Kekuatan Ezra jauh di atas Gil.
Bersamaan dengan berubahnya Ezra menjadi Ashtonas, matahari juga sudah terbenam di atas kami. Malam di Laustrowana tiba secepat datangnya pagi.
Ada dua hal yang membuat Ezra lebih kuat. Pertama, dia tidak menahan diri sama sekali. Keinginannya untuk mengalahkan kami, adalah tekad kuat yang membuat kekuatannya menjadi maksimal.
Di sisi lain, Gil hanya menjalankan misi dan malah menaruh simpati kepadaku. Keraguan Gil untuk membunuhku, membuat kekuatannya menjadi terbatas dan mudah untuk dibalikkan.
Alasan kedua, Ezra sudah terbiasa menggunakan kekuatannya untuk membunuh. Kecepatan dan ketajaman serangannya sebagai Ashtonas, membuktikan bahwa Ezra sudah menguasai kekuatan ini sejak lama.
Padahal, dia baru mendapatkannya empat bulan lalu. Sedangkan Gil sudah berlatih sejak kecil untuk menjadi Ashtonas. Artinya perbedaan kekuatan dua orang ini bukan berasal dari lamanya mereka belajar. Tetapi dari seberapa sering mereka menggunakan, dan membunuh orang lain menggunakan kekuatan ini.
Seumur hidupnya Gil hanya berlatih. Anak itu tidak tahu cara membunuh orang lain dengan kekuatannya, karena orang-orang yang dia lawan hanyalah lawan tanding, bukan musuh yang sebenarnya. Itulah alasan di balik kecanggungannya saat harus membunuhku sebagai misi pertamanya.
Ezra berbeda. Meskipun dia tidak mengatakan caranya membunuh empat belas korbannya, aku sangat yakin Ezra menggunakan kekuatannya sebagai Ashtonas untuk membunuh orang-orang itu.
Guru terbaik adalah pengalaman. Begitulah yang dikatakan para orang-orang bijak. Ezra unggul jauh dari Gil karena pengalamannya menjadi pembunuh selama empat bulan terakhir. Dia tidak perlu berlatih banyak, karena para korban sudah membuatnya semakin bertambah kuat.
Saat melawan Gil dengan mata kuningnya, aku hanya bisa diam dan menunggu dia menyerangku. Ashtonas memiliki kekuatan untuk menghentikan waktu selama beberapa detik, jika musuh menatap mata mereka. Begitulah cara Ezra melawan kami bertiga tanpa menahan diri sama sekali.
Setelah dia berhasil menyerangku dengan sebuah tendangan keras, dia langsung berlari ke arah Normen. Caranya berlari membuat serangannya semakin sulit untuk ditebak, karena dia berlari dengan mengganti arah beberapa kali.
Bahkan Normen juga harus terkena akibat dari melihat mata Ezra. Prajurit tua itu tidak bisa bergerak selama beberapa detik, sebelum sebuah pukulan keras dari Ezra mengenai wajahnya yang keriput.
Sang tentara matahari tidak mau berhenti. Dia menerjang ke arah Hunra dengan cara yang sama. Di antara kami bertiga, hanya Hunra yang bisa kuandalkan. Kekebalan tubuhnya adalah kemampuan yang membuat Gil babak belur. Semoga dia bisa melakukan hal yang sama kepada Gil.
Selagi berlari ke arah Hunra, Ezra menghunus pedangnya sebagai alat yang dia gunakan untuk menyerang Hunra. Sedangkan Hunra sudah menunggunya dengan pedang di tangannya.
Tidak seperti melawan Gil, kali ini Hunra bahkan memakai pedang untuk menahan seorang Ashtonas. Apakah Hunra juga menyadari perbedaan besar antara kekuatan Gil dan Ezra?
Kedua mata pedang mereka bertemu di udara, dan langsung menimbulkan angin besar yang berhembus ke sekitar kami. Dari apa yang dilihat mataku, Hunra malah dipaksa untuk terus mundur oleh Ezra.
Aku kembali masuk dalam pertempuran, dengan pedang yang terhunus di tanganku. Aku sudah tidak peduli lagi dengan etika pertarungan yang baik. Di otakku, aku hanya ingin segera mengalahkan Ezra.
Sayatanku hampir saja mengenai Ezra, namun anak itu tiba-tiba menangkis seranganku dan langsung memukulku dengan cukup keras. Aku sangat yakin bahwa Ezra tidak melihatku, tapi dia tiba-tiba langsung berbalik menyerangku. Anak ini seolah memiliki mata di balik kepalanya.
Normen juga merasakan hal yang sama. Serangannya berhasil dibalikkan oleh Ezra, tepat sebelum mata pedangnya menyentuh kulit Ezra. Kekuatan Ashtonas benar-benar mengubah jalannya pertempuran.
Hunra yang terus menyerang dari depan, juga tidak bisa berbuat banyak. Ezra memang tidak bisa melukai tubuh Hunra, begitu pun Hunra yang tidak bisa menembus pertahanan Ezra. Pertempuran sengit ini bisa berlangsung seharian penuh, jika kami tidak memiliki kekuatan pembeda.
Ezra juga tidak sama dengan musuh lain yang pernah aku lawan. Anak ini benar-benar fokus akan pertempuran di depannya. Dia tidak tertawa menggila, atau menyerang dengan liar. Semua gerakan yang dia tunjukkan, membuktikan bahwa teknik bertarungnya di atas rata-rata.
Dengan rentetan serangan dari kami bertiga, Ezra malah mendominasi jalannya pertempuran. Dia tidak pernah membiarkan serangan kami melukainya, dan dia juga tidak lupa untuk memberikan sebuah pukulan atau tendangan untuk membalas serangan kami.
Perubahan arah dari pertempuran ini, dimulai karena Hunra menyerang Ezra dengan tangan kosong. Selagi dia mengayunkan pukulan ke wajah Ezra, gerakannya mendadak berhenti, karena dia tidak sengaja melihat mata Ezra.
Aku dan Normen yang berjarak cukup jauh dari kedua orang itu, tidak bisa berbuat banyak. Ezra menyarungkan pedangnya, dan memukul perut, lalu wajah Hunra dengan tangan kosong. Bahkan Ezra masih terus memberi banyak tendangan ke seluruh tubuh Hunra, hingga sang perisai Serdadu Juri-ore hanya bisa menutupi wajah dengan kedua tangannya.
Normen yang tiba lebih dulu di dekat mereka, malah tertusuk pedang tepat di bawah bahunya. Dengan waktu yang sempit itu, Ezra berhasil melemparkan pedangnya dengan tepat ke arah Normen.
Pedang yang menancap cukup dalam di tulang belikat prajurit tua itu, membuatnya sedikit terhuyung. Tetapi, dia masih memaksakan diri untuk menyerang Ezra dengan pedang yang mencuat dari bawah bahunya.
Semua hal yang dipaksakan, pasti hanya akan menyebabkan kegagalan. Ezra menendang Hunra hingga dia terlempar jauh, setelah itu dia langsung menerjang Normen yang berlari ke arahnya.
Aku mencoba untuk melakukan sesuatu, untuk menghambat Ezra menyerang si prajurit tua. Tetapi kecepatanku jauh di bawah Ashtonas. Hanya dengan satu kedipan mata, Ezra sudah tiba di depan Normen.
"Ternyata, kau orang pertama yang mati," desis Ezra setelah memukul wajah Normen dan membuat pria tua itu berlutut di depannya.
"Jangan melakukan sesuatu yang bodoh!" bentakku dengan amarah yang membuncah di hatiku. "Aku tidak akan melepaskanmu, jika kau berani membunuhnya!"
Bukannya berhenti, Ezra malah berlutut di depan Normen dan memegang gagang pedang yang menusuk tubuh Normen. "Kau tidak akan melepaskanku?" desah Ezra sambil melirikku tajam.
Gagang pedang yang masih menancap di tubuh Normen, malah terus diputar olehnya. Tindakan yang dilakukan Ezra membuat Normen harus menggigit bibirnya agar dia tidak berteriak.
Aku takut Ezra akan melakukan sesuatu yang mengerikan, jika aku tidak segera menghentikannya. "Aku sudah memperingatkanmu," desahku. "Sebaiknya, kau dengarkan perkataanku."
"Memangnya, apa yang bisa kau lakukan padaku?" Ezra menekan gagang senjatanya, hingga ujung pedang itu menembus punggung Normen. Sekarang, pedang itu masuk terlalu dalam ke tubuh si prajurit tua.
"Ezra!" bentakku dengan mengacungkan pedang padanya. "Sekali lagi kau menyentuhnya, aku akan memenggal kepalamu!"
Anak itu mendengus, namun pandangannya tak bergeming memandang Normen. "Penggal kepalaku!" desisnya tanpa melihatku. "Bersamaan dengan kematianku, aku juga akan membawa pria tua ini untuk mati bersamaku."
Ezra melepaskan genggamannya dari gagang pedang yang menancap di tubuh Normen. Pemuda itu beranjak berdiri, dengan bertumpu pada lutut kanannya.
Pedangku berjarak sangat dekat dengan lehernya, namun pemuda ini malah terus maju mendekatiku. "Kau ingin membunuhku, tapi malah terus melangkah mundur," cibirnya. "Untuk membunuh seseorang, kau perlu tekad yang besar. Dan kau tidak memilikinya."
Di saat perhatian Ezra sepenuhnya tertuju padaku, sebuah tombak perak dengan ujung emas, muncul di tangan kanan Normen yang kosong. Prajurit tua itu sudah memilih untuk bertarung habis-habisan melawan Ezra.
"Kau harus memilih pilihan yang tepat," balasku dengan suara rendah. "Sebentar lagi kau akan merasakan kekalahan, jika kau masih memilih untuk melawanku."
Di belakang Ezra, Normen mulai mencoba berdiri dengan bantuan tombak peraknya. Dia mengangguk lemah padaku, sambil memaksakan diri untuk tersenyum. Pria tua itu menyembunyikan rasa sakit di tubuhnya, dengan mencoba untuk menenangkanku.
Ezra masih memandangku tajam, dengan leher yang sangat dekat dengan mata pedangku. Dia terlalu fokus untuk melawanku, hingga tak menyadari pergerakan Normen di belakangnya.
Normen menusukkan tombaknya ke punggung Ezra, namun si Ashtonas malah tersenyum kepadaku sembari memutar tubuhnya sehingga tombak itu malah melewatinya, bukan melukainya.
Menghindari tanpa menyerang balik, bukanlah kebiasaan Ezra. Pemuda itu berhasil memukul gagang pedang yang menancap di tubuh Normen, selagi dia memutar tubuhnya. Ezra juga melemparkan sebilah pisau ke arahku, dan membuatku tidak bisa menyerangnya.
Hunra yang muncul entah dari mana, menabrakkan dirinya kepada Ezra dengan kekuatan penuh. Serangan tiba-tiba darinya, berhasil membuat Ezra terhuyung dan mundur beberapa langkah.
Ezra menyeringai kepada kami, dengan mulut yang penuh darah. Salah satu serangan yang dilesakkan oleh dua temanku, pasti berhasil mengenainya. Entah tabrakan tubuh Hunra, atau tombak Normen.
Tombak Normen tidak terdapat darah, yang berarti serangan si pria tua bukan alasan dibalik terlukanya Ezra. Hanya tersisa satu kemungkinan, yaitu tabrakan Hunra ke tubuh Ezra dengan kecepatan tinggi.
Aku membantu Normen untuk berdiri, selagi Hunra berada di depan kami, sebagai tameng yang akan menerima serangan Ezra. Pria tua itu bahkan memberikan tombak dengan kekuatan besar itu kepadaku, agar aku bisa menjaganya sebentar.
"Kau bisa menyembuhkanku, jika aku mencabut pedang ini?" tanya Normen dengan napas yang mulai pendek. "Hanya sihir sederhana, agar aku bisa mengayunkan lenganku dengan leluasa."
"Bantu dia!" perintah Hunra dengan tegas tanpa menoleh ke belakang. "Aku bisa menahan anak ini sendirian. Tapi untuk menangkapnya, mungkin aku butuh bantuan kalian."
Selepas mengatakannya, Hunra kembali menerjang Ezra dengan kecepatan yang sama seperti sebelumnya. Malam ini sungguh akan menjadi malam yang sangat panjang.
"Kau siap?" tanyaku kepada Normen sembari menggenggam gagang pedang yang menancap di tulang belikatnya.
Pria tua itu mengangguk lemah, sambil mencengkeram lenganku dengan kuat. Dia juga menggigit bibirnya, untuk bersiap sebelum aku menarik keluar pedang ini.
Saat pedang itu berhasil aku tarik, darah langsung mengucur keluar dari lubang di bagian atas d**a, maupun punggungnya. Saatnya sihir hutanku bekerja untuk mengurangi rasa sakit yang dia rasakan.
Cengkeraman tangan Normen di lenganku semakin keras, saat aku mulai melakukan sihir hutanku. Targetku hanya sedikit menghilangkan rasa sakitnya, bukan menyembuhkan lubang di tubuhnya secara penuh.
Setelah beberapa detik mengarahkan telapak tanganku ke arah lukanya, Normen mengangkat tangan untuk memberi isyarat padaku. "Sudah cukup," katanya. Suara pria tua ini lebih baik daripada sebelumnya.
Dia berdiri di hadapanku, lalu mengambil tombaknya yang berada di tangan kiriku. "Mari kita tangkap bocah sialan itu," desisnya sebelum kembali menerjang Ezra yang sedang bertarung sengit melawan Hunra.
Pertarungan ini membuat kami kehilangan banyak waktu. Untungnya, aku, Hunra, dan Normen memiliki stamina di atas golongan ras yang biasa. Itulah alasan dibalik daya tahan kami selama sekitar lima jam bisa menahan Ezra.
Normen dan Hunra sudah mengeluarkan kartu terakhir mereka. Hunra dengan kombinasi pedang, kecepatan, dan tubuh kebalnya. Normen dengan tombak perak dengan ujung emasnya, yang bisa memanjang dan membesar. Ada juga Yared yang bersembunyi entah di mana, untuk menunggu saat yang tepat agar anugerahnya bisa aktif. Hanya aku yang belum menggunakan kartu terakhirku.
Aku menghunus sebilah pisau dari balik punggungku, lalu menyayat lenganku tanpa ragu. Untuk pertama kalinya, aku meminum darahku sendiri, agar aku bisa menggunakan kekuatan klan Zabash yang mengalir dalam diriku.
Pertarungan ini harus selesai. Aku tidak bisa membiarkan Ezra menahan kami, hingga matahari kembali terbit di langit Laustrowana. Aku tidak mau dia kabur seperti Gil yang kabur saat matahari terbit.
Aku sudah tiga kali menggunakan kekuatan ini, hanya dalam beberapa hari di Laustrowana. Padahal, aku baru menggunakan kekuatan klan Zabash sekitar dua puluh kali, selama aku masih berada di Tekoa. Pulau ini benar-benar memaksaku untuk mengeluarkan semua hal yang terbaik dalam diriku.
Dalam beberapa detik, seluruh warna yang ada di penglihatanku berubah menjadi merah sewarna darah. Perutku seperti diaduk, namun tidak akan keinginan untuk memuntahkan makanan di dalamnya. Dua hal ini adalah sebuah tanda bahwa aku sudah masuk ke dalam kekuatan klan Zabash.
Dengan sebilah pisau di tanganku, aku menerjang masuk ke dalam pertarungan. Targetku hanya satu. Menangkap Ezra, putra Ezmar.