Bab 25 - Desa di Bawah Gunung

1982 Kata
"Mereka tidak akan berubah," ucap Hunra sambil menepuk pundakku. Dia mengajakku ke rumahnya yang ada di dekat gunung Sodion, selepas kepergian Gil dengan diiringi cahaya yang begitu terang. Langit Laustrowana sudah mulai meninggalkan warna jingga, untuk menyambut matahari yang naik semakin tinggi. Untuk pertama kalinya, aku tidak beristirahat pada malam hari di Laustrowana. "Kau mengenal mereka?" ucapku balas bertanya. "Apakah semua Ashtonas berpenampilan seperti Gil?" "Jika sering bertarung dengan mereka disebut mengenal, maka jawabanku adalah iya," jawabnya. "Namun para Ashtonas bukanlah ras yang bisa dikenali, karena mereka memiliki penampilan yang berbeda antara satu sama lain." "Ciri fisik yang bisa dikenali dari mereka adalah tidak adanya hidung di wajah mereka, dan digantikan oleh dua lubang. Selebihnya, mereka tidak bisa dikenali jika kau berpapasan dengan mereka," paparnya. Kami sudah tiba di kaki gunung Sodion. Hunra mendorongku pelan agar aku sedikit memundurkan langkahku, dan dia melangkah maju di depanku. Sebuah dinding batu yang cukup tinggi dan berwarna cokelat tua berada di depan kami. Saat aku memandang ke atas, ternyata dinding ini merupakan titik terendah dari gunung Sodion. "Mereka itu apa?" tanyaku. "Tentara matahari," jawabnya. Hunra bersiul dengan nada yang terus diulang, sambil mengarahkan pandangannya ke langit. "Begitulah mereka menyebut diri mereka sendiri." "Sampai sekarang aku masih tidak tahu alasan mereka menyebut diri sebagai tentara matahari. Namun mereka benar-benar lebih kuat saat matahari yang berada di langit." Hunra kembali bersiul dengan nada yang sama. "Aku memiliki firasat buruk, jika berhubungan dengan para Ashtonas." "Mereka memiliki hubungan dengan Pengkhianat Besar?" tebakku yang membuat bulu kudukku juga berdiri, hanya karena menyebut dua kata itu. Aku sedikit berharap Hunra akan menggelengkan kepalanya. Namun yang dia lakukan malah sebaliknya, Hunra mengangguk muram untuk mengonfirmasi tebakanku. Pengkhianat Besar yang aku maksud adalah Ashtoret, Xenia pelindung matahari yang malah memerangi semua Xenia lain di awal penciptaan Ueter. Meskipun aku tidak hidup di zaman itu, Tuan Daeron sangat sering menceritakannya kepada kami. Di perang itu, Tuan Daeron masih seorang elf muda yang tidak memiliki banyak pengalaman, sehingga dia tidak diperbolehkan ikut berperang. Perang itu disebut sebagai perang Xenia pertama, yang menyebabkan banyak elf mati. Perang itu juga cikal bakal munculnya banyak ras jahat seperti orc, ogre, troll dan makhluk-makhluk aneh seperti para serangga raksasa di Hutan Hitam, dan singa raksasa di gunung Alcyne. Xenia baik pimpinan Tuan Odalis dan para elf memang berhasil mengalahkan Ashtoret. Namun bukan berarti Ashtoret tidak memiliki kuasa sama sekali. Menjadi pelindung matahari, berarti memiliki kekuatan yang setara dengan bola kuning raksasa di langit itu. Sekuat itulah Ashtoret, sehingga tidak ada satu pun Xenia yang bisa mengambil alih matahari dari tangan Ashtoret sampai sekarang. Dengan tidak adanya pelindung matahari yang menggantikan Ashtoret, banyak elf masih menyakini bahwa Pengkhianat Besar masih mengumpulkan kekuatannya di suatu tempat, dan bersiap untuk memulai perang besar yang lain. Sudah ribuan tahun tidak ada lagi perang yang melibatkan seluruh Xenia, seperti saat Ashtoret memerangi para Xenia. Namun semua ras bijak di Zoinard masih terus berjaga-jaga untuk perang besar yang pasti akan terjadi. Itulah yang diceritakan Tuan Daeron padaku. Mendengar bahwa Ashtonas jauh lebih kuat saat adanya matahari, dan menghilangnya Gil disertai terbitnya fajar, membuat pikiranku hanya mengarah ke sebuah kesimpulan. Ashtonas pasti memiliki hubungan dengan Ashtoret, sang Pengkhianat Besar. "Akhirnya," ucap Hunra sambil menghembuskan napas lega. Dinding batu yang tampak kokoh di depan kami, mulai runtuh secara perlahan dan menampakkan sebuah lubang yang tampak seperti pintu. Ternyata inilah alasan Hunra fokus bersiul sejak tadi. Siulan itu adalah sebuah kata sandi untuk membuka pintu rahasia ini. "Pasti sepi jika tinggal di bawah gunung sendirian," gumamku lirih sambil mengikuti langkah Hunra yang masuk ke dalam gunung Sodion melalui pintu rahasia itu. "Siapa bilang aku sendirian?" balasnya sambil menoleh padaku dengan senyuman di wajahnya. "Aku memiliki banyak sahabat yang membantuku untuk membuat desa ini menjadi menyenangkan." Tepat setelah mengatakannya, seorang wanita dengan gaun merah dengan lengan yang menggelembung menyambut kami. "Selamat datang di Aiden, rumah bagi suku Aidenia," katanya ramah. Dia memiliki rambut hitam yang digelung rapi, seolah dia baru saja pulang dari pesta. Padahal kami berada di dalam gunung, dan jauh dari kota besar. Hunra membalas salam wanita itu dengan sebuah senyuman. "El, dia adalah Nuvian," ucapnya. "Nuvian, ini adalah Eleandil. Seorang jenderal klan Daeron." Aku membungkuk sedikit kepada Nuvian, lalu menyambut uluran tangannya. Wanita ini memiliki senyum memukau, dengan hidung agak bulat dan mata yang kecil. Nuvian tampak seperti seorang gadis kecil yang terjebak di dalam pakaian pesta sebuah kerajaan. Dengan pimpinan Nuvian, aku melangkah melewati lorong lebar yang berada di dalam gunung Sodion. Saat aku menoleh ke belakang, pintu rahasia yang dipanggil oleh Hunra juga sudah menghilang. Lorong ini menuntun kami ke sebuah desa yang sangat mirip dengan Eroa. Rumah, toko, dan bangunan yang saling berhimpitan, mengelilingi sebuah lahan kosong dengan motif indah di tanahnya. Orang-orang dengan pakaian cerah dan mencolok memenuhi tempat ini. Ternyata ada alasan dibalik pakaian mereka, karena tempat ini benar-benar seperti aula pesta. Para anak-anak muda saling berbagi cerita, lalu tertawa bersama. Sedangkan orang-orang dewasa menikmati minum dari kirbat maupun botol, yang isinya sudah pasti adalah anggur. Anak-anak kecil juga berlarian di lahan kosong yang tampak seperti taman kota. Fajar baru saja menyingsing, tapi semua orang di sini tampak sudah berpesta sejak lama. Hunra menarik lenganku agar mengikutinya, selagi aku masih terpukau dengan suasana desa kecil ini. Dia membawaku melewati banyak bangunan hingga berakhir di depan sebuah pintu megah yang berbahan perunggu. "Aiden adalah suku yang aku dirikan bersama sahabat baikku," ujarnya sembari membuka kunci pintu besar di depannya. "Sahabatku meninggalkan suku ini, karena dia ingin membuat suku baru di utara. Karena itu dia menyerahkan kepemimpinan suku ini kepadaku." Pintu perunggu itu terbuka, dan memperlihatkan ruangan yang tersembunyi di dalamnya. Sekali lagi, aku hanya bisa terpukau dengan apa yang dilihat oleh mataku. "Aidenia adalah suku yang hanya menerima perintah langsung dari Xenia pelindung peperangan," ucapnya. "Dan inilah seluruh kekayaan yang kami hasilkan dari menyelesaikan kasus di kerajaan besar, dan membantu sebuah pihak untuk berperang." Yang dimaksud seluruh kekayaan oleh Hunra adalah empat gundukan besar barang-barang dari emas. Alat makan, alat untuk memasak, senjata, koin dengan berbagai lambang kerajaan, bahkan baju zirah. Semuanya berbahan dasar emas. Aku tidak mengerti soal betapa berharganya semua benda-benda ini. Namun aku bisa memastikan bahwa desa kecil yang damai ini akan menjadi incaran para Raja manusia, jika mereka tahu ada banyak emas di sini. "Darunia," gumamku pelan. Selagi kedua mataku melihat banyaknya benda emas di ruangan ini, pikiranku juga memikirkan semua kalimat yang dilontarkan oleh Hunra. Dan untungnya nama itu muncul di otakku, setelah aku mencoba lebih keras untuk mengingatnya. "Ternyata pengetahuanmu masih bisa diandalkan," puji Hunra sambil mengacungkan ibu jari tangannya padaku. Pelajaran soal Xenia dari Tuan Daeron, adalah salah satu pelajaran paling membosankan yang pernah aku lalui. Padahal Tuan Daeron selalu mengatakan kepadaku, Briaron, dan Tequr, bahwa mengingat semua Xenia dan aspek yang mereka lindungi adalah pengetahuan berharga. Jadi ketidaksukaanku akan pelajaran soal para Xenia, tidak membuatku melupakan semua yang telah diajarkan kepadaku. Sebaliknya, otakku masih mampu mengingat nama-nama para Xenia dengan baik. Hanya butuh waktu sebentar saja bagiku, untuk mengingat nama Darunia, sang Xenia pelindung perang. Tuan Daeron menggambarkan Darunia sebagai wanita yang hebat dalam menggunakan otaknya untuk memenangkan sebuah perang. Sebuah ajaran yang menjadi prinsipku sampai sekarang. Dalam pertarungan, teknik dan kekuatan memang penting. Namun strategi dan rencana yang matang adalah dua hal yang paling penting. "Apakah Darunia itu pernah datang ke sini?" tanyaku penasaran. Hunra tertawa geli. "Caraku memandang para Xenia juga sama sepertimu," akunya. "Aku tidak pernah percaya dengan keberadaan mereka, karena aku memang tidak pernah melihat mereka." "Lalu bagaimana cara sukumu menerima perintah dari sang Xenia?" "Nuvian." Hunra menempelkan jari telunjuknya ke bibirnya, lalu dia juga memelankan suaranya. "Wanita itu memiliki bakat unik yang memberinya kemampuan untuk berkomunikasi dengan Darunia." "Di masa awalku memimpin suku ini setelah sahabatku pergi, aku tidak pernah percaya dengan ramalan dan nubuat. Namun semua perintah Darunia lewat Nuvian yang dilakukan oleh suku ini, tidak pernah mengalami kekalahan." Hunra mendekatkan wajahnya kepadaku. "Mau tidak mau, aku harus memercayai perkataannya," bisiknya. "Terutama jika hal itu berkaitan dengan perintah Darunia." Di balik kekuatannya yang hebat, Hunra tetaplah seorang manusia. Ras yang paling tidak percaya dengan hal-hal bersifat roh dan tidak kelihatan. Itulah yang membuat manusia selalu mengagungkan materi dan jabatan. Dua hal yang tidak memiliki esensi kekekalan. Pertanyaanku soal kunjungan Darunia ke tempat ini, bukan karena aku tidak memercayai Xenia. Tapi karena aku memang tidak pernah bertemu dengan para Xenia. Rasku, elf, adalah ras yang paling dekat dengan Xenia. Tuan Daeron adalah saksi hidup dari perang Xenia pertama, dan dia adalah guruku. Para Xenia itu ada, dan kami para elf memercayai hal itu. Sedangkan orang-orang di luar kaum elf seperti Nuvian, yang dapat berkomunikasi langsung dengan para Xenia, biasa disebut sebagai Anx. Nuvian adalah Anx kedua yang aku temui, karena aku sudah sering mendengarkan cerita Lass yang sudah beberapa kali bertemu dengan Cyprian lewat mimpinya. Ada satu hal yang janggal dari cerita Hunra, dan pengakuannya bahwa dia tidak pernah memercayai seorang Xenia sebelum melihatnya. "Kau pernah bertemu dengan Juri-ore?" tanyaku. Hunra mengangguk dengan bangga. "Terlalu sering," jawabnya. "Namun Nyonya Juri-ore tidak tampak seperti makhluk yang berkuasa di mataku. Dia memang memiliki wibawa dan sebagainya, tetapi memikirkannya sebagai seorang penguasa aspek tertentu, masih tidak bisa diterima otakku." Jawabannya membuat alisku naik. "Dan Juri-ore tetap memilihmu sebagai anggotanya?" "Bukan Nyonya Juri-ore, tapi Nona Orodreth yang memilihku," jawabnya. "Aku tidak akan masuk ke kelompok ini, jika Nyonya Juri-ore yang langsung memilihku. Dia terlalu menakutkan bagiku." Menakutkan. Kata itu juga dipakai oleh Tuan Daeron untuk mendeskripsikan Juri-ore. Tuan Daeron bahkan memperingatkanku agar tidak pernah berurusan dengan Juri-ore, dan segera menerima semua perintahnya. Deskripsi yang sesuai dengan dua kalimat Hunra yang saling bertentangan. Dia tidak memandang Juri-ore sebagai seorang Xenia yang berkuasa, tapi dia juga mengakui bahwa Juri-ore cukup menakutkan baginya. "Apa yang kau perlukan, El?" tanya Hunra. "Dari gelagatmu saat melawan Ashtonas tadi, aku bisa menebak bahwa kau menunggu kedatanganku." Semua pembicaraan kami soal Ashtonas, para Xenia, sukunya, dan desa ini, langsung segera lenyap dari otakku, setelah Hunra mengingatkan tujuanku mencarinya. "Aku membutuhkan dua bantuan darimu," jawabku. "Tekoa diserang?" "Lebih buruk dari itu," balasku. "Tequr menyerang Adon, dan membawa ribuan pasukan ke Adijaya. Donater Selatan dan Votlior ikut berperang bersama pasukan Halingga. Dan kemungkinan besar, kami menang." Hunra mengerucutkan bibirnya. "Sudah memastikan kemenangan kalian dengan mencari mayat Tequr?" Aku menggeleng muram. "Tequr melemparku ke Laustrowana bersama dua orang yang lain," jawabku. "Dia juga kabur dari Adon. Menurut Tuan Daeron, dia ada di pulau ini." "Tadinya aku dan dua temanku berniat untuk kembali ke Adon. Namun Tuan Daeron malah memberi misi untuk mencari Tequr di pulau ini, sebelum dia kembali membangun pasukan." "Menurut seorang elf kenalanku, beberapa orang dari kelompokmu akan segera menyusul ke pulau ini untuk mencari Tequr," imbuhku. Ada sedikit ketegangan di wajah Hunra. Dia menyilangkan tangan di depan dadanya, dan diam untuk beberapa saat. Situasinya pasti sangat buruk, hingga seorang anggota kelompok elit Serdadu Juri-ore harus menghabiskan beberapa menit untuk berpikir. "Laustrowana bagian selatan sedang tidak stabil saat ini," gumamnya sambil melihat lantai di bawahnya. "Skardolav dan Preant bisa berperang kapan saja, saat salah satunya membuat tindakan bodoh. Tequr bisa saja sudah masuk ke salah satu kerajaan itu." Hunra mendongak kepadaku. "Permintaan keduamu?" tanyanya. "Pembunuhan berantai di Al-Valayne," jawabku. "Aku berhasil menemukan tersangka utamanya, namun aku tidak yakin jika dia bergerak sendirian. Aku merasa bahwa Tequr ada di balik tindakannya." "Valerio?" tebak Hunra yang langsung kubalas dengan anggukan antusias. "Kau mengenalnya?" sergahku. Hunra mengangguk tegas. "Tentu saja," jawabnya. "Dia adalah salah satu suku kami." Aku tersentak dengan informasi yang baru saja masuk ke telingaku. Dari semua kemungkinan yang ada, tersangka pembunuhan berantai di Al-Valayne malah seseorang yang berasal dari suku yang dipimpin oleh sahabat klan Daeron. "Apakah Valerio mendapat perintah darimu?" tanyaku dengan suara lirih. "Dari Darunia," jawab Hunra. "Darunia memberi Nuvian tiga puluh delapan nama orang yang tinggal di Al-Valayne. Sang Xenia memerintahkan salah satu dari suku kami untuk membunuh tiga puluh delapan orang pemilik nama itu." Hunra mengedipkan sebelah matanya padaku. "Sebelum kau menangkapnya, apakah dia sudah berhasil?"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN