Bab 27 - Identitas Nuvian

1804 Kata
Sejak dulu, aku selalu menjaga rasa percayaku terhadap orang lain. Karena aku tidak ingin memiliki pengalaman dikhianati oleh orang lain. Pengkhianatan memang selalu menyakitkan. Namun melihat orang yang kau kenal terpaksa menyerangmu karena tidak memiliki pilihan, adalah pemandangan yang lebih menyakitkan. Itulah yang terjadi di depanku saat ini. Seorang Serdadu Juri-ore yang menyebut dirinya sebagai perisai bagi Klan Daeron, malah mengacungkan pedangnya kepadaku. Aku mengumpat dalam hati, karena tidak segera meminta Hunra membuka pintu keluar dari dalam gunung Sodion. Seandainya pria ini melakukannya sejak tadi, maka aku tidak perlu melangkah mundur untuk menghindari mata pedangnya. Baru kali ini aku melihat Hunra menggenggam gagang pedang begitu erat. Aku bisa melihat kegelisahan, ketakutan dan rasa sedih di matanya. Apakah saat ini aku memilih sesuatu yang benar? Apakah mementingkan Tequr dan keadilan bagi korban Valerio, lebih layak diperjuangkan dari pada kebebeasan Hunra? Dua pertanyaan itu terus terngiang di otakku. Di depanku, Hunra menggigit bibirnya cukup keras, hingga aku melihat setetes darah keluar dari mulutnya. Dia benar-benar tidak berdaya, dan sangat ketakutan. Pemadangan yang lebih mengerikan berada di belakangnya. Nuvian si wanita licik, hanya menyunggingkan senyum di sudut kanan bibirnya sambil melihat kami berdua. Wanita itu memberiku sedikit fakta, bahwa di setiap sudut Ueter, masih ada banyak pribadi yang memiliki otak yang sangat jahat. "Aku pasti kalah jika melawanmu, kau tahu iku, kan?" ujarku pelan. Hunra menelan ludahnya sendiri, sambil terus mengambil langkah untuk mendekatiku secara perlahan. "Aku tahu," jawabnya lirih. Dia mengerucutkan mulutnya, dan sebuah bunyi pelan keluar dari sela-sela bibirnya. Bunyi yang hanya bisa didengar oleh ras yang memiliki indera pendengaran mutlak. Elf. Saat aku mendengar bunyi itu, aku berhasil mebgingat nadanya. Siulan lirih ini memiliki nada yang sama dengan siulan Hunra saat berusaha masuk ke Aiden. "Kau mengulur waktu untuk temanmu?" cibir Nuvian dari belakang Hunra. Wanita itu tetap mempertahankan senyum liciknya, meskipun aku bisa melihat keraguan di matanya. "Dua detik," ujar Hunra. Tepat dua detik kemudian, dinding batu di belakangku menampakkan celah dapat menjadi pintu keluar untukku. Hunra menendang dadaku dengan keras, hingga aku terlempar jauh hingga ke luar gunung Sodion. Sedangkan dia malah berbalik menyerang Nuvian yang tertawa keras. Pilihan Hunra membuatku tersenyum puas. "Jangan pernah mencoba untuk menolongku, Eleandil!" seru Hunra sambil berlari ke arah Nuvian. "Aku adalah perisai untuk klan Daeron, dan inilah tugasku!" Aku mengabaikan perintahnya dan ikut menerjang Nuvian, namun pintu untuk masuk ke dalam gunung Sodion sudah tertutup rapat. Hal terakhir yang aku lihat adalah Hunra mengayunkan pedangnya ke arah Nuvian, sedangkan wanita itu malah tersenyum geli melihat temanku. Selama beberapa saat, aku terus mencoba bersiul di depan dinding batu yang tebal ini. Tetapi nada yang dua kali disiulkan Hunra di depanku, seolah menguap dari otakku. Di bawah teriknya matahari, aku terus memaksa otakku untuk mengingat siulan Hunra. Aku harus menyelamatkan teman lamaku, daripada mengabarkan soal rencana Valerio membunuh Ezra. Aku tidak ingin menyesal di kemudian hari, karena aku meninggalkan Hunra di sini. Meskipun dia memiliki kulit tebal yang tidak bisa ditembus senjata apa pun, aku sangat yakin kalau Hunra akan dikalahkan oleh Nuvian. Seseorang yang berhasil membuat anggota Serdadu Juri-ore ketakutan, pasti memiliki kekuatan yang besar. Karena itu, aku tidak akan membiarkan Hunra kalah sendirian. Dia pasti sudah terjebak di desa ini cukup lama. Dan aku tidak akan membiarkannya menghadapi kesepian dan ketakutannya sendiri. Kali ini, dia akan memiliki seorang teman di sebelahnya. Kebulatan tekadku seolah dijawab oleh para Xenia, saat dinding batu di depanku kembali terbuka. Namun pemandangan di lorong depanku, adalah sesuatu yang aku takutkan. Hunra berdiri membelakangiku, sedangkan Nuvian yang berada di hadapannya, membawa sebuah bola besi yang diikatkan ke tali. Kondisi kedua orang itu sangat berbanding terbalik. Gaun merah Nuvian memiliki beberapa sobekan di lengannya yang menggelembung, dan sebuah sobekan besar di bagian perutnya. Selebihnya, Nuvian bisa dibilang sangat sehat. Berbeda dengan Nuvian yang tidak tampak baru saja bertarung, kondisi Hunra jauh lebih buruk. Kulit tebalnya yang seharusnya tidak bisa ditembus senjata apa pun, malah tampak berdarah di beberapa bagian. Di sisi bagian dalam betis kanan Hunra bahkan terdapat sebuah luka sobekan besar, yang menampakkan daging merahnya. Hunra juga memiliki luka sobekan lain di punggungnya, dan bagian belakang lengannya. Aku membayangkan tubuh bagian depan Hunra juga terluka sangat parah, karena luka di tubuh bagian belakangnya sudah menunjukkan bagaimana jalannya pertarungan selama aku berada di luar. Nuvian memang sekuat yang dikatakan Hunra. "Para orang bodoh selalu melakukan hal yang sama," cemooh Nuvian sambil tersenyum ke arahku. "Mereka selalu kembali ke pertarungan yang tidak akan mereka menangkan." Hunra mengikuti arah tatapan Nuvian. "Kenapa kau kembali lagi?" desahnya kesal setelah melihatku. "Aku membuka pintu itu agar kau segera lari dari tempat ini. Apa kau ingin mati di sini?" Aku tidak menanggapi ocehan Hunra. Semua yang dikatakan olehnya memang benar. Kemungkinan besar aku bisa mati di sini, karena kekejaman Nuvian. Hunra yang kekuatannya jauh di atasku, bisa dikalahkan dengan mudah oleh wanita ini. Apalagi aku yang hanya seorang elf biasa. Tuan Daeron selalu memberiku peringatan agar tidak pernah memakai ototku, saat bertarung melawan musuh yang lebih kuat. Melainkan memakai otakku untuk membuat strategi yang akan berhasil jika dieksekusi dengan baik. Itulah yang kulakukan saat berada di luar gunung Sodion. Aku tahu Hunra atau Nuvian akan membuka pintu itu lagi, sehingga aku hanya perlu menunggu di depan pintu itu. Namun aku tidak akan masuk ke lorong desa ini tanpa persiapan apa pun. Aku tidak akan melakukan tindakan sebodoh itu. Persiapan matang yang telah aku buat, menjadikanku bisa melangkah dengan tenang ke depan Nuvian. Tidak ada senjata di tanganku. Hanya aku dan otakku, untuk melawan Nuvian. "Aku akan membunuh Ezra, dan menyelesaikan tugas Valerio," ucapku dengan tegas. Nuvian memiringkan kepalanya sambil memincingkan matanya padaku. Dia hanya diam untuk beberapa saat, seolah sedang berpikir untuk melakukan sesuatu padaku. Suara napas Hunra yang tersengal di belakangku, bergema memenuhi lorong ini. Sedangkan aku dan Nuvian hanya saling beradu pandang dengan sengit. "Kau tahu di mana Ezra?" Nuvian meletakkan senjatanya di tanah. "Atau kau berniat membodohiku dengan omong kosong itu?" "Kau bisa memilih agar aku membawa Ezra ke sini dalam keadaan hidup atau mati?" balasku. "Aku bisa memastikan bahwa aku tidak akan gagal." Nuvian kembali terdiam. Wanita itu merapatkan bibirnya dan tidak melepaskan pandangannya dariku. "Apa yang harus aku bayar untuk keberhasilanmu?" tanya Nuvian. Aku menunjuk Hunra di belakangku. "Kebebasannya," jawabku singkat. "Aku tidak bisa melihat temanku berada di bawah kendali wanita gila sepertimu." Jawabanku membuat tawa Nuvian pecah. Suara tawanya bahkan mengalahkan gema napas berat dari mulut Hunra. Di mataku, Nuvian benar-benar tampak seperti Tequr dengan tubuh wanita. "Kau tahu kekuatanku?" tanya Nuvian geli. "Anx," jawabku. "Orang yang dipilih oleh Xenia untuk menjadi penyambung lidahnya. Kau adalah seorang Anx, sehingga kau memiliki kemampuan yang tidak jauh berbeda dari Xenia yang memilihmu." Nuvian tersenyum padaku, sambil bertepuk tangan. "Aku semakin menyukaimu, karena kau cukup pintar," pujinya dengan senyum yang tampak sangat palsu. "Kau benar, aku adalah seorang Anx." "Di Laustrowana ini, tidak ada yang bisa mengalahkanku," ucapnya bangga. "Aku adalah Xenia dengan tubuh dan wajah manusia. Bahkan anggota Serdadu Juri-ore tidak sanggup membuatku terluka." "Aku memerintah suku Aidenia dengan kebijaksanaan, namun Hunra adalah orang yang selalu tampil di depan umum. Nona Darunia melarangku untuk memimpin sebuah desa secara terbuka, sehingga aku terpaksa memilih seorang pemimpin boneka." "Lama kelamaan, aku terlalu bosan dengan semua yang aku miliki. Karena itu aku membutuhkan sebuah tantangan, yang bisa menghilangkan kebosananku menjadi pribadi terkuat di pulau terbesar yang ada di Ueter," sambungnya. Setiap kalimat yang keluar dari mulut Nuvian tidak mengandung kebohongan. Dia berkata jujur, dan aku bisa merasakannya. Perkataannya membuatku sedikit mengerti alasan dari semua kejahatan yang dia lakukan. Aku harus meralat sudut pandangku yang mengira dia adalah Tequr dalam wujud wanita. Nuvian adalah seorang wanita yang tidak sanggup memikul beban berat untuk menjadi seorang Anx. Dengan hanya melihat wajahnya, aku bisa tahu bahwa dia adalah jiwa yang tersesat. Dia berbeda dengan Tequr yang memang murni seorang penjahat keji, dan melakukan segala hal untuk keuntungan pribadinya. Nuvian melakukan tindakan kejam bukan karena dia jahat, melainkan karena dia tersesat. Bukan berarti aku bersimpati dengan wanita ini. Pengakuannya soal segala hal kejam yang dia lakukan hanya berdasarkan kebosanan, bukanlah sesuatu yang bisa diterima oleh hati nuraniku. "Apa alasan Darunia memerintahkan untuk membunuh tiga puluh delapan orang itu?" tanyaku. "Atau kau hanya ingin menegaskan kekuasaanmu, dengan memerintahkan orang dari sukumu untuk membunuh puluhan manusia di desa lain?" "Tiga puluh delapan orang itu kelak akan berubah menjadi Ashtonas," jawab Nuvian dengan tenang. "Dan aku tebak, kau tidak akan memercayaiku." Aku tidak ingin percaya kepadanya. Tetapi aku bisa memastikan bahwa Nuvian tidak berbohong. Napas, gestur tubuh, dan sorot matanya membuktikan bahwa dia mengatakan kebenaran. "Di antara Nyonya Darunia dan aku, hanya ada satu pribadi yang jahat. Orang itu adalah aku," tegas Nuvian. "Semua perintah Darunia adalah yang membuat Laustrowana tetap ada sampai sekarang." "Semua orang yang dibunuh oleh suku Aidenia sejak Tuan Silas mendirikan suku ini, adalah para calon Ashtonas. Para tentara matahari yang sangat kuat dan mematikan." "Awalnya, aku tidak ingin mengubah orang-orang di sini menjadi terbiasa untuk membunuh orang lain. Aku ingin memastikan bahwa hanya aku yang cukup gila, untuk melakukan p*********n demi kebaikan yang lebih besar." "Aku adalah manusia, bukan seorang elf yang memiliki sisi moral yang tinggi. Semakin banyak aku melakukan pembunuhan, maka aku semakin terbiasa. Aku melakukan semua perintah Darunia sendiri, karena aku ingin melindungi suku ini dari rasa nyaman yang ditimbulkan saat kau membunuh seseorang." "Orang-orang Aidenia adalah manusia, dan aku tidak mau mereka kehilangan sisi kemanusiaan mereka." Nuvian menghembuskan napas panjang. "Cukup aku yang kehilangan itu." "Itulah alasanmu mengirim Valerio keluar dari sini, dan malah menyuruh Hunra membunuhku," ucapku sambil menatap tajam ke mata Nuvian. "Kau ingin menjaga suku ini tetap berisi para manusia yang memiliki moral. Valerio yang kejam dan gila, tidak memiliki tempat di sini." Wanita yang sejak tadi hanya menunjukkan sisi liar dan kegilaannya, malah menunduk muram meskipun tidak ada luka di sekujur tubuhnya. "Dia sama sepertiku," aku Nuvian. "Dia melihatku terlalu dekat, hingga dia juga kehilangan sesuatu yang paling penting untuk kehidupan manusia. Aku tidak bisa membiarkannya tetap berada di sini." "Lalu apa alasanmu menyuruhku membunuh Eleandil?" bentak Hunra dari belakangku. "Karena dia yakin, kau tidak akan membunuhku," selaku. "Kau akan mengeluarkanku dari sini, dan malah menyerangnya. Nuvian sudah menebak itu." Nuvian mengangkat kedua tangannya, dan mengangguk pelan. "Aku tidak akan membiarkan siapa pun menyelesaikan misi Valerio, dan berubah menjadi orang yang dingin sepertiku," terangnya. "Tidak ada satu orang pun yang boleh menyelesaikan misi Nyonya Darunia selain aku," imbuhnya tegas. "Karena itu, tetaplah di Aiden dan jaga desa ini selagi aku pergi mencari Ezra." Setelah mengatakannya, Nuvian menerjangku dan Hunra saat kami tengah lengah. Reaksiku yang cepat, berhasil membuatku meraih pedang di punggungku. Namun gerakan Nuvian lebih cepat dariku. Wanita itu berhasil menendang perutku, dan membuat tubuhku menjadi tumpuannya untuk menyerang Hunra. Selagi kami berdua terlempar ke dinding lorong gelap ini, dia bersiul dengan nada yang tepat seperti yang dilakukan Hunra. Pintu keluar terbuka, bersama dengan Nuvian yang mulai memburu Ezra.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN