Pria dibalik jubah hitam itu berlari begitu cepat, meskipun tubuhnya agak sedikit gendut.
Aku dan Normen yang bisa berlari cepat, langsung memacu diri kami untuk segera mengejarnya. Di belakang kami, ada Aldcera yang hampir menyamai kecepatan kami.
"Kejar dia, aku akan mencoba menebak rute pelariannya!" seru Yared yang berada jauh di belakang kami.
Karena aku sedikit melihat wajahnya di jendela rumah Zafra, aku bisa mengerti kalau dia memang seorang pria. Dan aku berharap kalau identitas orang ini bukan seseorang yang ada di pikiranku.
Arah yang dituju pria berjubah hitam itu adalah timur. Dia pasti berniat untuk lari keluar dari desa Rowyn. Aku tidak boleh melepaskannya.
"El!" seru Normen yang berada sedikit di belakangku. "Bukankah kekuatannya sama dengan milik Eol dan Lass!?"
"Mereka berdua tidak mungkin ada di sini!" balasku cepat. "Selamatkan Zafra lebih dulu!"
Perintahku kepada Normen harus segera aku tarik, karena aku tidak melihat pria berjubah itu sedang membawa Zafra. Dia pasti menyembunyikan Zafra di suatu tempat.
"Aku tahu! Jika dia adalah Lass atau Eol, maka dia pasti akan menyambut kita!" timpal Normen. "Terus kejar dia, aku akan mengambil jalur lain!"
Setelah memberi perintah aneh kepadaku, Normen malah berbelok tajam ke arah kiri. Aku tidak tahu apa yang dipikirkan oleh prajurit tua itu. Yang harus aku lakukan adalah menangkap orang berjubah hitam yang sudah tidak jauh dari depanku.
Tanpa Normen di sebelahku, aku tidak perlu menahan diriku. Kedua kakiku sudah terbiasa untuk berlari lebih cepat dari sekarang, dan aku akan melakukannya demi menangkap orang ini.
Tersangka utama kasus pembunuhan ini sudah berhasil melewati gerbang timur Rowyn yang tidak memiliki penjaga. Alasannya sederhana, lahan peternakan yang luas terhampar di luar gerbang Rowyn.
Aku terus memaksa kakiku untuk berlari lebih cepat lagi, karena pria itu sudah berada dalam jarak tangkapanku. Dan tiba-tiba pria itu menghilang dalam bayangannya sendiri. Sebuah kekuatan yang seperti kata Normen, begitu mirip dengan milik Lass maupun Eol.
"Sebelah sini!" seru Normen dari sebelah kiriku. Aku melihat prajurit tua itu sangat dekat dengan orang yang kami kejar, namun saat Normen hampir menangkapnya, pria berjubah hitam itu kembali menghilang.
Beberapa detik kemudian, tersangka utama kami muncul tak jauh di belakang Normen. Prajurit tua itu pasti butuh waktu untuk mengubah arah larinya, sedangkan aku tidak perlu melakukannya.
Aku kembali berlari ke arah musuh kami, sambil berseru nyaring, "Di sini!"
Yang membuatku terkejut adalah Aldcera yang tadinya ada di belakangku, malah terus berlari melawan arah yang aku ambil.
Saat dia berpapasan denganku, Aldcera berkata pelan, "Pojokkan dia." Sebuah ide cemerlang hanya dengan melihat Normen menutup jalur lari di sebelah utara.
Kami sudah menemukan peran masing-masing dalam pengejaran ini. Aku sebagai yang paling cepat di antara mereka, akan bertugas untuk mengejar orang ini ke arah mana pun.
Tak butuh waktu lama setelah kami mendapatkan strategi yang tepat. Dengan Normen dari sisi kiri, Aldcera dari kanan, dan aku yang terus mengejarnya, kami bisa semakin mempersempit rute si tersangka untuk menghilang dalam bayangan.
"Dia tidak bisa berpindah lebih jauh!" seruku. "Berjagalah untuk bisa langsung mengejarnya!"
Dugaanku tepat, karena tersangka yang kami kejar malah muncul di depanku. Aku langsung memukul wajahnya, dan dia jatuh terlentang sambil memegangi hidungnya.
Namun aku belum selesai. Aku memuntir lengannya ke belakang dan memastikan kalau dia tidak akan bisa kabur lagi.
Pria itu mengerang kesakitan, namun aku tetap memegangi kedua tangannya, agar dia tidak bisa melakukan apa pun.
Normen, Aldcera, dan Yared (yang entah dari mana), bergabung denganku tepat waktu. Sebuah pukulan keras ke wajah pria berjubah hitam dari Aldcera membuatnya terhuyung.
Sang petugas Alva juga tidak menunggu lebih lama untuk membuka jubah yang menutupi wajah si tersangka. Dan kami semua langsung terkejut saat melihat identitasnya.
Sosok yang berada di balik jubah hitam ini bukan Kinbold, Ezra, atau Hugbert. Melainkan seseorang yang seharusnya sudah mati kemarin pagi. Valerio, penjaga gerbang utara Rowyn.
"Ternyata semua ini ulahmu," desis Aldcera sambil melayangkan sebuah tinju ke perut Valerio yang entah bagaimana masih hidup dengan tubuh yang lengkap.
Sebelum Aldcera menghajar Val lebih keras lagi, Normen menahan pukulan sang petugas Alva. "Tenangkan dirimu, karena kita membutuhkan kesaksiannya," ucap Normen. Prajurit tua itu beralih padaku. "Kita harus membawanya ke tempat yang sepi, sehingga tidak ada warga yang melihatnya."
Perkaataan Normen langsung direspon oleh Yared. Dia mengambil jubah Val yang tergelak di tanah, dan memakaikan benda itu kepada Val. "Dengan jubah ini, tidak akan ada yang bisa melihat wajahnya," ujar Yared bangga.
Normen memimpin jalan kami dengan berada di baris paling depan, untuk menutupi Valerio. Sedangkan aku tetap berada di belakang Val untuk menahan tangannya, dengan Aldcera dan Yared berada di kedua sisi Valerio.
Kami tidak perlu membahas tempat untuk mengurung Valerio, karena masih ada sesuatu yang perlu kami tahu dari pria ini. Keberadaan Zafra yang dia ambil di depan kami, harus lebih dulu dia katakan.
Saat menginjakkan kaki di rumah Zafra, Normen langsung menyusuri rumah untuk mencari sesuatu. Aldcera mengambil kursi dan mendudukkan Val di kursi itu. Sedangkan Yared langsung menutup pintu dan gorden setiap jendela.
Normen kembali dari dapur Zafra dengan membawa seutas tali putih. Prajurit tua itu segera mengarahkan dua tangan Val ke belakang kursi, dan mengikatnya menjadi satu.
Setelah Normen memastikan kedua tangan Val terikat dengan kencang, Aldcera kembali melayangkan pukulan keras ke wajah Val.
"Ternyata kau yang membunuh anakku, setelah aku memberimu jabatan sebagai penjaga gerbang," geram Aldcera sebelum dia kembali memukul wajah Valerio.
Tidak ada yang menghentikan Aldcera. Dia terus memukuli wajah Valerio yang tertutup jubah hitam, sembari terus mengumpat dengan berbagai macam jenis.
Aku tidak menyukai pemandangan ini. Tapi aku juga tidak bisa menghentikan Aldcera.
Saat kau menemukan pembunuh putrimu adalah orang yang kau percaya, maka yang bisa kau lakukan untuk meredakan sedikit kesedihanmu adalah dengan melampiaskannya. Saat ini, aku, Normen, dan Yared memberi ruang untuk Aldcera.
Tepat sepuluh pukulan mendarat di wajah Valerio, sebelum Aldcera akhirnya berhenti. Dia mengangguk lemah padaku dan Normen, lalu melangkah mundur dari depan Valerio.
Valerio terbatuk dan meludahkan banyak darah ke lantai rumah Zafra. Semoga darahnya tidak memiliki bekas yang terlalu kentara. Aku akan sangat merasa bersalah, jika memberikan hadiah ke Zafra berupa darah kering di lantai rumahnya.
Aldcera tetap mengeraskan wajahnya, agar tangisnya tidak pecah. Dia terus melangkah mundur hingga punggungnya bersentuhan dengan dinding rumah Zafra.
"Sekarang giliran kami, Tuan Valerio," kataku sambil membuka tudung kepalanya. "Aku sedikit berharap wajahmu masih baik-baik saja."
Valerio tidak hanya sekedar baik-baik saja. Dia malah mendongak ke arahku, sambil memberi senyum lebar yang menampakkan deretan giginya yang penuh darah. Perlahan, suara tawa mulai terdengar darinya.
"Tuan Aldcera, mengapa kau berhenti memukulku!?" pekik Valerio sambil melihat Aldcera. Dia bahkan tertawa terbahak-bahak . "Kau takut jika kau malah akan membunuhku?"
Aku memegang dagu Valerio, dan mengarahkan wajahnya agar melihatku lagi. "Aku sudah mengatakannya," kataku pelan. "Sekarang, adalah giliran kami."
"Apa bedanya?" cibir Valerio dengan mulut yang penuh darah. Dia bahkan meludahkan darahnya ke kemeja hijauku yang sudah terlanjur kotor. "Kalian hanya sekumpulan sampah dari Adon. Aku tidak takut kepada kalian!"
"Memang kau tidak seharusnya takut," sela Normen. Prajurit tua itu mendorongku mundur dengan pelan. "Yang perlu kau takutkan adalah siksaan dari pemimpinmu, karena kau tertangkap oleh kami."
Valerio beralih kepada Normen, dan menatap prajurit tua itu dengan tajam. "Aku adalah pemimpin untuk diriku sendiri," geramnya. "Dan aku tidak tertangkap oleh kalian. Sebaliknya, aku membiarkan kalian menangkapku."
Aldcera sudah merangsek maju untuk kembali melayangkan pukulan ke wajah Valerio. Namun Yared berhasil menghadang si petugas Alva dengan seluruh kekuatannya.
"Aku tidak perlu berbasa-basi denganmu," ucap Normen lirih. Dia mendekatkan wajahnya ke wajah Valerio, hingga hidung mereka hampir bersentuhan. "Katakan di mana pemimpinmu, dan kau akan mati tanpa rasa sakit."
Ancaman Normen tidak berdampak apa pun kepada Valerio. Dia malah memandang kedua mata Normen dengan sangat tenang, sambil tersenyum. Aku bisa merasakan bahwa perasaan Valerio sudah mati, dan yang tersisa adalah kekejamannya.
Aku tidak mengerti alasan Normen mengatakan Valerio memiliki pemimpin. Padahal kita sudah menangkap basah dirinya menculik Zafra, dan berusaha kabur dari kejaran kami. Semua fakta itu sudah cukup untuk membuktikan bahwa dia adalah pemeran utama di seluruh kasus yang terjadi di sini.
Orang ini bahkan berpikiran untuk memalsukan kematiannya, demi bergerak lebih mudah dan menghilangkan semua kecurigaan yang ada padanya.
Jika dugaan Normen adalah kebenaran, maka aku tidak bisa membayangkan kekejaman dari si pemimpin dari Valerio, hingga anak buahnya saja bisa seperti ini.
Selama beberapa saat, kedua orang itu hanya saling beradu pandangan tanpa berbicara satu patah kata pun. Namun aku bisa merasakan ketegangan yang ada di antara mereka.
"Valerio, putra Valeator, sebaiknya kau menjawab pertanyaanku," desis Normen di telinga Val. Normen menekan jakun Valerio yang tersembunyi di antara lemak lehernya, hingga Val sangat kesulitan untuk berbicara, apalagi tertawa.
Yang dilakukan Normen lebih kejam daripada Aldcera, meskipun tindakannya tidak membuat Val berdarah banyak. Penjahat itu sudah tidak terlihat tenang, karena kedua kaki maupun tangannya hanya bisa menegang.
Normen terus menekan jakun Valerio sampai kedua mata penjahat itu memerah. Aku menghentikan Normen, karena melihat Val yang sudah tidak bisa menahan sakitnya.
Valerio harus terbatuk cukup lama, hingga dia bisa kembali bernapas dengan normal. "Kau gila!" desah Val dengan napas yang masih terlalu cepat. "Kau seharusnya membunuhku, daripada melakukan hal bodoh seperti itu!"
"Hal bodoh yang membuatmu ketakutan?" balas Normen. "Ternyata kau tidak seberani itu. Aku kecewa melihatmu hampir menyerah, hanya karena aku menekan pita suaramu."
"Bagaimana kau bisa tahan dengan orang yang memerintahkanmu, jika kau kalah hanya dengan sedikit tekanan dariku," imbuh Normen sambil tertawa pelan.
"Kita harus menanyakan soal Zafra kepadanya," bisikku ke telinga Normen.
Prajurit tua itu mengangguk pelan. Dia mendekat ke depan Val sekali lagi, sambil menggosok mata kanannya. "Kau membawa Zafra ke tempat aman?"
Valerio meludah ke lantai di depan sepatu Normen. "Aku sudah mengembalikan anak itu ke kamarnya," jawab Val. "Dia bukan targetku. Aku tidak akan membunuh orang yang bukan targetku."
Yared langsung bergegas ke kamar Zafra setelah mendengar jawaban Valerio. Setelah membuka pintu kamar itu, Yared mengacungkan jempolnya pada kami, sebelum masuk ke dalam kamar itu.
Ada kejanggalan dibalik tindakan Valerio yang mengembalikan Zafra. Dia memaksakan diri untuk mengambil Zafra di depan kami, dan akhirnya malah mengembalikan orang yang dia culik, dengan alasan bahwa Zafra bukan targetnya.
Bukan hanya itu. Valerio memiliki kemampuan untuk menghilang dalam bayangan seperti yang biasa dilakukan Eol atau Lass, namun dia seolah tidak bisa memakai kemampuan itu untuk jarak yang jauh.
Lalu bagaimana dengan mayat di depan gerbang utara itu, jika Valerio masih hidup dengan sehat? Apakah dia membunuh orang lain dan menguliti wajahnya, hanya untuk memalsukan kematiannya sendiri?
Menangkap Valerio tidak memecahkan semua misteri yang ada. Kami masih perlu petunjuk lain, yang bisa menjelaskan setiap hal aneh yang ada di depan kami.
"Kalian sudah selesai?" ucap Val dengan pelan. Mungkin pita suaranya masih sakit, sehingga yang muncul dari mulutnya adalah suara serak. "Kalau kalian sudah selesai, maka cepat bawa aku ke Yifn, agar aku bisa segera dipenjara atau dihukum mati."
"Kau menantangku?" sergah Aldcera.
"Aku menantangmu!" balas Val, sebelum kembali terbatuk cukup keras. "Penjarakan aku, atau biarkan aku mendapat hukuman mati!"
Aldcera melangkah mendekat ke arah Valerio. Petugas Alva itu menyejajarkan wajahnya dengan wajah Valerio yang sedang duduk. "Aku terima tantanganmu," ujar Aldcera. "Hari ini, aku akan membawamu ke Yifn."