Yared dan Normen datang hampir bersamaan, beberapa jam setelah Ezra keluar dari kamarku.
Normen tidak berhasil menemukan Hugbert, meskipun dia sudah mengetuk pintu setiap rumah yang ada di selatan.
Sedangkan Yared tidak mendapat apa pun dari misi mengikuti Kinbold secara diam-diam. Pemilik penginapan itu hanya berbelanja bahan makanan, dan beberapa kota minuman, untuk mengisi rak di lantai bawah.
Kegagalan dua orang itu menjadikanku sebagai satu-satunya yang berhasil untuk menggali informasi dari targetku, Ezra.
Tanpa pikir panjang, aku menceritakan semua hal yang dikatakan Ezra padaku, berikut cerita dari sisi kakaknya. Dua orang teman baruku ini mendengarkan ceritaku dengan seksama, sampai aku selesai bercerita.
"Jalan buntu lagi?" gerutu Yared sambil mendengus kesal.
Meskipun aku mendapat banyak informasi dari Ezra, semua informasi itu tidak terlalu berguna untuk mencari si pembunuh.
Normen memang sudah mempersempit tersangka menjadi tiga orang, namun bukan berarti si pembunuh berada di antara mereka bertiga. Itu hanya dugaan sementara, berdasarkan apa yang kami temukan dari mayat Valerio.
Masih ada terlalu banyak kemungkinan yang ada di depan kami. Ada alasan mengapa kasus ini tidak bisa selesai selama empat bulan terakhir.
Si pembunuh melakukan aksinya dengan sangat rapi, sehingga para penyidik di kerajaan ini pun, tidak bisa menangkapnya dengan semua sumber daya yang ada. Dan kami bertiga malah menerima tugas bodoh ini, tanpa pikir panjang.
"Apakah tidak ada tersangka lain, selain tiga orang ini?" dengus Yared tak sabar.
Normen masih berjalan bolak balik di dekat pintu kamarku, dan sesekali menatap langit-langit kamarku dalam diam. Prajurit tua itu pasti merasa bertanggung jawab karena membuat kami terjebak di situasi yang rumit ini.
Seandainya dia tidak membuat perjanjian yang tak bisa dilanggar dengan Aldcera, maka kami bisa kabur dari tugas ini, dan segera mencari Tequr. Sayangnya dia melakukan perjanjian itu, demi membuat Aldcera percaya.
Kami semua hanya bisa mengunci mulut, karena tidak ada kemajuan dalam penyelidikan ini. Yang kami lakukan sejauh ini hanya berjalan di tempat, dengan menangkap orang-orang yang sama sekali tidak berkepentingan.
Kecurigaan terbesar memang terletak kepada Kinbold, namun baik Yared maupun Normen tidak berani menuduh si pemilik penginapan karena aku sudah memastikan bahwa yang dia katakan adalah kejujuran. Hingga detik ini, aku juga masih menganggap Kinbold berkata jujur.
"Begini, bukankah kita sudah memastikan bahwa buku ini adalah milik Kinbold?" sergah Yared untuk memecah keheningan. "Lalu, apa lagi yang kita tunggu? Kita hanya perlu membawanya ke sini, dan memaksanya untuk berkata jujur!"
Normen melirik ke arahku, lalu memberi isyarat dengan kepalanya. Dia memintaku untuk menjawab usul Yared.
"Tidak bisa," jawabku. "Memiliki buku itu, tidak langsung menjadikan Kinbold sebagai tersangka. Aku mencurigainya terlibat dalam pembunuhan Val, tapi aku sangat yakin bahwa dia bukan si pembunuh."
"Memang bukan," timpal Normen dari dekat pintu kamarku. Aku dan Yared langsung beralih kepada prajurit tua itu. Normen hanya menaikkan alisnya dengan tenang, meskipun mendapatkan tatapan tajam dari kami berdua.
"Si pembunuh adalah orang yang mahir dalam menggunakan pedang, sehingga luka di tubuh Valerio terlihat seperti luka yang dibuat secara asal-asalan," papar Normen. "Dan Kinbold bukanlah seseorang yang pandai menggunakan pedang."
"Kau sudah mengajak Kinbold bertarung satu lawan satu denganmu?" timpal Yared.
Sudut bibir Normen melengkung kecil. "Tidak perlu mengajaknya bertarung," balasnya pelan. "Aku bisa menilai kemampuan berpedang seseorang, hanya dengan melihatnya menggenggam atau memungut sesuatu."
Aku mencoba mengingat semua hal yang kami lakukan kepada Kinbold, terutama tentang apa yang Normen lakukan kepada si pemilik penginapan itu. Dan aku mengingatnya. Koin Novas.
Meskipun aku tidak terlalu hebat dalam berpedang, namun aku juga bisa menilai kemampuan seseorang dalam menggunakan pedang. Dari cara Kinbold memungut koin di lantai kamar ini, aku tidak bisa melihat kemampuan berpedang dalam dirinya. Atau mungkin dia menyembunyikan kemampuannya.
"Aku setuju," timpalku. "Kinbold bukan seseorang yang bisa memainkan pedang. Dia mungkin terlibat di kasus ini, tapi dia pasti bukanlah pembunuhnya."
Normen mengangguk ke arahku sambil melemparkan senyum bangga. "Aku memiliki sebuah dugaan," katanya. "Tapi aku tidak bisa mengatakannya sekarang. Kita bertiga harus memastikan dugaanku ini nanti malam."
Yared mengangkat tangan kanannya. "Jika kita akan bergerak nanti malam, bukankah lebih baik mengikut sertakan Ezra?" usulnya. "Dengan dia berada di sisi kita, maka dia bisa menghapus semua kecurigaan kepadanya."
"Sebaliknya, dugaanku ini malah tidak boleh diketahui oleh kedua putra Ezmar," balas Normen. "Karena kemungkinan besar, salah satu dari mereka berdua akan diincar oleh si pencuri wajah nanti malam."
"Kau memiliki dugaan hingga sedetail itu?" sergahku.
Normen mengangguk tegas. "Hanya saja, aku belum bisa menceritakan dugaanku hingga kita memastikannya sendiri," jawabnya. "Bagaimana, kalian mau ikut?"
Tanpa aba-aba, aku dan Yared mengangguk bersamaan. "Katakan di mana kita akan beraksi?" tanyaku.
"Rumah Zafra," jawab Normen. Lalu, prajurit tua itu memelankan suaranya. "Aku dan El akan mengawasi rumah itu dari jauh, sedangkan Yared akan mengikuti kemana pun Kinbold pergi."
"Ini masih tentang Kinbold?" bisik Yared penasaran.
"Mungkin," balas Normen. "Kita akan memastikannya nanti malam, tepat setelah penjaga gerbang pengganti Valerio menjemput kita."
Normen keluar dari kamarku setelah mengatakan rencananya. Yared juga mengikuti langkah prajurit tua itu, meskipun wajahnya memperlihatkan kebingungan.
Selepas kepergian mereka berdua, aku mengintip ke desa Rowyn melalui jendela kamarku. Matahari siang masih menyinari desa ini, meskipun tadi pagi sebuah pembunuhan keji telah terjadi di gerbang utara.
Beberapa warga desa juga sudah mulai berjualan di jalanan desa. Sebuah pemandangan yang sangat jauh berbeda dengan desaku, Tekoa.
Tekoa tidak pernah meremehkan kematian seseorang. Para elf yang meninggal akan selalu mendapat ritual pemakaman dan pembakaran yang layak. Begitu pun kerabat elf yang meninggal di luar Tekoa, seperti Eleanar.
Aku sudah beberapa kali datang ke kota maupun desa manusia, dan cara mereka memperlakukan kematian atau musibah yang menimpa tetangga mereka tetap sama.
Para manusia hanya akan menonton, lalu pulang sambil membicarakan orang yang telah mati. Beberapa jam kemudian, mereka akan melupakan orang yang mati, dan kembali melanjutkan hidup. Salah satu sifat yang aku benci dari manusia.
Melihat warga desa ini tidak melakukan upacara duka sama sekali, membuatku merasa iba kepada Valerio. Pria itu sudah menjadi target si pembunuh dari awal, namun kematiannya seolah bukan sesuatu yang besar.
Padahal dia adalah penjaga gerbang utara desa ini. Dialah orang pertama yang akan menemui orang asing, atau memperingatkan bahaya yang datang dari utara. Dan balasan para warga desa ini hanya menonton mayatnya.
Aku berjanji kepada diriku sendiri, kalau aku akan menangkap pembunuh itu. Setidaknya aku akan memberi keadilan kepada Valerio.
Malam hari tiba dengan cepat. Yared adalah orang pertama yang datang ke kamarku dengan membawa semangkuk besar sup jagung. Beberapa saat setelah kedatangan Yared, Normen juga datang membawa tiga buah kentang rebus yang masih mengepulkan asap.
"Kita masih harus menunggu beberapa jam lagi," ujar Normen dengan mulut yang penuh dengan kentang rebus. "Yared bisa mulai mengawasi Kinbold, setelah kita selesai makan."
"Aku sudah mengawasi Kinbold sejak tadi siang," balas Yared. Pemuda itu menyeruput sup jagung dengan rakus. "Dia tidak pergi kemana pun. Atau mungkin dia tahu kalau aku sedang mengawasinya?"
"Dia tahu?" timpal Normen dengan mata membelalak.
"Mungkin," jawab Yared. "Kinbold beberapa kali melihatku dari balik meja panjangnya, dan memberikan senyum aneh padaku."
Normen tiba-tiba meletakkan kentang rebus yang baru setengah dia makan, di atas piringnya. "Tinggalkan makanan kalian!" perintahnya sembari memakai jubah hitam. "Si pembunuh mungkin mengubah jadwalnya, karena Yared ketahuan mengawasi Kinbold."
"Karena aku?" pekik Yared yang masih tak rela meninggalkan sup jagungnya.
Aku menarik lengan pemuda itu, dan segera menuruni tangga penginapan. Aku melihat Kinbold di balik meja panjangnya, sesaat sebelum aku keluar dari penginapan.
Di luar penginapan, Normen menambah kecepatannya dan mulai berlari ke sisi timur desa Rowyn. "El, pimpin jalan!" serunya padaku.
Tanpa mengetahui alasanku harua berlari, aku tetap menjaga kecepatanku agar tetap berada di sebelah Normen. Seperti biasa, Yared tertinggal cukup jauh di belakang kami. Namun saat aku menoleh kepadanya, dia malah menyuruhku untuk tetap berlari.
Kami berhasil sampai di depan rumah Zafra tak lama setelah keluar dari penginapan. Dari luar, rumah milik Zafra terlihat biasa saja. Malahan aku sedikit tidak enak jika kami malah mengganggu tidur Zafra.
Namun penampilan luar dari rumah Zafra tidak membuat Normen berhenti. Prajurit tua itu langsung bergegas ke pintu rumah, dan mencoba membuka pintu itu dengan paksa. Dan secara kebetulan, pintu itu tidak terkunci.
Aku menunggu Yared sampai, dan setelah itu kami berdua ikut masuk ke rumah Zafra. Di dalam rumah, ada dua orang yang berdiri diam seolah kaki mereka berakar sangat dalam, dan seseorang yang terbaring di lantai dengan bersimbah darah.
Salah satu dari yang berdiri adalah Normen Harv, karena aku masih bisa mengenali bentuk tubuh sekaligus jubah hitamnya dari belakang. Satu orang lagi yang berdiri adalah seorang pria yang memakai baju panjang berwarna abu-abu. Dia berdiri di sebelah orang yang terbaring itu.
"Itu Aldcera," gumam Yared dengan napas yang masih tersengal. "Mengapa dia ada di sini?"
Tidak butuh waktu lama untuk membuktikan ucapan Yared, karena saat orang itu membalikkan badan menghadap kami, dia memang Aldcera. Sedangkan orang yang terbaring di sebelahnya adalah Zafra.
"Dia hampir mati," ujar Aldcera dingin, sembari menunjuk Zafra. Aku mendekat ke orang yang terbaring itu, dan Zafra yang penuh darah memang masih bernapas lemah.
"Yared, bantu aku!" seruku. Yared langsung mendekat kepadaku dan membantuku mengangkat Yared.
Aku menunjuk ke kursi panjang di dekat kami. "Taruh dia di sana, aku akan mencoba menyembuhkannya!"
Meskipun aku tidak mengerti alasan keberadaan Aldcera di Rowyn, juga alasannya tidak segera menolong Zafra, aku bisa menanyakan soal itu nanti. Sekarang prioritasku adalah menyelamatkan Zafra.
Aku membuka kemeja Zafra dengan kasar, untuk mencari sumber lukanya yang mengakibatkan darah keluar begitu banyak dari tubuhnya. Aku menemukan sumber lukanya. Sebuah luka sayatan yang tidak terlalu besar ada di bawah d**a kirinya.
"Luka ini tidak akan membuat seseorang mati," gumam Yared.
"Memang benar," timpal Aldcera pelan. "Karena itu aku tidak segera menolongnya, karena aku menunggu sang pembunuh melakukan aksi pamungkasnya."
"Sayangnya kalian datang dengan wajah lugu, dan membuat pembunuh itu mengurungkan niatnya. Kunjunganku ke Rowyn malah menjadi sia-sia akibat kalian. Mungkin inilah kesempatan pertama dan terakhir untuk menangkap pembunuh itu," sambungnya kesal.
Di rumahnya, aku bisa menahan setiap serangan yang dilancarkan Aldcera padaku. Saat itu alasanku hanya semata-mata karena etika. Aku tidak mungkin menyerang orang yang telah memberi kami makan, di saat kami begitu kelaparan.
Namun amarahku terhadap Aldcera sudah hampir mencapai batas, karena dia berani mengorbankan seorang manusia hanya untuk menangkap si pembunuh. Satu-satunya sifat manusia yang tidak akan aku ampuni adalah keegoisan.
Aku berhasil menutup luka Zafra dengan sihir hutan sederhana. Setelahnya, aku beranjak berdiri dan melangkah ke depan Aldcera. "Kau ingin menangkap seorang pembunuh dengan menjadi pembunuh?" tanyaku tajam.
Aldcera mendengus pelan. "Seorang elf yang terbiasa hidup di dalam hutannya sendiri, tidak akan mengerti rasanya diteror oleh seorang pembunuh," balasnya ketus sambil tertawa geli. "Kalian adalah ras paling munafik di seluruh Ueter."
"Berjanji untuk tidak membunuh, namun kalian selalu berada di barisan paling depan saat berperang. Berjanji untuk terus berkata jujur, namun kalian juga selalu berbohong saat ada kesempatan." Aldcera mengetuk dadaku dengan pelan. "Menganggap diri kalian sebagai ras yang agung, padahal kalian tidak melakukan apa pun untuk Ueter."
"Aldcera, sebaiknya kau menutup mulutmu," desah Normen sambil menutup pintu rumah Zafra. "Kau tidak layak mengatakan apa pun, saat kau memang berencana membunuh Zafra."
"Apakah kau juga mengatakan hal itu kepada semua orang dari wangsa Knox yang telah kau bunuh dengan keji?" sergah Aldcera dengan senyum yang lebih lebar lagi.
Aldcera menunjuk kami bertiga dengan sorot mata liar. "Kalian bertiga menggagalkan semua rencanaku malam ini," desisnya. "Dan sekarang kalian malah mengajarkan etika kepadaku. Apa kalian tidak malu?"
"Oi Pak Tua!" bentak Yared. Dia mendorongku pelan, dan menggantikanku berdiri di hadapan Aldcera. "Kau sebaiknya berhenti, atau nyawamu akan melayang!"
Aldcera menggigit bibirnya. Napasnya semakin cepat, seolah sedang menahan kemarahan dalam dirinya. "Hanya itu ancaman terbaikmu?" cemoohnya. "Aku bahkan tidak peduli jika aku harus mati sekarang. Ancaman seperti itu tidak membuatku takut sama sekali."
Aku hampir menyerang Aldcera, saat sebuah siluet hitam di luar jendela rumah ini, tertangkap oleh kedua mataku. Dengan mataku yang terbiasa di Hutan Hitam aku bahkan bisa melihat wajah siluet itu meskipun hanya sekilas.
Siluet yang tadinya berada di luar rumah, tiba-tiba muncul di sebelah Zafra yang baru saja sembuh. Lalu, keduanya menghilang dari depanku.
Tanpa pikir panjang, aku langsung berlari mengejar siluet itu. "Dia mengambil Zafra!" raungku.