Melawan Nuvian adalah sebuah kebodohan.
Wanita itu tidak perlu menyentuhku, karena aku sudah langsung terlempar ke belakang hanya dengan sedikit gerakan tangannya.
Setelahku, giliran Aldcera yang maju untuk melawan Nuvian. Hasilnya sama sepertiku. Anx kepercayaan Darunia itu hanya menahan pukulan si petugas Alva dengan satu tangan, lalu mendorongnya ke belakang.
Dorongan yang tampak tidak terlalu kuat, tapi Aldcera malah terlempar jauh. Di Laustrowana, tidak akan ada satu pun pribadi yang bisa menahan Nuvian. Wanita itu adalah orang terkuat di pulau ini.
Namun aku tidak mau menyerah semudah itu. Aku kembali berdiri dan menerjang Nuvian, sebelum Normen atau Yared yang menyerang wanita itu. Aku tidak bisa menjamin Nuvian akan melunak kepada dua orang itu.
Kali ini, Nuvian membiarkanku untuk berada cukup dekat dengannya. Dia menangkis mata pedangku dengan pisau yang dia ambil dari balik gaun merah mencoloknya.
"Apa yang kau lakukan?" bisiknya dengan sorot mata tajam.
"Mereka berdua adalah temanku," jawabku tegas. "Aku tidak ingin mereka terluka. Bawa Valerio pergi dari sini, dan serang aku dengan pukulan yang cukup untuk membuatku kesakitan."
Nuvian memandangku sejenak, karena permintaanku yang mungkin terdengar aneh di telinganya. Namun wanita itu mengerti maksudku, setelah kami saling berpandangan selama beberapa saat.
Dia memukulku tepat di perut, hingga aku terlempar ke sisi balkon yang lain. Pukulannya begitu menyakitkan, hingga tubuhku terasa seperti baru saja ditumbuk oleh batu besar yang kasar.
Untungnya rencanaku berhasil. Kedua temanku malah berlari ke arahku untuk memeriksa kondisiku, ketimbang balas menyerang Nuvian.
Nuvian mengambil waktu sempit ini untuk kabur dengan langsung melompat ke bawah, bersama Valerio yang ada dalam dekapannya. Sebelum melompat, wanita itu sempat mengangguk pelan padaku, untuk keputusan yang sudah kuambil.
"Tolong Aldcera lebih dulu!" kataku sambil berusaha berdiri, saat Normen dan Yared tiba si sebelahku.
Kami bertiga memberdirikan si petugas Alva yang pingsan, dengan cukup bersusah payah. Dorongan dari Nuvian sepertinya agak terlalu keras, hingga Aldcera langsung pingsan di tempat.
Bella ikut membantu aku dan dua temanku untuk membopong Aldcera ke lantai bawah. Gadis itu bahkan tidak meminta izinku, atau melihatku sama sekali. Dia bertindak seolah sudah menjadi bagian dari timku.
"Baringkan dia di sini," usul Normen. Kami menyetujui usulnya, dan membaringkan Aldcera di lantai istana, tepat di drpan tahta Raja Alcyne.
Setelah Aldcera sudah terlihat nyaman, Normen melangkah kembali ke arah tangga, sambil memberi isyarat padaku untuk mengikutinya.
Yared dan Bella yang tidak diundang, juga ikut berkumpul di depan tangga untuk naik ke lantai atas. "Jelaskan semuanya!" ucap Normen tajam.
Sebelum aku mulai membuka mulutku, Yared mengangkat tangan kanannya tinggi. "Apakah elf ini adalah kenalan kalian?" tanya Yared sambil menunjuk Bella, dan melihatku serta Normen bergantian.
Normen memandangku sambil mengangkat alisnya. Sekarang aku yang menjadi pusat perhatian di kelompok kecil ini, hanya karena gadis elf aneh bernama Bella, yang sejak tadi selalu mengikutiku.
"Aku tidak kenal dengan kalian semua," kata Bella dengan tenang. "Aku hanya penasaran dengan apa yang kalian lakukan di kotaku. Aku tidak ingin kota tercintaku ini hancur, karena kedatangan kalian."
Yared maju ke depan Bella, sambil mendengus kesal. "Kau menuduh kami menghancurkan kotamu?" desahnya. "Padahal kami baru saja menangkap penjahat yang meneror kerajaan ini selama empat bulan terakhir, hanya dalam tiga hari. Kau masih mau menuduh kami melakukan hal jahat untuk kotamu?"
"Setiap orang, pasti memiliki tujuan lain, kan?" balas Bella dengan nada menyebalkan. "Kalian bisa saja mengincar sesuatu dari kota ini. Karena itu, aku tidak bisa membiarkan kalian."
Kelemahan seorang elf dalam membaca kejujuran dan kebohongan pihak lain, adalah saat lawan bicara kami juga seorang elf. Itulah yang aku rasakan saat mencoba untuk menebak kadar kejujuran dari setiap kalimat yang diucapkan oleh Bella.
Selain itu, aku juga tidak memercayai gadis ini sama sekali. Menurutku, keberadaannya di timku adalah sebuah gangguan yang harus segera dihilangkan.
"El, kau ada di sini!?" seru seseorang dari luar istana dengan suara lantang. Aku mengenali suara itu, karena suara Hunra adalah suara yang sangat mudah dikenali.
Aku bergegas keluar untuk menemuinya. Di perjalanan ke depan istana, aku baru ingat soal janji yang kami buat di gerbang Yifn. Jika salah satu dari kami menemukan Nuvian atau Valerio, orang itu harus segera membuat tanda, agar yang lain bisa segera datang.
Kejadian di atas balkon beberapa saat lalu, pasti adalah alasan Hunra dapat menemukanku. Eksekusi seorang penjahat besar yang gagal oleh seorang wanita berpakaian norak, pasti menjadi gosip yang cepat menyebar.
Saat Hunra melihatku keluar dari istana, dia langsung bergegas menghampiriku. "Kau melihat Nuvian dan Valerio?" tanyanya dengan tergesa-gesa.
"Nuvian membawa Valerio dari atas balkon, dan lari ke arah utara," jawabku. "Aku tidak mengikutinya, karena misi suku kalian bukanlah urusanku."
"Utara?" gumam Hunra. Pria itu pergi meninggalkanku, setelah melihat ke langit sejenak. Lalu, dia berlari ke sisi kanan balkon yang memang menuju ke arah utara.
Aku merasakan ada sesuatu yang aneh dari pertanyaan Hunra. Dia bahkan langsung pergi begitu saja, setelah aku mengatakan arah yang diambil oleh Nuvian.
Apakah sesuatu terjadi tanpa sepengetahuanku? Bukankah Nuvian memang menemui Valerio hanya untuk menanyakan soal Ezra, sehingga wanita itu tinggal membunuh targetnya?
Artinya, semua kejadian ini sesuai rencana suku Aidenia, kan? Teman-temanku juga tidak terluka oleh kekuatan Nuvian, sehingga aku juga tidak memiliki urusan lagi dengan suku aneh itu. Namun hatiku malah mengatakan hal yang sebaliknya.
"Kita ikuti mereka?" usul Normen, yang lebih terdengar seperti sebuah perintah. Prajurit tua itu ikut berlari ke arah yang dituju oleh Hunra, dengan kami semua di belakangnya (Bella tetap mengikuti di belakangku).
Untungnya kami bisa menyusul Hunra, karena pria itu tidak berlari terlalu cepat. Sesekali dia berhenti dan mulai mengamati sekelilingnya untuk mencari Nuvian dan Valerio.
Entah aku yang salah, atau Hunra memang terlihat cemas akan sesuatu. Padahal tidak ada yang perlu dicemaskan, karena misi suku Aidenia hampir pasti berhasil, jika Nuvian sudah turun tangan.
Pikiranku yang terlalu berprasangka baik, malah membuat kejadian yang buruk dan ingin kuhindari, malah lebih cepat terjadi. Apalagi bukan Hunra yang pertama kali menyadarinya, melainkan kedua mataku sendiri.
Terbiasa membidik target berjarak jauh, dan tinggal selama ratusan tahun di Hutan Hitam yang gelap, membuat kedua mataku memiliki kepekaan dan daya jelajah yang lebih hebat dari mata kebanyakan elf lain. Kadangkala, itu menjadi kekuatanku. Di lain hari, kemampuan itu malah menjadi kelemahanku.
Aku melihat sesuatu yang seharusnya tidak kulihat, jika kedua mataku adalah mata milik orang-orang biasa. Kejadian yang tertangkap mataku, terjadi di ujung sebuah gang yang ada di sisi kiriku.
Seorang wanita bergaun merah yang pasti adalah Nuvian, sedang diserang bertubi-tubi oleh pria buncit berpakaian abu-abu, yaitu Valerio. Bukankah mereka berdua ada pihak yang sama?
Selain itu, bagaimana seorang Valerio yang adalah manusia biasa, dapat membuat Nuvian terpojok... bahkan babak belur. Apa yang terjadi di antara mereka?
Teman-temanku sudah berjarak cukup jauh di depanku, karena mereka mengikuti Hunra yang terus bergerak ke utara. Artinya, pilihan penting ini ada di tanganku.
Aku bisa saja berpura-pura tidak melihat ini semua, dan kembali bergabung ke antara teman-temanku dengan wajah datar. Nuvian yang terpojok dan sudah pasti kalah, pasti akan dibunuh secara keji oleh Valerio, seperti para korbannya yang lain.
Setelah itu, mayat Nuvian yang tanpa kulit wajah akan ditemukan dalam waktu beberapa jam ke depan, atau mungkin malah keesokan harinya. Gang sempit ini juga tidak dilewati oleh banyak orang, karena tepat di sebelah tembok timur kota Yifn.
Kematian Nuvian bisa saja membuat Hunra memimpin para warga Aiden menjadi suku yang memiliki moral, dan lepas dari bayang-bayang Nuvian. Darunia juga mungkin tidak akan memilih Anx lain, setelah kematian Nuvian, sehingga Hunra bisa berkuasa penuh. Namun pilihan ini memiliki resiko yang besar.
Kematian Anx bisa saja membuat Xenia pelindungnya murka, dan mendatangkan petaka untuk Ueter, terutama tempat sang Anx kehilangan nyawa. Seperti kata Bella, Yifn malah akan hancur jika aku membiarkan Nuvian mati hari ini.
Aku takut jika Nuvian berubah menjadi kejam, dan meninggalkan posisinya sebagai Anx, lalu berubah menjadi seorang penjahat. Musuh yang kuat adalah sesuatu yang aku takutkan.
Tetapi aku lebih takut dengan kemungkinan para warga tak berdosa di desa ini, malah menjadi korban atas kesalahan yang kubuat. Aku tidak mau berhutang darah kepada desa, kota, atau tempat apa pun. Karena itu, aku memutuskan untuk membantu Nuvian.
Aku menarik anak panah yang ada di punggungku, lalu menembakkannya ke arah Valerio. Si pria buncit mantan penjaga gerbang Rowyn itu, dapat menghindari anak panahku. Sebuah kegesitan yang memukau dari seorang pria dengan tubuh yang tidak terlalu baik.
Sembari berlari ke arahnya, aku mengubah busur panah menjadi pedang. Anak panah di punggungku hanya tersisa tiga, sehingga aku tidak boleh memakainya terlalu sering.
Valerio menyadari kedatanganku, sehingga dia mengubah fokusnya kepadaku. Serangan pertamanya adalah dengan melemparkan sebilah pisau tepat ke arah wajahku. Sebuah serangan mendadak yang bisa berakibat buruk untukku.
Untungnya Nuvian mendorong Val di waktu yang tepat, sehingga lemparannya hanya berhasil melukai pipiku. Wanita itu bahkan masih bisa melepaskan beberapa pukulan berat ke arah Valerio, hingga pria itu memundurkan langkahnya.
"Seharusnya kau pergi bersama teman-temanmu, dan berpura-pura tidak melihat kami," cemooh Valerio. "Karena kau ikut campur dalam masalah ini, maka aku juga akan membunuhmu."
"Penyesalan selalu datang terlambat," kata Val datar. "Jika kalian tidak menganggu proses eksekusiku, maka kalian tidak perlu merasakan pengalaman dikalahkan olehku."
Aku sudah pernah bertemu Valerio tiga kali, termasuk hari ini. Tiga pertemuan itu membuat otakku mendapat kesan yang kuat dari Val, bahwa pria ini bukan tipe orang yang akan mengancam orang lain.
Valerio adalah seorang penjaga gerbang yang ketakutan dan penuh dengan rasa cemas, saat dia dituduh menjadi pelaku dari puluhan pembunuhan yang terjadi di kerajaan ini. Aku bahkan memastikan bahwa semua yang dia katakan adalah kejujuran, di malam aku berkunjung ke rumahnya.
Kepribadian Valerio berubah sangat drastis, saat kami berhasil menangkapnya di ladang sebelah timur kota Rowyn. Si penjaga gerbang berubah dari pria penakut, menjadi seorang pria gila yang mengakui kebejatan moralnya. Pagi itu, aku juga bisa merasakan kejujuran dari mulut Valerio, soal dia yang membunuh putri kandung Aldcera.
Dua fakta itu membuatku menyimpulkan Valerio sebagai tersangka utama dari semua pembunuhan, namun bukan berarti dia bergerak atas kemauannya sendiri. Aku sangat yakin seseorang berada di belakangnya, hingga Nuvian mengakuinya kemarin malam.
Dua pertemuan sebelumnya, memang menampakkan Valerio dalam dua watak yang berbeda. Seorang penakut dan seorang pembunuh berdarah dingin. Namun kali ini, aku tidak merasakan ada Valerio di depanku, padahal dia sedang mengacungkan pedangnya ke arahku dan Nuvian yang berdiri bersebelahan.
"Kalian tidak mau menyerangku lebih dulu?" cibir Val sambil mengelus pedangnya dengan lembut. "Aku bisa saja langsung membunuh kalian, jika kalian tidak berniat memberi perlawanan yang baik kepadaku."
Semakin sering dia berbicara pada kami, maka dugaanku soal tidak adanya Valerio dalam diri pria buncit di depanku, terasa semakin kuat.
Pria ini memang memiliki wujud fisik Valerio. Tetapi tidak dengan karakternya, terutama kebiasaan Val yang sering dia tunjukkan secara tak sengaja.
Valerio adalah seorang penjaga gerbang, sehingga dia terbiasa untuk melemparkan senyum ke orang lain. Pria gila ini bahkan tersenyum kepadaku, saat aku berhasil menjadi orang pertama yang menangkapnya di ladang.
Dia juga berani tertawa mencemooh di depan Aldcera, sambil beberapa kali tersenyum. Hanya satu kali bertemu dengannya di dalam rumah, aku sudah bisa menyimpulkan bahwa senyum Valerio adalah sebuah kebiasaan.
Saat ini, sosok dengan wajah dan tubuh Valerio di depan kami, masih belum tersenyum sekali pun. Malahan, dia punya kebiasaan lain yang seharusnya dilakukan orang lain.
"Siapa kau?" geramku.
Valerio memandangku lekat, sebelum akhirnya dia menjawabku, "Orang yang akan mengakhiri riwayat kalian berdua," jawabnya dingin.
"Bagaimana keadaan kakakmu?" tanyaku mendadak, yang membuat Valerio menelan ludah karena gugup.
Nuvian hampir saja menggagalkan rencanaku karena aku menanyakan sesuatu yang tidak penting. Untungnya aku segera menggenggam tanganya erat, sebelum dia berhasil mengucapkan satu kata pun.
"Kakakku hidup dengan aman di—"
"Rowyn," selaku, hingga membuat rahang Valerio menegang. Aku menunjuk ke arah utara yang jauh. "Di sanalah kakakmu berada, di Rowyn," desisku.
Tangan Valerio mengenggam erat pedang di tangannya, untuk bersiap menyerangku. Tetapi aku belum selesai untuk semua provokasiku. Aku masih memiliki tebakan terakhir, yang hampir pasti.
"Kakakmu adalah Zafra, putra Ezmar," kataku dengan tegas, namun dengan suara yang rendah. "Kau adalah Ezra, putra Ezmar. Apakah aku salah?"
Valerio menggelengkan kepalanya pelan. "Aku memang Ezra. Aku adalah pria cacat yang bermimpi sebagai seorang petugas Alva," gerutunya. "Dan sekarang, semua orang takut padaku."