"Mengubah seluruh warga menjadi tentaranya!" pekik Ezra.
Itulah kalimat pertama yang keluar dari mulut Ezra, setelah hanya diam sambil mengikutiku dan Yared. Anak itu tampak benar-benar terpukul, setelah aku menyampaikan fakta yang sangat mengejutkannya.
Setelah membunuh semua orang yang menyebalkan dan menurutnya akan mengudeta Alcyne, ternyata orang yang memberinya kekuatan adalah pribadi yang sangat mengerikan.
Untungnya Ezra mengingat ciri-ciri penting yang dimiliki Tequr. Gaya bicaranya yang seperti anak kecil, dan ketampanan wajah yang hampir setara dengan para elf. Dua ciri-ciri fisik ditambah dengan kekuatan besar, hanya mengarah kepada Tequr Lolazar.
Setelah terjebak dengan kasus pembunuhan berantai selama beberapa hari terakhir, akhirnya kami bisa mendapatkan titik terang soal keberadaan si penyihir agung yang meneror Adon.
Ternyata Tequr memang sudah memiliki rencana untuk pulau Laustrowana, meskipun akhirnya dia lebih memilih untuk menyerang Adon terlebih dulu. Tequr memang benar-benar berbahaya.
Penyihir gila itu memiliki sebuah tindakan yang menjadi ciri khas, sebelum dia menginvasi sebuah kota atau desa. Dia pasti akan datang ke tempat yang dia incar, beberapa bulan sebelum dia menculik seluruh warga desa atau kota itu, untuk diubah menjadi Ogrotso.
Rebeliand, Degeo, Sonadhor, dan Votlior sudah pernah merasakannya. Simater dan seluruh desa di kerajaan Halingga di pulau Adon, juga hampir menjadi korban dari Tequr. Untungnya, Tequr lebih memilih untuk merasuki Ratu Sima, daripada mengubah seluruh warga Halingga menjadi Ogrotso. Sebuah pilihan yang membuatku penasaran hingga saat ini.
Di antara banyak tempat yang menjadi korban Tequr, hanya Votlior (juga Adijaya) yang bisa mengalahkan penyihir itu secara telak. Padahal Tequr sudah mengirim banyak Ogrotso untuk menyerang desa para buronan.
Saat ini, dengan adanya kami semua, membuatku percaya diri akan kemenangan di pihak kami. Aku harus memastikan bahwa Tequr akan kembali kalah telak di kota ini, sekaligus memastikan kematiannya di tanganku.
"Jawab aku!" bentak Ezra tak sabar. "Segala hal yang mengancam kedamaian Yifn, harus aku ketahui hingga bagian paling pentingnya!"
Selagi Ezra terus menuntutku dan Yared untuk menjelaskan situasi ini lebih spesifik lagi, aku terkejut karena Nuvian, sang Anx bagi Darunia sudah berdiri di depan lubang tembok luar yang dibuat oleh Hunra untuk mengeluarkan Ezra dari Yifn.
Wanita itu tidak lagi memakai gaun merah dengan lengan mengembangnya. Kali ini, memakai gaun tanpa lengan yang biasa dipakai para warga Yifn, dengan sebuah kain tebal yang dililitkan di lehernya. Jika memakai pakaian biasa, Nuvian tampak berwibawa dan lebih cantik.
Di sebelah Nuvian yang menatap tajam ke arah kami, Normen dan Hunra malah sedang berbicara serius dengan Bella, gadis elf yang sok tahu. Tatapan Nuvian membuatku takut, karena wanita itu bisa saja langsung membunuh Ezra.
"Kau yakin bahwa sosok yang memberimu kekuatan adalah pria tampan dengan suara seperti anak kecil?" tanya Nuvian sambil menatap Ezra.
Aku dan Yared memandang wanita itu dengan gugup, tapi Ezra malah mengangguk tegas. "Dua ciri khas itu tidak mungkin hanya karanganku," jawab Ezra. "Intinya, kita harus melindungi Yifn dari serangan orang gila itu."
Nuvian tiba-tiba mengambil langkah cepat ke depan Ezra, sehingga aku dan Yared langsung menghunus senjata dengan gugup. Normen dan Hunra pun, menoleh ke arah kami setelah mendengar suara pedang yang ditarik dari sarungnya.
Ezra memandang lekat ke mata Nuvian yang tepat berada di depannya. Ketegangan menguar di sekitar mereka berdua, hingga menular di antara kami semua.
"Dengarkan aku baik-baik!" terang Nuvian dengan lambat namun jelas. "Jika kau memiliki rencana lain di balik ini semua, maka aku akan mengincar kepalamu hingga ke ujung Laustrowana."
"Kau harus mengantri, jika ingin membunuhku," balas Ezra dengan nada yang sama. "Semua orang di sekitarmu, juga ingin membunuhku. Saranku, lebih baik kalian saling membunuh, dan membiarkanku menjaga Al-Valayne dengan tenang."
Mendengar balasan Ezra kepada Nuvian, emosi Hunra dan Yared kembali tersulut. Untungnya, aku dan Normen langsung sigap untuk menahan mereka berdua.
Selain memiliki kekuatan dari Tequr, dan kemampuan Ashtonas, Ezra juga memiliki keunggulan lain. Yaitu selalu menjadi orang yang menyebalkan. Baru kali ini, aku bertemu dengan orang yang selalu tampak menyebalkan, dalam perkataan maupun tindakannya.
Nuvian yang mendapat sindiran itu tepat di depan wajahnya, malah hanya mengangguk pelan. "Aku akan memutuskannya nanti," kata Nuvian. "Membunuhmu adalah hal yang mudah. Sedangkan mengalahkan Tequr adalah hal yang hampir mustahil."
"Sebaiknya kau menunjukkan kekuatanmu untuk menyelamatkan kota ini, dan tidak kabur saat Tequr datang. Buktikan ocehanmu itu dengan tindakan yang jelas, bukan hanya dengan omong kosong," sambung Nuvian tegas.
Selepas mengatakannya, Nuvian berjalan ke arahku tanpa menoleh kepada Ezra. Wanita itu sepertinya tidak peduli lagi dengan Ezra, dan hanya berpikir soal Tequr yang akan menyerang Yifn.
"Apa rencanamu?" tanya Nuvian. "Di antara kami semua, kau adalah yang paling dekat dengan Tequr, karena penyihir itu sempat belajar di Tekoa. Kau bisa memimpin kami mulai sekarang."
Tidak ada yang membantah permintaan Nuvian. Semua orang termasuk teman-temanku hanya mengangguk pelan kepadaku. Mereka semua percaya dengan keputusanku, soal cara menghentikan Tequr menguasai kota ini.
Terakhir kali aku memimpin beberapa orang kuat, adalah saat para elf di Tekoa dibagi menjadi beberapa kelompok kecil untuk mencari korban Tequr di Hutan Hitam. Saat itu, hanya Lass dan para elf Tekoa yang ada di bawah perintahku. Sedangkan kali ini, aku akan memimpin orang-orang dengan kuasa dan kekuatan yang besar. Aku tidak boleh mempermalukan ras elf.
"Aku akan membagi kalian menjadi tiga kelompok," tegasku. Yang mengejutkan, mereka semua langsung berjalan ke arahku dan membentuk lingkaran yang mengelilingiku.
"Tugas kelompok pertama adalah mempersiapkan keadaan terburuk yang akan menimpa Yifn," ujarku. "Cari orang-orang terbaik yang bisa bertarung menggunakan pedang atau panah, dan buat pertahanan sementara untuk kota ini."
"Kelompok kedua akan pergi ke ibukota utama, untuk mengabarkan situasi darurat ini kepada Raja. Kita membutuhkan prajurit terbaik dalam jumlah banyak, untuk melawan Tequr. Terutama jika penyihir itu memilih untuk menyerang Yifn secara terbuka."
"Sedangkan kelompok terakhir, akan membantu para wanita dan anak-anak untuk mengungsi di desa terdekat. Aku menyarankan untuk membawa mereka ke Rowyn," sambungku.
Semua orang diam beberapa saat untuk mencerna rencanaku. Otakku hanya bisa memikirkan rencana sederhana seperti itu, karena aku tidak terbiasa untuk membuat strategi sebelum berperang.
Menurutku, fungsi dari tiga kelompok kecil yang aku kemukakan, sama-sama memiliki peran penting. Ketiga kelompok kecil itu harus bisa menjalankan tugas masing-masing dengan baik, agar kami bisa menahan invasi Tequr, sekaligus mengurangi jatuhnya korban jiwa.
"Ada yang memiliki rencana lain?" tanya Nuvian.
Aku berharap akan ada masukan atas rencanaku dari para pemimpin yang terbiasa berperang, seperti Normen maupun Hunra. Dengan begitu, aku akan lebih percaya diri untuk memimpin mereka semua. Nyatanya, tidak ada satu pun dari mereka yang menentangku.
"Aku dan Nuvian akan pergi ke Alvalay, untuk bertemu dengan Raja," ujar Hunra. "Di antara kalian semua, hanya suara kami berdua yang mungkin akan didengar oleh Raja. Selain itu, kami adalah penduduk asli pulau ini."
Nuvian mengangguk pelan. "Aiden dan Al-Valayne memiliki sejarah panjang," imbuh wanita itu. "Aku yakin Raja akan mendengarkan kami, dan bisa mengirim dua atau tiga pasukan untuk mempertahankan Yifn."
Selepas Nuvian dan Hunra mengambil peran mereka, satu per satu mulai mengambil peran masing-masing. Hasilnya, Ezra, Bella, dan Normen akan menjaga di Yifn. Mereka bertiga memiliki wibawa dan bisa dipercaya oleh warga sekitar, sehingga mereka memang cocok untuk menjadi tim pertahanan kota.
Sedangkan aku dan Yared akan membantu warga untuk mengungsi ke Rowyn. Alasannya, karena anugerah Yared dan kemampuanku bisa membuat Tequr akan berpikir ulang untuk menyerang kami.
Selain kami, seharusnya masih ada Aldcera, beberapa petugas Alva, dan tentara yang menjaga kota ini, yang bisa membantu kami. Meskipun aku tidak mau berpisah dari mereka, tetapi aku harus menurunkan egoku. Yang paling penting sekarang, adalah menahan invasi Tequr Lolazar.
Hunra dan Nuvian adalah yang pertama kali pergi dari Yifn. Menurut Hunra, mereka hanya butuh waktu beberapa jam untuk sampai ke Alvalay, ibukota kerajaan Al-Valayne. Dengan keberangkatan mereka, maka misi kami untuk mempertahankan Yifn dimulai dari sekarang.
"Berapa hari hingga Tequr datang ke sini?" tanya Ezra kepadaku. Kami sedang berjalan ke arah istana Raja, tempat Aldcera dan para tentara Al-Valayne yang terluka karena serangan Ezra.
"Bisa beberapa bulan, seminggu, bahkan malam ini," jawabku tanpa menoleh ke arahnya. "Tidak ada yang bisa menebak pikiran Tequr. Satu-satunya yang bisa kita lakukan adalah selalu siap sedia sebelum dia datang. Alasannya, karena Tequr pasti akan datang ke kota ini."
"Inikah alasan kalian berada di Laustrowana?" sergah Bella dengan nada kesal. "Karena kalian memiliki dendam pribadi dengan penyihir itu, dan malah membawa orang seberbahaya itu ke pulau dan kota kami. Begitukah?"
Saat ini, aku tidak berniat menjawab sindiran dan omelan dari Bella. Gadis ini tidak akan berhenti membantah setiap kalimat yang keluar dari mulutku, jika aku malah meladeninya. Aku hanya perlu menganggap omongannya sebagai angin lalu.
Di atas tangga istana Raja, Aldcera dan para tentara dengan tubuh yang masih penuh luka, sudah berdiri untuk menyambut kami. Aldcera memincingkan mata ke arah Ezra, untuk berusaha mengenalinya.
"Selamat malam, Tuan Aldcera," sapa Ezra sambil mengulurkan tangannya. "Anda masih mengingat saya?"
Aku memasukkan tangan ke balik jubahku, agar aku bisa langsung menyerang Aldcera, jika pria itu mengenali Ezra. Sekarang ini, kekuatan Ezra lebih kami butuhkan ketimbang Aldcera.
Untungnya Aldcera menyambut uluran tangan Ezra dengan tersenyum ramah. "Ezra, putra Ezmar. Tentu saja aku mengingatmu," ujar Aldcera. "Kau adalah pemuda paling gigih yang mendaftar sebagai bagian dari petugas Alva. Meskipun kau memiliki beberapa... kekurangan."
Ezra mencoba mempertahankan senyum di wajahnya, meskipun aku tahu bahwa dia sedang mencoba untuk memendam amarahnya. Sebaliknya, Aldcera juga tidak boleh tahu pembunuh anak perempuannya, yang adalah Ezra sendiri.
"Kami datang untuk memberi sebuah peringatan untuk mengamankan Yifn," selaku sambil melangkah ke depan Aldcera dan menggeser posisi Ezra. "Seorang penyihir kuat yang menyerang Adon, kemungkinan besar akan menyerang kota ini."
"Bagaimana dengan Valerio, orang yang telah membunuh anakku dan puluhan orang di kerajaan ini?" balas Aldcera. "Bukankah kedatangan penyihir itu hanya rumor belaka, sedangkan kekejaman Valerio adalah sebuah bukti nyata?"
Aku mencoba untuk tidak berharap apa pun, saat akan menemui Aldcera. Aku sudah sangat yakin, bahwa pria ini tidak akan mendengarkan kami. Kebenciannya terhadap sosok yang membunuh anak perempuannya, telah membutakan matanya dari gambaran besar yang akan datang.
Untungnya, aku sudah menyiapkan rencana cadangan, jika Aldcera atau para prajurit ini menolak saran kami. Tindakan yang mudah, namun akan sangat efektif untuk mengubah keputusan mereka.
"Bagaimana jika kota ini menjadi kota mati, karena kau mengabaikan peringatanku?" balasku tajam. Aku melangkah ke depan Aldcera, hingga hidung kami hampir bersentuhan. "Kau akan bertanggung jawab, atau kau akan tetap mencari orang lain untuk disalahkan?"
"Aku tahu perasaanmu saat melihat anakmu mati. Aku pernah merasakannya, saat melihat mayat adik kandungku dan harus membakar jasadnya sendiri. Namun, apakah perasaan dan emosi pribadimu bisa disetarakan dengan keselamatan para warga Yifn?" sambungku dengan sedikit menaikkan suaraku. "Begitukah caramu memimpin dan mengambil keputusan, Aldcera?"
Para prajurit Al-Valayne di belakang Aldcera, terlihat menelan ludah setelah mendengar balasan tajam dariku. Beberapa dari mereka, pasti juga tidak bisa mengabaikanku. Yifn dan seluruh warga yang ada di kota besar ini adalah taruhannya.
Namun Aldcera tidak sama dengan para prajurit itu. Dia malah balik menatapku dengan wajah datar. "Aku hanya berjanji untuk memberimu izin masuk ke seluruh wilayah Al-Valayne," desahnya. "Sekarang, kau malah meminta untuk memimpin pasukan Alva, demi menggapai tujuanmu sendiri."
Dari sudut mataku, aku melihat tangan kanan Aldcera menggapai pedang yang tersarung di pinggangnya. Rencanaku berhasil, karena aku memang berusaha untuk memancing amarah pria ini.
Aku berpura-pura tidak melihat gerakan tangannya yang berusaha menyerangku, karena memang itulah tujuan kami. Mata pedang Aldcera yang seharusnya menggorok leherku, malah terhenti di udara. Di depanku, Yared si pemuda dari Donuemont, terpaksa menggunakan anugerahnya sekali lagi.
"Aldcera, putra Aleoma, pergilah dari Yifn!" perintah Yared dengan suara rendah, namun tegas. "Berkudalah ke Alvalay, dan katakan kepada Raja, bahwa kau sudah memastikan bahwa ancaman Tequr memang sebuah kenyataan."
Ezra hampir menyemburkan tawa, saat melihat korban anugerah Yared. Anak itu pernah merasakannya, dan dia pasti merasa lucu karena melihat ada orang lain yang membeku akibat berusaha menyerang Yared.
Sedangkan para prajurit Al-Valayne di belakang Aldcera, malah mundur perlahan setelah melihat pemimpinnya mendadak menjadi patung. Mereka pasti tidak pernah melihat demonstrasi kekuatan yang aneh seperti ini.
Setelah beberapa detik, Aldcera berhasil menggerakkan tubuhnya lagi. Namun dari gerakan bola matanya yang liar, pasti dia tidak bisa mengendalikan tubuhnya sendiri. Sekarang, Aldcera hanya akan menuruti perintah yang sudah dikatakan Yared.
Sang petinggi dari para petugas Alva, mulai menuruni tangga istana megah Yifn. Kepergian Aldcera menandakan dimulainya rencanaku untuk mempertahankan Yifn dari serangan Tequr.
"Masih ada yang mau melawan kami?" tanyaku kepada belasan prajurit di depanku.
Dengan baju zirah dan senjata yang lengkap, mereka semua malah menjatuhkan pedang dan berlutut di depanku.
"Kami akan melakukan perintah Anda," kata prajurit yang berlutut di barisan paling depan.