Bab 23 - Identitas si Penyerang

1855 Kata
Mungkin aku harus mengubah jabatanku sebagai elf paling lemah, daripada seorang wakil jenderal klan Daeron. Selama beberapa hari terakhir, aku merasa bahwa kekuatanku sudah jauh meningkat. Tuan Daeron pasti bangga kepadaku, karena aku berhasil melakukan hampir semua ilmu yang diajarkannya kepadaku. Aberhasil membunuh seekor serangga raksasa di Hutan Hitam. Membantai ribuan Ogrotso di Votlior maupun Adijaya. Membunuh tujuh orang elf klan Zabash yang menyerangku. Terakhir, aku berhasil menahan gempuran serangan seekor singa raksasa berkulit tebal. Dari semua lawan yang telah aku hadapi, justri makhluk berkulit hampir transparan ini yang berhasil membuatku tersudut. Bahkan aku sudah tidak bisa lagi memikirkan cara untuk menang. Semua metode sudah aku lakukan. Aku berusaha melawannya dengan pedang-panahku dengan kecepatan tinggi. Namun orang ini terus menangkis seranganku. Darah yang terus keluar dari tubuhku akibat serangannya, juga tidak membuatku lebih kuat. Sepertinya orang ini mengoleskan racun di bilah pedangnya, agar aku tidak bisa menyembuhkan diri dan masuk ke mengakses kekuatan klan Zabash. Karena aku hanya memiliki setengah klan Zabash, maka aku tidak perlu meminum darah untuk bisa bertambah kuat. Hanya dengan luka di tubuhku, aku bisa menjadi kuat seperti para klan Zabash. Cara mengakses kekuatan yang terkesan lebih sederhana ketimbang klan Zabash. Padahal, aku bisa merasakan sakit dari lukaku, meskipun akhirnya pandanganku perlahan menjadi merah. Saat ini aku tidak bisa melakukannya. Kekuatan rahasia yang ingin aku sembunyikan dari semua orang, malah tidak muncul di saat yang penting. Bahkan saat aku mencoba untuk meminum darahku, kekuatan itu tidak juga muncul. "Ternyata kau memang memiliki darah klan Zabash," desah si pria transparan tanpa hidung. "Untungnya aku sudah menyiapkan penangkal untuk kekuatanmu. Kalau tidak, maka aku yang berada dalam bahaya." "Penangkal?" balasku lirih. Penglihatanku mulai kabur, bersamaan dengan tubuhku yang juga semakin melemah. Setiap serangan orang ini terus mengenaiku, dan memberi luka baru di tubuhku yang semakin membuatku kesakitan. Aku tidak pernah membayangkan diriku akan kalah karena kehabisan darah. Padahal selama ratusan tahun ini, hanya darah yang menyelamatkanku dari situasi genting. Si mata kuning menerjangku dari depan. Tenagaku sudah menurun, sehingga hal itu juga berdampak pada kecepatan serangan maupun tangkisanku. Saat aku mengangkat pedang untuk menangkis serangannya, orang ini tiba-tiba mengubah arah larinya ke sampingku. Gerakan mendadak yang terlalu biasa, jika aku berada dalam kondisi terbaikku. Masalahnya, aku sedang dalam titik terendahku. Dua bola mata kuningnya adalah pembeda dalam pertarungan ini. Dengan luka di sekujur tubuhku saja, aku sudah sulit untuk menghindarinya. Apalagi ditambah dengan kekuatan matanya yang bisa membuatku terdiam beberapa detik. Orang ini tidak menyerangku dengan mata pedang. Dia memakai telapak kakinya untuk menendangku, hingga aku berguling di lembah dingin dekat gunung Sodion. Pria berkukit transparan berjalan mendekat ke arahku yang terbaring lemah. Dia membalikkan tubuhku yang tengkurap dengan kakinya, sehingga aku bisa melihat wajahnya. "Kau adalah klan Zabash, tapi kau malah memiliki mata merah," gumamnya geli. "Bukankah mata merah adalah ciri khas klan Daeron, para elf yang katanya lebih kuat di malam hari?" Pria ini tidak hanya kuat dan memiliki kemampuan menyebalkan. Dia juga memiliki pengetahuan yang mumpuni soal banyak klan elf. Hanya dengan melihat warna mataku, dia tahu bahwa aku berasal dari klan Daeron. Tidak hanya soal ciri fisikku. Dia juga tahu bahwa aku memiliki kemampuan klan Zabash, saat aku sempat kebingungan karena darah yang keluar dari tubuhku. Orang ini bukan lawan yang bisa diabaikan. Sama seperti Tequr, dia bisa menjadi ancaman serius untuk Ueter. Kaki kanannya tiba-tiba menginjak perutku dengan keras, hingga aku hampir memutahkan semua makanan yang masuk ke perutku selama perjalanan ini. "Aku tidak pernah diabaikan oleh siapa pun. Jadi, jawab pertanyaanku," desisnya dengan seringai lebar. "Dari klan elf mana kau berasal?" Dengan sisa kekuatanku, aku membuka mulut untuk menjawabnya. "Sebaliknya, siapa kau?" balasku sengit. "Baru kali ini aku melihat manusia dengan kulit terlalu putih, dan mata kuning sepertimu." Pria itu berlutut di sebelahku. Dia menaikkan alisnya karena terkejut akan keberanianku, meskipun aku sudah di ujung nyawaku. "Kau menanyakan namaku, alih-alih memohon belas kasih dariku." Pria itu mendengus, lalu tertawa pelan. "Aku cukup menghormati keberanianmu yang salah tempat itu." Setelah melihat wajahnya lebih dekat, aku menyadari sesuatu yang mengerikan dari orang ini. Sejak dia membuka kain yang menutupi seluruh wajahnya, aku mengira bahwa kulit orang ini transparan. Di otakku, aku berpikir kalau dengan berdiri dekat dengannya, aku bisa melihat pembuluh darah yang mengalir di kepalanya, karena kulitnya yang transparan. Ternyata aku salah. Bukan transparan, tetapi kulit putih yang terbakar sinar matahari. Garis-garis merah yang ada di wajahnya bukanlah pembuluh darah, melainkan kulit yang terbakar. Sedangkan hidungnya yang hanya berupa dua lubang kecil, juga bukan diakibatkan oleh keturunan. Ada garis yang sangat jelas, bahwa seseorang memotong hidungnya hingga tersisa dua lubang menganga di wajahnya. "Aku akan menjawab pertanyaanmu, sebelum memenggal kepalamu," katanya geli. "Nama asliku adalah Salathil Gilxidor. Kau bisa memanggilku Gil, untuk terakhir kalinya. Sekarang aku adalah salah satu jenderal Ashtonas. Sudah cukup?" "Bukan hanya namamu, tapi juga identitasmu," rintihku. Seluruh tubuhku seperti dibakar, seolah darah yang mengalir di tubuhku telah berubah menjadi lelehan logam. Gil menoleh ke belakangnya, lalu kembali beralih kepadaku. "Kau menunggu seseorang datang, dengan mencoba mengulur waktuku?" tebaknya. Memang itu yang aku lakukan. Aku memang sedang mencoba untuk mengulur waktu, sambil berharap seseorang menyelamatkamku. Dengan kondisi tubuhku sekarang, aku tetap tidak akan menang melawan orang ini. Daripada Normen dan Yared, aku lebih berharap Hunra yang datang menyelamatkanku. Karena di antara ketiga orang itu, hanya Hunra yang menututku sanggup mengalahkan Gil. Anugerah Yared mungkin bisa menghentikan Gil, tetapi Gil juga memiliki mata dengan kekuatan yang mengerikan. Sedangkan tombak besar Normen pasti akan membuat energi pak tua itu terkuras habis. Kekuatan Hunra yang bisa membuat tubuhnya sendiri kebal, adalah kemampuan yang bisa menyulitkan Gil. Racun atau entah apa pun yang dia oleskan di pedangnya, tidak akan bisa masuk ke dalam tubuh Hunra. Karena secara teknik, Gil tidak terlalu hebat dalam berpedang. Cara paling mudah untuk mengalahkannya adalah dengan tidak melihat matanya, dan langsung menyerang dengan satu pukulan telak. Hanya Hunra yang bisa melakukannya. "Aku masih memiliki beberapa menit untuk aku habiskan bersamamu," ujar Gil santai. Dia duduk bersila di sebelahku, lalu dia meletakkan pedangnya di tempat yang agak jauh dariku. Bukan hanya licik dan cerdik, Gil juga memiliki sifat siaga yang membuatnya semakin menyebalkan. Orang ini memamg musuh tersulit yang pernah kuhadapi hingga saat ini. "Ashtonas, jelaskan kata itu padaku," ujarku dengan sisa tenaga di tenggorokanku. Gil mengelus dagunya dengan pelan. "Kau masih tidak mau memohon untuk keselamatanmu?" tanyanya. "Atau kau memang menunggu seseorang?" "Aku hanya ingin tahu identitas orang yang berhasil membunuhku," jawabku. Waktuku tinggal sedikit, karena dadaku sudah mulai sesak. Sebentar lagi, aku akan menjadi bintang yang menerangi Laustrowana. Tidak ada harapan untuk keselamatanku. Aku tidak menyesal karena mencoba menemui Hunra, meskipun kematianku akhirnya terasa sangat sepi. Setidaknya aku bisa mengetahui identitas ras aneh yang berhasil mengalahkanku secara telak. "Tentara matahari," kata Gil sambil menaikkan sebelah sudut bibirnya. "Ashtonas adalah tentara matahari. Kumpulan orang-orang kuat dari berbagai ras, yang dikumpulkan oleh Tuan Baal. Tugas kami adalah terus berlatih hingga perang besar terjadi." Aku membuka mulutku untuk mengatakan sesuatu, namun Gil menutup mulutku. "Aku tahu pertanyaanmu," katanya. "Kau pasti terkejut jika aku mengatakan perang besar di Adijaya hanyalah sebuah perang kecil, dibandingkan perang besar yang kami siapkan." "Kau tahu? Aku bisa dibunuh oleh para jenderal dengan pangkat lebih tinggi, jika mereka memergokiku mengatakan semua rahasia ini kepadamu. Karena itu jangan mencoba kabur, agar aku tidak diburu oleh rasku sendiri." "Jujur, aku sudah sangat bosan dengan rutinitasku yang hanya selalu berlatih. Aku ingin melawan seseorang yang kuat. Seseorang yang bisa membuatku berdarah dan kesakitan di dalam sebuah pertarungan. Karena itu aku mengambil misi ini." Gil mengarahkan pandangannya ke langit malam Laustrowana. "Kau adalah misi pertamaku, juga orang pertama yang harus kubunuh sejak aku menjadi Ashtonas," desahnya. "Padahal aku mulai menyukaimu, karena kau sama sekali tidak takut untuk mati." Pujiannya yang terselubung membuatku tertawa pelan. Sebuah kesalahan bodoh, karena tertawa malah membuat dadaku semakin sesak, dan seluruh tubuhku seolah dihantam sesuatu yang besar. Inilah alasannya aku tidak merasakan aura jahat yang menguar dari orang ini. Gil hanya seorang manusia biasa yang dipaksa hidup untuk menjadi sebuah senjata, bagi kelompok yang menyebut diri mereka sebagai tentara matahari. Semua hal yang dia perlihatkan selagi melawanku, bukan menunjukkan kegembiraannya untuk membunuhku. Dia hanya terlalu senang, karena akhirnya menemukan lawan yang sepadan bagi dirinya, sekaligus membuatnya mengeluarkan kemampuan terbaik yang dia miliki. Salathil Gilxidor adalah pribadi paling murni yang pernah aku temui. Satu-satunya alasan Gil hidup adalah untuk menaati perintah pemimpinnya, dan hidup sebagai senjata pembunuh. Orang seperti Gil adalah pribadi yang paling mudah untuk dimanipulasi oleh para orator ulung. Andai saja aku mengajaknya berbicara lebih awal, mungkin ada kemungkinan untuk dirinya bisa berubah. Karena seumur hidup berlatih, Gil masih belum tahu mana yang baik atau jahat. Dia hanya menjalankan perintah. Beberapa saat lalu, aku sudah pasrah akan kematianku. Namun setelah mendengar cerita anak ini, keinginanku untuk hidup malah kembali menguat. Sebagai seorang elf, aku memiliki tanggung jawab sejak zaman dahulu kala. Yaitu mengajarkan sesuatu yang baik kepada manusia. Itulah tujuan elf diciptakan. Aku memang sangat membenci manusia dan segala yang mereka buat. Tetapi ada beberapa manusia yang bisa memenangkan hatiku, sehingga aku malah menjaga mereka dengan seluruh nyawaku. Salah satunya adalah Vhirlass Udhokh. Dengan wujud fisiknya yang jauh dari wujud seorang manusia, aku tetap bisa merasakan bahwa Gil juga adalah manusia. Aku merasa bertanggung jawab untuk semua hal yang dia lakukan, tanpa tahu esensi dari baik dan jahat. Melihat raut wajah Gil yang memandangku sayu, membuatku ingin hidup lebih lama lagi. "Kau masih tetap akan membunuhku?" tanyaku. Suaraku begitu pelan dan serak, karena seluruh tenagaku sudah hampir habis. "Sayangnya begitu," jawab Gil. Aku bersumpah bahwa aku bisa merasakan dilema dan perasaan sedih dari dua kata yang dia ucapkan padaku. Namun semuanya sudah terlambat. Gil tidak memiliki pilihan lain, karena dia hanya menuruti perintah seumur hidupnya. Dia beranjak berdiri, sembari mengambil pedangnya yang tergeletak cukup jauh. Gil siap untuk membunuhku. PRANGG!! Sesuatu dari belakang Gil, menabrak pedang yang berada di genggamannya. Dia terkejut, namun tidak ada seorang pun yang menerjangnya setelah serangan mendadak itu. Benda yang menabrak pedang ramping milik Gil, hanyalah sebuah pengalih perhatian. Aku menyadarinya saat sesuatu yang tampak seperti biji buah salak, menggelinding di sebelahku. Sejak tadi, tidak ada satu pun benda yang berada di sebelahku. Itulah alasanku meyakini bahwa benda kecil ini adalah alasan dibalik benda yang menabrak pedang Gil dengan keras. Aku mengambil benda kecil berwarna biru itu dengan gerakan yang sangat pelan, agar Gil tidak menyadarinya. Meskipun tampak keras, benda kecil ini ternyata memiliki tekstur yang lembut. Apakah seseorang mengirimkan benda ini agar aku bisa memakannya? "Makan itu, dan aku akan menahan orang ini sampai kau pulih!" seru sebuah suara. Gil juga mendengar suara itu, sehingga dia mengenggam pedangnya lebih erat. Aku merasa bahwa suara itu tidak asing di telingaku, tetapi aku tidak bisa mengingat pemiliknya. Sekarang pilihan ada di tanganku. Benda biru di tanganku ini mungkin bisa memulihkanku dari racun Gil, atau malah mempercepat kematianku. Suara yang tidak asing, bukan berarti milik orang yang berada di pihakku. Aku juga bisa mengenali suara musuh-musuh lamaku. Aku mengambil keputusan di waktu yang sempit. Dengan sisa tenagaku, aku mengarahkan jemariku yang menggenggam benda kecil itu ke mulutku. Seperti pujian Gil kepadaku beberapa saat lalu, aku akan tetap menjadi Eleandil yang biasanya. Elf yang tidak takut akan kematian.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN