Bab 29 - Yifn, Ibukota Alcyne

2179 Kata
Yifn memang tampak seperti ibukota sebuah kerajaan besar. Sebuah menara megah adalah bangunan pertama yang menyambut kami, sekaligus satu-satunya menara yang ada di kota ini. Ibukota kerajaan Alcyne berbentuk setengah lingkaran, dengan sebuah menara yang menghadap ke barat, berfungsi sebagai satu-satunya jalan masuk ke kota itu berada di ujung lengkungannya. Semakin dekat dengan menara Yifn, membuat aku sadar bahwa kota ini jauh lebih megah ketika aku melihatnya dari dekat. Tembok berbatu yang dibangun mengelilingi kota ini, berbahan dasar batu hitam yang mengkilap. Batu Obsidian. Selain tembok yang terbuat dari batu mahal itu, menara yang menjadi pintu masuk untuk orang luar juga dibangun dengan batu yang sama. Arsitek yang membangun kota ini seolah ingin memamerkan kemegahan dan kekayaan kota ini hanya dengan bahan dasarnya. Belum selesai melihat kemegahan batu yang menjadi penyusun tembok dan menara batu kota ini, gerbang yang menjadi akses masuk ke dalam kota juga membuatku semakin takjub. Gerbang setinggi dua kali elf klan Daeron, dengan dua daun pintu yang memiliki engsel berbahan dasar emas, begitu pun kenop dan pinggirannya. Sedangkan dari penampilannya saja, aku bisa menebak bahwa gerbang ini dibuat dari kayu mahal yang hanya ada di hutan-hutan tertentu. "Baru pertama kali ke Yifn?" tanya Hunra saat aku sedang memandangi gerbang kota ini dengan takjub. "Atau tidak ada kota di Adon yang semegah ini?" Dua pertanyaan dari Hunra hanya memiliki satu jawaban. Iya. Aku memang baru pertama kali ke kota ini, dan tidak ada tempat semegah ini di Adon. Donuemont, Sonadhor, Simater, Adijaya, dan Donadhor, tidak bisa menandingi kemegahan Yifn. Ibukota Alcyne ini tidak hanya luas, tetapi juga indah dan tampak sangat mahal. Itu baru perbandingan soal tata kota dan dekorasi. Aku belum membandingkan menara Yifn dengan menara para ibukota di Adon, yang sekali lagi juga dimenangkan oleh menara Yifn. Donuemont memiliki empat menara batu, begitu pun Sonadhor dan Donadhor. Sedangkan Simater memiliki banyak menara jaga untuk para pemanah yang terbuat dari kayu yang tipis. Sedangkan Adijaya adalah perumahan besar yang menjadi tempat untuk mengakomodasi kedatangan kapal dari pulau lain. Intinya, semua menara yang ada di kota maupun desa di Adon, hanya berfungsi sebagai tempat para pemanah berjaga. Menara di Adon adalah bangunan yang berfungsi untuk pertahanan, bukan sebuah gerbang atau malah bangunan penuh dekorasi. Sedangkan menara Yifn yang tepat ada di depanku, malah memiliki fungsi yang jauh dari hal-hal yang berkaitan dengan pertahanan kota. Tidak ada pemanah di atas menara. Tidak ada prajurit yang berjaga di depan gerbang. Menara ini seolah memiliki fungsi sebagai ciri khas kerajaan Alcyne, alih-alih sebuah menara pertahanan. Gerbang yang megah di bawah menara ini juga terbuka, dan menunjukkan keadaan di dalam kota. Sebuah pemadangan yang semakin meyakinkan bahwa manusia di Laustrowana, jauh lebih kaya ketimbang para manusia di Adon. Lewat celah kecil di antara pintu gerbang ini, aku bisa melihat beberapa orang berlalu lalang. Tapi mereka tidak memakai pakaian sederhana. Para pria memakai jubah modis berwarna cerah yang menjadi pakaian luar untuk kemeja di bagian dalam yang lebih rapi. Para wanita memakai gaun mewah yang hanya bisa kita temukan di kompleks bangsawan di Donuemont, atau rumah-rumah yang dekat dengan istana Simater atau Donadhor. Di Adon, para wanita biasa bekerja di siang hari sebagai penjual roti, pemilik penginapan, atau menjual makanan di pinggir jalan. Tetapi di Yifn jauh berbeda. Para wanita di kota ini, semuanya tampak seperti baru saja pulang dari pesta besar. Mereka memakai riasan wajah yang tebal. Kalung, gelang, dan cincin berbahan emas atau perak yang mengkilap. Mereka juga tidak memakai sepatu datar, melainkan sepatu dengan bagian belakang yang tinggi. "Apa rencananya?" tanya Hunra. "Aku tidak peduli dengan Ezra dan misi kalian," jawabku. "Aku hanya tidak ingin teman-temanku yang menangkap Valerio, juga ikut menjadi sasaran Nuvian. Aku hanya perlu memastikan hal itu." Hunra mengangguk patuh. "Berarti kita harus menemukan Valerio, dan memastikan bahwa Nuvian hanya membunuh Ezra?" terang Hunra. "Aku harus memperingatkanmu satu hal," tegas Hunra sambil melangkah mendekat ke arahku. "Kau tahu kekuatan Nuvian, kan? Jadi, jangan melakukan hal bodoh seperti menghalangi wanita itu." "Kau harus ingat, bahwa wanita itu tidak segan untuk membunuh orang lain. Saranku, hindarilah Nuvian jika temanmu malah memilih untuk melawannya. Kalian tidak akan bisa menang," sambungnya. Aku tidak ingin menghabiskan banyak waktu untuk mendebat Hunra. Lagipula, kami memiliki pandangan yang berbeda soal Nuvian. Bagiku, Nuvian adalah jiwa baik yang terlalu sering melakukan kejahatan. Wanita itu tidak sepenuhnya jahat, seperti cara Hunra memandangnya. Peringatan dari Hunra menutup pembicaraan kami. Aku melangkah memasuki gerbang kota Yifn, untuk mencari keberadaan Valerio dan kedua temanku. Berada di dalam kota Yifn, membuatku merasakan suasana yang jauh berbeda dengan kota-kota besar di Adon. Yifn adalah kota yang sangat ramai, namun tidak terasa sesak. Setiap bangunan yang ada di kota ini saling berdempetan, hingga hanya menghasilkan jalan-jalan kecil yang lebih layak disebut gang, di sela-sela bangunan. Namun, kota ini tidak tampak berantakan. Malahan gang-gang kecil itu membuat kota ini menjadi terlihat lebih rapi. Beberapa bangunan besar dengan atap segitiga yang menjulang tinggi, ada di setiap bagian dalam bentuk setengah lingkaran besar kota ini. Bangunan-bangunan besar itu mungkin memiliki fungsi penting untuk pemerintahan. "Kita berpencar," usulku. "Aku akan pergi ke kiri, dan kau ke arah berlawanan. Berikan tanda yang cukup jelas, jika kau menemukan Valerio atau Nuvian." Hunra mengangguk patuh. Pria itu langsung berjalan menuju ke arah yang sudah kami setujui. Semoga salah satu dari kami, berhasil menemukan Valerio atau Nuvian. Aku sudah pernah menyusuri setiap kota besar yang ada di Adon. Ada satu ciri khas penting, yang selalu ada di kota-kota itu. Para warga kota-kota besar di Adon, selalu memandangku dengan tatapan yang aneh. Setelah ratusan tahun tidak mengerti alasan mereka menatapku dengan aneh, akhirnya aku baru tahu alasan mereka melakukan hal itu sekitar beberapa tahun lalu. Hari di mana aku pergi ke Donuemont untuk menyampaikan pesan Tuan Daeron kepada seseorang di kota itu. Ternyata alasan para warga kota besar di Adon selalu memandangiku dengan aneh adalah karena aku seorang elf. Mereka tidak terbiasa untuk bertemu dengan ras selain manusia, sehingga mereka tidak nyaman dengan kedatanganku. Sejak saat itu, aku selalu memakai tudung jubahku untuk menyembunyikan rambut pirang dan telinga lancipku, saat aku masuk ke desa atau kota milik para manusia. Bukan hanya mereka yang tidak nyaman dengan kedatanganku, namun aku juga merasakan hal yang sama. Aku juga tidak nyaman dengan perhatian berlebihan yang mereka berikan kepadaku. Kebiasaan itu terbawa hingga saat ini, padahal aku sudah berada jauh dari Adon. Tanganku seolah langsung bergerak sendiri, saat aku masuk ke dalam sebuah desa atau kota, hanya untuk menutupi kepalaku dengan tudung. Namun pemandangan yang aku lihat di dalam kota Yifn, membuatku semakin mengagumi budaya yang dipegang oleh warga Laustrowana. Selagi aku melewati gang, dan banyak jalan kecil, aku beberapa kali harus memiringkan tubuhku untuk membiarkan orang lain melewatiku. Aku tidak ingin menjadi mencolok, dan warga kota ini menyadari bahwa aku adalah seorang elf. Ternyata aku melakukan hal yang mungkin tampak aneh. Semakin aku bergerak ke bagian utara kota ini, semakin banyak elf yang aku lihat. Mereka semua bisa dikenali, karena tidak ada satu pun yang memakai tudung untuk menyembunyikan identitas mereka. Beberapa elf memiliki mata merah khas klan Daeron. Beberapa yang lain, memiliki mata hitam milik klan Zabash, atau mata biru milik para elf Agung di timur jauh. Tidak ada yang mereka sembunyikan. Yang lebih aneh, sekaligus menarik perhatianku adalah aktivitas yang dilakukan para elf itu. Di sebuah jalan yang tidak terlalu sempit, aku melihat seorang elf klan Zabash berpakaian serba putih. Klan Zabash dan warna putih saja, sudah merupakan kombinasi yang buruk. Apalagi jika ditambah dengan fakta bahwa elf itu sedang menggoreng roti di pinggir jalan. Aku juga sempat berpapasan dengan seorang elf wanita yang menggandeng tangan pria yang sudah pasti adalah manusia, dengan sangat mesra. Mereka tidak mungkin sedang menjalin hubungan romantis, kan? Bukan hanya elf yang hidup dan tinggal sebagai warga kota ini, karena aku juga melihat para kurcaci, beberapa orc, dan manusia dengan pakaian musim dingin, saling bertegur sapa di pinggir jalan kota Yifn Suasana dan pemandangan kota ini, mengingatkanku akan Votlior. Desa para penjahat dan buronan yang ada di kota Adon, namun malah menjadi desa yang menjadi rumah bagi semua ras dengan adil. Votlior bisa menjadi tempat yang aman untuk bertoleransi, karena di dalam desa itu terdapat banyak pribadi dengan kekuatan besar yang bisa membuat desa itu menjadi salah satu tempat teraman di Adon. Lalu, bagaimana dengan kota ini? Siapakah yang berhasil membuat sebuah ibukota kerajaan besar di Laustrowana, menjadi tempat yang bebas dari isu perbedaan ras? "Kau orang baru di sini?" sapa seseorang dari belakangku. Aku menoleh ke sumber suara, yang ternyata adalah seorang elf wanita dengan mata hitam yang identik dengan klan Zabash. Dia tidak memakai baju terusan dengan tiga kancing di leher yang merupakan pakaian khas para elf, melainkan memakai kemeja kuning dengan lengan panjang, dan rok berwarna putih sepanjang lutut. Gadis ini (karena dia terlihat lebih muda dariku) juga memakai sepatu hitam yang menutupi seluruh betisnya. Secara penampilan, dia hampir sama persis dengan para manusia biasa yang ada di sepenjuru Ueter, jika mengesampingkan telinga lancip, kulit pucat, dan rambut pirangnya. Saat aku lebih fokus melihat rambutnya, aku sadar bahwa rambutnya tidak sepanjang rambut elf yang biasa. Para elf baik pria maupun wanita, selalu memiliki rambut pirang yang panjang rata-ratanya hingga sampai ke pangkal punggung kami. Namun rambut gadis ini berbeda. Dia hanya memiliki rambut yang sepanjang bahunya. "Kau memotong rambutmu?" tanyaku. Si gadis elf terlihat kebingungan karena aku malah balik bertanya, bukan menjawab pertanyaannya. "Aku terbiasa dengan rambut sepanjang ini di musim panas, jawabnya. "Musim panas di Yifn cukup membuatku gerah, dan aku tidak mau terganggu oleh rambutku sendiri." Gaya bicaranya yang santai dan lugas, semakin membuat kesan elf dari diri gadis ini menjadi semakin pudar. Para elf selalu memakai nada bicara yang lebih berwibawa dan elegan, ketimbang para manusia. Aku masih tidak bisa menerima setiap tindakan yang dilakukan gadis ini, namun dia malah mengulurkan tangannya padaku. "Bella Marden Kilania," ucapnya. Bahkan namanya pun, tidak terdengar seperti nama seorang elf. Apakah para ras lain di kota ini sudah melebur dengan budaya manusia, dan malah menganut kebudayaan manusia yang tidak bermoral tinggi? "Eleandil," balasku tanpa menyambut uluran tangannya. Gadis elf bernama Bella ini, masih membiarkan tangannya mengambang untuk menungguku menyambutnya. Hingga akhirnya dia menurunkan tangannya beberapa detik kemudian, setelah menyadari bahwa aku tidak akan menyambut ulurannya. Dari sekian banyak jenis ras yang aku benci, gadis inilah yang paling membuatku muak. Aku tidak menyukai para manusia yang serakah akan jabatan. Para kurcaci yang serakah akan logam mulia. Para orc yang hanya mementingkan pertarungan, ketimbang logika. Namun aku masih membuka diri kepada pribadi dari setiap ras itu, jika mereka bisa membalikkan sudut pandangku. Aku menemukan sosok manusia yang tidak peduli dengan jabatan, melainkan hanya kepada orang-orang yang dia sayangi dalam diri Lass dan Amicia. Dalam diri Ryan si kurcaci, aku berhasil menemukan seorang penjaga hutan yang bertanggung jawab dan tidak peduli akan emas, perak dan logam mulia yang lain. Bahkan aku masih bisa bertarung di sebelah Nagluk. Seorang orc yang mampu untuk mendinginkan kepalanya, dan menjadikan pertarungan sebagai pilihan terakhir setelah negosiasi damai. Ketiga orang itu membuatku menerima kelemahan ras lain secara perlahan, dan memaksa diriku untuk beradaptasi. Hasilnya tampak beberapa hari lalu. Aku berhasil menaruh kepercayaan kepada dua manusia yang selalu berada di pihakku selama beberapa minggu, atau beberapa hari terakhir. Di saat beberapa pribadi dari ras di luar elf mulai membuktikan diri kepadaku, gadis elf ini malah muncul di depanku. Dia bahkan dengan bangga mengatakan soal dirinya yang tidak menaati hukum untuk para elf. Jenis elf seperti Bella inilah, yang membuatku memiliki cita-cita untuk memurnikan rasku. Karena aku tidak mau banyak elf menjadi seperti gadis ini. Mengatasnamakan toleransi, untuk menginjak budaya dan kehormatan rasnya sendiri. "Maaf, tapi apakah aku berbuat salah padamu?" tanyanya bingung. "Sejauh ini aku baru mengulurkan tangan, dan memperkenalkan diriku. Apakah ada hal lain yang menyakiti hatimu?" "Rambutmu, namamu, pakaianmu, dan gaya bicaramu," jawabku dingin. "Apakah kau merasa bahwa kau masih seorang elf, setelah menghina semua budaya luhur rasmu sendiri?" Kedua mata Bella membelalak padaku. Namun, tindakannya setelah terkejut malah semakin membuat amarahku mendidih. Gadis yang tampak seperti elf ini, malah tertawa pelan. "Aku memang bukan seorang elf," jawabnya. "Aku adalah warga kota Yifn, ibukota kerajaan besar bernama Alcyne. Aku bahkan tidak peduli lagi dengan budaya, atau klan elf asalku." "Kau tahu? Semua yang kau katakan benar-benar terlalu kuno, seperti perkataan para petugas Alva. Mereka bahkan membawa seorang penjahat yang katanya meneror desa Rowyn ke Yifn, hanya untuk diadili dan dipenjara." "Padahal mereka bisa saja membunuh orang gila itu di Rowyn, daripada membawanya ke sini. Penjahat itu bisa kabur, dan malah membunuh semakin banyak orang, karena Rowyn adalah rumah bagi banyak ras di Laustrowana," cibirnya. Penjahat yang meneror desa Rowyn, dan seorang petugas Alva berpikiran kolot yang membawa seorang pembunuh ke Yifn untuk diadili, alih-alih dibunuh. Sepertinya, aku tahu orang-orang itu. "Di mana mereka berada?" balasku. "Istana Raja," jawab Bella singkat. "Yifn bukan tempat untuk orang berpikiran terlalu tertutup sepertimu. Jadi segeralah pergi dari kota ini, jika kau telah menyelesaikan semua keperluanmu!" "Memang begitulah rencanaku," gumamku pelan, sambil memakai tudungku. Aku tidak berpamitan dengan Bella, karena aku yakin hari ini adalah terakhir kalinya kami bertemu. Dengan langkah ringan, aku mulai berlari ke Istana Raja yang ada di ujung timur kota ini.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN