Bab 32 - Identitas Asli sang Musuh

1852 Kata
Aku menyadari fakta ini sejak melihat Valerio berada di atas pinggiran balkon istana. Caranya berdiri di atas pinggiran balkon, adalah yang membuatku yakin bahwa orang itu bukan Valerio. Valerio tidak memiliki kecacatan fisik sama sekali, sehingga caranya berdiri tampak seperti orang biasa. Sedangkan Valerio yang ada di atas balkon istana, berdiri dengan cara yang tidak umum. Kaki kanan orang itu sedikit berjinjit, agar dapat sejajar dengan kakinya yang lain. Awalnya fakta itu luput dari mataku, karena Bella yang terus membuatku gagal fokus. Namun akhirnya aku berhasil menyadari fakta penting itu, saat Bella menjelaskan soal hukuman yang akan dijalani oleh orang seperti Valerio. Aku mulai mencurigai bahwa orang itu bukan Valerio, setelah Bella memberi tahuku bahwa dia hanya akan dipertontonkan ke masyarakat sampai si penjahat mengakui kejahatannya. Itulah alasannya mencoba berdiri dengan menyejajarkan kedua kakinya, agar tidak ada orang yang menyadari bahwa dia bukanlah Valerio yang asli. Sebuah tindakan yang hampir saja berhasil menipuku. "Mata seorang elf klan Daeron memang sesuai dengan reputasinya sebagai elf klan malam," puji Ezra dengan nada kesal. "Sebelum aku membunuhmu, aku ingin menanyakan sesuatu. Bagaimana kau bisa mengetahui bahwa aku bukan Valerio yang asli?" Mungkin bukan hanya Ezra dalam tubuh Valerio ini yang penasaran akan tebakanku. Normen, Yared, Nuvian, dan Bella (yang tidak tahu apa-apa), juga memandangku dengan sorot mata tajam. "Kaki kananmu," sahutku lirih. Ezra mendengus. "Lagi-lagi kebodohan kedua orang tuaku, yang membuatku gagal," desahnya. "Mereka tetap tidak berguna, bahkan setelah mereka sudah mati." Mendengar Ezra menyalahkan kedua orang tuanya karena kecacatan fisiknya, membuatku amarahku tiba-tiba muncul. Di saat orang lain bersyukur akan keberadaan orangtuanya, dan menangis di saat kematian orangtua mereka, Ezra malah mencemooh dua orang yang membuatnya hidup. Mungkin orang ini lebih buruk daripada Valerio. Nuvian tiba-tiba terbatuk keras di sebelahku, saat aku dan Ezra sedang saling beradu pandang. Bella langsung membopong Nuvian, yang ternyata mengeluarkan banyak darah dari mulutnya. Sang Anx bagi Darunia, bahkan tidak bisa lagi mengatakan sesuatu dan hampir jatuh terduduk. "Aku bisa melakukan sihir hutan sederhana, untuk mengobati lukanya," terang Bella. "Aku akan membawanya ke tempat aman." Ternyata teman-temanku, juga Hunra dan Bella, menyadari bahwa aku tidak Ezra tidak menghalangi kepergian Nuvian dan Bella. Dia malah tertawa kecil, karena tersisa aku, Normen, dan Yared yang ada di hadapannya. "Akhirnya kita bisa saling membunuh tanpa ada pengganggu," kekehnya sambil menyeringai lebar. "Di antara kalian berempat, adakah yang ingin mati lebih dulu?" Saat ini, aku hampir percaya bahwa aku dikutuk oleh seseorang. Sejak tiba di Laustrowana, aku tidak pernah bertemu lawan yang setara denganku. Bahkan, lawan baru yang aku temui, selalu pribadi yang jauh lebih kuat daripada lawanku sebelumnya. Nuvian yang seorang Anx, sudah mengklaim dirinya tidak akan dikalahkan oleh siapa pun yang ada di Laustrowana. Namun yang terjadi di depanku malah sebaliknya. Wanita itu kalah telak oleh Ezra yang berada dalam tubuh Valerio. Artinya, Ezra memiliki kemampuan yang jauh lebih kuat daripada Nuvian. Fakta bahwa dia bisa membuat seorang Anx dari Xenia pelindung perang sampai tidak bisa berjalan, adalah bukti yang kuat untuk kekuatan Ezra. "Sebelum kau membunuh kami, boleh aku bertanya sesuatu?" Yared mengangkat tangannya dengan genit. "Kenapa kau memilih untuk menjadi Valerio? Menurutku, wujud Ezra jauh lebih tampan daripada wujudmu sekarang." Ezra tersenyum geli. "Untuk seseorang yang akan mati, kau cukup bernyali," katanya. "Kau tidak memiliki pertanyaan lain?" "Tidak ada," ujar Yared sambil menaikkan alisnya. "Aku hanya penasaran dengan tindakan-tindakan bodoh yang dilakukan orang lain." Untungnya Ezra tidak terpancing dengan ejekan rendahan dari Yared. Dia tampak cukup tenang, meskipun perkataan dan nada Yared sangat menyebalkan. "Aku harus meluruskan kesalahpahaman yang terjadi di sini," kata Ezra. Dia menarik, atau lebih tepatnya mengelupas kulit wajahnya. Bersama dengan kulit yang terlepas itu, tubuhnya juga menyusut dan kembali berubah menjadi tubuh Ezra yang aku kenali. Setelahnya, Ezra mengantongi kulit wajah Valerio di saku celananya, dan menunjukkan wajah aslinya. Wajah lesu seorang pemuda dari desa kecil yang ada di timur Rowyn. "Aku tidak membunuh tiga puluh tujuh orang itu sendirian," tegasnya. "Hanya empat belas korban yang mati di tanganku. Semuanya adalah para warga Rowyn, atau orang-orang Rowyn." "Akhirnya, aku memutuskan untuk mencari di seluruh kerajaan ini, soal identitas pembunuh yang meniru metode pembunuhanku." Ezra kembali mengeluarkan kulit wajah Valerio, dan mengangkatnya di depan kami. "Orang ini, Valerio si penjaga gerbang Rowyn, adalah si peniru." "Saat aku menemui orang ini di rumahnya, dia malah mengancamku dan mengatakan bahwa aku adalah orang yang dia incar selama ini. Itulah alasanku membunuhnya. Padahal jika dia tidak mengatakannya, mungkin dia masih hidup." "Seperti katamu." Ezra menunjuk Yared sambil tersenyum. "Aku ingin melihat orang-orang bertindak bodoh. Namun aku membenci orang-orang yang mengira dia kuat, padahal dia hanya orang lemah." "Wanita bergaun merah itu, juga meremehkanku. Padahal aku bisa mengalahkannya dengan beberapa pukulan sederhana. Orang-orang ini harus mulai berpikir logis, saat melawan seseorang sepertiku," imbuhnya dengan geli, namun raut wajahnya menunjukkan kekesalannya. Aku tidak mau menilai bobot kejujuran Ezra melalui setiap kata yang dia sampaikan. Namun otakku mengatakan bahwa pria ini memang tidak berbohong sedikit pun. Berarti, Valerio hanya menyelesaikan setengah misi suku Aidenia. Sedangkan sisanya malah dibunuh oleh Ezra, yang juga termasuk dalam daftar orang-orang yang harus dibunuh oleh suku Aidenia. "Kita harus membawanya keluar kota," bisik Hunra di telingaku, namun cukup keras untuk bisa didengar oleh Normen dan Yared. "Pertarungan di dalam kota, akan mengakibatkan banyak korban tak bersalah." Ezra menyadari Hunra sedang berbisik kepadaku. "Kalian merencanakan sesuatu untuk membunuhku?" tebaknya. Dia mengangkat bahunya. "Seperti musuhku yang lain, kalian akan kalah dengan cepat." "Mungkin kami akan kalah," selaku dengan lantang. "Namun aku berharap setidaknya kekalahanku tidak perlu menimbulkan akibat yang buruk untuk kota ini. Ada banyak jiwa tak bersalah yang tinggal di sini." "Masih bisa memikirkan nyawa orang lain, meskipun kalian sudah di ambang kematian?" balas Ezra dengan cemooh kasar. Di sebelahku, tangan Normen sudah menggenggam erat. Di antara kami berempat, prajurit tua inilah yang paling sulit untuk mengendalikan amarahnya. Namun, aku tahu kalau Normen berusaha menahan diri, agar kami tidak bertarung di dalam kota, Aku harus memikirkan cara untuk bisa membuat Ezra keluar dari kota ini. Apalagi aku belum tahu sumber dan jenis kekuatannya, yang bisa membuat seorang Nuvian bisa kalah secara telak. Itulah yang akan aku cari. Jenis dan sumber kekuatan Ezra. Jika aku bisa membuat pemuda ini mengatakan soal kekuatannya, aku yakin kami akan bisa membujuknya keluar dari kota ini. "Nuvian, wanita bergaun merah yang kau kalahkan, seharusnya adalah orang terkuat di Laustrowana," kataku mendadak. "Bagaimana kau bisa mengalahkannya?" "Jadi, sekarang kau ingin aku menjelaskan asal kekuatanku?" balas Ezra dengan senyum yang hanya di sisi kanan bibirnya. "Aku akan menjelaskannya, sebelum aku membunuh kalian." "Seorang makhluk kuat dengan kuasa yang besar, mendatangiku lewat mimpi sekitar empat bulan yang lalu," papar Ezra. "Dia menawarkanku kekuatan besar yang bisa mengalahkan setiap orang, jika digunakan pada waktu yang tepat." "Tentu saja aku langsung menerimanya. Aku perlu membalas dendam kepada para petinggi petugas Alva, yang sudah menolakku berkali-kali hanya karena kaki kananku cacat," geramnya. "Dengan kekuatan baruku, aku membunuh semua orang Rowyn yang meremehkanku, juga putri Aldcera, petugas Alva yang menolak pendaftaranku selama dua kali berturut-turut. Aku menjadi bahan pembicaraan di Rowyn, selama dua bulan tanpa henti." "Warga desa yang bodoh itu, malah menganggap bahwa si pembunuh berasal dari luar Rowyn. Dugaan yang membuatku lebih leluasa untuk membelokkan, juga memainkan rumor itu sesukaku. Kinbold si pemilik penginapan, juga menjadi sasaran tuduhan para warga, setelah aku menjebaknya dengan sebuah buku aneh." "Singkatnya, kekuatanku bukan hanya berasal dari makhluk aneh yang datang di mimpiku. Logika dan penalaranku, juga membuatku menjadi orang yang sangat berbahaya. Aku bahkan mengalahkan orang terkuat di Laustrowana dengan mudah. Bukankah gelar itu seharusnya menjadi milikku?" katanya. Sebelum aku sempat membalas perkataan Ezra, Hunra malah menyeruak ke depan kami. "Bunuh aku lebih dulu, karena aku yakin kau tidak akan bisa melakukannya," ucap Hunra dengan geli. Selepas memamerkan kesombongannya, Hunra langsung menerjang Ezra dan memamerkan kekuatannya. "Dia tidak memakai pedang?" gumam Yared dengan takjub. "Tidak perlu," jawab Normen. "Aku mengenalnya, dia adalah Hunra En Caino, sang perisai Serdadu Juri-ore. Dia tidak memerlukan senjata apa pun, karena seluruh tubuhnya adalah senjata." Sang perisai Serdadu Juri-ore, hanya menabrakkan tubuhnya ke Ezra. Hasilnya sangat mengejutkan, karena Ezra terlempar ke belakang, hingga membuat tembok kota Yifn berlubang. Hunra tahu kekuatan Nuvian. Bahkan Hunra mendapatkan banyak luka saat mencoba untuk melawan Nuvian, yang sama sekali tidak terluka. Keberanian Hunra menyerang Ezra yang seharusnya jauh lebih kuat, pasti berdasarkan pertimbangan yang matang. Kami bertiga bergegas menyusul Hunra dan Ezra yang sudah berada di luar kota Yifn. Pasti ada sesuatu yang kulewatkan dari apa yang dikatakan Ezra padaku, karena Hunra langsung tidak segan untuk menyerangnya. "Aku akan mencari cara, agar dia bisa terperangkap ke dalam anugerahku," kata Yared. Pemuda itu mengambil jalan untuk menjauh dari pertarungan yang ada di depan kami. Tersisa aku dan Normen yang berlari ke arah pertarungan dua orang itu. Tanpa Yared yang mencoba untuk menyergap Ezra, maka aku dan Normen tidak perlu menahan kecepatan lari kami. "Jangan memakai kekuatan klan Zabash!" seru Normen di sebelahku. "Kita harus melihat sebesar apa kekuatannya, sebelum memakai kekuatan rahasia!" Aku mengangguk tegas. "Kau juga, sebaiknya biarkan tombak hebat itu terus tersimpan di balik punggungmu!" balasku dengan seruan yang sama kerasnya. Dengan tekad bulat untuk tidak menggunakan kekuatan penuh, kami berdua semakin menambah kecepatan untuk segera sampai di medan pertempuran. Padang rumput yang gersang, adalah yang menyambut kami di luar tembok batu Yifn. Laustrowana sepertinya dipenuhi oleh banyak padang rumput, alih-alih huta lebat. Setelah aku sampai di dekat Hunra dan Ezra, aku melihat sesuatu yang janggal. Pria yang bertarung melawan Hunra bukan Ezra, melainkan seorang pria berambut pirang yang dipotong pendek. Pria itu memakai setelan kemeja berwarna hijau tua, dengan celana pendek. Jika orang ini bukan Ezra, lalu mengapa Hunra tetap bertarung dengannya? Apakah orang ini adalah orang suruhan Ezra, yang diperintahkan untuk menahan Hunra sejenak? Aku langsung menangkis ayunan pedang pria asing itu, dan melepaskan sebuah tendangan yang cukup keras. Pria itu berhasil menangkis tendanganku, namun dia gagal menahan pukulan Normen dari sisinya yang lain. "Siapa dia!?" tanyaku. "Ezra!" jawab Hunra. "Dia menyimpan banyak kulit wajah orang yang dia bunuh di sakunya, dan kulit itu bisa mengubah wajah, bahkan seluruh penampilannya!" Informasi dari Hunra malah membuat Ezra tertawa keras. Pria itu kembali mengeluarkan kulit wajah seseorang, dan memasang benda menjijikkan itu di wajahnya. Seperti kata Hunra, dia kembali berubah. Kali ini, Ezra adalah seorang pria berambut panjang hitam ikal, dengan tubuh kekar yang bahkan membuatku iri. Dia hanya memakai baju tanpa lengan, dan celana panjang dari kain tipis. Rasa penasaran langsung melingkupiku. Bagaimana Ezra bisa membunuh pria dengan tubuh kekar dan tampak sangat kuat, seperti orang ini? Dengan wujud yang tampak lebih kuat, Ezra menyerang orang yang paling dekat dengannya. Normen Harv si prajurit tua. Ayunan pedang dari Ezra, bahkan bisa membuat Normen hampir tersentak, dan kuda-kudanya hampir saja gagal. Untungnya, aku dan Hunra segera membantu Normen. Kami berdua menyerang Ezra dari dua sisi yang berbeda. Aku dengan mata pedang, dan Hunra dengan tangan kosong. Si pria kekar berhasil menahan seranganku, namun pukulan Hunra berhasil mendarat di wajahnya. Bukannya terjatuh, atau hanya sekedar terhuyung, pria kekar itu tidak beranjak dari tempatnya sedikit pun. Padahal pukulan Hunra memiliki bunyi yang sangat keras. Wujud barunya ini, membuat kami kewalahan untuk menyerangnya. "Aku seperti melawan diriku sendiri," gumam Hunra di sebelahku.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN