Bantuan prajurit Al-Valayne membuat tugas Normen, Bella, dan Ezra lebih mudah.
Mereka bertiga hanya perlu mengawasi para warga yang dilatih untuk memegang senjata oleh prajurit. Sebuah langkah sederhana yang mungkin bisa mempertahankan kota mereka sendiri.
Aku juga cukup terkejut dengan popularitas Bella di antara warga. Gadis itu bisa membuat banyak warga percaya, bahkan mau untuk mengungsi ke Rowyn bersamaku dan Yared. Akhirnya, kami berhasil mengumpulkan golongan yang seharusnya memang tidak ikut berperang.
Para manusia yang sudah tua, anak-anak, juga wanita yang tidak sanggup berperang, adalah daftar golongan yang harus aku dan Yared pimpin hingga tiba di Rowyn dengan selamat. Sedangkan semua pria baik elf, kurcaci, juga manusia, akan mengangkat senjata untuk mempertahankan kota ini.
Semua golongan orang-orang yang mengungsi itu, dikumpulkan di depan istana Raja oleh Bella dan Ezra dengan bantuan prajurit Alva yang tersisa. Mereka akan kami pimpin keluar dari Yifn, melewati lubang di tembok utara yang diakibatkan oleh pertarungan Hunra dan Ezra.
"Kau yakin bahwa Tequr akan menyerang kota ini alih-alih Rowyn?" bisik Yared.
Sebenarnya, kekhawatiran Yared memiliki dasar yang kuat. Menurut cerita Ezra, Tequr sempat tinggal di Rowyn selama beberapa hari, tepatnya di penginapan Kinbold. Kemungkinan penyihir itu menyerang Rowyn masih terbuka lebar.
Namun aku memiliki alasan untuk bertaruh di Yifn. Kota ini adalah ibukota Alcyne dengan jumlah penduduk yang berkali lipat daripada penduduk Rowyn. Karakter serakah dan ambisius dari Tequr, membuatku sangat yakin bahwa dia akan menyerang Yifn. Apalagi jika ditambah fakta tidak adanya Raja di sini.
"Kita tidak memiliki pilihan lain," balasku muram. "Rowyn tidak siap untuk berperang. Jika aku tidak salah, desa itu juga berjarak sangat jauh dari Alvalay. Jika aku menjadi Tequr, aku tidak akan menyerang desa yang tampak kecil dibandingkan Yifn yang sangat megah."
"Mari berharap bahwa Tequr masih belum mengetahui keberadaan kita di sini. Kita juga tidak tahu apakah penyihir itu sudah membuat bala tentara Ogrotso di pulau ini. Kemungkinan besar, dia tidak akan memiliki banyak Ogrotso setelah bertarung habis-habisan di Adon," sambungku.
Yared menganggukan kepalanya pelan. Anak itu menarik napas panjang, lalu menghembuskannya sambil menggoyangkan telapak tangannya. Bukan hanya Yared, aku juga khawatir akan ada hal buruk yang menimpa ribuan orang ini. Namun, pilihan terbaik memang adalah mengungsikan mereka ke Rowyn.
Selagi aku dan Yared sedang bergelut dengan pikiran kami masing-masing, Bella si gadis elf sok tahu tiba-tiba berada di sebelahku.
"Hanya seratus lima puluh orang yang akan pergi ke Rowyn," ujarnya. Aku sudah membuka mulut untuk memarahi gadis ini karena tidak bisa membujuk para warga. Namun, dia malah menempelkan jari telunjuk ke bibirnya.
"Para wanita tidak mau meninggalkan suami mereka, dan mereka juga tidak mau anak-anak sendirian di Rowyn. Jadi, hanya orang-orang lanjut usia dan orang-orang cacat yang pergi bersama kalian," katanya cepat. "Bukankah kita harus menghormati keputusan mereka?"
Sanggahan Bella tepat sasaran. Aku tidak bisa memaksakan hak para warga Yifn, jika mereka memilih untuk bertarung, alih-alih mengungsi. Kehilangan rumah, keluarga, dan harta benda, bukan pertaruhan yang mudah dilakukan.
Di sini, aku hanya berusaha untuk mengecilkan jumlah korban, bukan menjadi pemimpin yang mengambil keputusan mutlak. Masa depan setiap orang, tetap ada di tangan mereka masing-masing.
Meskipun berat, akhirnya aku tetap menganggukkan kepalaku. "Aku dan Yared akan memimpin seratus lima puluh orang itu ke Rowyn," putusku. "Jaga kota ini hingga kami kembali!"
Bella tersenyum lebar kepadaku, sambil mengulurkan tangannya. "Mari saling berharap kepada satu sama lain," katanya. "Aku juga akan berharap penyihir itu tidak datang ke Yifn sesuai dugaanmu."
Aku menyambut uluran tangannya. "Begitu juga denganku," balasku. "Tidak ada orang yang cukup bodoh untuk mau melawan Tequr. Penyihir itu adalah musuh paling menakutkan yang pernah aku lawan."
Selepas itu, Bella kembali ke depan istana Raja untuk kembali bergabung bersama Ezra dan para petugas Alva. Saatnya aku dan Yared untuk bergerak memimpin para pengungsi ini ke Rowyn.
Tepat seperti apa yang dikatakan Bella, para pengungsi hanya terdiri dari para orang tua dan beberapa orang cacat. Kelompok ini memang tidak akan membantu sama sekali, jika perang terjadi.
Dengan berkuda, Aldcera dan dua temanku yang memulai perjalanan di pagi hari dari Rowyn, berhasil sampai ke Yifn dalam waktu kurang dari dua hari. Maka dengan berjalan kaki, aku dan Yared mungkin bisa sampai ke Rowyn sekitar tiga hari.
Aku dan Yared ditemani oleh empat prajurit Alva yang membawa kereta kuda berisi persediaan makanan untuk tiga hari, dan barang-barang para pengungsi. Beberapa orang yang tidak bisa berjalan, juga kami dudukkan di atas kereta kuda itu. Kereta kuda akan berada di tengah barisan, dan akan luput dari musuh jika kami diserang.
Untungnya kami membawa orang-orang yang tidak akan menghabiskan banyak makanan. Para orang tua biasanya hanya makan setengah porsi makanan orang muda. Intinya, rencana kami seharusnya bisa dieksekusi dengan baik.
"Pimpin mereka dari depan," bisik Yared sambil menepuk punggungku pelan. "Aku akan berjaga di barisan paling belakang. Kita tidak boleh membiarkan satu orang pun tertinggal."
Aku setuju dengan usul Yared, sehingga kami berdua berpisah untuk ke segera posisi masing-masing. Yared akan ditemani tiga prajurit Alva, sedangkan satu prajurit Alva akan berada di depan barisan bersamaku.
Di depan barisan, aku membuat para pengungsi ini berbaris dengan rapi setelah mereka keluar dari kota Yifn. Setiap baris akan diisi oleh empat sampai lima orang yang memiliki hubungan darah, atau teman dekat. Dengan begitu, mereka juga akan saling menjaga orang terdekat.
Raut wajah mereka terlihat gelisah dan penuh kekhawatiran. Reaksi normal dari orang-orang yang terdampak akibat perang yang akan terjadi. Mereka pasti mengkhawatirkan keselamatan mereka sendiri, terlebih keselamatan orang-orang yang bertahan di dalam kota.
Tugasku sebagai pemimpin adalah menenangkan dan memberi mereka rasa aman. Karena itu, aku selalu menenangkan mereka di sepanjang jalan ke Rowyn. Dalam dua hari ini, aku akan berusaha semampuku untuk menjaga mereka agar tetap aman.
Bulan yang menerangi di atas kami hanya setengah lingkaran. Malam hari biasanya akan berlalu lebih cepat, saat berada di alam liar. Setidaknya itulah pengalamanku selama menjadi pembawa pesan Daeron ke kota dan desa di seluruh Adon.
Aku terus memimpin barisan pengungsi, hingga tembok dan menara megah Yifn sudah tidak terlihat di belakang kami.
"Tuan Eleandil!" panggil prajurit Alva seharusnya ada di sebelahku. Aku menoleh ke belakang, dan ternyata aku sudah berjalan terlalu jauh dari iring-iringan. Baris terdepan mereka, berjarak puluhan langkah dari tempatku berdiri.
Aku melupakan sebuah fakta penting di perjalanan ini, bahwa aku sedang memimpin para orang tua dan orang-orang cacat. Mereka tidak akan bisa berjalan dengan kecepatan yang sama denganku.
Saat aku sampai ke dekat mereka, semua orang itu tampak kelelahan. Beberapa nenek juga tampak pucat, hingga mereka terduduk karena tak kuasa menahan lelah.
Dengan situasi seperti ini, aku tidak bisa memaksa mereka untuk meneruskan perjalanan. Mau tidak mau, kami harus berhenti dan beristirahat di sini. Perkiraanku, kami bahkan belum menyentuh seperempat perjalanan.
Setelah mendapat izin untuk beristirahat, mereka semua langsung duduk di atas tanah tak bertuan ini. Beberapa di antara mereka bahkan langsung berbaring dengan memakai jubah mereka sebagai alas kepala.
Aku berjalan ke belakang barisan untuk mencari Yared. Untungnya anak itu tidak ikut berbaring, melainkan malah membagikan roti-roti kecil untuk orang-orang yang masih terjaga.
"Masih jauh?" tanyanya sembari memberikan seorang roti ke seorang nenek dengan senyuman ramah, yang jarang dia tampakkan ke orang lain.
"Kita masih belum terlalu jauh dari Yifn," balasku jujur. "Aku tidak yakin kalau kita akan sampai di Rowyn sesuai rencana. Kita mungkin akan telat satu atau dua hari, jika berjalan dengan kecepatan seperti ini."
Yared tertawa kecil. "El, kau terlalu memaksakan dirimu," kekehnya. "Empat hari pun masih terlalu cepat. Tebakanku malah butuh waktu seminggu, untuk sampai ke Rowyn."
"Yang paling penting bukan berapa lama kita sampai di Rowyn, melainkan menjaga keselamatan mereka semua. Percayakan keamanan Yifn, kepada para warga yang tetap teguh untuk bertahan di sana. Dan di sisi lain, kita harus membayar kepercayaan para warga, dengan menjaga orang-orang ini sepenuh hati."
"Aku juga yakin dengan kemampuan Hunra dan Nuvian. Mereka pasti bisa membujuk Raja, agar para pasukan elit kerajaan ini bisa datang untuk menjadi bala bantuan di Yifn. Bukankah kau yang meminta kita untuk saling percaya kepada satu sama lain?" sambungnya.
Setiap kalimat yang baru saja keluar dari mulut Yared, membuatku menyadari tingginya kedewasaan anak ini. Dia baru saja mengingatkanku soal misi utama kelompok kami, dan percaya kepada kelompok lain. Dia benar.
Keheningan mulai menyelimuti kami, setelah Yared berhenti berbicara. Aku baru menyadari bahwa semua orang sudah tertidur pulas, di tengah dingin dan sepinya alam liar Laustrowana. Keletihan yang bercampur dengan ketakutan, telah menguras energi orang-orang ini. Mereka layak untuk mendapatkan waktu beristirahat.
Awalnya aku tidak berniat untuk tidur, karena aku ingin menemani beberapa prajurit yang masih terjaga. Tapi ternyata tubuhku berkata lain. Aku baru sadar bahwa sejak keluar dari Aiden, aku belum tidur sama sekali. Elf ternyata juga butuh waktu untuk beristirahat.
Aku melangkah ke tempat yang agak jauh dari para pengungsi. Setelah itu, aku menjatuhkan diriku ke tanah untuk berbaring dan tidur. Beberapa menit saja, sudah cukup untukku memulihkan seluruh energi yang terkuras.
Dengan bulan setengah lingkaran yang menyinari langit Laustrowana, dan suara dengkuran beberapa orang tua yang masih terdengar di jarak yang agak jauh. Aku tertidur pulas, setelah kepalaku menyentuh tanah.
*****
Bukan suara keras yang membangunkanku, melainkan seekor nyamuk yang masuk ke lubang hidungku, hingga aku bersin dengan suara yang cukup keras.
Cahaya matahari sudah hadir, sehingga kedua mataku harus mulai membiasakan diri. Setelah aku mengusap mataku, aku langsung berlari ke arah para pengungsi karena melihat sesuatu yang mengerikan terjadi kepada mereka.
Tiga orang berjubah abu-abu, sedang beradu pedang melawan empat prajurit Alva. Sedangkan dari kejauhan pun, aku bisa melihat Yared sedang membantu beberapa warga untuk berdiri dan bersiap melarikan diri.
Aku mempercepat lariku, dengan pikiran yang berkecamuk di otakku. Menjaga keselamatan para pengungsi adalah prioritas dari perjalanan ini. Dan kedatangan tiga orang itu, bisa jadi akan merusak semuanya.
Selama persiapan sebelum perjalanan ke Rowyn, untungnya aku sudah mempersiapkan puluhan anak panah untuk menggantikan banyak anak panah yang telah aku gunakan. Ternyata, anak panah ini harus aku gunakan dengan jangka waktu sependek ini.
Dengan satu tarikan busurku, aku langsung menembakkan tiga anak panah yang mengarah ke para pengecut yang berani menyerang para pengungsi.
Tiga anak panahku berhasil ditangkis oleh tiga penyerang itu. Namun itulah tujuanku. Membuat perhatian mereka teralih kepadaku, dan memberi waktu bagi para prajurit untuk membantu Yared.
"Bantu Yared untuk menyelamatkan pengungsi!" seruku selantang mungkin ke arah para prajurit Alva. Di otakku, hanya tercetus satu rencana. "Aku akan menahan mereka bertiga! Arahkan mereka untuk kembali ke Yifn, kita tidak akan memiliki kesempatan untuk sampai di Rowyn!"
Para prajurit mendengarku, sehingga mereka langsung berlari untuk membantu Yared menyelamatkan para warga. Semoga Yared juga mendengar perintahku untuk membawa para warga kembali ke Yifn.
Aku melupakan musuh lain yang bisa saja menyerang kami. Ashtonas. Aku menyadarinya, setelah aku sudah berada cukup dekat dengan mereka. Jubah dan rambut abu-abu, bola mata kuning, juga hidung yang hanya berupa lubang. Ini adalah ketiga kalinya aku melawan Ashtonas hanya dalam dua hari.
Melihat lawan yang ada di depanku, membuatku lega karena telah mengambil keputusan yang benar. Jika aku memaksakan diri untuk membawa mereka ke Rowyn, maka mereka bisa saja malah terbantai di tengah jalan. Satu-satunya tempat teraman adalah Yifn yang tak jauh dari sini.
Ketiga Ashtonas menungguku dengan seringai lebar di masing-masing wajah mereka. Mereka tidak memedulikan para warga yang mulai berjalan kembali ke arah Yifn, dan hanya fokus memandangku.
Aku tidak bisa mengenali tiga Ashtonas ini. Aku sedikit berharap akan mengenali Gil di antara mereka. Ternyata harapanku terlalu tinggi. Saat ini, yang aku rasakan hanya hawa membunuh yang sangat kuat di udara. Mereka pasti tidak akan menahan diri untuk melawanku.
Sekarang, peranku adalah sebagai gerbang terakhir untuk menahan ketiga Ashtonas ini untuk menyerang para pengungsi. Jika aku gagal, maka ratusan orang itu akan terbantai di padang rumput tak bertuan. Aku tidak akan bisa memaafkan diriku, jika aku tidak bisa memberi mereka waktu untuk pulang ke Yifn. Tekadku sudah bulat, aku akan bertanggung jawab untuk tugas yang telah aku buat sendiri.
"Seperti kalian yang tidak menahan diri, aku juga akan melakukan hal yang sama," ucapku lirih.
Aku mengambil pisau di balik jubahku, lalu menyayat pergelangan tanganku cukup dalam. Selanjutnya aku mendekatkan mulutku ke arah luka yang terbuka lebar, dan mulai meminum darah keluar dengan darah.
Perlahan, semua warna yang dilihat oleh mataku berubah menjadi merah. Tidak seperti sebelumnya, kali ini aku tidak akan menahan kekuatan ini untuk menguasaiku.
Hanya aku dan tiga musuh di depanku. Aku akan membiarkan kekuatan klan Zabash membunuh mereka semua, atau mungkin aku yang terbunuh oleh mereka.
"Kuasailah diriku, dan biarkan sedikit kekuatan Zabash mengalir dalam darahku," doaku sebelum aku melihat kedua kakiku mulai menerjang ketiga Ashtonas.