Bab 24 - Datangnya Teman Lama

1576 Kata
Akhirnya aku merasakan darah yang mengalir di tubuhku dengan lega. Bukan darah yang membuat tubuhku seperti terbakar, melainkan darah yang membuatku merasa semakin kuat. Benda kecil itu ternyata berdampak baik untuk tubuhku. Namun kejutan belum selesai. Lemparan ke arah Gil adalah serangan pembuka dari orang yang paling aku harapkan untuk menolongku. Selagi aku masih memulihkan diri, seseorang dari arah gunung berlari menerjang Gil yang sedang mencari penyerangnya. Awan mendung seolah membantu sosok itu, karena kegelapan pekat tiba-tiba memenuhi lembah dekat Sodion. Bulan tertutup sepenuhnya, sehingga tidak ada sedikit pun cahaya yang bisa membantu Gil melihat sekitarnya. Sedangkan orang yang berlari ke arah Gil, tidak terlihat seperti kehilangan arah. Dari cara berlarinya yang tampak sangat tenang, dan cara berpakaiannya yang mencolok, aku sudah tahu kalau sosok itu adalah Hunra En Caino. Seperti terakhir kali kami bertemu, Hunra memakai kemeja merahnya yang anehnya bisa menyatu di kegelapan malam. Di mana pun Hunra berada, keanehan akan selalu menyelimutinya. Dia melewatiku sambil memberi senyum untuk menenangkanku, lalu dia menerjang Gil dengan kecepatan yang sangat tinggi. Gil si mata kuning terlempar cukup jauh saat tendangan Hunra berhasil mengenai punggungnya. Namun Gil segera berdiri dan bersiap untuk kembali menerima serangan. Perlahan tapi pasti, kekuatanku yang hilang mulai kembali. Benda kecil yang diberikan Hunra padaku mulai berefek kepada luka di sekujur tubuhku. Aku tergoda untuk segera meminum darahku, dan ikut membantu Hunra. Tapi aku mengurungkan niatku, karena aku tidak ingin tenagaku terkuras lebih banyak, saat aku menggunakan kekuatan klan Zabash. Aku ingin tetap hidup, untuk bisa mengajarkan beberapa hal penting kepada Gil. Karena itu aku memilih untuk tidak menggunakan kekuatan klan Zabash, dan sabar menunggu seluruh kekuatan di tubuhku pulih. Dengan Hunra di sisiku, aku yakin Gil bisa kami kalahkan tanpa perlu memakai kekuatan klan Zabash. Awan gelap yang menghalangi sinar bulan telah bergerak, sehingga lembah Sodion kembali mendapatkan cahaya. Hal itu juga berarti Gil bisa melihat musuhnya dengan jelas. "Ashtonas?" tebak Hunra setelah melihat musuh di depannya. Sesuai dugaanku, Gil langsung menyerang Hunra tanpa menjawab pertanyaannya. Di saat sedang fokus, Gil tidak akan melayani percakapan apa pun. Masalahnya, Hunra bukan lawan yang mudah dihadapi, apalagi dikalahkan. Aku malah mencemaskan Gil, jika dia terlalu memaksa Hunra melepaskan kekuatan aslinya. Hunra tidak memakai senjata apa pun, karena seluruh tubuhnya adalah senjata. Semua serangan pedang yang dilesakkan oleh Gil, hanya berakhir menjadi serangan sia-sia. Raut wajah Gil terlihat agak terkejut, karena mata pedangnya tidak bisa melukai tubuh Hunra. Namun dia tetap menyerang Hunra dengan teknik berpedangnya yang jauh dari kata hebat. Sampai sekarang, aku masih belum tahu cara untuk mengalahkan Hunra, begitu juga dengan asal kekuatannya. Sepanjang hidupku, aku tidak pernah melihat orang dengan tubuh yang kebal seperti Hunra. Sepertinya hanya dia satu-satunya yang memiliki kemampuan ini di seluruh Ueter. Karena Gil tidak bisa menembus kulit bagian atas tubuh Hunra dengan pedangnya, dia mulai mengarahkan serangannya ke arah bagian tubuh bawah Hunra. Dan hasilnya tetap sama. Mata pedang milik Gil seolah bertabrakan dengan mata pedang lain. Setelah menerima banyak serangan, akhirnya Hunra mulai melancarkan serangan kepada Gil. Kekalutan dan kebingungan musuh, selalu menjadi saat yang tepat bagi Hunra untuk melawan balik. Serangan balik dari Hunra hanya menyasar wajah Gil. Terlebih Hunra hanya menggunakan kedua tangannya untuk bertarung, sehingga serangannya pun terkesan lebih liar. Dengan pedangnya, Gil tidak bisa menahan semua pukulan Hunra yang mengarah ke wajahnya. Mau tidak mau, Gil akhirnya menyarungkan pedangnya, dan mereka berdua bertarung tanpa senjata. Tubuhku pulih di saat yang tepat. Aku mengambil pedang-panahku, dan mulai menembakkan anak panah ke arah Gil. Aku tidak perlu membidik terlalu lama, karena Hunra tidak akan terluka jika terkena anak panahku. Rentetan pukulan dari Hunra ditambah anak panah yang melesat padanya, membuat Gil semakin terpojok. Masalahnya kami ada di lembah yang luas, sehingga tidak ada dinding yang akan membuat Gil tersudut. Gil memang bisa menghindar dari setiap anak panahku yang mengarah kepadanya. Namun dia tetap tidak bisa menghindari serangan Hunra yang liar. Cepat atau lambat, Gil akan kami kalahkan. Aku memutuskan untuk masuk ke pertarungan jarak dekat, agar aku bisa memastikan Hunra tidak akan membunuh Gil. Saat aku berlari ke tempat mereka sedang beradu pukulan, Gil si mata kuning melihatku dengan sudut matanya. Dia menyadari bahwa sebentar lagi dia akan melawan dua orang sekaligus. Mungkin dia tetap akan memberanikan diri, jika lawannya hanya aku. Namun dengan adanya Hunra yang memiliki pertahanan kuat, Gil mungkin tahu dia akan kalah. Aku menyerang Gil dengan tangan kosong, agar aku tidak perlu melukainya. Sebuah pukulan kulesakkan ke wajahnya, selagi Hunra menendang perutnya. Gil hanya berhasil menangkis seranganku, namun tidak dengan tendangan Hunra. Pria bermata kuning itu sampai mundur beberapa langkah, akibat tendangan Hunra yang terlalu keras. Hunra terus menerjang Gil dengan serangan yang bertubi-tubi. Dengan setelan merahnya yang mencolok, Hunra tidak terlihat akan mengampuni Gil. Dia terus menyerang tanpa henti, hingga kulit putih Gil mulai penuh dengan lebam dan darah. Sebelum Hunra kembali menerjang Gil, aku segera menahannya. "Jangan membunuhnya," pintaku sambil memegang dadanya. Entah keberanian macam apa yang sedang merasukiku, hingga aku berani menahan seorang Serdadu Juri-ore mengalahkan musuhnya. Di pikiranku, aku hanya tidak mau Gil mati sia-sia, sebelum mengerti sesuatu yang baik. Di depan kami, Gil masih berusaha berdiri dengan sisa tenaganya. Bola matanya tidak lagi berwarna kuning cerah, melainkan kembali menjadi berwarna biru muda. Cara Gil berdiri yang sempoyongan, sudah membuktikan bahwa dia tidak memiliki jalan pulang. Dia berada di posisiku beberapa saat lalu, sebelum kedatangan Hunra. Aku sudah siap jika Hunra menolak permintaanku untuk tidak membunuh Gil. Ternyata Hunra malah menghembuskan napas panjang, dan mendudukkan dirinya di lembah Sodion. "Lakukan yang menurutmu baik," kata Hunra sambil tersenyum ramah. "Aku tidak pernah meragukan penilaian para elf. Termasuk dirimu." Setelah beberapa tahun tidak mendengar suaranya, akhirnya aku bisa mendengar ketenangan Hunra dari suaranya. Sudut pandangnya kepada setiap kejadian di depannya, adalah sesuatu yang membuatnya menarik perhatianku. Hanya dengan mendengar perkataannya, semua ketakutanku untuk menghadapi Gil perlahan memudar. Hunra benar-benar tahu cara menularkan ketenangannya. Aku berbalik dan berjalan ke arah Gil, dengan mengangkat kedua tanganku. Dia menatapku dengan penuh kecurigaan, namun aku tahu bahwa dia tidak berniat menyerangku. Napasnya yang normal, dan otot tubuhnya yang rileks, membuatku semakin tenang untuk berjalan ke arahnya. "Sekarang posisi kita berbalik," desah Gil. Dia mencoba memaksakan dirinya untuk tersenyum, meskipun aku tahu dia sangat kesakitan. "Seharusnya aku membunuh lebih cepat. Agar aku bisa segera pergi dari sini." Aku terus melangkah ke depan Gil, hingga kami hanya berjarak beberapa langkah. Dan dia tidak mengambil langkah mundur sama sekali, meskipun aku bisa saja menyerangnya secara mendadak. "Maka orang itu akan mengejarmu hingga ke ujung pulau ini," ucapku sambil menunjuk Hunra di belakangku. "Kedatangan Hunra sudah memastikan kekalahanmu." Gil mendengus, lalu tersenyum lemah. "Kau memiliki teman yang sangat kuat," pujinya. "Dia adalah orang pertama yang membuatku terluka parah seperti ini." "Semua serangan pedangku tidak ada yang berhasil melukai tubuhnya. Dia adalah musuh terkuatku sejauh ini, sekaligus musuh yang paling menyebalkan," imbuhnya. Saat aku menghentikan Hunra untuk memberikan serangan terakhir kepada Gil, aku sedikit ragu dengan keputusanku. Aku bisa saja membuat pilihan yang salah, dan malah melepaskan musuh kuat yang nantinya akan menyulitkanku di kemudian hari. Namun aku bisa bersyukur atas pilihanku untuk menyelamatkannya, karena aku masih belum merasakan aura jahat atau keinginan membunuh yang berasal dari Gil. Dengan seluruh luka dan lebam yang ada di sekujur tubuhnya, orang ini masih tidak menyimpan dendam kepada kami. Bukti bahwa Gil memang memiliki jiwa yang polos. "Aku ingin membantumu," kataku pelan, dengan mengangkat kedua tanganku. "Ada beberapa hal yang harus kau ketahui, dan aku tidak bisa melihat seorang manusia yang tidak belajar apa pun." "Karena aku adalah seorang elf, aku memiliki tanggung jawab untuk membantu manusia mempelajari banyak hal di Ueter yang luas ini. Kau juga berada di bawah tanggung jawabku, sehingga aku tidak bisa melihatmu mati sebelum tahu apa yang benar," sambungku. "Bagiku, kebenaran hanyalah semua yang dikatakan oleh para petinggi Ashtonas," balas Gil. Sorot matanya menunjukkan keraguannya, namun dia tetap memaksakan diri untuk menolakku. "Aku tidak tahu soal kebenaran atau kejahatan, karena aku tidak pernah diajarkan soal itu," akunya. "Namun aku tidak pernah meragukan para jenderal tinggi Ashtonas, akan keputusan yang mereka ambil." "Tujuanku hidup hanyalah untuk memenuhi semua perintah mereka. Aku tidak boleh lebih dari itu, atau malah memiliki pilihan sendiri. Seumur hidupku, aku hanya boleh tunduk kepada mereka," imbuhnya tegas. Jawaban dari Gil membuatku semakin ingin untuk mengajarkan sesuatu yang penting kepadanya. Aku tidak akan memaksakan pilihanku sebagai jalan hidupnya. Yang ingin kulakukan hanyalah mengajarkannya bahwa semua orang memiliki pilihan, dan setiap pilihan memiliki tanggung jawab. Para Ashtonas yang memimpin Gil adalah kumpulan orang jahat yang merampas hak seorang pribadi. Mereka bahkan menekankan kepada setiap Ashtonas bawahan mereka, untuk hidup hanya demi melakukan perintah. "Kau memiliki pilihan," terangku dengan suara rendah, namun jelas. "Setiap orang memiliki pilihan, dan semua pilihan selalu didasarkan oleh perasaann yang namanya cinta." "Jika kau mencintai para pemimpinmu, maka kau harus melakukan perintah mereka. Begitu juga sebaliknya. Jika kau tidak mencintai mereka, maka kau boleh memilih pilihan yang bertentangan dengan pilihan mereka," sambungku. Gil sedikit tersentak. Dia merogoh saku celananya, dan mengeluarkan kain penutup kepalanya. "Aku masih menyesal karena membiarkanmu hidup," katanya sembari memakai kain itu untuk menutupi seluruh kepalanya. Sekarang, dia tampak seperti saat pertama kami bertemu. Hanya dua bola mata birunya yang tampak dari sela kain itu. Aku sudah siap jika dia kembali menyerangku. Namun Gil malah menghilang dari hadapanku setelah sebuah cahaya yang sangat terang, menyinari tempat dia berdiri. Beberapa saat kemudian, cahaya matahari yang masih malu-mslu, muncul dari ufuk timur untuk sedikit menerangi lembah di dekat gunung Sodion. "Dia benar-benar jenderal Ashtonas," gumam Hunra dari belakangku.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN