Bab 30 - Hukuman

2062 Kata
Aku membuat kesalahan besar, saat membiarkan Aldcera membawa Valerio ke Yifn. Yifn yang tidak penuh sesak di dekat gerbang menara, adalah kamuflase untuk kerumunan warga yang berkumpul riuh di bagian timur kota. Saat Bella mengatakan soal istana Raja di bagian timur kota ini, aku membayangkan sebuah bangunan besar yang dibangun megah sebagai tempat kediaman sang pemimpin. Namun aku salah besar. Arsitek atau siapa pun yang membangun istana Raja di kota ini, tidak memakai standar kemegahan orang biasa. Menurutku, si arsitek menginterpretasikan kata megah dengan sangat berlebihan. Dari jarak yang cukup jauh pun, aku sudah bisa melihat sebuah bangunan yang kelewat megah, menempel di tembok berbatu sisi timur kota Yifn. Jika menara sekaligus gerbang di sisi barat dibangun menggunakan batu obsidian yang mahal, maka istana sang Raja malah dibangun dengan emas murni yang memantulkan cahaya matahari sore. Tinggi istana itu pun, mungkin hampir setara dengan tinggi empat orang elf. Di sudut dan tempat yang tepat, menara di barat dan istana di timur bisa terlihat memiliki tinggi yang sama. Padahal, menara gerbang di barat masih lebih tinggi ketimbang istana ini. Yang membuat istana ini tampak lebih setinggi menara di barat, adalah tiga pilar di depan yang menjulang tinggi melebihi tinggi istana itu sendiri. Sekali lagi, aku harus memuji kehebatan sang arsitek dari bangunan ini. Semakin dekat dengan istana Raja, aku semakin dibuat terpukau akan kemegahan bangunan ini. Yifn benar-benar tidak membiarkanku melupakannya dengan mudah. Istana Raja dibangun di atas sebuah bukit yang kebetulan ada di Yifn, sehingga ada sekitar lima belas anak tangga yang disusun dari batu obsidian yang akan membawamu masuk ke gerbang istana. Di kedua sisi istana tidak terdapat bangunan apa pun, melainkan hanya tembok batu yang menjadi pelindung bagi kota ini. Sedangkan di kedua sisi gerbang megah istana, terdapat dua patung binatang yang berbeda. Di sisi kiri, adalah seekor singa yang mengaum. Dan di sisi kanan, adalah serigala yang sedang dalam posisi melolong. Kedua patung itu terbuat dari emas, sama seperti bahan dasar yang dipakai untuk membangun istana di belakangnya. Dua binatang itu mungkin adalah lambang dari kota Yifn, atau malah kerajaan Alcyne sendiri. Semua kemegahan yang ditunjukkan oleh istana Raja langsung hancur seketika, karena pemandangan mengerikan yang ada di balkon lantai dua istana. Ada alasan dibalik kerumunan warga Yifn yang tumpah ruah di sisi timur kota ini. Para warga kota ini sedang berbondong-bondong menyaksikan eksekusi mati seorang penjahat besar, yang telah meneror kerajaan ini selama beberapa bulan terakhir. Seorang pria dengan mata yang ditutup kain hitam, berdiri di atas pembatas balkon dengan empat prajurit bertombak menjaga di belakangnya. Sebentar lagi, pria itu pasti akan dipaksa melompat dari balkon untuk dilihat oleh banyak orang yang berkerumun di bawah. Tanpa perlu mata yang jeli, aku sudah tahu identitas pria yang sebentar lagi akan dieksekusi itu. Perut buncit, bekas luka di sekujur tubuhnya, dan wajah yang lebam akibat pukulan bertubi-tubi. Belum lagi setelan pakaian berwarna abu-abu, yang ditutupi jubah hitam panjang yang robek di bagian bawah. Dia sudah pasti Valerio. Melihat orang gila itu sudah dijatuhi hukuman mati, mengindikasikan bahwa dua temanku juga sudah berada di kota ini cukup lama. Karena sidang untuk penetapan hukuman Valerio, tidak akan selesai dalam waktu yang cepat, jika mengingat banyaknya korban yang dibunuh oleh Val. Kerumunan warga yang menyaksikan proses eksekusi Valerio semakin bertambah banyak. Aku bahkan melihat banyak anak yang masih kecil, menunjuk ke arah Valerio sambil tertawa. Apakah sesuatu yang mengerikan seperti ini, sudah biasa terjadi di kota Yifn? "Kau berlari cukup cepat, untuk ukuran para orang kuno," gerutu seorang wanita di sebelahku. Aku menoleh ke sumber suara yang ternyata adalah Bella, gadis elf yang sudah menolak dirinya sebagai elf. Aku tidak menanggapi gerutuannya, dan mencoba memikirkan keberadaan teman-temanku. Mereka seharusnya berada di sekitar sini, atau malah berada di balkon istana Raja. Langit biru yang cerah, sudah mulai berganti menjadi warna jingga yang menyambut datangnya senja. Waktu yang terlalu cepat berlalu, membuatku sedikit khawatir akan kemungkinan terburuk. Entah Nuvian yang lebih dulu tiba di sini, menanyai Valerio, dan membunuh Ezra. Atau Valerio akan mati karena dieksekusi sebelum Nuvian tiba. Jika opsi nomor dua yang terjadi, maka kota ini bisa saja dihancurkan oleh Nuvian yang dikuasai amarah. "Oi!" Bella melangkah ke depanku, sehingga kami saling berhadapan. "Apakah para elf yang luhur tidak bisa menjawab pertanyaan orang lain?" cibirnya lagi. Aku tidak mengalihkan pandanganku dari Valerio. Satu langkah ke depan, maka pria itu pasti sudah menjadi mayat. Aku harus mengambil keputusan, untuk membuat pilihan yang bisa menghindari kemungkinan terbunuhnya lebih banyak orang. Itulah keputusanku. Di antara kerumunan warga yang fokus melihat ke arah Valerio, aku menyeruak untuk mencoba masuk ke dalam istana. Pilihanku adalah menggagalkan eksekusi Valerio, sebelum Nuvian datang ke sini. Saat ini mungkin hanya Valerio yang tahu keberadaan Ezra, target terakhir yang harus dibunuh oleh suku Aidenia. Meskipun masih ada Zafra, kakak kandung Ezra, namun belum tentu sang kakak mengetahui keberadaan adiknya. Tindakan Valerio yang aneh saat berada di Rowyn, adalah tanda bahwa pria buncit itu menyembunyikan sesuatu yang tidak kami ketahui. Aku yakin bahwa Valerio mengetahui sesuatu tentang Ezra. Saat aku menaiki tangga istana Raja, suara kerumunan warga di belakangku malah terdengar semakin keras. Aku memilih untuk tidak menoleh ke belakang, karena bisa saja para warga akan menghambat gerakanku. Bagian dalam istana Raja Alcyne membuatku terpukau untuk kesekian kalinya. Ruangan pertama yang menyambutku adalah aula luas, yang terdapat tahta Raja dengan jarak tak jauh dariku. Seluruh bagian daei tahta ini disalut emas, sehingga kursi besar itu tampak begitu megah, seperti bagian luar istana ini. Di kedua tatakan lengannya, terdapat batu-batu berbagai warna yang begitu indah. Tahta itu bukanlah satu-satunya benda yang berbahan dasar emas di aula ini. Di sebelah kiri tahta, juga terdapat meja emas, dengan tiga gelas emas yang berada di atasnya. Sang Raja Alcyne pasti adalah seseorang yang begitu menyukai barang-barang dari emas. Selain barang-barang emas di setiap sudut aula ini, praktis tidak ada lagi benda apa pun, apalagi orang yang menjaga ruangan ini. Bagaimana bisa ruangan sepenting ini, malah dikosongkan tanpa satu pun penjagaan? Aku tidak bisa berlama-lama di aula tahta, karena tujuanku adalah lantai dua, tempat Valerio akan dieksekusi oleh para tentara Yifn. Tangga untuk ke lantai dua berhasil kutemukan di sebuah lorong kecil, yang berada di balik tahta megah raja Alcyne. Tanpa pikir panjang, aku langsung menaikinya dan tiba-tiba seseorang menarik tangan kananku. Tangan kiriku yang kosong, berhasil meraih pisau yang tersimpan di pinggangku. Aku mengarahkan pedangku ke leher orang yang berani menarik tanganku. Dan ternyata orang itu adalah Bella, elf yang sejak tadi mengikutiku. "Apa maumu?" tanyaku kesal. Bukannya merasa bersalah, Bella malah memutar bola matanya sambil mendengus. "Harusnya aku yang bertanya kepadamu. Apa maumu?" balasnya. "Kau tidak melihat akan ada eksekusi seorang penjahat?" "Eksekusi seperti hari ini, sudah lama tidak dilakukan karena Al-Valayne sudah lama hidup dalam damai. Saranku, jangan mengganggu para prajurit di atas untuk melakukan tugas mereka," tegasnya. Aku melepaskan tangannya dari lenganku dan mulai melangkah menaiki tangga. Apa pun yang dikatakan gadis aneh itu, tidak akan menghentikanku untuk pergi ke lantai atas. Bella berlari mendahuluiku, dan merentangkan tangannya di hadapanku. "Kau adalah elf paling kasar yang pernah kutemui," desahnya. "Apa kau tidak peduli dengan perkataan semua orang yang ada di sekitarmu?" "Situasi di kota ini sedang tidak kondusif. Raja Alcyne bahkan tidak pulang ke Yifn sejak empat bulan lalu, saat pembunuhan berantai ini dimulai," paparnya. Bella menunjuk ke arah belakangku. "Sebaiknya kau turun, dan mengurungkan rencana apa pun yang ada di otakmu!" Aku menggeser bahu gadis itu dengan lembut, namun dia malah memuntir tanganku dan menendangku hingga aku terlempar ke ujung terbawah anak tangga. Kecepatan reaksi turunan elf, berhasil membuat kedua kakiku berhasil membuatku mendarat dengan baik. Tetapi, Bella belum selesai menyerangku. Dia melompat dari tempatnya berdiri ke arahku, dengan sebilah pisau di tangannya. Untungnya tangan kiriku juga masih memegang pisau, sehingga aku dapat menangkis serangannya. Bella menendang betisku cukup keras, hingga aku sedikit terhuyung. Setelah itu, dia juga mengayunkan pisaunya ke arah perutku hingga tunikku memiliki sobekan. Aku berhasil menghindar tepat waktu, sehingga ujung pisaunya tidak mengenai kulitku. Dari raut wajahnya, Bella tidak akan mendengarkan setiap kalimat yang keluar dari mulutku. Gadis ini sudah bertekad untuk menahanku di sini, dan tekadnya tidak akan padam hanya dengan beberapa patah kata. Aku juga memiliki tekad yang sama sepertinya. Aku harus memastikan bahwa Valerio tidak akan mati hari ini, sehingga Nuvian tidak perlu mencari orang lain untuk disalahkan. "Berapa lama dia harus berada di tepi balkon itu?" tanyaku. Bella menaikkan alisnya. "Beberapa jam, atau beberapa menit," jawabnya. "Tergantung keputusannya sendiri untuk bersaksi di depan semua warga yang melihatnya dari bawah." "Dia harus bersaksi?" "Bersaksi bahwa dia melakukan semua pembunuhan kejam itu, tanpa perintah dari siapa pun," katanya. "Selain itu, dia juga harus mengatakan alasannya membunuh, lalu menguliti kulit wajah para korbannya." Meskipun aku sudah menebak jawaban Bella, aku tetap memberanikan diri untuk menanyakan pertanyaan terakhir. "Bagaimana jika dia tetap tutup mulut?" tanyaku. "Dia akan menjadi tontonan warga Yifn seumur hidupnya," jawab Bella. "Para prajurit akan mengikatnya tubuhnya di pilar kecil balkon, memberinya makan tiga kali sehari, dan menunggu sampai dia memberi kesaksian." "Itu adalah hukuman terberat yang disiapkan oleh Al-Valayne, untuk penjahat gila sepertinya. Jadi jangan mengganggu hukumannya, agar kau tidak dianggap sebagai bagian dari komplotannya," tegasnya. BRUAKK!! Sesuatu menabrak lantai atas dengan sangat keras, hingga getarannya sampai di lantai bawah. Tempatku sekarang berada. "Kau yang melakukannya!?" bentak Bella dengan mata yang membelalak. Aku langsung bergegas untuk menaiki tangga ke lantai dua, begitu juga Bella yang ada di belakangku. Kali ini, dia tidak menghalangiku dan malah mengikutiku. Suara kerumunan warga di depan istana Raja terdengar berbeda dengan saat aku masuk ke dalam bangunan ini. Sekarang, suara para warga di luar terdengar seperti kumpulan orang-orang yang ketakutan dan berteriak ngeri. Jantungku berdegup kencang, bersama dengan banyaknya pikiran buruk di otakku. Semoga saja tidak terjadi sesuatu yang tidak kuinginkan di atas sana. Setelah melewati putaran terakhir dari anak tangga, aku akhirnya berhasil sampai di lantai atas. Bella menyusulku dengan napas yang terengah-engah, karena lantai atas istana ini memang cukup tinggi. Adalah sebuah lorong yang menyambutku pertama kali, setelah anak tangga yang menghubungkan kedua lantai ini berhasil aku lewati. Lorong ini memiliki beberapa obor yang tergantung di dindingnya, dan berujung ke tempat terbuka yang bercahaya terang. Tiba-tiba seorang prajurit terlempar dari sisi kanan lorong, ke sisi yang lain. Pertarungan pasti terjadi di luar lorong gelap ini. Aku mempercepat langkahku, karena aku tidak mau sesuatu yang buruk terjadi kepada teman-temanku. Di belakangku, Bella si gadis elf masih mengikutiku tanpa berkata apa pun. Lorong ini berujung ke balkon besar yang menjadi tempat Valerio dipertontonkan sebelum dia dieksekusi. Masalahnya, Valerio sudah tidak ada di pinggiran balkon. Situasi di atas balkon sudah kacau balau. Lebih tepatnya hanya situasi di sisi kanan balkon. Para prajurit berpakaian abu-abu dan berbaju zirah dari perunggu, berlarian ke arah ujung balkon di sisi kanan lorong. Namun, mereka semua malah terlempar satu per satu. Aku memasukkan pisauku, dan menyiapkan pedang-panah sebagai gantinya. Tanganku bahkan mendorong pelan Bella, agar dia tidak melangkah di depanku. Di saat semua prajurit sudah habis karena terlempar oleh si penyerang, hanya tersisa tiga orang yang masih bertahan dengan menggenggam senjata mereka masing-masing. Seorang pria tua dengan kemeja gembalanya yang khas, juga pedang besar bergerigi pemberian klanku. Seorang cowok muda berambut hitam yang kusut, dengan pisau di tangannya. Terakhir, seorang pria gagah dengan kemeja abu-abu panjang yang merupakan pakaian khas petugas Alva, yaitu Aldcera. Mereka tidak menyadari kedatanganku, karena mereka berdiri membelakangiku. Ketiganya mengacungkan senjata ke seorang wanita bergaun merah dengan lengan yang menggelembung, dan wajah sinis yang permanen. Nuvian, Anx bagi Darunia. Valerio yang tidak ada di tempatnya, ternyata berada di depan Nuvian, dengan leher yang dirangkul rapat oleh tangan kiri wanita itu. Nuvian tidak memegang bola besi yang ditali, melainkan hanya dengan tangan kosong. Dia menyadari kedatanganku, karena dia berdiri menghadapku. "Halo, Eleandil!" sapanya riang. "Bisa beri tahu tiga orang menyebalkan ini, bahwa aku memiliki keperluan mendesak dengan Valerio?" Normen dan Yared melirik ke belakang dalam waktu yang cepat, untuk memastikan bahwa Eleandil yang disebut wanita itu, sama dengan Eleandil yang mereka kenal. "Kau kenal wanita gila ini, El?" seru Normen sambil tetap mengarahkan matanya ke Nuvian. Apa yang aku takutkan sungguh terjadi. Nuvian datang di waktu yang tidak tepat, sehingga teman-temanku malah mencoba untuk membebaskan Valerio. Padahal jika aku tiba sedikit lebih cepat, maka situasi ini tidak perlu terjadi. "El?" Nuvian memiringkan kepalanya sambil memandangku lekat. "Kau tidak akan melawanku, kan?" Aku menghembuskan napas panjang dari mulutku, dan memutuskan untuk memilih pilihan yang bodoh. Tanpa ragu, aku menyerang Nuvian dengan pedang di tanganku.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN