Hunra benar. Melawan Ezra yang ada dalam wujud pria kekar ini, hampir mengingatkanku saat aku bertarung melawan Hunra di Hutan Hitam.
Kekuatan fisik, dan kegesitannya membuatku sangat kewalahan untuk bisa mengalahkannya. Untungnya, dia tidak memiliki kulit tebal seperti Hunra. Ezra masih menggunakan pedang untuk menangkis serangan kami.
Normen dengan pedang elf klan Daeron terus menyerang dari sisi kanan. Aku bertugas untuk menyerang dari sisi kiri. Sedangkan Hunra yang merupakan penyerang utama, langsung menerjang dari depan.
Bahkan dengan tiga serangan dari kami, Ezra masih sangat sulit dikalahkan. Seranganku beberapa kali mengenai paha atau lengannya, tetapi luka kecil itu tidak berdampak apa pun terhadap mereka.
"Kalian bertiga mengecewakanku!" cibir Ezra. Dia menunjukku sambil memandangku dengan sorot mata yang menyebalkan. "Apakah kau benar-benar elf dari pulau lain? Atau kau hanya elf bodoh yang dibuang oleh klanmu?"
Intonasi dan raut wajah, juga sorot mata Ezra sangat jauh berbeda dengan apa yang kulihat darinya beberapa hari lalu. Dengan wajah orang lain pun, aku bisa merasakan aura membunuh yang kuat dari anak ini.
Ezra adalah manusia pertama yang berhasil menipuku secara terang-terangan. Dia membuatku tampak bodoh, karena mengira bahwa dirinya sangat menyayangi kerajaannya. Aku bahkan sempat mengingat karakter Arol Freand, dari dalam diri anak ini.
Aku mengutuki diriku sendiri, karena sudah membandingkannya dengan salah satu orang paling setia yang pernah kutemui dalam hidupku.
Melihat karakter Ezra yang sekarang, membuatku sadar bahwa dia berhasil menutupi semua kegilaannya saat berbicara empat mata denganku.
Anak ini bahkan berhasil membuatku mencurigai Kinbold, si pemilik penginapan, dengan menyebut soal buku bergambar bunga Kanna yang ditemukan oleh Yared. Ezra adalah pembohong ulung yang licik dan cerdik.
Menyelamatkannya dari incaran Nuvian hampir saja menjadi keputusanku, setelah aku mendengar fakta soal para korban yang adalah perintah Darunia lewat Nuvian.
Meskipun Valerio memang membunuh sekitar dua puluh korban di luar Rowyn, tetap saja aku hampir berusaha untuk menyelamatkan seorang tersangka dari seluruh rangkaian pembunuhan berantai ini.
Ada sedikit rasa malu yang muncul dalam hatiku, sehingga aku malah menambah kecepatanku untuk menyerang Ezra. Bersamaan dengan itu, aku melihat Normen ikut menyerang dari sisi sebaliknya dengan kecepatan yang hampir sama denganku.
Aku mengayunkan pedang ke arah Ezra dengan asal-asalan, karena aku memang membiarkan seranganku ditangkis olehnya.
Si pria kekar berhasil menangkis mata pedangku, juga melancarkan serangan balik dengan pedangnya ke arahku. Tepat waktu bagi Normen untuk menyerangnya dari titik buta.
Ayunan pedang dari Ezra membuat jubahku terkena sayatan yang cukup panjang. Untungnya aku menghindar di waktu yang tepat, sehingga serangannya tidak memberi dampak yang fatal kepadaku.
Normen berhasil melompat tepat di belakang Ezra, tanpa diketahui olehnya. Kedua mata Ezra hanya bisa melihatku, juga Hunra yang berlari ke arahnya. Beberapa detik kemudian, serangan Normen berhasil melukai Ezra di bagian punggungnya. Luka fatal pertama yang dia terima di pertarungan ini.
Hunra juga memukul Ezra hingga dia mundur beberapa langkah, setelah Normen berhasil menyabet punggungnya.
Ezra hampir terpojok, namun dia dengan gesit langsung bergerak menjauh dari kepungan kami. Anak itu memeriksa luka di punggungnya dengan menempelkan telapak tangannya di luka itu.
"Aku sudah bosan dengan kalian," geram Ezra. Dia melepas kulit wajah si pria kekar dengan darah yang masih mengucur dari punggungnya. Anehnya, dia tidak tampak kesakitan sama sekali.
Tubuhnya yang kekar, menyusut menjadi tubuh seorang pria muda dengan rambut hitam cepak dan bintik-bintik yang tersebar di wajahnya.
Bukan hanya tubuh dan wajahnya yang berubah, luka besar di punggungnya juga menghilang. Darah yang mengalir deras itu, sudah berhenti membasahi tanah di bawahnya.
Perkiraanku soal kekuatan Ezra ternyata salah besar. Anak ini tidak hanya mengganti penampilannya, tapi juga menghilangkan seluruh luka yang dia dapatkan dari penampilan sebelumnya. Kekuatan menyebalkan yang berarti membuat Ezra memiliki cadangan nyawa sebanyak jumlah kulit wajah di sakunya.
"Kita akan membunuh, atau sekedar menangkapnya?" tanya Hunra pelan.
"Usahakan untuk menangkapnya lebih dulu," balas Normen. "Ada banyak hal yang harus kita ketahui dari mulut anak ini. Dia menyimpan sesuatu yang perlu kita ketahui."
Ezra mengambil sebuah kulit wajah dari sakunya, dan menempelkan benda itu ke wajahnya. Kali ini, dia berubah menjadi seorang wanita muda dengan pakaian khas para gembala. Setelan kulit dan sepatu jerami, juga tongkat panjang di belakang punggungnya.
Wanita itu menyeringai kepada kami. "Bagaimana jika kalian harus melawan seorang wanita?" cemoohnya dengan suara lembut. "Apakah kalian akan segan memukul wujud ini, seperti kalian memukul si pria kekar barusan?"
"Aku tidak keberatan," ujar Hunra setengah bergumam. Dia menerjang Ezra dalam bentuk wanita itu, tanpa menahan kekuatannya sama sekali.
"Dia adalah Ezra, jangan sungkan untuk menyerangnya," kata Normen padaku, sebelum ikut berlari bersama Hunra untuk menerjang Ezra.
Perkataan kedua orang itu benar. Siapa pun wujud yang dia pakai, Ezra tetaplah Ezra. Target suku Aidenia, dan pembunuh belasan orang di Rowyn.
Dengan semua kekuatan sebesar ini, Ezra tidak boleh kami lepaskan. Orang ini mungkin tidak semenakutkan Tequr yang bisa membuat bala tentara, tapi Ezra sudah lebih dari cukup untuk menahan kekuatan kami bertiga.
Aku harus bisa mengalahkan anak ini, dan mencari tahu sosok yang memberinya kekuatan sebesar ini. Pribadi yang memberi Ezra kekuatan, pasti bukan orang sembarangan.
Wujud wanita membuat Ezra lebih gesit daripada saat berwujud pria kekar. Kali ini, dia bisa menghindari serangan kombinasi yang dilakukan oleh Normen dan Hunra. Ezra bahkan beberapa kali sanggup memberi pukulan kepada dua musuhnya, selagi menghindari serangan mereka.
Menyerangnya secara membabi buta bukanlah pilihan yang baik. Di punggungku masih ada sisa tiga anak panah yang bisa kugunakan. Normen dan Hunra akan menjadi pengalih perhatian yang bagus untuk membuatku bisa membidik dengan tepat.
Pertarungan dua lawan satu di depanku, memang terkesan berat sebelah. Hunra dengan tangan kosong, dan Normen dengan pedangnya, tidak berhenti untuk melepaskan serangan kepada Ezra dalam wujud wanita. Masalahnya Ezra tampak begitu tenang, meskipun dia hanya menghindar sejak tadi.
Dengan anak panah yang sudah kutarik, aku merasakan sesuatu yang buruk karena melihat gaya bertarung si wanita pembawa tongkat. Ezra pasti menyimpan sesuatu untuk membalikkan serangan-serangan yang mengarah ke arahnya.
Tepat saat Hunra memukul Ezra dengan genggaman tangannya, aku melepaskan anak panahku ke arah lompatan Ezra saat dia mencoba menghindari pukulan itu. Tembakanku tepat sasaran. Anak panah yang kulepaskan, menancap di tulang belikat si wanita.
Ezra berguling ke belakang, untuk menghindari serangan tambahan dari Normen, sambil melepaskan anak panah dari tubuhnya. Namun, Normen tidak akan melepaskan anak itu.
Si prajurit tua dari Donater malah menambah kecepatan serangannya. Dia berhasil membuat sayatan di perut, paha, bahkan betis dari Ezra. Raut wajah wanita itu tampak kesakitan, dan dia mulai merogoh saku celananya.
Aku tidak akan membiarkan Ezra mengubah wajahnya. Satu anak panah kembali kulepaskan. Kali ini, targetku adalah saku celana, tempat dia mengambil kulit wajah korbannya.
Anak panah yang kulepaskan, berhasil tepat menancap ke telapak tangan Ezra. Hunra langsung menabrakkan dirinya ke si wanita, hingga dia terlempar cukup jauh, tapi ke arahku.
Ezra mendarat dengan punggungnya tepat di depanku. Dia melepaskan anak panah yang menancap di telapak tangannya, dan kembali merogoh sakunya.
"Sudah selesai," desisku tajam, sambil menodongkan ujung pedangku ke lehernya.
Normen tiba tepat waktu, dan langsung menahan kedua tangan Ezra. Hunra yang terakhir tiba, hanya melepaskan pukulan keras ke wajah Ezra yang masih dalam wujud seorang wanita.
"Kau benar-benar menyulitkan," geram Hunra sambil menunjuk ke wajah Ezra. "Sekarang, katakan padaku siapa identitas sosok yang memberimu kekuatan ini!?"
Ezra tertawa sesak, lalu meludahkan darah dari mulutnya ke arah Hunra. "Mengapa kau sangat peduli soal itu?" balasnya. "Cukup bunuh aku, dan kembalilah ke pulau kalian!"
Hunra kembali memukul wajah Ezra, hingga mulut anak itu penuh dengan darah. "Laustrowana adalah pulauku, dan kau merusak pulau ini karena sosok bodoh yang memberimu kekuatan menyebalkan ini," geramnya.
"Membunuhmu adalah perkara mudah, namun melakukannya bukan tugasku. Nuvian, wanita yang kau kalahkan di sudut Yifn tadi, yang akan menjadi pencabut nyawamu." Hunra mendekatkan wajahnya ke arah Ezra. "Aku hanya butuh nama sosok yang memberimu kekuatan ini."
Ezra membalas pandangan Hunra dengan tatapan tajam yang sama. Selama beberapa detik, kedua orang itu saling memandang tanpa berkata satu patah kata pun. Duduk di sebelah mereka saja, sudah membuatku merasakan ketegangan yang ada di udara.
Tiba-tiba, arah pandangan Ezra sudah tidak lagi ke mata Hunra. Wanita itu melihat sesuatu yang jauh di belakang Hunra. Saat aku mencoba mengikuti arah pandangannya, ternyata Ezra sedang melihat matahari yang hampir terbenam.
"Kalian tidak mau membunuhku?" ucap Ezra, dengan tatapan kosong yang masih memandang ke arah matahari.
Hunra menyadari bahwa wanita yang ada di depannya, sudah tidak lagi memandang matanya tajam. Dia melihat ke belakang, lalu kembali menatap Ezra.
"Jangan mengalihkan pembicaraan!" bentak Hunra dengan kembali memukul wajah Ezra. "Siapa sosok yang memberimu kekuatan besar, dan memberimu ide untuk mem—" Hunra terlempar jauh, hanya karena sundulan dari Ezra.
Selepas menjauhkan Hunra, Ezra juga melemparkan Normen yang memegangi kedua tangannya. Ezra melakukan dua hal itu dengan masih dalam posisi berbaring. Sekarang, hanya tersisa aku yang memegangi pedang ke arah lehernya.
"Kau takut?" Ezra perlahan mulai berdiri sambil mengangkat tangannya. "Masih tidak mau membunuhku? Ini kesempatan terakhirmu, wahai ras paling luhur."
Berdiri sangat dekat dengan Ezra, membuatku bisa merasakan kekuatan besar yang mengalir di dalam tubuhnya. Aku mengenali aura yang terpancar dari anak ini. Aku merasa pernah bertemu dengan seseorang yang memiliki aura yang sama.
"Eleandil," desis Ezra, bahkan dengan menempelkan lehernya di ujung mata pedangku. "Kau tidak mau menjawab pertanyaanku?" Dia tersenyum. "Masih tidak mau membunuhku?"
Aku masih ingin tetap dalam rencana yang sudah kuputuskan bersana Normen dan Hunra, untuk tidak membunuh Ezra. Namun hatiku mengatakan sebaliknya. Aku merasakan aura membunuh yang kuat dari wanita di depanku.
Dibanding Tequr yang gila, dan Nuvian yang sudah terbiasa membunuh, Ezra memiliki aura jahat yang berbeda. Anak ini memancarkan aura membunuh, yang dibalut dengan sesuatu yang aneh. Sebuah tekad kuat yang sama seperti yang aku rasakan saat pertama kali bertemu dengannya. Kesetiaan kepada kerajaannya.
"Kau melakukan ini untuk melindungi kerajaanmu?" tanyaku lirih. "Kau ingin melindungi Al-Valayne. Karena itulah kau membutuhkan kekuatan besar. Tebakanku benar, kan?"
Ezra melepas kulit wajahnya, dan kembali ke wujudnya yang asli. Seluruh luka di tubuh si wanita, langsung menghilang seketika. Ezra kembali dalam keadaan sehat dan tanpa sedikit pun luka.
Di belakangku, aku mendengar derap lari, yang pasti adalah milik Normen dan Hunra. Tidak ada orang biasa yang bisa berdiri setelah terlempar sejauh itu. Namun dua orang ini adalah pengecualian. Mereka adalah dua orang kuat.
Aku mengangkat tanganku tinggi. "Tunggu!" seruku. Kedua orang itu berhenti di sebelahku, dengan senjata yang terhunus di masing-masing genggaman tangan mereka.
"Mitos bahwa elf bisa membaca pikiran dan emosi, ternyata memang benar," ucap Ezra dengan mengangguk pelan. "Kau benar. Aku melakukan semua ini karena aku mencintai Al-Valayne."
"Aku tidak hanya membalas dendam kepada empat belas korbanku. Aku membunuh mereka karena empat belas orang itu sedang merencanakan untuk mengudeta kerajaan ini. Mereka membuat kelompok yang bergerak dalam gelap, dan mereka semua memiliki kekuatan yang mengerikan."
"Kekuatan yang diberikan oleh sosok itu, membuatku bisa meniru semua hal yang dimiliki oleh si pemilik kulit wajah. Termasuk kekuatan dan keahliannya. Empat belas orang itu layak mendapatkannya," sambung Ezra dengan amarah yang membuat suaranya bergetar.
"Siapa sosok itu?" sela Hunra pelan. "Siapa sosok yang memberimu kekuatan ini?"
Ezra menunduk dan menggelengkan kepalanya. "Aku tidak bisa mengatakannya," balasnya lirih. "Kalian harus menebaknya sendiri, setelah kalian melihatku."
Anak itu mengangkat wajahnya, dan dia menyeringai lebar ke arah kami. Namun, bukan Ezra yang ada di hadapanku.
Pemuda yang beberapa saat lalu masih memiliki rambut hitam cepak, dan bintik-bintik di wajahnya, telah berubah. Sekarang, Ezra adalah seorang pemuda dengan rambut abu-abu. Mata biru mudanya berubah menjadi warna kuning cerah. Sedangkan hidung yang tadinya normal, hanya menyisakan lubang di wajahnya.
Aku mengenali penampilan ini. Ashtonas, tentara matahari yang ada di bawah kuasa Ashtoret, sang Xenia pelindung matahari. Beberapa hari lalu, aku sempat melawan salah satunya. Gil, si Ashtonas yang masih berjiwa murni.
"Sudah bisa menebak sosok yang memberiku kekuatan?" desis Ezra dengan seringai lebar yang seolah membelah wajahnya menjadi dua bagian.
"Ashtoret, si pengkhianat besar," balas Hunra tajam. Sang perisai Serdadu Juri-ore menghunus pedang dari punggungnya. Sebuah tindakan yang jarang dia lakukan, kecuali melawan pribadi yang lebih kuat darinya.
"Ternyata, Tuan Ashtoret memiliki nama yang cukup terkenal," ucap Ezra. Suara anak itu juga berubah seperti penampilannya. Terkesan jahat, dan licik. "Mau mencoba membunuhku lagi?"
Tubuhku tidak bisa bergerak, karena aku melakukan kesalahan yang sama seperti saat aku melawan Gil. Aku melihat dua bola mata kuning milik Ezra.
Sekali lagi, aku harus melawan seorang Ashtonas.