Bab 21 - Perjalanan ke Ibukota

1967 Kata
"Kau yakin dengan keputusan Aldcera?" tanyaku pada Normen. Si prajurit tua dari Donater tidak menjawab pertanyaanku. Dia hanya merengut sambil duduk menghadap ke luar jendela di kamarku. Dari raut wajahnya, aku tahu kalau Normen tidak akan menjawab pertanyaanku. Valerio si tersangka utama, masih berada di dalam rumah Zafra dengan penjagaan ketat oleh Aldcera dan dibantu oleh warga sekitar. Sedangkan Zafra yang sudah sadar, malah langsung pergi dengan kuda untuk menemui Ezra di kampung halaman mereka. Kami bertiga memutuskan kembali ke penginapan milik Kinbold, karena banyaknya orang yang sudah menjaga Valerio. Normen juga sudah memastikan bahwa Valerio terikat cukup kencang, agar dia tidak bisa kabur lagi. Yifn. Sebuah kota yang ada di selatan Rowyn sekaligus ibukota kerajaan Alcyne. Ke kota itulah Aldcera akan membawa Valerio untuk diadili. Keputusan yang tepat, di waktu yang belum tepat. Menurutku masih banyak hal yang perlu kita tahu dari Valerio, sebelum melemparkannya ke balik jeruji besi, atau malah membiarkannya dihukum mati. Teror di Al-Valayne mungkin akan selesai, dengan dipenjaranya Valerio. Tapi itu hanyalah mungkin. Kami hanya menangkap Valerio yang berusaha membunuh, dan memaksakan diri untuk menculik Zafra. Tidak ada bukti bahwa Valerio adalah si pencuri wajah yang membunuh puluhan warga tak bersalah. Aku sangat yakin bahwa Valerio tidak akan mengaku di depan hakim atau juri yang ada di Yifn. Pria itu tidak memiliki rasa takut sama sekali. Bahkan dia akan tertawa jika dijatuhi hukuman mati. Mungkin Normen benar. Ada seseorang yang mengendalikan Valerio, dan membuatnya menjadi kaki tangannya. Entah kami harus menemukan orang yang bersembunyi dalam kegelapan itu, atau fokus mencari Tequr. "Sekarang bagaimana?" tanya Yared. Pemuda itu sudah menggigit apel yang entah dari mana. "Kita akan ke Yifn, atau mencari Tequr?" Saat aku meliriknya, Yared melemparkan satu buah apel kepadaku. "Menurutku, kita harus menyelidiki soal Valerio lebih lanjut. Aku merasa bahwa Tequr ambil bagian di kasus ini," imbuhnya. Aku menggigit apel berwarna hijau yang ada di tanganku, sambil memikirkan pendapat Yared. Aku percaya bahwa Eol meneruskan pesan Tuan Daeron agar aku mencari Tequr, dan itulah alasan kami ada di Laustrowana. Namun aku juga merasakan hal yang sama dengan Yared. Kasus ini tidak bisa aku abaikan begitu saja. Mungkin di ujung kasus ini, kami tidak akan bertemu dengan Tequr. Tapi aku sangat yakin kalau Tequr memiliki bagian penting. Entah dia berhubungan dengan Valerio, atau sesuatu yang lain. Karena di kasus pembunuhan berantai ini bukan hanya soal menangkap si pembunuh, melainkan juga memecahkan misteri dari alasan si pembunuh menguliti wajah korbannya. Apa yang akan dia lakukan dengan kulit wajah dari korban-korbannya? "Bagaimana pendapatmu, El?" tanya Normen yang membuatku sedikit terkejut. Meskipun kami bertiga baru saja menjadi teman akibat singa raksasa di gunung Alcyne, tetap saja aku masih tidak terbiasa jika Normen menanyakan pendapatku. Di antara kami bertiga, hanya Normenlah yang paling terbiasa memimpin. Dia sudah biasa mengambil keputusan, dan membuat semua orang mengikuti keputusannya. Namun dalam beberapa hari terakhir, dia cukup sering menanyakan pendapatku, atau Yared untuk hal-hal yang seharusnya bisa dia putuskan. Akhirnya selama beberapa hari terakhir, aku dan Yared pun juga ikut merencanakan tindakan yang akan kami ambil. "Aku setuju dengan Yared," kataku. "Kita perlu mencari tahu lebih jauh soal Valerio. Aku sangat yakin ada sesuatu yang tersembunyi di balik semua ini." Normen melangkah ke arahku, lalu mengambil apel yang sudah setengah kumakan dari tanganku. "Kalau begitu, kita harus menemui Aldcera untuk ikut ke Yifn," putus Normen sambil menggigit apel di tangannya. Tepat setelah Normen membuat keputusan untuk menemui Aldcera, pintu kamarku terbuka lebar. Wajah Aldcera yang tampak masam, memberi isyarat pada kami untuk tetap diam. "Kalian bisa menunggangi kuda?" tanya si prajurit Alva dengan nada rendah. Aku dan Normen saling beradu pandang dengan bingung. Pertanyaan dari Aldcera tidak terdengar seperti sebuah rahasia yang perlu disembunyikan. "Aku tidak bisa," ujar Yared sambil mengangkat tangannya tinggi. "Pinjami kami dua kuda saja. Satu untuk El, dan satu untukku dan Normen." Aldcera mengangguk kaku, lalu berbalik untuk keluar dari kamar kami. "Pakai pakaian terbaik kalian, karena kalian akan ikut ke Yifn sebagai saksi di depan Perdana Menteri," katanya sebelum menutup pintu kamarku. "Kita berangkat saat fajar hampir menyingsing." Sepertinya para Xenia sedang tersenyum kepada kami, karena Aldcera malah mendatangi kami untuk memberi izin ke Yifn, selagi kami berniat untuk menemuinya. Sebuah kebetulan yang menyenangkan. "Dia akan memberi kita kuda, kan?" tanya Yared kepada Normen. Si prajurit tua itu mengangkat dua bahunya. "Mungkin iya," jawab Normen. "Atau mungkin kita harus kembali berjalan kaki. Intinya kita harus ke Yifn, kan?" Yared menghembuskan napas berat sambil mengangguk lemah. "Ternyata menjadi orang baik itu sangat menyusahkan," gerutunya. "Selalu ada perasaan tidak enak yang muncul di hati kita, karena tidak melakukan yang terbaik." "Semoga Val bisa membuka rahasianya saat kita berada di Yifn. Aku takut Tequr sudah melakukan banyak hal, selagi kita mengurus kasus ini," imbuhnya. Normen mendorong Yared pelan ke arah pintu kamarku. "Sebaiknya kita istirahat sejenak, untuk memulihkan energi sebelum ke Yifn," usul Normen sembari berjalan keluar dari kamarku. "Fajar esok hari mungkin akan terasa sedikit lebih panjang." ***** Aku bangun dari tidurku sebelum fajar menyingsing. Sebentar lagi adalah hari ketigaku berada di Laustrowana. Dua ekor kuda berwarna hitam sudah menungguku dan dua temanku di depan penginapan Kinbold. Yared sedang meregangkan tubuhnya sambil menghirup banyak udara pagi yang masih segar. Sedangkan Normen berdiri agak jauh di persimpangan jalan. Aku mengelus leher kuda yang paling dekat denganku, agar membuatnya nyaman berada di dekatku. Aku lega karena Aldcera memberi kami tunggangan. Melihat kuda ini membuatku merindukan Hunjar yang sejak lama selalu bersamaku. Aku harap dia baik-baik saja di Adon. Beberapa saat kemudian, tiga ekor kuda datang dari sisi timur desa Rowyn. Aldcera menunggangi kuda yang berada di baris paling depan. Di kirinya terdapat Valerio yang wajahnya ditutupi oleh kain berwarna hitam dan tangannya diikatkan ke tali kekang si kuda. Dia didudukkan di belakang seorang pria kekar yang bertugas mengendalikan kuda itu. Di sisi kanan Aldcera, ada dua orang pria dengan pakaian yang identik dengan milik Aldcera. Mungkin Aldcera memanggil para petugas Alva yang sedang bertugas, untuk membantunya membawa Valerio ke Yifn. Sudah seharusnya banyak orang menjaga Valerio, mengingat betapa berbahayanya pria itu. Aldcera melambaikan tangannya padaku dan Yared, dengan wajah datarnya yang menyebalkan. Dia turun dari kudanya di depan Normen Harv. Normen dan Aldcera berbincang sebentar, sebelum Normen berjalan ke arah kami sambil mengedipkan sebelah matanya. "Kita akan mengikuti mereka," katanya. "Tetap jaga jarak, agar kita tidak tertinggal." "Kau tidak memeriksa tali yang mengikat Valerio?" tanya Yared. Pemuda itu naik ke atas punggung kuda di depannya, setelah Normen menaiki kuda itu. "Dia bisa saja menghilang saat kita lengah." "Dia tidak akan bisa melakukannya," selaku. "Untuk masuk ke dalam bayangan, maka diperlukan sebuah tujuan. Dengan mata yang ditutup, Val tidak akan bisa melihat tujuannya." Yared mengangguk pelan setelah mendengar penjelasanku. Meskipun aku tidak memiliki kemampuan untuk berpindah menggunakan bayangan, aku terlalu sering melihat Lass dan Eol menggunakannya. Karena itu, aku bisa mengerti bahwa butuh fokus dan tujuan yang jelas untuk berpindah. Dengan pimpinan Aldcera, kami memulai perjalanan ke Yifn, yang adalah ibukota Alcyne. Semoga Yifn adalah kota yang ramah, sehingga kami bisa menginap di sana untuk malam ini. Aku ragu jika Normen masih memiliki koin yang cukup untuk membayar sewa kamar kami, setelah dia membayar banyak koin untuk membeli informasi dari Kinbold. Menunggangi kuda memang membuatku terhindar dari kelelahan. Namun karena kuda yang kami tunggangi adalah hewan biasa, maka kecepatan tertinggi hewan-hewan ini tetap saja tidak terlalu mengesankan. Menurut Aldcera, kita akan sampai di Yifn dalam waktu dua hari, yang berarti ada dua malam yang harus kami habiskan di tanah tak bertuan antara Rowyn dan Yifn. Serindu apa pun aku dengan suasana hutan, tidur di kasur yang empuk tetap jauh lebih baik. Waktu berlalu begitu cepat. Fajar yang baru saja menyingsing beberapa saat lalu, sudah hampir berada di sisi barat dan siap untuk kembali terbenam. Perlahan, malam hari yang menandakan akhir dari hari pertama perjalanan kami, sudah menyergap kami. Kami berada di tanah gersang dengan pepohonan yang jarang. Untungnya Aldcera yang menjadi pemimpin kami. Urusan makanan dan tempat tinggal, sang petugas Alva akan menuntun kami untuk mendapatkannya. Tak butuh waktu lama bagi Aldcera untuk menemukan sebuah pohon besar dengan akar yang menggantung, sebagai tempat peristirahatan kami. "Jika kalian menunggang sekitar 10 menit, maka kalian akan menemukan banyak nanas dan kentang liar di arah sana," ujar Aldcera sambil menunjuk sesuatu yang jauh di arah barat. "Kita akan istirahat di bawah pohon ini," sambungnya. "Seperti hari ini, kita akan berangkat sebelum fajar menyingsing. Aku ingin sampai di Yifn sebelum matahari terbenam." Di belakang Aldcera, dua orang petugas Alva mulai menurunkan Valerio dari atas punggung kuda. Mereka menyandarkan penjahat itu ke batang pohon besar ini, dan mengikat kedua kakinya ke tali kekang kuda terdekat. Sebuah cara yang efektif untuk memperi peringatan bagi kami, jika Valerio tiba-tiba mencoba untuk kabur selagi kami beristirahat dalam damai. "Dia akan diberi makan?" tanyaku sambil menatap Valerio yang hanya berdiam diri, dengan wajah yang tersembunyi di balik kain hitam. "Tidak," jawab Aldcera cepat. "Penjara Yifn yang akan memberinya makan. Dia tidak akan mati, meskipun kita tidak memberinya makan. Aku akan memastikan Valerio tetap hidup untuk menyesali semua perbuatannya." Sorot mata penuh amarah yang dimiliki oleh Aldcera, membuatku teringat akan Eleanar. Mungkin beginilah wajahku saat Lass menemukan Eleanar, dan memutuskan untuk ikut berperang demi membunuh Tequr. Aku mengangguk kepada Aldcera, dan pria itu kembali ke teman-temannya. Meskipun aku mengerti alasan dibalik kemarahannya, tekadku untuk menemukan rahasia Valerio juga sudah bulat. Saat para petugas Alva tertidur, aku akan menanyai Valerio secara pribadi. "Mau ikut kami?" tanya Normen dari belakangku secara mendadak. Di tangannya yang berkeriput, Normen menggenggam sebilah pisau besar yang tidak pernah aku lihat. Sedangkan Yared hanya membawa pisau sedang, yang sering dia pakai untuk bertarung. "Ke mana?" tanyaku. Normen menunjuk ke sesuatu di arah barat. Arah yang ditunjuk oleh Aldcera sebagai sebuah tempat dengan banyak nanas dan kentang, untuk perut yang lapar. Aku tidak menyadari siluet hitam di arah barat, saat Aldcera menunjuknya. Kali ini aku menyadari siluet sebuah gunung besar yang ada di sebelah barat kami, karena aku sudah bisa fokus. "Itu gunung apa?" tanyaku. Normen mengangkat kedua bahunya. Di sebelahnya, Yared juga menggelengkan kepalanya dengan bangga. Kalau dua orang ini tidak tahu, maka aku seharusnya menanyakannya kepada penduduk asli Laustrowana. "Itu gunung apa!?" seruku kepada Aldcera yang masih terjaga di samping teman-temannya. Aldcera membalas pertanyaanku dengan berteriak kencang, "Sodion! Jangan sampai berada di dekat sana, karena suku yang tinggal di dekat Sodion, tidak memiliki belas kasih untuk orang asing!" "Suku?" gumam Yared. "Seperti klan Daeron di Hutan Hitam, dan klan Zabash di gunung Alcyne? Begitukah?" Pertanyaan Yared hanya melewati telingaku. Aku merasa pernah mendengar soal Sodion, namun aku tidak ingat waktu dan tempatnya. Seseorang mengatakan kepadaku, bahwa di Sodion ada seorang yang dekat dengan para elf tinggal di gunung itu. "Jadi berangkat?" tanya Normen untuk memecah keheningan. Aku merebut pisau besar dari tangannya. "Aku akan berangkat sendiri," tegasku. "Kalian bisa menungguku di sini, karena aku akan membawa banyak nanas dan kentang untuk dimakan." Normen mencegahku pergi untuk mengambil kudaku. "Kau bisa pergi ke gunung itu dengan membawa senjatamu," bisiknya di telingaku. "Aku dan Yared akan mencari alasan untuk kepergianmu." Aku melirik prajurit tua itu tajam. "Dari mana kau tahu?" tanyaku terkejut. "Kau bisa membaca pikiranku?" Hanya sisi kiri bibir prajurit tua itu yang naik. "Aku bisa menebak dari gelagatmu, El," jawabnya geli. "Aku tahu karaktermu. Lebih baik tidak menahanmu, jika kau sudah menentukan sikap." Malam ini adalah pertama kalinya aku menyadari bahwa ada orang lain di luar klan Daeron yang bisa aku percaya, selain Lass dan Amicia. Orang itu adalah Normen Harv. Aku mengembalikan pisau besarnya, dan bergegas untuk ke tempat kudaku tidur. Saat aku melewati Yared, pemuda itu juga mengatakan, 'jangan sampai mati!' tanpa suara. Mungkin aku akan terlambat sampai di Yifn. Tapi aku tidak bisa mundur, setelah ingatan di otakku perlahan kembali terkumpul. Aku berharap cerita Tuan Daeron masih berlaku. Karena orang yang akan aku temui di dekat gunung itu, adalah seseorang yang sangat kuat.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN