Bab 35 - Akhir Pertarungan

1951 Kata
Ezra mulai menyadari bahwa ada perbedaan besar dalam hal kekuatan, antara dia dan kami bertiga. Angin mulai berhembus ke arah kemenangan kami. Setelah selama beberapa jam terakhir, kami yang terus dipojokkan oleh pemuda ini. Saat aku dan Normen memakai kekuatan tertinggi kami untuk melawan singa raksasa gunung Alcyne, ada Yared yang ada di sisi kami yang membuat kami sedikit takut untuk menggunakan kekuatan besar ini. Sedangkan keadaan saat ini, jauh berbeda dengan pertarungan melawan singa raksasa. Rekan bertarung kami adalah Hunra sang perisai Serdadu Juri-ore. Aku tidak tahu dengan Normen yang bahunya masih terluka, tapi aku tidak akan menahan diri sama sekali. Aku hanya akan membiarkan kekuatan klan Zabash menguasai diriku. Pembeda utama untuk pertarungan ini, sudah jelas adalah tombak perak Normen yang mampu memanjang dan memendek sesuka hatinya. Senjata aneh itu berhasil membuat Ezra hanya bisa fokus ke serangan tombak itu. Dengan begitu, kombinasi kecepatanku dan kekuatan Hunra adalah dua hal yang terus menyerang Ezra dengan ganas, selagi perhatiannya teralihkan oleh mata tombak. Aku memilih untuk memakai pisau karena aku ingin gerakan bertarungku lebih lincah dan fleksibel. Apalagi rekan yang bertarung di sebelahku memiliki peran sebagai perisai yang sangat kuat, sehingga aku bisa fokus untuk hanya melakukan serangan. Kemampuan klan Zabash membuat kecepatan dan kekuatanku meningkat secara drastis. Sekarang aku bisa menyamai kecepatan gerakan Ashtonas, meskipun Ezra masih sedikit lebih cepat dariku. Saat melawan Gil, aku tidak bisa mengakses kekuatan rahasiaku karena dia melesakkan banyak anak panah beracun ke arahku. Sampai saat ini, aku masih tidak tahu jenis racun yang Gil gunakan untuk melumpuhkanku. Yang aku tahu, racun itu benar-benar hampir membunuhku. Kecepatan Ashtonas memang jauh di atasku, saat aku dalam wujud normal. Itulah alasanku masih penasaran dengan kecepatan Ashtonas, saat aku memakai kekuatan klan Zabash. Sekarang, aku bisa mencobanya dengan melawan Ezra. Secara teknik dan kekuatan, aku bisa mengatakan bahwa Ezra sekarang berada di bawahku. Beberapa kali, pertahanannya bisa kutembus, meskipun aku hanya mendorongnya sedikit. Sedangkan sebagai salah satu petarung terbaik di Tekoa, maka akan sangat sulit untuk mengalahkanku dalam hal teknik. Satu-satunya keunggulan dari Ezra adalah kecepatan. Jika gerakannya sedikit lebih lambat, maka aku bisa memastikan bahwa akan ada banyak luka besar di tubuh anak ini. Semua seranganku seharusnya mengenainya, dan sebagian besar berhasil dia hindari karena kegesitannya. Namun cepat atau lambat, kemenangan akan menjadi milik kami. Ezra akan kalah karena dua kemungkinan. Kehabisan stamina, atau terkena serangan fatal yang berasal dari salah satu dari kami. Tidak perlu waktu lama untuk menunggu kekalahan Ezra. Kekuatan penuh dari kami bertiga, tidak akan bisa dibendung oleh dia seorang diri. Hunra adalah sosok yang menjadi awal mula kekalahan Ezra. Sang pemimpin Aiden itu, melepaskan rentetan pukulan dengan kecepatan yang sangat memukau ke tubuh Ezra. Mau tidak mau, Ezra hanya fokus kepada serangan Hunra, karena setiap pukulannya akan menimbulkan luka yang telak, jika dia biarkan mengenai tubuhnya. Sesuai reputasinya sebagai pribadi yang dipilih langsung oleh sang Xenia pelindung matahari, Ezra sanggup menyamai kecepatan seorang anggota Serdadu Juri-ore. Fakta yang mengejutkan, namun tidak terlalu membuatku terkejut. Karena apa yang dilakukan Hunra, malah membuatku dan Normen bisa melepaskan serangan yang bisa melumpuhkan Ezra, namun tidak membunuhnya. Aku adalah yang pertama bergerak. Dengan kecepatanku yang sudah bertambah secara drastis akibat kekuatan klan Zabash, aku bisa sampai di belakang Ezra hanya dengan beberapa langkah. Bahkan dengan seluruh pukulan Hunra yang mengarah ke arahnya, kedua bola mata kuning milik Ezra masih bisa melihatku melesat ke arahnya. Dan momen itulah yang membuatku berada di atas angin, karena gerakanku tidak terganggu sedikit pun. Ezra juga menyadarinya. Aku melihat pupil matanya membesar untuk beberapa detik, karena keterkejutannya setelah melihatku tidak terkena dampak dari kedua matanya. Fakta ini membuatku harus meralat sudut pandangku soal Gil dan Ezra. Di satu sisi, pengalaman dan seringnya bertemu dengan musuh asli, memang akan membuatmu bertambah kuat. Namun, ada satu hal yang perlu untuk digarisbawahi. Strategi dan perencanaan yang matang. Gil mungkin hanya berlatih dengan lawan tanding di rumah para Ashtonas seumur hidupnya. Tetapi anak itu mencari tahu latar belakang targetnya, mempersiapkan benda-benda yang menjadi kelemahan si target, sebelum akhirnya berangkat untuk melaksanakan misi. Di dekat gunung Sodion, aku harus mengakui bahwa Gil mengalahkanku dengan telak. Dia memanahku dengan racun, sehingga aku tidak bisa memakai kemampuan klan Zabash. Terakhir, dia mengalahkanmu dalam pertarungan satu lawan satu. Saat itu, Hunra adalah penyelamatku yang datang di waktu yang tepat. Sama seperti hari ini, kekebalan dan kecepatan Hunra, selalu menjadi momok menakutkan untuk para Ashtonas. Bedanya, kali ini dia tidak perlu memikirkanku. Mata kuning para Ashtonas, terbukti tidak bisa membuatku berhenti, selagi aku menggunakan kekuatan klan Zabash. Sebuah pembeda yang membuat Ezra tidak lagi memiliki keunggulan di pertarungan ini. Setelah sampai di belakangnya, aku menyerang punggung pemuda itu dengan pisauku sebelum dia bisa menangkis seranganku. Aku juga menambahkan sebuah tendangan ke pangkal pahanya, untuk merusak keseimbangan dan kuda-kudanya. Angin berdesing dengan cepat dari belakangku. Aku bisa merasakan sebuah benda besar mengarah kepadaku dengan kecepatan tinggi. Tombak perak Normen. Tidak ada lagi benda besar lain, yang bisa bergerak secepat ini. Aku melemparkan tubuhku ke samping, saat benda itu melewatiku dan memukul pinggang kiri Ezra. Hunra mengakhiri pertarungan ini dengan memukul perut pemuda itu dengan sangat keras, hingga Ezra langsung memuntahkan darah dari mulutnya. Dia menancapkan pedangnya di tanah, dan berdiri dengan bertumpu pada gagang senjatanya. Ezra menunduk dan memuntahkan banyak darah, bersamaan dengan wujudnya yang mulai kembali seperti semula. Rambut abu-abunya yang tampak acak-acakan, perlahan berubah menjadi rambut hitam cepak yang persis seperti milik kakak kandungnya. Saat dia mengangkat wajahnya untuk melihat kami, Ezra sudah tampak seperti pemuda yang kutemui di Rowyn. Hidungnya sudah kembali mencuat seperti semula, sedangkan mata kuningnya sudah menghilang dan digantikan oleh dua bola mata biru. Melihatnya kembali menjadi wujudnya semula, membuatku menurunkan pisau yang ada dalam genggamanku, sekaligus mengembalikan diriku ke keadaan normal. Tiga kali menggunakan kekuatan ini dalam waktu dekat, membuatku mulai bisa mengendalikannya. Aku bahkan tidak perlu pingsan atau tak sadarkan diri, untuk kembali ke diriku yang asli. "Kalian sampai mengeluarkan kekuatan sebesar itu, hanya untuk mengalahkanku," cibirnya. Ezra terbatuk cukup keras, sebelum melanjutkan perkataannya. "Aku bisa menebaknya," desahnya sambil mengibaskan tangan. "Kalian pasti tidak akan membunuhku, dan malah akan menyerahkanku untuk dipenjara di Alcyne." Ezra mendengus, sambil tertawa kecil di tengah napasnya yang sudah tak karuan. "Bukankah kalian lebih suka untuk bertindak seperti pahlawan besar?" imbuhnya dengan nada yang menyebalkan. Hunra yang tidak pernah menahan diri, langsung memberi pukulan keras ke wajah Ezra. Normen yang sudah menyimpan tombak misterius itu, segera menahan Hunra agar tidak membunuh Ezra yang sudah susah payah kami tangkap. "Satu kali lagi," pinta Hunra dengan wajah memelas. Yang membuatku terkejut adalah Normen melepaskan kedua tangannya yang menahan Hunra, sehingga sebuah pukulan kembali mendarat di wajah Ezra. Seperti biasa, Hunra memegang perkataannya. Dengan kemeja merah yang norak dan penuh sayatan, Hunra berjalan ke belakang kami. "Dia milik kalian," katanya. Normen menaikkan alisnya, dan memberiku isyarat untuk maju ke depan Ezra. Di antara mereka bertiga, memang hanya aku yang memiliki kemampuan berkata-kata dengan baik. "Ezra, putra Ezmar, kami tidak akan membunuhmu," tegasku pelan. Menurutku, hanya kalimat itulah yang bisa aku ucapkan untuk memulai interogasi ini. "Aku juga tidak akan menyerahkanmu ke petugas Alva, atau pihak Al-Valayne," sambungku cepat. Kalimat keduaku ini, pasti membuat Normen dan Hunra terkejut. Karena itulah aku memilih untuk tidak menoleh ke belakang. "Kau hanya perlu menjawab pertanyaanku, dan aku berjanji akan melepaskanmu." Pemuda itu tidak peduli kepadaku. "Katakan pertanyaanmu!" ujarnya tak acuh. Dia masih tidak sanggup berdiri dengan kedua kakinya. "Aku sudah tidak peduli lagi dengan penjara atau kematian. Bagiku, keduanya sama saja." Aku menarik napas panjang untuk menenangkan diriku. "Apa yang dikatakan Ashtoret kepadamu?" tanyaku. "Misi apa yang dia berikan padamu, hingga Xenia itu mempercayakan kekuatan sebesar ini padamu?" Ezra memandangiku dengan mata sayu. Pemuda itu sepertinya sedang berkutat dengan pikirannya sendiri. Dia berada di depan pilihan sulit, dan dua pilihan itu sama-sama mengarah kepada kematiannya. "Ashtoret, ternyata itulah namanya," gumam Ezra pelan. Dia menundukkan kepalanya, lalu mendengus, dan tersenyum tanpa mendongak ke arahku. "Artinya, selama ini aku telah menjadi b***k seorang penjahat terbesar di Ueter." "Maksudmu!?" sergahku. "Dia tidak mengatakan namanya sama sekali. Salah satu Xenia terkuat. Begitulah caranya memperkenalkan diri, saat muncul pertama kali mimpiku." Ezra tertawa pelan. "Keinginan kuat untuk melindungi Al-Valayne, malah membuatku menjadi pelayan dari seorang Xenia yang sangat jahat." Hunra yang sudah berjanji melepaskan Ezra, malah kembali maju dan memukul wajah pemuda itu. Ezra yang sudah hampir mendapat kekuatannya untuk berdiri tegap, kembali harus menunduk bahkan berlutut untuk memuntahkan darah karena pukulan keras dari Hunra. "Di antara semua kebohongan yang pernah kudengar, ini adalah kebohongan paling memuakkan yang pernah masuk ke telingaku," desis Hunra di depan wajah Ezra. "Setelah membunuh belasan orang dengan kejam dan sadis, kau malah berpura-pura bodoh dengan mengatakan bahwa kau tidak tahu identitas sosok yang memberimu kekuatan ini." Hunra mendengus kesal. "Kau mengejekku?" Sejujurnya, aku sendiri tidak tahu bobot kebohongan dalam setiap kata yang baru saja keluar dari mulut Ezra. Anak ini sudah pernah membuatku tampak bodoh di penginapan Kinbold, karena memercayainya. Karena itu, aku tidak mau memakai perasaanku untuk menilai ucapannya. Hatiku mengatakan bahwa Ezra memang baru tahu bahwa sosok yang memberinya kekuatan adalah Ashtoret, si Xenia pelindung matahari. Tetapi, aku tidak yakin bahwa pemuda ini benar-benar menyesal. Lima belas korban termasuk Valerio, sudah membuktikan bahwa dia tidak memiliki hati. "Aku adalah orang yang paling menginginkan kedamaian di Al-Valayne, terutama Alcyne. Aku tidak memiliki alasan untuk bersekutu dengan Xenia yang malah mungkin akan menghancurkan seluruh pulau ini," ujar Ezra setelah sudah berhasil mengendalikan dirinya. "Semua korban yang mati di tanganku, adalah mereka yang layak mendapatkannya." Ezra mendongak dengan mulut yang penuh darah. "Jika bukan aku, maka para petugas Alva yang akan dibantai oleh mereka." "Itu hanya dugaanmu!" sergah Hunra. Dia sudah mengangkat tangannya untuk melesakkan sebuah pukulan ke wajah Ezra. Untungnya Normen dengan sigap langsung menghentikan serangan Hunra. "Katakan kebenaran, bukan halusinasi yang ada di otakmu!" bentak Hunra. "Kami tidak memiliki waktu untuk mendengar kebohongan yang hanya ada di otakmu, karena kau selalu merasa rendah diri akan kekurangan fisikmu!" Hunra mengangkat tangannya tinggi, sehingga Normen melepaskannya. "Kudeta, ketidaktahuanmu akan Ashtoret, dan kecintaanmu kepada kerajaan ini. Semuanya adalah palsu!" imbuh Hunra. Ezra yang dalam posisi berlutut, tiba-tiba menarik pedang yang tertancap di tanah dan mengayunkan senjata itu ke arah Hunra. Tetapi, tangan Ezra malah berhenti tepat di depan wajah seseorang yang menghilang sejak kami membawa Ezra bertarung di luar Yifn. Orang yang berjanji akan kembali di waktu yang tepat. Yared. Aku hampir melupakan betapa pentingnya anugerah Yared dalam situasi seperti ini. Dibanding pukulan dan bentakan, tubuh yang tidak bisa bergerak adalah intimidasi yang lebih menakutkan. Sama seperti korban lain dari anugerah Yared, Ezra juga tampak kebingungan karena tubuhnya tidak bisa bergerak. Kedua matanya bergerak liar, namun mulutnya yang tertutup rapat, tidak mengeluarkan suara apa pun. "Halo!" sapa Yared dengan nada riang yang dipaksakan. Anak itu tersenyum kepada Ezra, dengan senyum aneh yang menjadi ciri khasnya. Sebuah senyum yang hanya ada di bibir, dan tidak sampai ke mata. "Sesi pertarungan sudah selesai," kata Yared. "Sekarang saatnya masuk ke sesi tanya jawab, dan kau hanya berhak untuk menjawab semua pertanyaan kami. Mengerti?" Kedua bola mata Ezra semakin bergerak dengan liar, seolah sedang berusaha untuk melepaskan diri dari anugerah Yared. Namun itu adalah usaha yang sia-sia. Sejauh ini, aku tidak menemukan satu orang, bahkan satu makhluk pun yang sanggup lepas dari anugerah Yared. Singa raksasa yang ada di gunung Alcyne, juga pernah menjadi korban dari kekuatan aneh dari Yared. Apalagi hanya seorang Ashtonas seperti Ezra. "Aku memberimu waktu sepuluh menit, untuk mencoba melepaskan diri dari anugerahku," bisik Yared di telinga Ezra. "Setelah itu, giliranku yang berkuasa atas hidupmu." Yared duduk bersila di atas padang rumput dekat Yifn, sambil tersenyum puas karena pemandangan mengerikan yang ada di depannya. Ezra si pembunuh belasan warga Rowyn, sama sekali tidak bisa menggerakkan tubuhnya. Seperti kata Yared, giliran kami yang berkuasa atas Ezra.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN