"Dia menyihir pintu ini?" tanyaku.
Hunra menganggukkan kepalanya dengan wajah muram. "Dalam beberapa jam ke depan, Ezra pasti akan mati di tangan Nuvian," katanya. "Kau bisa keluar dari sini, jika wanita itu selesai."
Aku tahu kalau Nuvian akan segera kembali setelah misinya selesai. Namun aku tidak mengkhawatirkan Ezra sama sekali. Aku khawatir akan keselamatan dua temanku yang ada di sisi Valerio.
Tekad Nuvian tidak akan menghentikannya untuk membunuh Ezra. Begitu pula tekad Normen dan Yared untuk melindungi Ezra. Semoga Ezra tidak berada di Yifn, sehingga Nuvian tidak akan mengancam keselamatan dua temanku.
"Bagaimana cara Nuvian tahu keberadaan Ezra?" tanyaku.
"Dengan menanyakannya langsung ke Valerio," jawab Hunra enteng. "Setelah itu, Nuvian tinggal mencari di setiap sudut tempat yang ditunjukkan oleh Valerio. Intinya, Nuvian akan bergerak lebih cepat dari yang kau bayangkan."
Aku tidak meragukan kemampuan Nuvian. Dia adalah seorang Anx yang sudah tahu cara mengendalikan kemampuannya. Mengakui dirinya sendiri bahwa dia adalah pribadi terkuat di Laustrowana, bukanlah sesuatu yang berlebihan.
Darunia yang adalah Xenia pelindung perang, sudah memberikan kuasanya kepada Nuvian untuk menjaga Laustrowana. Jadi, Nuvian memang orang terkuat di pulau ini.
"Ada jalan keluar dari gunung ini?" tanyaku.
Hunra mengelap darah yang menetes di bibirnya, dan mulai berpikir. Aku tidak memiliki cukup waktu untuk menunggunya mendapat jawaban. Karena itu aku memilih untuk kembali ke desa Aiden sembari Hunra tetap mengikuti di belakangku sambil berpikir.
Saat kami tiba di pusat desa Aiden, semua orang mulai menatap kami dengan tajam. Padahal mereka terlihat tidak peduli saat aku baru tiba di sini, dan sekarang mereka sepenuhnya sadar dengan keberadaanku.
Beberapa orang yang meneguk anggur dari botolnya juga berhenti, hanya untuk melihat kami. Setelah aku semakin memincingkan mata, ternyata bukan kami, melainkan aku. Mereka semua melihat ke arahku, bukan Hunra yang ada di sebelahku.
Semua perhatian dari para warga desa ini membuatku mulai melihat penampilanku. Apakah aku memakai sesuatu yang terlalu mencolok, sampai mereka harus melihatku dengan rasa penasaran yang begitu besar?
Seorang pria dengan rambut ikal panjang, mendekati kami. "Tuan Hunra, apakah Nona Nuvian pergi?" tanya pria itu.
Pria itu memegang sebuah botol kaca yang berisi sedikit cairan berwarna keunguan, yang kemungkinan besar adalah anggur. Namun kedua mata pria ini terlihat begitu cerah, yang artinya dia tidak mungkin mabuk.
Hunra mengabaikan pertanyaan pria itu, karena dia sedanv berpikir keras hingga mengerutkan keningnya. Aku menyenggol lengannya, hingga dia mendongak dengan sedikit terkejut. "Apa?" ulangnya. "Nuvian pergi untuk menyelesaikan misi Valerio."
"Lalu, mengapa Anda masih di sini?" balas pria itu dengan tatapan penuh curiga.
Balasan dari pria berkulit gelap itu, membuat Hunra menatapnya dengan tajam. "Kau menanyakan sesuatu yang bukan hakmu, Grilios," ucap Hunra lirih. "Apa yang kau inginkan dariku? Berada di sebelah Nuvian, agar kau bisa menguasai Aiden?"
Rahang pria bernama Grilios ini sedikit menegang. Dia menarik napas panjang, sebelum mengibaskan tangannya lalu melangkah menjauh dan meninggalkan kami.
Dari pusat desa, giliran Hunra yang memimpinku. Kami berjalan dalam diam karena Hunra masih berkutat dengan ingatannya, soal pintu keluar lain di desa ini.
Aiden memang tampak seperti Eroa dengan jalan masuk dan keluar yang lebih rumit. Di Eroa, kau bisa menghapalkan labirin raksasa itu jika tinggal di situ selama beberapa bulan atau tahun. Namun ingatan tidak akan berlaku di desa ini.
Pintu rahasia yang melubangi dinding batu tebal dan hanya bisa dibuka oleh siulan, sudah menjadi awalan untuk menunjukkan betapa rumitnya jalanan di desa ini.
Dengan hanya beberapa jam di desa ini, aku sudah terbiasa dengan sihir dan rahasia di setiap dinding kosong yang aku lewati. Aku tidak akan terkejut jika seseorang tiba-tiba muncul dari lantai di bawahku, atau mendarat tepat di depanku.
Desa ini memiliki aura magis yang lebih kuat dari pada Tekoa, karena kali ini aku memilih untuk fokus dengan Aiden. Saat aku berhasil keluar dari Aiden, aku harus menepati janji kepada diriku sendiri, agar aku tidak menginjakkan kaki di desa ini lagi.
Kami terus masuk ke dalam desa Aiden, hingga aku sudah tidak bisa mendengar suara para warga yang berada di taman pusat desa.
Lorong dengan dinding keramik dan lukisan yang digantung indah, mulai berganti ke bebatuan kasar. Lorong ini mungkin bukan lagi bagian dari desa Aiden, dan akan menuntun kami ke dalam gunung Sodion.
Aku tidak takut dengan kegelapan, karena aku adalah elf malam. Namun aku tidak bisa mengenyahkan pikiran buruk di otakku, yang berhubungan dengan bagian dalam sebuah gunung.
Setiap sendiku masih meraung kesakitan, jika aku mengingat singa raksasa yang membuatku dan Normen harus mengeluarkan kekuatan tersembunyi milik kami. Tempat tinggal singa raksasa itu adalah di dalam sebuah gunung.
Sodion memang tidak sebesar Alcyne jika aku melihatnya dari dekat. Tapi Sodion tetaplah sebuah gunung, sehingga masih ada kemungkinan bahwa seekor singa raksasa hidup di dalam gunung ini.
Firasatku semakin bertambah buruk, saat lorong bebatuan kasar itu berujung kepada aula besar dengan banyak pilar yang menopangnya. Ketakutanku sebentar lagi akan menjadi kenyataan.
Hunra menepuk tangannya cukup keras, hingga aku menoleh kepadanya. "Aku sudah ingat!" pekiknya sambil menunjuk sebuah lukisan bergambar burung elang yang tergantung di salah satu pilar aula ini.
Tinggi pilar empat pilar di sekitar kami, mungkin setinggi tiga manusia normal. Pilar yang di sisinya tergantung sebuah lukisan itu, adalah pilar yang paling dekat dengan kami.
"Apakah lukisan itu adalah jalan keluar kita?" tanyaku. Aku hampir terperanjat, saat mendengar gema yang dihasilkan oleh suaraku sendiri. Padahal aku tidak berbicara dengan suara sekeras itu.
Hunra menganggukkan kepalanya dengan bangga. "Lukisan itu bisa membuat kita keluar dari gunung ini," katanya. Gema suara Hunra juga terdengar begitu lantang. Semoga penghuni asli aula ini, tidak terganggu dengan suara berisik yang kami hasilkan.
"Cara ini akan lebih menyakitkan, ketimbang hanya bersiul dan melewati pintu," imbuhnya.
Semakin banyak dia berbicara, membuatku semakin gugup. Aku hanya ingin keluar dari gunung ini, dan membantu teman-temanku. Saat ini aku sedang tidak berminat untuk melawan makhluk aneh yang memang tinggal di sini.
Kegugupanku semakin bertambah saat aku menyadari penampilan Hunra yang tampak sangat mencolok. Setelan pakaiannya yang berwarna merah terang saja, sudah bisa membuat banyak binatang merasa kesal hanya karena melihatnya.
"Kau bisa memanah?" Hunra menepuk punggungku dengan sedikit terburu-buru. "Kau harus mengenai lukisan itu, dan membuatnya terjatuh. Atau kau bisa membuat bunyi lain yang lebih keras dari itu?"
"Gema dari suara kita masih belum?" tanyaku.
"Tidak," jawab Hunra tegas. "Dia tidak akan datang jika mendengar suara manusia. Bunyi barang yang jatuh dari ketinggian, akan dianggap sebuah undangan olehnya."
"Kau tidak akan mengatakan padaku tentang identitas dia yang kau maksud?" sergahku.
Hunra berkacak pinggang sambil menggelengkan kepalanya dengan kesal. "Kau ingin keluar dari sini, atau tidak?" protesnya setelah berdecak dengan penuh kekesalan padaku. "Hanya ini jalan keluar kita."
Aku tidak bisa mendebatnya lebih lanjut. Selagi Hunra mau menolongku, aku harus menuruti keinginannya. Firasatku semakin bertambah buruk saat aku mengubah pedangku menjadi busur panah.
"Kau yakin kalau dia yang kau tunggu itu, tidak akan menyerang kita?" tanyaku untuk memastikan.
Hunra menghembuskan napas panjang, lalu membuat gerakan memanah sambil menunjuk lukisan yang tergantung di pilar tanpa suara.
Jantungku berdegup kencang tanpa sebab yang jelas. Otakku sangat sadar dan paham, bahwa aku sedang melakukan hal yang salah. Namun jemari tanganku sudah membuat tali busur meregang, dan sebuah anak panah sudah siap melesat ke arah lukisan itu.
Aku mulai memikirkan berbagai tindakan yang akan kulakukan setelah keluar dari tempat ini. Aku hanya perlu percaya kepada Hunra, dan segera melepaskan anak panah ini.
Anak panah yang kulepaskan, mengenai pinggiran kayu lukisan itu. Bunyi jatuh dari lukisan itu memang begitu keras, hingga aku menutup kedua telingaku.
Saat aku mendekat ke sebelah lukisan itu, aku baru mengerti alasan lukisan itu menimbulkan bunyi yang begitu keras. Ternyata lukisan itu tidak terbuat dari kertas saja, melainkan sebuah logam seperti baja menjadi tatakan di bagian belakang.
"Siapa yang mem—" Hunra menempelkan telunjuk tangannya ke depan bibirnya, saat aku mencoba mengatakan sesuatu.
Aku ingin memprotes tindakan Hunra yang tidak sopan. Namun aku langsung mengurungkan niatku, setelah melihat sorot mata pria itu berubah menjadi serius.
Dengan seluruh tubuh yang kebal dan sulit untuk dilukai senjata apa pun, Hunra sebenarnya tidak memerlukan senjata. Tetapi pria itu sudah menggenggam pedangnya dengan erat.
Tindakan Hunra membuktikan bahwa 'dia' yang disebut olehnya, adalah sosok yang cukup kuat hingga Hunra perlu melawannya dengan sebilah pedang. Aku juga mengikuti tindakan Hunra, dengan mengubah busur panahku menjadi pedang.
Selama beberapa saat yang terasa sangat panjang, hanya suara napas kami berdua yang menggema di aula aneh ini. Hingga akhirnya sebuah langkah berat terdengar menuju ke arah kami.
Aku sangat yakin bahwa si pemilik langkah ini bukanlah seorang manusia. Jarak antara setiap langkahnya terlalu pendek, namun sosok ini tidak terdengar sedang berlari. Makhluk yang mendekati kami ini berjalan dengan tenang.
"Ikuti arahanku, dan aku bisa memastikan kalau kita berdua akan berhasil keluar dari gunung ini," bisik Hunra yang berdiri di sebelahku.
Kepalaku hanya bisa mengangguk lemah, karena semua inderaku sedang fokus untuk menunggu kedatangan si pemilik langkah berat ini.
Dua belas detik. Selama itulah waktu yang dibutuhkan oleh si pemilik langkah, untuk menunjukkan wujudnya pada kami. Ketakutan dan firasat burukku telah menjadi kenyataan.
Seekor singa raksasa muncul dari lorong gelap di seberang kami. Hewan ini tidak sebesar singa yang ada di gunung Alcyne, karena tingginya hanya dua kali dari tinggiku. Tetapi aku juga yakin kalau makhluk ini memiliki kekuatan yang diluar nalar.
Sang singa tidak memiliki sayap kelelawar di kedua sisi punggungnya, begitu juga dengan ekornya yang tampak seperti singa pada umumnya. Makhluk ini tampak seperti singa biasa, yang tumbuh terlalu besar.
"Akhirnya dia datang," gumam Hunra.
Saat aku menoleh kepadanya, Hunra sedang tersenyum lebar ke arah sang singa. Pria ini seolah menunggu sejak lama untuk pertemuannya dengan si singa yang tampak tidak tertarik dengannya.
"Kau yakin kita tidak akan terbunuh?" bisikku.
Seringai di wajah Hunra malah semakin lebar. "Tetap di belakangku," balasnya dengan geli. "Karena jika kau berada di depanku, kau pasti akan mati." Hunra berlari menerjang sang singa dengan raungan yang diselingi tawa kegirangan.
Mau tidak mau, aku juga ikut berlari ke arah sang singa. Aku harus memanfaatkan kemampuan Hunra dengan baik. Sekarang ini, dia harus melakukan perannya sebagai perisai bagi Klan Daeron.
Kejadian selanjutnya bak sebuah pertarungan ulang antara aku dan singa raksasa. Aku tidak menghapal serangan singa raksasa di Alcyne, tapi tubuhku mengingatnya.
Aku bisa menghindari setiap serangannya. Malahan, aku bisa menyerang balik hewan ini, karena dia tidak sebesar saudaranya yang berada di gunung Alcyne.
Berbeda denganku yang terus menyerang sang singa, Hunra malah berlari mengelilingi hewan ini dengan membuat berbagai suara menyebalkan.
Jadi meskipun aku bisa melukai beberapa bagian tubuh sang singa, hewan ini malah fokus kepada Hunra yang terus berada di depan wajahnya.
"Jangan melukai dia, kita harus berusaha agar dia menyerang kita dengan tendangan terkuatnya!" seru Hunra dari jauh.
Ternyata itukah rencananya keluar dari gunung ini. Dia ingin memanfaatkan kekuatan sang singa, dan menahannya dengan bakatnya yang memiliki kulit kebal.
Aku menyarungkan pedangku, dan mulai mengikuti tindakan Hunra untuk mencemooh sang singa. Kami hanya perlu diserang oleh hewan ini, untuk bisa keluar dari gunung Sodion tanpa perlu menunggu kedatangan Nuvian.
Hewan tetaplah hanya seekor hewan. Tidak lama setelah Hunra memberi tahuku rencananya, sang singa akhirnya menendangku dan Hunra yang berdiri dalam satu baris.
Hunra berhasil melangkah ke depanku di saat yang tepat, sebelum kaki sang singa menyentuh tubuhku.
Peringatan Hunra memang benar. Cara keluar ini lebih menyakitkan dari pada lewat pintu biasa. Namun perlindungan Hunra bisa membuatku tidak terlalu kesakitan.
Kami berhasil keluar dari gunung Sodion, dan mendarat di atas sebuah padang rumput gersang. Tak jauh dari tempat kami mendarat, sebuah siluet dari menara jaga berhasil tertangkap mataku.
"Kita ada di dekat Yifn," ucap Hunra sambil membersihkan debu di kemeja merahnya yang norak.