Intimidasi dari tatapan Yared, jauh lebih menakutkan ketimbang pukulan Hunra.
Setidaknya itulah yang bisa kusimpulkan setelah melihat perubahan di wajah Ezra.
Ezra masih bisa tersenyum, tertawa, bahkan hampir menyerang balik Hunra, saat dia menerima puluhan pukulan dari Hunra ke wajahnya. Namun, wajahnya berubah drastis saat tubuhnya tidak bisa bergerak, dan wajah Yared tepat berada di depan wajahnya.
Aku tidak pernah merasakan terjebak di anugerah Yared, tapi aku sering melihat banyak orang yang terkena dampak dari mencoba mengancam nyawa anak aneh itu.
Rata-rata, para korban hanya bisa menggerakkan matanya secara liar, dengan Yared yang tersenyum aneh di depan wajah mereka. Si korban baru bisa berbicara, setelah beberapa detik hanya bisa menggerakkan matanya.
"Siapa kau?" tanya Ezra dengan setengah membentak dan setengah ketakutan, setelah dia bisa berbicara.
Pertanyaan inilah yang selalu muncul dari mulut para korban anugerah Yared. Dari sekian banyak hal yang ingin mereka tanyakan, para korban selalu memilih untuk mencoba mengetahui identitas Yared.
"Ada dua hal yang harus kau dengarkan baik-baik," ujar Yared tenang. "Saranku, jangan melanggarnya atau kau akan menerima hukuman yang lebih buruk dari kematian."
"Tidak ada yang lebih buruk dari kematian!" balas Ezra dengan sedikit keras. "Kau hanya mengancamku dengan sihir remeh ini. Aku hanya perlu mencari kelemahanmu, untuk bisa melepaskan diri dari kekuatanmu!"
Yared menutup matanya, lalu menghembuskan napas panjang. "Kau masih belum mengerti posisimu?" cemooh Yared. "Aku bisa melakukan apa pun kepadamu, dan aku bisa memerintahkanmu melakukan apa pun."
Ezra malah tertawa canggung. "Memerintahkanku melakukan apa pun?" balasnya dengan menyipitkan mata. "Kau tidak memiliki kekuasaan sebesar itu. Bahkan, umurmu mungkin tidak lebih tua dariku!"
Tantangan dari Ezra bisa saja menyulut emosi Yared, sehingga anak itu sungguh akan memerintahkan Ezra melakukan hal-hal di luar nalar.
Ingatan soal Dreyfus Bephidza, seorang pria yang memiliki darah setengah ras tak bernyawa masih segar di ingatanku. Yared pernah memerintahkan orang itu untuk pergi ke selatan pada pagi hari, dan Dreyfus baru kembali ke Arnmeny di tengah malam.
Karena itu, aku memegang bahu Yared dengan lembut untuk menariknya mundur perlahan. Kami masih membutuhkan Ezra untuk bersaksi, dan pengendalian emosi yang buruk dari Yared, bisa-bisa malah membuat kami kehilangan Ezra.
Yared menolak isyaratku untuk mundur, dengan sebuah anggukan pelan. Kedua matanya memandangku tajam, sehingga Normen malah menarikku mundur kembali ke tempatku.
Normen berkata dengan suara lantang, "Kami membutuhkan Ezra untuk mengatakan beberapa infor—"
"Aku tahu!" potong Yared sambil mengacungkan ibu jari ke atas. "Aku hanya akan memperjelas statusku di depan bocah sombong ini. Sesekali, sopan santun harus diajarkan kepada anak ini."
Hunra mendekatkan mulutnya ke telingaku, saat aku sudah diluar jarak pendengaran Yared maupun Ezra. "Siapa anak itu?" bisik Hunra sambil mengedikkan kepalanya ke arah Yared.
"Pemuda dari Donuemont yang memiliki anugerah aneh," jawabku dengan suara rendah. "Setiap kali nyawanya terancam, kekuatan aneh yang dapat membekukan lawannya akan langsung aktif. Dalam satu waktu, Yared bahkan bisa menyuruh musuhnya untuk melakukan perintahnya. Hanya itu yang aku tahu."
"Anugerah yang membuat lawan yang mengancam nyawanya tidak bisa bergerak, dan memerintah orang lain sesuka hati," gumam Hunra pelan. "Aku seperti mengingat sesuatu, namun sesuatu itu tidak muncul di pikiranku."
Hunra berhenti berbicara, saat dia melihat Yared mulai melangkah mendekati Ezra yang masih dalam posisi mengangkat pedang.
"Apa yang akan kau tawarkan padaku, bocah?" cibir Ezra yang mulai bisa tersenyum, meskipun wajahnya masih menegang. "Sebaiknya kau menawarkan sesuatu yang menggiurkan. Aku tidak tertarik dengan hal-hal kecil."
Yared berhenti tepat di depan Ezra. Jarak kedua wajah mereka berdua hanya satu jengkal. Wajah keduanya menampilkan ekspresi yang berbeda. Ezra dengan senyumnya yang menyebalkan, dan Yared dengan wajah serius yang jarang dia tampilkan.
"Tawaranku sederhana," kata Yared pelan, namun sangat jelas di telingaku. "Aku hanya ingin agar kau menjawab pertanyaan mereka dengan kebenaran."
"Aku menolak," balas Ezra cepat.
"Kalau begitu, aku akan membuat hidupmu menjadi mimpi buruk." Yared menunjuk kota Yifn yang ada di dekat kami. "Aku akan memerintahkanmu untuk menghancurkan kota itu, membunuh semua warganya, dan mencari sang Raja di tempat persembunyian."
"Semua hal yang kau benci, malah akan kau lakukan dengan tanganmu sendiri. Kudeta, pembunuhan masal, kericuhan, dan penolakan dari warga Al-Valayne. Semuanya akan kau lakukan, karena kau berada di bawah kuasaku."
"Di saat kau melakukan itu semua, kau hanya bisa melihat tanganmu melakukannya, tetapi kau tidak bisa berhenti." Yared mengangkat sisi kiri bibirnya. "Pada akhirnya, kekuatan besarmu malah membuat Al-Valayne menderita. Mimpimu untuk menjadi penyelamat, telah berakhir hari ini."
Sisi menakutkan dalam diri Yared, akhirnya tampak setelah terakhir kali aku melihatnya di Kilug dan Sonadhor.
Di dua tempat itu, dia berhasil membuat kakak beradik penguasa Sonadhor, Nagluk dan Gagrash, mengaku kalah dan menuruti permintaan kami. Semuanya karena intimidasi Yared yang selalu tepat sasaran.
Yared adalah salah satu dari sedikit orang yang pernah kutemui, yang dapat memunculkan ketakutan alami dari lawan bicaranya hanya karena memaparkan semua rencananya.
Selain Dreyfus, aku tidak pernah melihat Yared bisa memerintahkan hal lain kepada para korban yang membeku akibat anugerahnya. Karena itu, aku agak sedikit meragukan semua rencana yang dia paparkan kepada Ezra kali ini.
Jika Yared benar-benar memerintahkan Ezra untuk melakukan semua hal yang baru saja dia katakan, artinya Yared baru saja mengirim Ezra untuk bunuh diri. Membantai semua orang di kota Yifn saja, sudah terdengar tidak masuk akal. Apalagi memikirkan seseorang seperti Ezra, akan menjadi alasan dibalik hilangnya nyawa Raja Alcyne.
Namun ada kemungkinan bahwa perintah Yared benar-benar bisa memaksa Ezra melakukannya. Pemikiran seperti itulah, yang membuat para korban dari anugerah Yared, selalu dilanda dilema yang besar.
Ezra yang bisa memojokkan kami bertiga beberapa saat lalu, hanya tampak seperti seorang anak kecil yang baru saja kehilangan mainan kesayangannya. Dia terlihat biasa saja, namun keringat deras dan sorot matanya, membuktikan bahwa anak itu sedang panik.
Bagi Ezra yang sangat mencintai Al-Valayne dan ingin menjaganya sepenuh hati, melihat kehancuran dari ibukota kerajaan yang dia sayangi adalah sebuah mimpi buruk. Apalagi jika alasan dibalik kehancuran itu adalah dirinya sendiri.
Di sisi lain, dia harus menjawab pertanyaan kami dengan jujur, agar dia bisa terlepas dari anugerah Yared. Pilihan yang sama sulitnya, karena sosok yang memberinya kekuatan pasti akan mengejar Ezra, karena sudah memberi tahu identitasnya juga misi yang harusnya diemban oleh Ezra.
Namun aku sudah menyakini satu hal. Karakter dan hati Ezra, tidak akan berubah hanya dalam waktu empat bulan. Dia pasti akan memilih pilihan yang memastikan keamanan Yifn.
"Katakan pertanyaan kalian!" putus Ezra dengan sedikit berteriak. "Aku akan menjawabnya dengan jujur! Aku bersumpah atas nama Eruer yang Agung, sang jenderal suci, dan orang terdekat Ulea!"
Bahkan tanpa diperintahkan oleh siapa pun, Ezra langsung memutuskan untuk mengambil sumpah yang tak bisa dilanggar. Sumpah atas nama Eruer.
Sesuai dugaanku, pilihan Ezra tidak akan jauh-jauh dari kebaikan Al-Valayne. Kesetiaan dan cintanya pada kerajaan ini, membuat kompas moralnya hanya menunjuk ke satu arah.
Setelah mendengar Ezra mengambil sumpah yang berat itu, Yared menepuk pipi kanan Ezra dengan pelan. Pemuda aneh itu berbalik badan. Wajah yang tadinya serius, sudah kembali seperti wajah Yared biasanya. Raut wajah yang jahil dan riang.
"Giliran kalian," kata Yared.
Aku melangkah maju ke depan Ezra. "Katakan semua tentang kekuatanmu," tegasku. "Aku bisa menilai kebohongan yang keluar dari mulutmu. Jadi, jangan mencobaiku."
Ezra tidak melihatku sama sekali, dia hanya memandang ke belakangku. Dia melihat ke arah Yared.
"Jawab pertanyaannya!" seru Yared.
"Sebenarnya ada dua sosok yang memberiku kekuatan ini," ucapnya cepat. "Kekuatan Ashtonas kudapatkan dari sosok yang datang di mimpiku empat bulan lalu. Sedangkan kekuatan yang bisa membuatku mengubah penampilan hanya dengan memakai kulit wajah orang lain, aku dapatkan dari orang lain."
"Orang lain?" tanyaku.
Ezra malah memelototiku. "Benar, orang lain!" sahutnya. "Dia mengatakan bahwa dirinya adalah seorang pengembara dari barat, yang datang hanya untuk menemuiku. Dia bahkan mengatakan bahwa aku adalah sosok yang dipilih oleh para Xenia, untuk mengemban tanggung jawab besar ini."
"Pria itu menemuiku di penginapan Kinbold pada tengah malam sekitar dua minggu setelah aku mendapatkan kekuatan Ashtonas." Kalimat Ezra terhenti setelah melihatku memiringkan kepala. "Aku bersungguh-sungguh!" bentaknya.
"Orang itu menjanjikan kepadaku sesuatu yang tidak bisa aku tolak," katanya dengan tergesa-gesa. "Dia berkata bahwa aku bisa membunuh orang-orang yang sudah meremehkanku, dan merendahkanku, tanpa perlu menjadi penjahat."
"Dia memberiku kekuatan untuk bisa berubah menjadi orang yang kubunuh, hanya dengan menempelkan kulit wajah orang itu di wajahku. Kekuatan aneh yang terlalu kuat dan mengesankan, jika aku menolaknya," imbuh Ezra sambil menelan ludah.
Aku menoleh ke belakang. Baik Normen, Yared, maupun Hunra hanya balik menatapku dengan tatapan kosong. Mereka juga tidak tahu identitas sosok yang bisa memberi kekuatan besar seperti ini, kepada Ezra.
"Jelaskan lebih detail soal orang itu, pria yang memberimu kekuatan untuk bisa mengubah penampilan!" perintahku. "Semuanya, termasuk penampilan dan caranya berbicara!"
Wajah Ezra menegang, seolah dia baru saja melihat orang yang menakutkan ada di depannya. "Aku tidak tahu identitas orang itu," jawabnya. "Tapi dia memiliki aura yang membuatku sadar betapa besar kekuatannya."
"Aku baru bisa melihat wajah pria itu, setelah dia membuka penutup wajahnya di hari kedua dia tinggal di penginapan Kinbold," terang Ezra. "Pria itu memiliki kulit putih bersih, dengan wajah tampan yang hampir setara dengan elf. Aku lupa dengan warna matanya, karena dia tampak begitu memukau untuk ukuran seorang manusia."
"Kau sudah memastikan bahwa dia adalah manusia?" sergah Hunra dari belakangku.
"Tentu saja!" balas Ezra dengan nada yang meninggi. "Dia memiliki telinga selayaknya manusia normal. Kulit putihnya juga tidak terlalu pucat. Bahkan bentuk tubuh dan gaya berpakaiannya pun, sudah membuktikan bahwa dia seorang manusia."
"Namun, aku bisa merasakan bahwa dia bukan manusia biasa. Aku yakin dia memiliki kekuatan besar yang ada dalam dirinya. Dia bahkan tidak kesakitan atau tampak lelah, setelah memindahkan sedikit kekuatannya padaku. Salah satu orang aneh, yang membuat perasaan takutku muncul," imbuh Ezra.
Dari sekian banyak orang-orang dengan kekuatan mengerikan yang aku tahu, deskripsi singkat dari Ezra malah membuat pikiranku hanya tertuju kepada satu orang. Aku harus memastikan kecurigaanku.
"Orang yang kau maksud itu, bagaimana gayanya dalam berbicara?" tanyaku.
Dua bola mata Ezra mengarah ke atas, untuk mencoba mengingat orang yang dia temui beberapa bulan lalu. "Aku hanya mengingat nadanya," desahnya.
"Dia adalah seorang pria dewasa yang berbicara dengan suara kecil, seperti anak-anak," ujar Ezra dengan pelan. "Meskipun dia memakai wajah serius, tetapi suaranya malah membuat pria itu tampak seperti bermain-main."
"Pria itu, di mana lagi kau menemuinya?" sergah Normen.
Bukan hanya si prajurit tua, aku, Hunra dan Yared juga membelalak kepada Ezra karena kalimat terakhirnya. Hanya ada satu orang dengan kekuatan besar, yang memiliki gaya berbicara seperti anak kecil. Tequr Lolazar.
Ezra menaikkan alisnya. "Selain di Rowyn, aku sempat bertemu dengannya di Yifn, saat aku membunuh si pria kekar," jawab Ezra dengan tenang. "Sejak itu, kami berjanji untuk selalu bertemu dengannya di Yifn."
Aku langsung mengarahkan pandanganku ke tembok utara Yifn yang berada tidak jauh dariku. Kota megah itu kemungkinan besar adalah incaran Tequr selanjutnya.
"Mengapa kalian memandangi Yifn dengan tatapan seperti itu!?" sergah Ezra penuh kebingungan.
Tidak ada satu pun yang menjawab pertanyaannya, bahkan Hunra yang juga mengikuti gerakan kami bertiga. Perasaan lega, takut, dan ngeri, muncul bersamaan dalam hatiku.
Alasanku tetap berada di Laustrowana adalah untuk mencari keberadaan Tequr. Sekarang, Tequr kemungkinan besar sedang bersiap untuk menyerang kota Yifn, dan mengubah warga kota ini menjadi Ogrotso. Invasi Tequr di pulau ini, akan dimulai dari ibukota Alcyne.
Dimulai dari Normen dan Yared, kami berempat malah meninggalkan Ezra sendirian di tengah padang rumput dalam keadaan membeku. Ada hal yang lebih penting, yang harus kami lakukan sekarang.
"Lepaskan aku dari sini, dan biarkan aku ikut membantu kalian!" desak Ezra, hingga akhirnya Yared menarik lenganku dan membuatku berhenti berlari.
"Jika Tequr benar-benar mengincar Yifn, bukankah kita membutuhkan anak itu?" tanya Yared. "Kita belum pernah melihat Tequr melawan seorang Ashtonas. Ide itu layak dicoba, kan?"
Normen dan Hunra sudah dekat dengan tembok kota Yifn. Dua orang itu pasti bisa meyakinkan para warga untuk bersiap akan kedatangan Tequr. Selain itu, masih ada Nuvian yang sedang dirawat oleh Bella. Kekuatan kami lebih dari cukup, untuk menahan kedatangan Tequr.
"Kita jelaskan situasinya kepada Ezra, setelah itu kita baru bisa melepaskannya," putusku.