Bab 39 - Fakta Aneh Kekuatanku

2025 Kata
Membiarkan kekuatan ini menguasai diriku, ternyata terasa sangat memuaskan. Pertama, aku melihat tubuhku melangkah dengan cepat ke arah Ashtonas yang berada di tengah. Tangan kananku memegang pedang, sedangkan sebilah pisau berada di genggaman tangan kiriku. Selama ini, aku hampir tidak pernah menggunakan dua senjata secara bersamaan. Aku lebih terbiasa bertarung dengan fokus memakai satu senjata, karena aku lebih mengedepankan teknik. Dan saat ini, gaya bertarungku benar-benar tanpa teknik. Aku melihat kedua tangaku mengayunkan pedang dan pisauku secara liar, tak beraturan, namun tepat sasaran. Aku bisa menangkis serangan para Ashtonas dengan tepat, bahkan menyerang balik dengan sengit. Jika aku tidak membiarkan kekuatan ini menguasaiku, maka aku pasti dikalahkan dengan cepat. Karena itu aku memilih untuk membiarkan kekuatan ini menguasaiku, setelah sekian lama aku menahannya. Ashtonas berambut sebahu yang ada di kananku, menyerang dengan pedangnya dalam kecepatan tinggi. Tidak kusangka, tubuhku malah menerjang ke arahnya, alih-alih menghindari serangan si Ashtonas. Aku sudah berjanji untuk membiarkan kekuatan klan Zabash untuk menguasaiku, sehingga aku tidak akan mengambil alih tubuhku, dan membiarkan diriku melihat apa yang terjadi. Karena jika aku terluka pun, kekuatan ini malah akan semakin bertambah kuat. Darah yang keluar dari tubuhku, adalah alasan dibalik semakin bertambahnya kekuatan ini. Ternyata kekuatan ini memiliki kemampuan bertarung yang mengesankan. Menghampiri Ashtonas yang menerjang, bukanlah sebuah tindakan bodoh. Sebaliknya, apa yang dilakukan tubuhku adalah sebuah tindakan hebat. Si Ashtonas yang terkejut karena aku malah balik menerjangnya, menjadi panik dan melemparkan tubuhnya ke samping. Kecepatanku tidak kalah dengan Ashtonas, jika aku memakai kekuatan klan Zabash. Yang lebih hebat lagi adalah tindakan selanjutnya dari tubuhku. Aku mengubah arah ke si Ashtonas yang menghindariku, dan melemparkan anak panah tanpa busur di tanganku. Serangan tak terduga itu berhasil menancap di pahanya, dan membuat si tentara matahari meringis kesakitan. Dua Ashtonas lain langsung menerjangku, setelah hanya diam karena terlalu percaya diri akan kemenangan teman mereka. Lagi-lagi, tubuhku bergerak dengan sangat baik. Dengan pisau dan pedang di tanganku, dua makhluk menyebalkan ini tidak berhasil untuk menembus pertahananku sama sekali. "Kita bisa bekerja sama, jika kau mengizinkanku untuk menguasai seluruh tubuhmu," ujar sebuah suara berat kepadaku. "Aku masih belum bisa menguasai pikiranmu." Karena tubuhku sudah kulepaskan untuk bergerak sendiri, maka aku bisa fokus untuk mencari sumber suara yang berbicara padaku. Namun sejauh mataku memandang, hanya tiga Ashtonas ini yang berada di dekatku. Kalau begitu, dari mana asal suara ini? "Aku adalah kesadaran lain dalam dirimu!" bentak si suara dengan nada rendah yang terdengar begitu aneh. "Aku tumbuh di dalam dirimu, bersama kepribadian Eleandil. Bahkan Tuan Daeron mengetahui keberadaanku!" "Kau adalah pribadi lain dalam diriku?" ulangku dengan masih tidak yakin. "Mengapa aku memiliki kepribadian lain? Aku yakin bahwa Eleandil adalah satu-satunya identitasku, dan kau tidak akan bisa membodohiku!" "Selain itu, jangan memakai nama Tuan Daeron untuk membuktikan kebohonganmu! Dia hanya mengenaliku sebagai Eleandil!" Tiba-tiba, sekitarku menjadi gelap. Pertarungan melawan tiga Ashtonas tidak lagi menjadi pemandangan yang ada di depanku. Hanya ada warna hitam sejauh mataku memandang. "Kau tidak perlu khawatir dengan tiga Ashtonas itu," kata suara yang sama. "Aku bisa menahan mereka, dan bahkan mengalahkan mereka. Namun, kau harus memberiku sesuatu." Aku memandang ke sekelilingku, namun si pemilik suara tidak tampak di mana pun. Aku menolak untuk memercayai bahwa ada pribadi lain yang ada dalam diriku. Kekuatan klan Zabash bukanlah kekuatan yang membuat pikiranku memunculkan pribadi yang lain. Umurku hampir tiga ratus tahun, dan jika aku memiliki pribadi lain dalam diriku, maka aku seharusnya mengetahui fakta itu. Pribadi yang mengatakan dirinya hidup di dalamku, tidak bisa bersembunyi selama itu. "Bukan bersembunyi," desah suara itu lagi. "Kau tidak mengizinkanku untuk muncul. Kau hanya membiarkanku menonton semua tindakanmu. Itu membuatku frustrasi, tapi aku tidak memiliki hak untuk menjadi yang utama. Eleandil adalah pikiran utama yang menguasai otakmu." "Kalau begitu tunjukkan dirimu!" bentakku ke udara gelap di depanku. "Jika kau memang ada, maka seharusnya kau memiliki wujud! Aku tidak akan bisa percaya, jika aku tidak melihatmu langsung!" Aku menggertaknya agar dia pergi dan tidak menggangguku. Namun yang suara itu lakukan malah sebaliknya. Dia menyanggupi permintaanku, untuk menampakkan wujudnya. Dari kegelapan pekat di depanku, seorang elf dengan mata merah melangkah ke arahku. Rambut pirangnya yang panjang, dia ikat dengan gaya kuncir kuda. Pria ini hanya melihatku tanpa ekspresi. Jika aku hanya berhenti di wajahnya, maka tidak akan ada yang aneh darinya. Karena kejanggalan dari penampilan elf ini dimulai dari leher hingga ujung kakinya. Sekujur tubuhnya penuh luka dengan darah yang masih menetes. Luka paling besar ada di perutnya. Sepertinya luka itu diakibatkan sayatan sebuah pedang besar, karena panjang luka itu tidak mungkin hanya diakibatkan oleh senjata kecil. Selain itu, ada juga luka di pinggang, paha, lengan atas, juga lehernya. Pria ini sepertinya baru saja kembali dari perang besar. "Ini adalah penampilanmu, jika kau memakai kekuatan klan Zabash," katanya dengan wajah datar. "Dan saat kau menggunakan kekuatan ini, maka akulah yang menguasai tubuhmu." Aku tidak segera membalas perkataannya, setelah dia mengatakan bahwa sosok di depanku ini adalah penampilanku saat sedang dikuasai oleh kekuatan klan Zabash. Pantas saja aku merasa pernah melihatnya di suatu tempat. Ternyata, orang ini adalah aku sendiri. Hatiku menolak untuk percaya dengan perkataannya, namun kedua mataku tidak mungkin mengkhianatiku. Elf di depanku ini, sungguh adalah diriku sendiri. Tidak ada satu pun elf dari Tekoa, yang memiliki penampilan seperti ini. "Bagaimana kau bisa muncul dalam diriku?" tanyaku dengan suara yang mencoba untuk tetap tenang. "Maksudku, sejak kapan kau muncul? Kau bukan hasil sihir dari Tequr atau penyihir lain, kan?" Sosok itu mendengus, lalu tertawa kecil. "Jika aku memiliki sifat dan tujuan yang jahat, maka aku tidak akan mengalah darimu," balasnya. "Aku mengalah, karena aku ingin bersahabat denganmu. Satu-satunya yang bisa mendengarku adalah kau, Eleandil." "Mengapa... Mengapa hanya aku yang bisa mendengarmu? Lalu, mengapa kau malah muncul di dalam diriku? Apakah semua elf memiliki sosok seperti dirimu di dalam tubuh mereka masing-masing?" sergahku. Dia melangkah ke arahku, sehingga jarak kami semakin dekat. Anehnya, aku tidak merasakan aura jahat darinya. Semua kalimat yang dia katakan juga merupakan kebenaran. "Karena aku di dalam dirimu. Itulah alasanmu bisa mendengarku," jawabnya tenang. "Kau adalah elf yang istimewa, El. Kau memiliki darah Zabash dan manusia yang mengalir dalam tubuhmu. Kau dibesarkan oleh klan Daeron, sehingga tubuhmu mampun beradaptasi dan berubah seperti kebanyakan klan Daeron. Terakhir, kau memiliki ambisi selayaknya manusia." "Hanya dengan Eleandil di dalam dirimu, kau tidak akan bisa menahan semua kekuatan besar itu. Karena itu pikiranmu memutuskan untuk menciptakanku." Dia menaikkan alisnya karena melihatku yang masih memandanginya dengan takjub. "Benar. Sederhananya aku adalah ciptaanmu, di saat kau berada dalam masa sulit." Seharusnya aku menentang perkataan pria ini, dan menyuruhnya untuk pergi dari hadapanku. Namun aku tidak bisa melakukannya. Pikiran dan hatiku seperti setuju dengan semua yang dia katakan. Aku bahkan tidak tertawa saat dia mengatakan bahwa akulah yang menciptakannya. Setelah aku mengingat lagi, hari ini memang bukan pertama kalinya aku mendengar suara yang hanya ada di pikiranku. Tepat seperti yang dikatakan pria ini, suara aneh itu selalu muncul saat aku menggunakan kekuatan klan Zabash. Mungkin aku harus meletakkan harga diriku sejenak, dan mendengarkan apa yang dikatakan oleh orang ini. Jika dia memang pribadi lain dalam diriku, mau tidak mau aku harus berdamai dan bekerja sama dengannya. "Katakan semua yang perlu kutahu soal dirimu," putusku. "Jangan mencoba untuk menyembunyikan kebenaran. Aku bisa mengetahui kebohongan hanya dengan melihat pandangan matamu. Sebaiknya kau gunakan kesempatan ini untuk membuatku percaya padamu." Elf itu tersenyum cerah. Dia mengulurkan tangannya padaku. "Kita bisa memulai dengan perkenalan," katanya. "Namaku Lidnaele. Aku adalah pribadi yang kau percayakan untuk menguasai tubuhmu, saat kau memutuskan untuk menggunakan kekuatan klan Zabash." Aku hampir saja tertawa keras, saat dia menyebutkan namanya. Lidnaele adalah kebalikan dari namaku, Eleandil. Entah orang ini memang tidak kreatif, atau justru seseorang telah memberinya nama bodoh itu. Tetapi wajah polosnya membuatku tidak tega menertawakannya. Aku memilih untuk bertindak baik dengan mengulurkan tanganku untuk menyambut perkenalannya. "Eleandil," balasku dengan seramah mungkin. "Kau tidak menanyakan arti namaku?" tanya Lidnaele sambil memiringkan kepalanya. "Atau mungkin menurutmu namaku adalah nama yang biasa. Begitukah?" Mungkin raut wajahku yang mencoba menahan tawa terlalu kentara. Aku memang tidak terlalu pandai untuk menyembunyikan emosi, karena aku memang tidak terbiasa melakukannya. "Kau bisa menjelaskan semuanya, dimulai dari arti namamu yang adalah kebalikan dari namaku," terangku. "Lidnaele, ingatlah bahwa aku bisa menilai kadar kejujuranmu." Lidnaele mengangguk dengan cepat. "Berbohong kepasa diriku sendiri, bukan pilihan yang akan kuambil," balasnya. "Selain itu, kau bisa memanggilku Lid, mulai sekarang." "Pertama, aku akan menjelaskan soal nama yang aku miliki." Tiba-tiba, ruangan gelap ini sedikit berguncang. Lid hanya mengarahkan matanya ke atas, sebelum melanjutkan ceritanya seolah tidak ada kejadian apa pun. "Tuan Daeron yang memberiku nama ini, sejak pertama kali kau menggunakan kekuatan klan Zabash, sekitar dua ratus tahun lalu di sekitar pegunungan Barat pulau Adon," paparnya. "Saat itu, kau langsung pingsan di tengah pertarungan melawan para orc. Akhirnya pikiranmu menciptakan pribadi lain, yang bisa bertahan dari tekanan kekuatan gabungan klan Zabash dan Daeron. Itulah hari kelahiranku." "Tuan Daeron menyadari bahwa kesadaran yang menguasai tubuh ini bukanlah Eleandil, melainkan orang lain. Tuan Daeron memberiku nama Lidnaele, karena dia melihatku sebagai kebalikan dari dirimu." Lid menunjukku sambil tersenyum. "Kau adalah elf dengan karakter yang baik, sedangkan aku adalah petarung yang haus darah. Penamaan Tuan Daeron benar-benar menggambarkanku dengan baik." Aku tidak terlalu ingat dengan momen itu, karena yang ada aku ingat adalah sekelilingku menjadi berwarna merah, dan tubuhku bergerak sendiri. Saat aku kembali sadar, di sekitarku sudah tergeletak puluhan tubuh orc tanpa nyawa. Tuan Daeron mengatakan bahwa akulah yang membunuh sebagian besar dari mereka. Ternyata momen itulah yang menjadi awal lahirnya Lidnaele dalam pikiranku. Aku tidak bisa menahan semua kekuatan yang berusaha muncul dalam diriku, sehingga otakku malah memilih untuk menciptakan kepribadian lain. "Bagaimana soal mengalah denganku?" tanyaku lagi. "Akhir-akhir ini, kau menggunakan kekuatan klan Zabash terlalu sering. Itu menyebabkan kau terbiasa menggunakannya, dan tidak membiarkan diriku untuk menguasai tubuhmu," jawabnya. "Meskipun cukup efektif, kekuatan klan Zabash tetap tidak akan mengeluarkan potensi terbesarnya, jika kau masih memimpin tubuhmu." "Memangnya, apa potensi terbesar kekuatan ini?" balasku sengit. "Dengan kesadaranku sebagai Eleandil, bukankah kekuatan ini lebih kuat? Aku berhasil menahan seekor singa raksasa, dan mengalahkan enam elf klan Zabash sekaligus, saat pikiranku masih menguasai tubuhku." "Lalu, mengapa kau malah membiarkan aku menguasai tubuhmu, saat ada tiga Ashtonas di depanmu?" Ujung kiri bibir Lid melengkung ke atas. "Karena kau sadar, bahwa kekuatan klan Zabash seharusnya tidak kau kendalikan sendiri. Kekuatan klan Zabash seharusnya dibiarkan menguasai tubuhmu. Bukankah begitu?" Bantahan Lid tidak bisa kubalas. Alasan utamaku menjadikan kekuatan klan Zabash sebagai kemampuan rahasiaku, adalah karena aku takut kekuatan itu akan melahapku. Aku sangat sadar, bahwa kekuatan besar itu berusaha mengambil alih pikiranku. Ternyata yang terjadi di dalam pikiranku malah sebaliknya. Pikiranku sendiri yang menciptakan pribadi baru, yang hanya bertugas untuk mengambil alih tubuhku saat aku memutuskan memakai kekuatan klan Zabash. Lid bukan berusaha melahapku, tetapi aku menciptakannya untuk membantuku. Ruangan hitam ini kembali berguncang. Kali ini guncangannya lebih kuat daripada sebelumnya, seolah baru saja terjadi gempa di luar ruangan gelap ini. Kali ini Lid tidak bisa mengabaikan guncangan yang membuat ruangan ini bergetar. "Kau harus membuat keputusan saat ini juga," tegasnya. "Di luar sana, tubuhmu sudah tidak bisa bertahan lebih lama lagi. Para Ashtonas sedikit lagi akan membunuhmu." Aku tidak merasakan kebohongan dalam kalimatnya. Jika ditambah dengan guncangan yang terus menerus menjadi lebih kencang, mungkin Lid memang sedang mengatakan kebenaran. "Apa yang kau minta dariku?" tanyaku. Meskipun sebuah keputusan yang sulit, aku tidak memiliki pilihan lain. Satu-satunya jalan yang tersedia di depanku adalah menuruti Lid, yang memang tercipta untuk mengendalikan tubuhku saat menggunakan kekuatan klan Zabash. "Sederhana," jawabnya lirih. "Aku hanya memintamu untuk tidur, dan membiarkanku untuk mengambil alih tubuh dan pikiranmu." Saat bertarung melawan para orc di pengunungan barat dua ratus tahun lalu, pikiranku yang terlalu lemah akhirnya membuatku menyerahkan kendali tubuhku kepada Lid secara sukarela. Sekarang situasinya berbeda. Lid meminta persetujuanku, dan aku bisa menolaknya. Selama beberapa hari terakhir, aku belajar banyak hal baru di Laustrowana. Namun satu hal yang paling mengubahku, yaitu aku belajar menjadi pribadi yang mau memercayai orang lain. Aku bisa menaruh kepercayaanku yang mahal kepada Normen, Yared, Hunra, Nuvian, bahkan Ezra. Seharusnya aku juga bisa memercayai pribadi yang aku ciptakan, dan hidup dalam pikiranku. "Baiklah," ujarku pelan, namun jelas. "Ambil alih tubuh dan pikiranku, dengan satu syarat." "Katakan!" balas Lid dengan rahang yang menegang. "Habisi mereka semua," desisku.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN