tidak terlalu percaya diri akan keberadaan karakter itu dalam diriku. "Anda mengenal pria muda yang berada di barisan paling depan itu?" tanya si prajurit kepadaku. Aku mengangguk muram. "Dia adalah salah satu korban Valerio yang selamat," jawabku lirih. "Tindakannya menolak para pengungsi, adalah buah dari ketakutan dan traumanya. Aku akan mencoba berbicara dengannya." Fakta bahwa Valerio yang asli sudah meninggal di malam sebelum Ezra menyerang Zafra, harus tetap disembunyikan. Tidak boleh ada yang mengetahui fakta soal seseorang yang memiliki kekuatan mengubah wajah. Sebelum aku mulai berjalan untuk mendekat ke gerbang selatan, si prajurit Alva memegang pundakku. "Tuan Eleandil," ucapnya pelan. Ada perasaan takut dan cemas, dari caranya memanggilku. Dia seperti sedang mengumpulkan keberanian untuk mengatakan sesuatu yang buruk. Mau tidak mau, aku mempersiapkan diriku untuk menerima informasi buruk darinya. Prajurit ini menarik napas panjang, sebelum akhirnya berkata, "Banyak orang yang hilang dalam perjalanan ke Rowyn." Dia menurunkan suaranya. "Salah satunya adalah Tuan Yared." Butuh waktu sekitar sepuluh detik bagi otakku, untuk menerima informasinya. Aku sempat melupakan Yared, setelah melihat Zafra menjadi pemimpin para warga yang menolak para pengungsi masuk. Ternyata inilah alasan wanita tua itu menunduk muram, dan memilih bungkam daripada menjawab pertanyaanku. Sesuatu yang buruk telah menimpa Yared. Aku tidak tahu apakah aku harus lega atau marah. Para pengungsi berhasil sampai dengan selamat di Rowyn, namun orang-orang ini bukanlah keseluruhan orang yang berangkat dari Yifn. Ada beberapa orang yang hilang. Salah satunya adalah Yared. "Jelaskan semua yang terjadi dengan spesifik!" perintahku dengan suara tajam dan tegas. Si prajurit langsung menelan ludah dengan gugup. Dia kembali menarik napas panjang dan menghembuskannya untuk menenangkan diri. "Seorang pria mendatangi kami, saat Anda menahan tiga orang berambut abu-abu itu. Sedangkan kami sedang bergegas kembali ke Yifn, sesuai perintah Anda," ujarnya untuk memulai cerita. "Saat itu, Tuan Yared yang memimpin di depan bersamaku. Sedangkan kereta kuda berisi makanan dan pakaian ada di belakang barisan." "Pria asing itu membuat wajah Tuan Yared langsung menegang, saat dia berada di depan barisan kami." Si prajurit menggigit bibir bawahnya. "Dia meminta kami untuk mengikutinya, atau dia akan membunuh kami." "Yared mengenal pria itu?" desakku. Si prajurit mengangguk lemah. "Tequr Lolazar, begitulah Tuan Yared menyebut namanya dengan lirih," ucap si prajurit. Tubuhnya bergetar karena masih takut untuk mengingat wajah Tequr, namun dia memilih melanjutkan ceritanya. "Lalu apa yang dilakukan Yared?" "Dia mengorbankan dirinya," jawab si prajurit. Kali ini, dia bahkan menunduk lesu. "Dia menyerahkan dirinya kepada Tequr, dan meminta pria itu untuk mengirim para pengungsi ke dekat Rowyn. Tequr tertawa terbahak-bahak, namun dia mengangguk untuk menyetujui syarat Tuan Yared." "Namun, Tequr tidak melakukan tepat seperti yang diminta Tuan Yared. Dia hanya mengirim sebagian besar dari kami. Aku menghitung jumlah pengungsi saat kami sampai di dekat Rowyn, dan jumlah kami hanya seratus orang. Bahkan dua teman prajuritku juga menjadi korban." Jika untuk bernegosiasi aku membutuhkan Briaron dan Amicia, maka saat ini aku benar-benar membutuhkan Tuan Daeron. Semua tindakan yang dilakukan Tequr benar-benar tidak bisa ditebak. Orang gila itu tidak menginvasi Rowyn atau pun Yifn. Dia malah mencegat para orang tua dan orang cacat yang mengungsi, dan menculik sepertiganya. Bahkan, dia juga menyetujui syarat dari Yared untuk mengirim sisanya ke Rowyn. Sebenarnya, apa yang sedang direncanakan oleh Tequr dengan para orang-orang tua itu? Lebih lagi, apa yang dia rencanakan di pulau ini? Semua keputusan dan tindakannya di pulau ini, membuatku seolah tidak lagi mengenal Tequr. Dia tidak lagi seperti orang gila yang haus akan kekuasaan, melainkan musuh kuat yang melakukan segalanya sesuai rencana. "Sebelum kami dikirim oleh Tequr ke Rowyn, Tuan Yared sempat mengatakan sesuatu kepadaku," imbuh si prajurit yang sejak tadi berada di depanku. Aku menaikkan alisku. "Apa?" tanyaku. "Katakan kepada Normen dan Eleandil, bahwa aku tidak akan mati," ucap prajurit itu dengan nada jahil khas Yared. "Aku akan menemui mereka secepatnya, karena Tequr bukanlah tandinganku." Meskipun tidak ada Yared di depanku, mendengar pesan terakhirnya sebelum ikut dengan Tequr membuatku merasa dia ada di depanku. Kalimat itu pasti memang dari Yared. "Apakah dia mengatakan sesuatu yang lain?" sergahku. Si prajurit menggelengkan kepalanya, namun dia malah berkata, "Bukan Yared, melainkan Tequr sendiri yang berbicara bahwa dia akan menaklukkan Una Vujic, ibukota Skardolav." Tanpa sadar, aku menghembuskan napas lega. Akhirnya, aku memiliki tujuan untuk berada di pulau ini. Dan mungkin, pulau ini akan menjadi tempat perang besar yang lain.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN