Bab 22 - Lembah Sodion

2009 Kata
Namanya adalah Hunra En Caino. Salah satu anggota kelompok Serdadu Juri-ore yang tinggal di Laustrowana. Saat Tequr baru saja keluar dari Tekoa, aku sempat menanyakan kekhawatiranku kepada Tuan Daeron. Aku merasa bahwa keluarnya Tequr dari Tekoa, adalah pertanda buruk untuk desa kami. Tuan Daeron menjawab pertanyaanku secara diam-diam. Dia berkata bahwa dia mengenal pihak yang bisa membantu klannya, jika ada serangan dari luar. Saat itu, yang ada di pikiranku adalah sebuah pasukan besar yang bisa membantu kami dalam perang. Hingga akhirnya, Tuan Daeron memberiku pesan sebelum aku pergi ke Hutan Hitam bagian utara saat Donater Utara masih berdiri kokoh. Hunra En Caino. Hanya itu pesan yang disampaikan Tuan Daeron kepadaku. Dan pesan itu ternyata adalah nubuat atau ramalan yang sungguh terjadi. Seseorang menyelamatkanku dari serangan seekor laba-laba raksasa di Hutan Hitam bagian utara. Sampai sekarang, aku masih mengingat wujud orang itu. Dia adalah seorang pria yang cukup tampan, dengan hidung mancung dan dua mata yang lebar dengan bola mata berwarna biru muda. Pria itu memiliki janggut tipis yang tumbuh di dagunya, dan rahang yang tegas. Rambutnya yang tampak acak-acakan berwarna hitam legam. Beberapa helai rambut berwarna perak, tumbuh di sela-sela rambut hitamnya. Pakaian yang dia kenakan saat itu, terlihat cukup mencolok di mataku. Dia memakai kemeja berwarna merah menyala dengan baju zirah dari perak yang sangat mengkilat. Untuk melindungi telapak kakinya, dia mengenakan sepasang sepatu dengan ujung sedikit lancip yang juga berwarna merah. Cara bertarungnya juga sama anehnya dengan penampilannya. Orang itu beberapa kali membiarkan laba-laba raksasa untuk menyerang tubuhnya. Namun bukannya kesakitan atau terlempar jauh, dia malah tampak jauh lebih kuat. Dengan metode terima pukulan dan memukul lebih keras, orang itu berhasil membuat seekor laba-laba raksasa Hutan Hitam jatuh pingsan selama beberapa jam. Dan yang mengejutkanku adalah dia mengulurkan tangannya padaku dengan wajah yang tenang. "Hunra En Caino," katanya sambil tersenyum ramah padaku. "Aku adalah perisai bagi Serdadu Juri-ore, dan pedang bagi klan Daeron." Sebagai seorang elf muda yang masih belum memiliki setitik kebijakan, aku malah mengangkat pedangku ke arahnya. Sebuah kesalahan bodoh yang selalu dilakukan para pemula. Aku menyerang Hunra dengan mata pedangku. Sama seperti serangan sang laba-laba yang tidak membuat Hunra kesakitan, begitu juga dengan seranganku. Pria itu malah mendongak kepadaku, setelah melihat pedang yang seharusnya merobek kulitnya malah terlempar jauh. "Kau adalah elf klan Daeron?" tanyanya. "Bukan urusanmu," balasku tajam. Saat itu, aku masih tidak bisa memercayai siapa pun yang bukan dari klanku. Sifat khas dari seorang murid yang baru saja menerima tanggung jawab. Tuan Daeron tidak mengajarkanku untuk memiliki sifat rasis. Saat itu yang ada di pikiranku adalah tetap murni sesuai dengan ajaran Tuan Daeron. Aku mengartikan bahwa kemurnian akan dicapai dengan tindakan untuk mengasingkan diri dari ras lain. Kesimpulan bodoh lain, yang harus aku sesali di kemudian hari. Hunra tidak menyerangku. Pria itu malah melihatku dengan tatapan kosong yang penuh kebingungan. Saat itu aku merasa bahwa tatapan Hunra sangat meremehkanku, sehingga aku malah kembali menyerangnya dengan pedangku. Hasilnya tetap sama. Hunra tidak membalas seranganku, dan setiap seranganku tidak berhasil melukainya. Aku yang diliputi rasa bingung dan frustrasi, malah terus menyerangnya hingga aku kehabisan energi. Kulit Hunra yang seolah terbuat dari logam, malah membuatku jatuh terlentang karena kehabisan tenaga. Sebuah kejadian yang layak dicatat sejarah sebagai momen paling memalukan yang dilakukan seorang elf, di depan seorang manusia. "Sudah selesai?" tanya Hunra yang melihatku sambil berdiri. Napasku yang terengah-engah membuatku tidak bisa menjawab pertanyaan Hunra. Yang bisa aku lakukan saat itu adalah mengangkat jari telunjukku, untuk membuat isyarat yang meminta Hunra menungguku sebentar. Setelah menahan semua seranganku tanpa memiliki satu pun luka, Hunra malah menyetujui permintaanku. Pria itu duduk di sebelahku yang sedang berbaring, untuk menungguku kembali bernapas normal. Harga diriku sebagai seorang elf membuatku bisa mengatur napasku lebih cepat. "Kenapa kau tidak menyerangku?" sergahku sambil mendudukkan diriku. "Karena kau adalah bagian dari Klan Daeron," jawab Hunra. "Sesuai apa yang kau dengar beberapa saat lalu dari mulutku. Aku adalah pedang bagi Klan Daeron." Aku tidak tahu maksud dari perkataannya. Namun orang ini tidak mengatakan kebohongan sedikit pun. Semua yang dia katakan adalah kejujuran. Rasa penasaranku yang kelewat tinggi, membuatku menanyakan kepadanya soal Tuan Daeron dan bagaimana dia bisa menjadi pedang untuk klan kami. "Nona Orodreth, ketua kelompokku, memintaku untuk melindungi Adon selama beberapa tahun, sebelum aku kembali ke Laustrowana," jawabnya. "Dan tempat terburuk di pulau ini adalah Hutan Hitam." "Aku berhasil mengalahkan banyak makhluk yang hidup di sini dan mengganggu ras di luar hutan ini. Namun tidak dengan para orc dari timur yang tinggal di sini. Mereka terlalu kuat, jika aku menghadapi mereka sendirian." "Saat itulah pemimpinmu, Daeron, datang untuk membantuku." Hunra tersenyum setelah mengingat soal Tuan Daeron. "Dia membantuku kabur ke luar hutan ini, dan membunuh banyak orc yang menyerangku." "Pertolongannya membuatku merasa harus membalasnya dengan sesuatu. Begitulah aku berjanji padanya untuk menjadi pedang bagi klannya. Aku akan datang begitu klan Daeron diserang oleh pihak luar," sambungnya. Selepas itu, Hunra pergi dari Hutan Hitam dan aku tidak pernah melihatnya kembali. Mungkin sudah lebih dari satu abad, sejak kunjungan terakhirnya ke Tekoa. Untungnya aku mengingat pesan Hunra saat terakhir kali aku bertemu dengannya. "Laustrowana, dekat gunung Sodion," katanya lirih sebelum pergi dari Hutan Hitam. Dan sekarang di sinilah aku berada. Dekat dengan gunung bernama Sodion, rumah Hunra. Kali ini aku yang mengunjunginya, setelah beberapa kali dia mengunjungi Tekoa. Gunung Sodion yang tadinya hanya sebuah siluet, sekarang sudah menjulang tinggi di depanku dan menampakkan kemegahannya. Aku harus mengabarkan kepada Hunra soal kedatangan Tequr ke Laustrowana, sekaligus tentang Valerio yang tiba-tiba menjadi tersangka utama kasus pembunuhan berantai di Al-Valayne. Dua kejadian yang menurutku sangat berhubungan, meskipun aku belum bisa menghubungkan keduanya. Semoga Hunra bisa memberi jawaban akan keraguanku. Di alam liar Laustrowana, aku bisa merasakan sebuah perbedaan yang sangat berbanding terbalik antara pulau ini dengan Adon. Aura kejahatan. Alam liar Adon selalu menguarkan suasana mencekam dan aura jahat, meskipun matahari masih bersinar di atas kami. Setiap hutan, desa, kota, gunung, atau lembah di Adon, tidak ada yang bisa disebut aman. Fokus dan siaga penuh, adalah dua sikap yang harus aku terapkan di Adon. Laustrowana sepenuhnya berbeda. Bahkan di gunung Alcyne pun, aku tidak merasakan aura jahat dan gelap yang kuat. Padahal di gunung itu kami bertemu klan Zabash, kumpulan pria berjubah hitam, dan seekor singa raksasa. Namun ketiganya tidak membuatku merinding. Mereka hanya melindungi tempat tinggal mereka, sehingga yang bisa mereka lakukan adalah menyerangku dan dua temanku. Sebuah pertahanan diri yang biasa, tanpa memiliki niat membunuh sama sekali. Lembah dekat gunung Sodion juga sama seperti di gunung Alcyne. Aku tidak merasakan aura jahat di udara, meskipun Aldcera sempat memperingatkanku agar tidak pergi ke gunung Sodion. Aku tidak tahu alasannya melarangku ke sini. Kemampuanku sebagai elf malah merasakan sebaliknya. Gunung Sodion adalah tempat yang sangat aman. WUSHHH!! Angin berdesing cepat melewati telinga kananku, yang ternyata berasal dari sebuah anak panah. Kegesitanku sebagai seorang elf, berhasil menyelamatkan kepalaku sendiri. Anak panah itu menancap di depan kudaku. Sehingga kuda ini langsung meringkik karena ketakutan. Hewan ini bukan Hunjar yang sudah terbiasa dengan suasana perang. Bahkan saat aku turun dari punggung kuda ini, dia langsung berlari ke arah teman-temanku berada. Selain Hunjar, tidak ada lagi hewan yang setia padaku. Dengan menunggangi kuda, aku bisa sampai di gunung Sodion dalam beberapa menit. Sedangkan dengan berjalan kaki, mungkin aku butuh waktu dua kali lipat lebih lama. Sayangnya aku terlalu cepat untuk menyimpulkan. Lembah dekat gunung Sodion, tidak seaman dugaanku. Aku bisa merasakan seseorang mendekat ke arahku dengan kecepatan tinggi. Dari caranya berlari, aku tahu kalau dia bersiap untuk menyerangku dengan satu kali gerakan. Sebuah tindakan yang bodoh, jika menyerang seorang elf malam saat matahari sudah sepenuhnya terbenam. Aku melemparkan tubuhku ke samping, tepat di saat pedang si penyerang seharusnya merobek pinggangku. Namun aku tidak hanya berniat untuk menghindar. Dengan senjataku yang memiliki dua bentuk, aku memilih memakai busur panah dan menembakkan sebuah anak panah ke orang yang menyerangku. Pertarungan bisa saja tidak berlangsung lebih panjang, jika penyerangku tidak bergerak dengan gesit. Nyatanya, dia bisa menghindari lesakan anak panah dari busurku. Kami berdua saling beradu pandang dengan jarak yang tidak terlalu jauh. Dia memegang sebilah pedang yang panjang namun ramping. Sedangkan di tanganku terdapat busur panah, yang dengan cepat bisa kuubah menjadi pedang. Dengan mata merah yang aku dapat dari beradaptasi dalam Hutan Hitam, aku bisa melihat orang yang menyerangku dengan jelas. Si penyerang memakai penutup kepala berwarna putih yang hanya menampakkan kedua matanya. Sedangkan dia memakai setelan berwarna abu-abu, dengan sepatu tinggi yang memiliki sol tebal. "Apa yang kau inginkan?" tanyaku. Orang itu malah meregangkan tubuhnya dengan tenang. Namun dia tetap memincingkan kedua matanya kepadaku. Sorot mata yang tidak mengandung kebencian, tetapi menguarkan aura membunuh yang sangat jelas. "Aku membutuhkan kepalamu!" serunya dengan suara yang mirip dengan bunyi batok kelapa yang pecah. Dia kembali menerjangku dengan kecepatan yang lebih tinggi lagi. Aku tidak bisa menggunakan busur, karena orang ini mengincar pertarungan jarak dekat. Karena itu, aku menggunakan pedang untuk melawannya. Teknik berpedang orang ini tidak terlalu baik. Dia menutupi kelemahan di tekniknya dengan kecepatan geraknya yang sangat mengagumkan. Bahkan aku yang adalah seorang elf, hampir tidak bisa mengikuti kecepatannya. Selama beberapa menit menangkis serangannya, aku sudah bisa merencanakan metode untuk mengalahkannya. Aku harus memastikan rencana di otakku berhasil, atau aku malah akan dikalahkan oleh orang ini. Aku hanya perlu menunggu momen yang tepat, sambil mengalihkan perhatiannya. "Kau tidak bisa memakai pedang dengan baik," desahku. Aku terus melangkah mundur setiap kali menerima serangannya. "Kau tidak akan bisa mengalahkanku, dengan teknik rendahan seperti ini." Orang ini tidak merespon kalimatku sama sekali. Sepertinya, dia memang hanya menjalankan perintah untuk membunuhku, sehingga dia bisa tetap bertarung dengan tenang. Karena mencoba untuk membuat orang ini dikuasai emosi sudah gagal, maka aku harus mencoba cara lain yang lebih beresiko. Menyerangnya secara langsung. Aku menangkis serangannya, lalu mendorong pedangnya hingga ujung kedua senjata kami menyentuh tanah. Aku melompat untuk menendang kepala orang ini, dengan bertumpu pada pedangku. Dia bisa menghindari tendanganku. Tepat sesuai dugaanku, karena aku tidak mengincar serangan yang melumpuhkannya. Tapi sebuah serangan yang akan langsung membunuhnya. Saat dia menunduk untuk menghindari tendanganku, aku menggunakan waktu sempit itu untuk melompatinya dan mengubah pedangku menjadi busur panah. Aku memasang anak panah di busurku, dan mengincar leher belakangnya. Kesempatan yang mungkin tidak akan kudapatkan lagi. Aku mengendurkan jari tanganku untuk melepaskan anak panah dari jarak dekat. Seharusnya, tidak ada seorang pun yang bisa menahan atau menghindari seranganku. Dan orang ini adalah pribadi pertama yang bisa melakukannya. Seolah memiliki mata di belakang kepalanya, dia menangkis anak panah dari busurku hanya dengan pedangnya yang ramping. Sebuah penghinaan untuk serangan yang aku bangun dengan susah payah. Selagi aku mendarat di tanah, dia berbalik menghadapku sambil tertawa geli. "Aku tidak bisa menggunakan pedang dengan baik?" cibirnya. "Cobalah untuk menghindari seranganku ini." Tidak ada waktu untuk beristirahat, karena dia kembali berlari ke arahku. Busur panah di tanganku kukembalikan ke bentuk pedang, untuk bersiap menerima serangannya. Namun ada sesuatu yang aneh kurasakan dari orang ini. Kedua matanya yang berwarna biru muda, berubah menjadi kuning terang, secepat larinya ke arahku. Baru kali ini aku melihat orang yang bisa mengubah warna matanya. "Siapa kau?" sergahku saat pedang kami saling beradu. "Orang yang akan mencabut nyawamu," desisnya. Aku bahkan bisa merasakan senyuman di balik kain yang menutupi wajahnya. Sorot mata dan nada geli saat menjawabku, seharusnya membuktikan bahwa orang ini tidak hanya melakukan perintah. Namun aku masih tidak bisa merasakan aura jahat darinya. Apakah ada orang yang bisa memalsukan kejahatan dalam dirinya dari kepekaan seorang elf? Ternyata mata kuningnya memiliki sebuah efek yang cukup kuat. Tubuhku tidak bisa bergerak selama beberapa saat, sehingga serangannya akhirnya bisa melukaiku. Darah keluar dari lenganku. Untuk pertama kalinya aku merasakan sakit yang luar biasa, saat tubuhku berdarah. Padahal aku selalu bertambah kuat, saat darah leluar dari tubuhku. "Kau bingung?" cibir orang itu. Dia membuka kain yang menutupi wajahnya, sehingga aku bisa melihat bagian lain di wajahnya selain kedua matanya. Wajah dengan kulit putih yang hampir transparan. Rambut hitam berwarna abu-abu yang sama dengan pakaiannya. Juga mulut yang agak teelalu besar, jika dibandingkan dengan wajahnya. Yang paling parah, di tempat seharusnya sebuah hidung mencuat di wajahnya, malah hanya terdapat dua lubang kecil. "Bersyukurlah, karena kau mati di tangan seorang jenderal Ashtonas," desisnya sebelum kembali menerjangku.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN