Sayangnya, raungan Zafra bukan ditujukan untukku.
Tepat setelah dia membuka pintu rumahnya, sebuah siluet seorang pria melewatiku dengan cepat. Aku bisa melihatnya sekilas, bahwa dia adalah pria muda berambut hitam cepak, dengan langkah yang diseret. Pria itu pasti Ezra.
Aku bergegas berlari untuk mengejar siluet itu, namun aku mendapatkan hadangan pertama. Zafra berada di depan pintu, dan menghalangi jalan keluarku.
"Jangan menghalangiku, atau kau akan kesakitan," desisku tajam.
Zafra menelan ludah. Bukannya menyingkir dari jalan keluar, pria ini malah mengeluarkan sebuah pisau dari saku celananya. "Aku akan menahan Anda selama mungkin, hingga Ezra bisa kabur sejauh mungkin dari sini," balasnya lirih
Bola mata Zafra tidak bergetar sepertj beberapa saat lalu, dan raut wajahnya menunjukkan bahwa tekadnya sudah bulat. Tanpa kemampuan bertarung yang mumpuni, dia akan benar-benar menahanku selama mungkin.
Tapi aku tidak memiliki waktu untuk berlama-lama di sini. Sama dengan tekadnya untuk menahanku, aku juga memiliki tekad untuk menangkap si pencuri wajah. Dan Ezra yang kabur dariku, mungkin memegang kunci untuk memecahkan misteri ini.
Aku lebih dulu menyerang Zafra dengan tangan kosong. Pukulan pertamaku memang sengaja kupelankan, agar dia bisa menghindarinya. Karena tujuanku bukan untuk menyakiti Zafra, tetapi menjatuhkannya.
Selagi dia menghindar dari pukulanku, aku menendang kakinya cukup keras, hingga dia jatuh terjerembab. Aku menyelesaikannya dengan memukul wajahnya sekali, untuk membuat dia pingsan.
Selepas berhasil membuat Zafra tak sadarkan diri, aku bergegas keluar untuk mengejar Ezra. Pria itu tidak akan bisa berlari jauh dengan kaki yang cacat.
Di luar rumah Zafra, keadaan desa Rowyn masih sama seperti sebelum aku masuk ke rumahnya. Untungnya keributan yang kami buat di dalam rumah ini, tidak terdengar ke telinga warga.
Matahari mulai sudah sangat terik di atasku, dan di kejauhan aku bisa melihat siluet seseorang yang berlari dengan kaki yang menyeret. Ezra tidak mengarah ke sisi timur desa ini, melainkan ke sisi utara Rowyn.
Seharusnya dia berlari ke timur jika ingin menghindariku. Karena rumah kakaknya tidak terlalu jauh dari gerbang timur Rowyn. Ezra benar-benar menyia-nyiakan tekad kuat kakaknya untuk memberi waktu baginya kabur.
Kecepatanku tidak akan bisa disaingi oleh manusia mana pun, apalagi hanya seorang pria dengan kaki kanan yang tidak bisa melangkah dengan benar. Hanya saja, Ezra sungguh membuat kakaknya tampak bodoh untuk melawanku, dan adik yang dia sayangi malah tertangkap di tengah kota.
"Saranku, kau tidak perlu lari lebih jauh lagi," bisikku saat sampai di sebelah Ezra. Aku merangkulkan tanganku ke bahunya, dan memukul perutnya cukup keras.
Ezra terbatuk karena pukulanku, namun aku masih belum selesai dengannya. Aku membawanya secara paksa ke penginapan milik Kinbold, sembari terus memberikan pukulan jika dia mulai bergerak untuk melawanku.
Para warga Rowyn yang tadi melihatku dengan tatapan curiga, sudah tidak ada di pinggir jalan utama desa ini. Panas matahari telah menyelamatkanku dari rasa penasaran para warga.
Aku berhasil membawa Ezra ke penginapan, bahkan kamarku dengan cukup cepat. Lantai bawah penginapan juga tidak terlalu ramai, sehingga tidak ada yang melihatku membawa seorang pria ke atas.
"Kenapa kau lari?" tanyaku sambil melemparkan Ezra ke ranjangku.
Hari ini, ranjangku sudah menjadi tempat duduk banyak orang. Mulai Kinbold yang bersaksi pertama kali, lalu Normen, Yared, dan kali ini Ezra. Aku harus mendapatkan petunjuk penting soal si pembunuh, sehingga ranjang ini tidak lagi ditempati oleh tubuh lain selain diriku.
Tidak seperti kakaknya yang penakut, Ezra berani meludah di lantai kayu kamarku. "Menurutmu kau siapa, hingga berani menyelidiki kasus di kerajaan ini!?" bentaknya.
Ezra memang tampak lebih muda dari kakaknya. Dia memiliki bentuk wajah bulat dengan mata biru dan rambut hitam cepak, yang hampir sama dengan kakaknya. Letak perbedaan paling besar dari dua kakak beradik ini adalah wajah Ezra dipenuhi bintik-bintik hitam kecil, yang membuatnya tampak lebih mudah dikenali.
Selain itu, Ezra memiliki mata bulat yang lebih tegas, ketimbang mata kakaknya yang tampak sayu. Tiga kali ditolak oleh militer, membuat anak ini jauh lebih berani ketimbang kakaknya.
Aku melemparkan gulungan surat yang tersembunyi di belakang punggungku kepada Ezra. "Jika kau sudah mendaftar tiga kali menjadi petugas Alva, seharusnya kau mengenal Aldcera," kataku.
Ezra mengambil gulungan di sebelahnya, dan membuka gulungan itu. Setelah melihat isinya, dia malah menatapku dengan tajam. "Bagaimana kau bisa memiliki pikiran untuk memalsukan materai Raja?" desisnya.
Dari semua hal yang seharusnya dia tuduhkan kepadaku, anak muda ini malah menuduhku memalsukan materai Raja. Kesetiaannya pada kemiliteran Al-Valayne, membuatnya menjadi seorang anak muda yang terlalu radikal.
Sorot mata Ezra membuatku mengingat suatu hari di saat hujan turun di Tekoa. Seorang prajurit dari Degeo tersesat di desaku, dan saat kami mencari tahu alasannya masuk ke Hutan Hitam, dia malah menatap semua klan Daeron dengan tatapan yang sama dengan Ezra.
Pria itu tetap bungkam, meskipun klanku memperlakukan dia dengan baik. Akhirnya kami yang menyerah, dah mengantarkan dia keluar dari Hutan Hitam agar dia bisa kembali ke Degeo.
Alasannya masuk ke Hutan Hitam dan tersesat hingga sampai ke Tekoa masih menjadi misteri. Namun tiga hari berada di Tekoa tanpa makan dan minum, adalah sebuah tindakan yang membuat sudut pandangku soal manusia sedikit berubah.
Sampai saat ini, aku masih mengingat namanya. Arol Freand. Terakhir kali aku mendengar soal pria itu, saat ini dia sudah ada di istana Donadhor. Ganjaran untuk kesetiaannya kepada Donater adalah menjadi pemimpin salah satu legion pasukan kerajaan.
Seandainya aku masih di Adijaya, aku pasti bisa bertemu dengan Arol. Hari-hari yang dia habiskan di Tekoa, benar-benar memberiku banyak pelajaran soal kesetiaan.
Melihat Ezra yang menatapku dengan penuh amarah setelah melihat orang asing membawa gulungan yang berisi materai Raja, benar-benar mengingatkanku akan Arol.
Sebagai seorang elf, aku bisa merasakan emosi dalam jiwa manusia, karena rasku adalah guru bagi manusia pada mulanya. Saat ini aku bisa merasakan emosi Ezra kepadaku. Ketakutan dan amarah yang ada dalam dirinya, kembali membuatku harus mengakui bahwa tidak semua manusia adalah sampah.
Kejadian Arol yang bungkam selama tiga hari, bisa saja kembali terulang dengan Ezra sebagai pemeran utamanya. Aku harus memastikan agar orang ini menceritakan semua yang dia tahu soal kematian Valerio.
"Aku tidak peduli dengan apa yang kau pikirkan," kataku tenang. "Aku juga tidak peduli dengan kerajaanmu, karena aku memiliki rumahku sendiri. Saat ini aku perlu bantuanmu."
Ezra mendengus, lalu tertawa pelan. "Setelah memukulku beberapa kali, kau meminta bantuan dariku," cibirnya. "Sepertinya kau berasal dari kerajaan yang sering berperang. Preant? Skardolav?"
"Tekoa," jawabku lirih. Aku tersenyum kepadanya sambil mengangkat alisku, setelah melihatnya kebingungan dengan jawabanku.
Aku menguncir rambutku yang terurai, dan menolek ke kiri agar dia bisa melihat telingaku. "Jika kau tidak tahu, Tekoa adalah rumah bagi sebuah klan elf," kataku.
"Kau mungkin tidak pernah mendengar nama tempat itu, karena Tekoa memang tidak berada di pulau ini," paparku. "Ada pertanyaan lain?"
"Untuk apa seorang elf berada di Alcyne?" tanya Ezra masih dengan bingung. "Apakah sesuatu yang besar memang terjadi di kerajaanku?"
Caranya menyebur Alcyne sebagai kerajaanku, membuktikan bahwa militer kerajaan ini benar-benar tidak menyeleksi para pendaftar dengan baik. Para petinggi itu telah membuang seorang anak muda yang begitu setia dengan kerajaannya.
Aku ingin menceritakan soal Tequr kepada anak ini. Namun aku segera mengurungkan niatku, karena Ezra bisa saja berbuat nekat, jika mengetahui seorang penjahat besar datang ke pulaunya.
Tapi aku juga tidak bisa berbohong. Elf tidak diperbolehkan mengucapkan dusta, jika tidak dalam keadaan genting.
"Pemimpin klanku memberiku misi untuk mencari seorang penjahat di pulau ini," kataku. "Aku dan dua temanku bertemu dengan Aldcera, karena kami melewati rumahnya."
"Kami membuat perjanjian dengan Aldcera, agar dia memberikan kami akses ke semua kota dan desa di Al-Valayne." Aku menunjuk gulungan yang terbuka di tangannya. "Sedangkan Aldcera meminta kami untuk menangkap pembunuh yang meneror kerajaan ini selama empat bulan terakhir."
Ezra masih menatapku dengan sorot mata tajam. Pukulanku tadi di perutnya beberapa kali, seolah sudah tidak memiliki efek apa pun. Anak ini kembali bernapas dengan normal, dan tidak menunjukkan bahwa dia sedang kesakitan.
Setelah beberapa menit menatapku, atau mungkin menilai setiap kalimatku, akhirnya Ezra meresponku. "Apa yang kau butuhkan dariku?" tanyanya.
"Kesaksianmu," jawabku. "Kinbold memberi tahuku, bahwa kau pergi dari penginapan ini di pagi buta. Saat itu seharusnya si pencuri wajah sedang melakukan aksinya kepada Valerio."
Aku mengutip kalimat Normen yang dia katakan kepada para warga tadi pagi. "Tugas untuk menemukan dan menangkap pembunuh keji ini, mengharuskanku untuk mencurigai setiap orang," ucapku.
"Ternyata Tuan Valerio dibunuh saat masih pagi buta," desah Ezra. "Pantas saja kakak berbohong padamu, soal pin bunga Kanna milik Tuan Valerio."
"Kakakmu berbohong padaku?" ulangku.
Ezra mengangguk dengan yakin. "Dia tidak meminjam pin itu, melainkan mencurinya diam-diam, untuk hadiah ulang tahunku," terangnya. "Setelah aku menolaknya mentah-mentah, dia langsung bergegas mengembalikan pin itu ke Tuan Val."
Anak ini bahkan menceritakan soal kebohongan kakaknya dengan sangat santai, setelah mengetahui bahwa tujuanku memang untuk kebaikan kerajaannya.
"Jelaskan lebih rinci!" pintaku.
"Aku menginap di penginapan ini untuk menyapa Kinbold. Tujuanku adalah rumah Tuan Aldcera, untuk menawarkan bantuanku di sana," ujarnya. "Namun, sesuatu malah terjadi di desa ini."
"Pertama, kakakku mencuri sebuah pin seorang petugas Alva, yang ternyata adalah milik Tuan Val, demi memberiku hadiah yang aku sukai." Ezra tersenyum sedikit. "Mungkin aku akan melompat gembira, jika dia memberikan pin itu padaku beberapa tahun lalu."
"Aku mengetahuinya, karena kakakku berkunjung ke rumah Tuan Val selama beberapa hari terakhir. Dari jendela kamarku, aku bisa melihat bahwa kakakku sering melewati penginapan ini. Aku berani bertaruh bahwa tujuannya adalah rumah Tuan Val."
"Tadi pagi, aku bertemu dengannya di gerbang utara, saat aku hendak pergi ke utara, tempat Tuan Aldcera tinggal. Saat itu Tuan Val masih hidup, karena saat aku ingin menyapanya, aku bisa mendengar suara dengkurannya yang khas."
"Selagi aku dalam perjalanan ke utara, kakakku tiba-tiba menyusul dengan menggunakan kuda milik seorang gembala di selatan. Dia mendesakku untuk naik ke belakangnya. Itulah alasanku berada di rumahnya, saat kau datang."
"Kakakmu juga menyuruhmu bersembunyi, saat aku datang?" tanyaku.
Ezra menggelengkan kepalanya tegas. "Dia menyuruhku segera pergi ke timur, untuk pulang ke rumah," jawabnya. "Dia menyebutmu sebagai utusan Tuan Aldcera yang bertugas untuk mencari si pembunuh. Tuan Val."
"Kau tahu kalau aku adalah utusan Aldcera, dan kau malah kabur dan lari ke arah utara?" balasku lagi.
"Karena aku ingin kakakku tidak mengkhawatirkanku lagi," akunya. "Dia pasti mengira aku sudah sampai di rumah, meskipun dia harus membayarnya dengan dipukuli oleh seorang elf."
Perkataan Ezra cukup tepat sasaran, sehingga aku hanya bisa merasakan wajahku menjadi panas. Beberapa hari terkahir, aku hampir selalu gagal untuk mengendalikan emosiku. Untungnya, aku tidak memukul Zafra dengan keras, sehingga rasa bersalahku hanya sebatas membuat seseorang pingsan.
"Aku ingin memastikan apakah kau sungguh memiliki perintah dari Tuan Aldcera," sambung Ezra. Dia mengangkay gulungan di tangannya. "Benda ini sudah membuktikan bahwa kau memang memiliki izin resmi dari Tuan Aldcera."
Sekarang Ezra tampak lebih tenang. Sorot mata maupun gestur tubuhnya juga tidak memperlihatkan bahwa dia sudah percaya padaku. Sekarang, aku tinggal memintanya untuk memberiku petunjuk penting.
"Ada dua orang mencurigakan, yang menginap di penginapan ini selama beberapa hari terakhir," terangku. "Dua orang ini adalah tersangka utama pembunuh Valerio."
"Aku dan Hugbert?" tebak Ezra sambil tersenyum tenang.
Tebakannya memang tepat sasaran, sehingga aku membalasnya dengan anggukan tegas. "Kau mungkin berbohong soal ceritamu," kataku. "Tapi aku ingin mendengar ceritamu soal Hugbert, juga tentang...." Aku memelankan suaraku. "Kinbold."
Ezra tersenyum puas saat aku menyebutkan nama Kinbold. "Dalam empat bulan terakhir, aku menginap di sini selama tiga belas kali," balasnya dengan suara pelan. "Aku mencurigainya sebagai pembunuh yang mengambil kulit wajah para warga Al-Valayne."
"Dia bahkan memiliki sebuah buku yang berisi gambar bunga Kanna, dengan nama-nama para korban sebagai pembentuknya," imbuh Ezra.
Aku lega mendengar kesaksian Ezra, karena buku yang dia sebutkan adalah buku yang ditemukan oleh Yared. Dan temanku itu sedang mengawasi Kinbold yang entah berada di mana. Setidaknya Yared mengawasi orang yang tepat.
Ezra juga menceritakan padaku soal alasannya mengawasi Kinbold, dengan menginap di sini. Ezra merasa bahwa kasus ini berpusat di Rowyn, karena banyaknya korban yang memiliki hubungan dengan desa ini.
Setelah selesai mengatakan semua yang dia tahu, Ezra berpamitan kepadaku. Dia menerima saranku untuk tetap tinggal di rumah kakaknya, karena aku mungkin masih membutuhkan bantuannya. Dan jawaban anak itu membuatku tersenyum lega, karena dia setuju untuk membagi setiap informasi yang dia temukan kepadaku.
Satu orang dari daftar tersangka sudah harus dicoret. Masih ada dua lagi yang sedang diperiksa oleh teman-temanku. Kasus ini mungkin akan memakan waktu lebih lama dari dugaanku, dan waktu itu mungkin akan dimanfaatkan oleh Tequr untuk menghimpun pasukan lagi.
Fokusku tidak boleh teralih. Aku bisa segera mencari Tequr, setelah kasus ini berhasil kuselesaikan. Karena entah apa alasannya, aku merasa bahwa akhir dari kasus ini akan menuntunku semakin dekat dengan Tequr.