Bab 26 - Suku Aidenia

1758 Kata
Aku mungkin sudah membuat kesalahan besar, saat mencoba untuk menemui Hunra. Selama beberapa hari terakhir, aku sangat sibuk mencari sosok dibalik Valerio yang sangat keji. Aku bahkan sudah sangat yakin bahwa Tequr ada di balik rentetan pembunuhan di Al-Valayne. Ternyata aku benar-benar salah. Bukan Tequr, melainkan suku Aidenia yang dipimpin oleh Hunra, seorang anggota Serdadu Juri-ore yang menyebut dirinya sebagai pedang bagi klan Daeron. Bahkan Hunra mengatakan kepadaku dengan sangat tenang, bahwa semua yang dilakukan Valerio adalah perintah dari Darunia, sang Xenia pelindung perang. Dari semua hal aneh yang pernah kudengar dan kulihat, fakta inilah yang menduduki peringkat teratas di daftar itu. Bagaimana mungkin seorang Xenia memerintahkan sebuah suku untuk membunuh tiga puluh delapan orang, dan menyebabkan teror di sebuah kerajaan? Bahkan di antara para korban Valerio juga terdapat seorang anak perempuan yang masih kecil. Apakah seorang Xenia sungguh memerintahkan sesuatu yang mengerikan seperti itu? "Aku tahu kau marah kepada Valerio," ucap Hunra sambil menepuk bahuku pelan. "Namun aku juga tidak bisa menghentikan suku ini, jika Nuvian sudah berbicara atas nama Darunia." "Di desa ini, aku hanyalah seekor anjing penjaga yang bertugas mengamankan desa untuk melindungi Nuvian. Selain itu, aku juga adalah boneka bagi wanita itu, saat Darunia sudah berbicara kepadanya," imbuh Hunra pelan. Dengan semua kekuatan dan jabatannya sebagai salah satu anggota kelompok Serdadu Juri-ore, ternyata masih ada orang dengan pengaruh yang lebih besar dari Hunra. Seorang pendeta wanita yang berkata atas nama seorang Xenia pelindung perang. Semua keindahan dari desa ini seolah langsung tidak bisa kurasakan, setelah mendengar dari mulut Hunra tentang keadaan desa ini. Aku seharusnya bisa mengerti keadaan Hunra. Tetapi yang ada di hatiku malah amarah yang membuncah, karena aku merasa semua penyelidikanku bersama Normen dan Yared adalah sia-sia. Sampai saat ini, aku masih belum bisa memaafkan Valerio dan orang yang memerintahkannya. Bagiku, tidak ada alasan apa pun yang bisa mengizinkan seseorang membunuh puluhan manusia hanya demi perintah seorang Xenia. Kebenaran dari perintah Darunia yang disampaikan oleh wanita bernama Nuvian itu, juga tidak boleh ditelah mentah-mentah. Meskipun Hunra mengatakan bahwa dia hanya sebuah boneka, tapi aku tetap merasa bahwa dia bertanggung jawab atas kematian tiga puluh tujuh orang di Al-Valayne. "Kau tahu bahwa wajah para korban dikuliti oleh Valerio?" tanyaku setengah bergumam. Hunra menoleh padaku, dan mengangguk pelan. "Itu juga bagian dari perintah Darunia lewat Nuvian," ucapnya. "Tiga puluh delapan orang itu bukan korban, tetapi misi bagi kami. Darunia akan menghukum kami, jika kami gagal melakukan misinya." Hari ini, aku melihat Hunra hanya sebagai seorang manusia biasa. Dia tidak tampak seperti seseorang yang kuat dan memiliki kuasa. Dia bukan orang yang menyelamatkanku dari laba-laba raksasa Hutan Hitam. Setiap kalimat yang keluar dari mulut Hunra membuatku semakin yakin bahwa orang ini sudah sepenuhnya berbeda. Dia bukan lagi Hunra En Caino yang berjiwa bebas. "Kau tidak percaya padaku?" sergah Hunra karena aku lama terdiam. "Aku berani bersumpah, bahwa semua yang kukatakan adalah kebenaran. Darunia memang tidak berwujud, tapi dia memiliki kekuatan yang besar." "Nuvian sudah beberapa kali mendemonstrasikan kekuatannya," desah Hunra. "Aku bisa memastikan bahwa kekuatannya hampir setara dengan Nona Orodreth. Aku tidak bisa menolak semua perintahnya." "Aku tahu bahwa membunuh jiwa sebanyak itu adalah kesalahan. Tapi pembunuhan itu atas perintah Darunia, demi kebaikan yang lebih besar. Kita harus melihat hasil akhir dari ini semua, El." Hunra memegang pundakku sambil menatapku dengan tatapan yang memelas. "Proses yang menyakitkan, selalu memberi hasil yang memuaskan." Memandang lekat kedua mata Hunra akhirnya membuatku mengerti alasannya membiarkan Nuvian mengendalikannya, dan memerintahkan sesuatu yang mengerikan seperti sebuah pembunuhan. Sorot mata Hunra adalah sorot mata yang sama dengan sorot mata milik elf dari klanku, saat kami melawan ratusan Ogrotso di Hutan Hitam. Ketakutan. Hanya perasaan itu yang bisa membuat seseorang dengan kekuatan sebesar apa pun, menjadi pribadi yang lemah. Sebagai seorang elf, aku hanya bisa merasakan kejujuran dari perkataan lawan bicaraku. Bukan ketakutan. Namun sorot mata Hunra sudah menjelaskan semuanya padaku. Aku ingin menolong Hunra dari ketakutan yang menyiksanya. Tapi aku harus mengurungkan niatku, karena ada satu hal yang lebih penting ketimbang mencari tahu soal Nuvian dan suku ini. "Siapa nama terakhir yang seharusnya dibunuh oleh Valerio?" tanyaku. Hunra memiringkan kepalanya. "Ezra, putra Ezmar, kenapa?" balasnya penasaran. Ternyata itulah alasan Valerio memaksakan diri untuk menculik Zafra, meskipun kami sudah berada di dalam rumahnya. Dia ingin memancing Ezra agar keluar dari persembunyiannya. Masih ada satu misteri lagi yang tersisa dari banyak tindakan aneh yang dilakukan Valerio. Yaitu tentang penangkapannya yang menurutku terlalu mudah. Dia bisa saja kabur dari kejaran kami dengan menggunakan kemampuan uniknya. Namun, dia malah memilih untuk berputar-putar di area ladang dekat Rowyn, seolah menunggu kami untuk menangkapnya. Valerio juga tidak melawan saat hanya berada di bawah pengawasan Aldcera. Menurutku, kemampuan bertarungnya jauh di atas si petugas Alva, dan dia lebih dari sanggup untuk mengalahkan Aldcera. Sampai Aldcera memutuskan untuk membawa Valerio ke Yifn, ibukota Alcyne, aku masih tidak percaya bahwa Valerio hanya diam dan tak melawan. Ternyata semua itu hanya untuk menyelesaikan misinya. Karena masih ada satu orang yang belum bisa dia bunuh. "Valerio gagal membunuh Ezra, karena kami menangkapnya lebih dulu," terangku. "Jika dia tidak menyelesaikan misinya, siapa yang akan dihukum oleh Darunia?" Kedua mata Hunra membelalak kaget. Dia menggertakkan giginya pelan, bersamaan dengan wajahnya yang menegang. "Mengapa kau tidak mengatakan soal ini sejak tadi?" desisnya. Selama ratusan tahun mengenal Hunra, hari ini adalah pertama kalinya aku takut berada di dekatnya. Aku merasa bahwa Hunra bisa saja menyerangku kapan saja. Ketakutan dan kegelisahannya malah membuat sisi terburuk yang ada dalam dirinya perlahan muncul. Dia bahkan melangkah ke arahku, hingga aku terpojok ke dinding ruangan ini. "Katakan padaku, sekarang di mana Valerio berada?" geramnya. Dia menepuk pundakku pelan, namun bukan dengan wajah ramah, melainkan tatapan yang mengancam. Dia mendekatkan wajahnya ke telingaku. "Percayalah padaku, kalau kau tidak ingin Nuvian tahu soal ini," bisik Hunra. "Jika Darunia tahu soal ini, maka dia bisa menyuruh kami untuk mengincar semua orang yang menangkap Valerio." "Kau akan membiarkannya?" balasku tenang. "Aku tidak bisa mengalahkan Darunia," jawabnya dengan suara yang hampir tidak terdengar telingaku. "Kau sudah salah mengenalku. Aku bukan lagi Hunra yang dulu. Nuvian dan Darunia jauh lebih kuat dariku." Sorot mata Hunra tidak hanya menunjukkan ketakutannya, namun juga perasaan putus asa yang begitu kuat. Dua nama yang dia selalu dia sebutkan itu, pasti melakukan sesuatu yang membuat pria ini mengalami trauma yang besar. Menurutku, Nuvian lah yang memiliki andil besar terhadap ketakutan Hunra. Kesimpulanku berdasarkan semua pengetahuan yang aku miliki tentang Xenia. Ras Xenia sangat jarang, bahkan hampir tidak pernah berurusan dengan kepentingan manusia. Mereka hanya muncul di saat seorang makhluk sekuat mereka, menyerang salah satu pulau besar di Ueter. Selama ribuan tahun ke belakang, hanya satu kali para Xenia sampai turun tangan di Ueter. Saat Ashtoret menguasai seluruh daratan, hingga berniat memerangi Odalis. Setelah perang besar itu, para Xenia hanya diam seolah mereka tidak pernah ada. Keadaan Hunra yang menyedihkan, tetap tidak bisa membuatku memaafkan semua hal yang sudah dia lakukan. Terutama soal memberikan izin kepada Valerio untuk membantai puluhan warga Al-Valayne yang tak bersalah. Sebagai seorang anggota Serdadu Juri-ore, seharusnya dia bisa mengambil keputusan yang bijak. Bukan malah membiarkan kejahatan yang mengatasnamakan hal bodoh malah merajalela. Rasa simpatiku terhadap keadaan dan posisi Hunra, tidak akan mengalahkan rasa tanggung jawabku sebagai wakil jenderal elf klan Daeron. Aku tidak bisa mengalah dengan Hunra, hanya karena dia memiliki hubungan baik dengan klanku. "Alcyne akan menghukum mati Valerio," tegasku. "Terdengar layak, padahal sama sekali tidak layak. Dia hanya akan mati setelah semua kejahatan yang dia lakukan." "Di mana dia akan dihukum?" Hunra mencengkeram bahuku. "Aku akan membebaskannya, agar dia dapat menyelesaikan misinya." Hunra bergegas ke arah pintu perunggu raksasa yang menjadi jalan masuk ke ruangan ini. Setelah penegasanku atas hukuman Valerio, Hunra masih tidak mengerti dengan maksudku. Pintu perunggu terbuka lebar, dan menampakkan lorong desa Aiden yang beberapa jam lalu membuatku terpukau. Melihat lorong itu malah semakin membuatku teguh dengan pilihanku kali ini. Aku mengikuti Hunra keluar dari ruangan emas, dan mulai menyusuri lorong Aiden di bawah langit siang Laustrowana. Setelah merahnya tampak semakin mencolok saat bertubrukan dengan cahaya matahari. Setelah memimpinku melewati beberapa lorong lebar desa ini, akhirnya kami sampai di pusat desa Aiden. Tempat para warga desa berkumpul hanya untuk bersenang-senang. Saat pertama kali datang ke desa ini, aku hanya menganggap mereka sebagai sekumpulan orang berjiwa bebas. Namun setelah mendengar cerita Hunra, yang ada di hatiku hanyalah amarah kepada semua orang dengan wajah bahagia yang ada di sekitarku. Mereka tahu bahwa akan ada puluhan orang yang akan dibunuh oleh Valerio, saat mereka melepaskan Valerio ke Al-Valayne. Aku bahkan bisa membayangkan para orang tua desa ini memberkati Valerio sebelum keberangkatannya. Bayangan menjijikkan itu, membuatku sangat menyesal karena pernah menginjakkan kaki di tempat ini. Aku berjanji kepada diriku sendiri, agar aku tidak akan berhubungan dengan suku Aidenia lagi. Hari ini adalah terakhir kalinya. Aku menarik lengan Hunra sebelum dia menuntunku keluar dari desa Aiden. Dia menoleh padaku, tepat di depan dinding batu yang nantinya akan menjadi pintu untuk ke luar dari gunung Sodion. "Berikan aku seekor tunggangan," pintaku. Karena terlalu gugup, aku sampai menelan ludah karena Hunra menatapku dengan tajam. "Kita harus sampai ke tempat Valerio dengan cepat, dan berjalan kaki bukan keputusan yang bijak." "Aidenia tidak memakai tunggangan," ujar seseorang dari belakangku. Aku menoleh ke sumber suara yang ternyata adalah wanita bergaun merah yang ditakuti oleh Hunra. Nuvian, Anx bagi Darunia. "Kalian akan pergi?" tanya wanita itu. Dia mendekat ke tempatku dan Hunra berdiri, dengan langkah yang anggun. Bahkan dia juga tersenyum kepadaku dengan bibirnya yang juga berwarna merah. "Nuvian, Valerio gagal... Maksudku hampir berhasil dalam misinya," ujar Hunra sambil menunduk di depan wanita itu. "Aku berniat untuk membantunya, dan Eleandil akan memanduku ke tempat Valerio ditahan." Inilah posisi asli Hunra di suku Aidenia. Dia bukanlah pemimpin boneka, melainkan tangan kanan garis miring pembantu bagi Nuvian. Saat Nuvian menyambutku pertama kali di Aiden, Hunra ingin menunjukkan wibawanya sebagai pemimpin suku ini di depanku. Tapi semua itu hanya kedok belaka. Pemimpin sesungguhnya dari suku Aidenia adalah Nuvian. "Seharusnya begitu," jawab Nuvian dengan tenang. "Untuk orang bodoh seperti Valerio, aku tidak pernah mengharapkan dia bisa membunuh lebih dari lima orang. Berapa banyak yang dia bunuh?" "Tiga puluh tujuh," ucap Hunra sambil mengangguk cepat kepadaku. Lalu dia beralih ke Nuvian. "Bolehkan saya menyelesaikan misi ini menghantikan Val?" Nuvian tertawa terbahak-bahak, hingga dia memegangi perutnya. "Dari tiga puluh delapan nama, pria bodoh itu hanya menyisakan satu orang!" pekiknya. "Ternyata dia adalah orang bodoh yang bisa diandalkan!" Setelah tertawa lagi untuk beberapa saat, tiba-tiba sudur kanan bibir Nuvian melengkung naik. "Tentu saja kau boleh menyelesaikan misi ini," jawab Nuvian lirih. "Namun ada satu orang yang harus kau bunuh lebih dulu." "Elf di sebelahmu, Eleandil," desis Nuvian dengan nada geli.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN