Bab 17 - Zafra, Putra Ezmar

2032 Kata
"Orang itu memang adalah pengadu domba," gerutu Yared. Dia melemparkan buku yang membuatku penasaran, ke atas ranjangku. "Kalian lihat isi buku itu, bahkan aku saja tidak percaya dengan apa yang dilihat kedua mataku," ujarnya sambil menunjuk buku bersampul hitam itu. Karena aku yang paling dekat dengan buku itu, maka aku mengambilnya dan mulai membalik setiap lembar buku aneh yang dikatakan Yared. Banyak lembaran buku ini, hanya berupa kertas putih yang kosong. Dan beberapa lembar yang lain hanya berisi gambar atau coretan yang tidak jelas. Hingga akhirnya aku menemukan satu lembar di tengah buku, yang membuat Yared mengangguk cepat. Lembaran itu berisi gambar bunga Kanna yang memenuhi seluruh ruang yang ada di kertas putih itu. Bunga itu dilukis dengan tinta merah, dengan setiap garisnya dibuat dengan sangat teliti. Di dalam bunga itu, terdapat nama-nama banyak orang yang tidak kukenali. Namun aku bisa menebak bahwa mereka semua adalah warga kerajaan Al-Valayne. Alasannya, karena ada imbuhan kata putra, atau putri di belakang nama mereka. Setelah aku melihat gambar itu lebih teliti lagi, aku langsung menyadari alasan nama-nama itu tertulis di lembaran ini. Orang yang menggambar bunga Kanna ini, menggunakan nama-nama yang tersebar di sepenjuru kertas, sebagai titik-titik yang membentuk kelopak bunga Kanna. "Tiga puluh enam," gumam Normen sambil melirik Yared yang sedang mengintip keadaan di luar penginapan, lewat jendela kamarku. "Mereka adalah korban dari si pencuri wajah. Benar?" Yared menganggukan kepalanya tanpa menoleh kepada kami. "Tidak ada nama Valerio sebagai korban terbaru, karena aku berhasil mendapatkan buku itu di malam hari, saat dia melakukan aksinya," ujarnya. Aku menghitung jumlah nama yang ada di lembar bunga Kanna itu, dan sesuai perkataan Normen, jumlahnya memang tepat tiga puluh enam. Bahkan ada satu nama yang menarik perhatianku. "Dalsira, putri Aldcera," ujarku sambil menunjuk sebuah nama yang berada di ujung kelopak paling atas bunga Kanna. "Ini mungkin adalah nama anak Aldcera, yang juga ditemukan meninggal di dekat gerbang utara." Normen dan Yared langsung mendekatkan kepala mereka, untuk melihat titik yang aku tunjuk. Nama ini pasti luput dari penglihatan mereka, saat mereka menghitung jumlah nama-nama ini. "Di mana kau menemukan buku ini?" tanyaku untuk memecah keheningan. Yared mendongak kepadaku. "Di meja si pemilik penginapan itu," jawabnya. "Entah buku ini memang sengaja diletakkan di sana untuk menuduh Kinbold, atau memang Kinbold adalah pemilik buku ini." "Jika dia yang memiliki buku ini, bukankah artinya semua perkataan Kinbold kepada kita adalah kebohongan?" sela Normen. Aku menggelengkan kepalaku dengan tegas. "Tidak ada kebohongan dalam setiap kata yang diucapkan oleh Kinbold," tegasku. "Semua yang dia katakan adalah kejujuran." Normen mengangkat kedua tangannya. "Soal perasaan dan firasat, aku percaya penuh kepada para elf," akunya pelan. "Berarti, kita akan mencari dua orang yang tadi disebutkan oleh Kinbold." "Aku akan ke sisi selatan untuk mencari orang Skardolav itu, sedangkan salah satu dari kalian harus mencari anak muda bernama Ezra, yang keluar dari penginapan pagi ini. Tanyakan anak itu kepada para warga di bagian barat desa ini." "Orang terakhir, harus tetap berada di penginapan ini, sambil tetap mengawasi Kinbold," imbuh Normen. Prajurit tua itu mengedipkan matanya padaku. "Bukan karena aku tidak percaya dengan Kinbold. Aku merasa kalau dia terlibat dalam pembunuhan ini." Yared mengangkat tangan kanannya tinggi. "Aku akan mengawasi Kinbold di penginapan ini, sambil mencoba mencari tahu alasan banyaknya lembar kosong yang ada di buku ini," kata anak itu. "Aku tidak akan pergi terlalu jauh, atau melakukan hal bodoh, sebelum kalian kembali ke penginapan ini," sambungnya cepat. Normen memandangi Yared dengan lekat, lalu memetik jarinya. "Aku setuju," katanya pelan. "Lebih baik aku dan Eleandil yang berkelana. Aku yakin otot kekar Eleandil sudah memohon untuk dia gunakan." Kini pria tua itu berani meledekku secara terang-terangan. Mau tidak mau aku tersenyum kepadanya, meskipun hanya setengah bibirku yang melengkung. Setiap orang sudah mendapat tugasnya. Aku mengingatkan diriku, bahwa kami hanya perlu menemukan si pembunuh yang disebut si pencuri wajah oleh Kinbold. Lebih cepat menyelesaikan kasus ini, maka kami akan lebih cepat menemukan Tequr Lolazar. Aku berpisah jalan dengan Normen di depan penginapan. Prajurit Donater itu mengarah ke selatan Rowyn, sedangkan aku pergi ke timur untuk mencari jejak Ezra. Sisi timur kota Rowyn tidak jauh berbeda dengan sisi utara tempatku menginap. Rumah-rumah yang berjejeran di sini juga diselingi beberapa penginapan besar, yang juga berukuran sama dengan milik Kinbold. Ada satu perbedaan paling mencolok yang sangat membedakan sisi timur Rowyn, dengan sisi utaranya. Para warga yang keluar dari rumahnya. Di pagi menjelang siang hari seperti sekarang, seharusnya para warga mulai bekerja secara produktif. Entah pergi ke ladang, beternak, atau menjual dagangannya, seharusnya mereka melakukan itu. Namun setelah mayat Valerio di temukan dekat gerbang utara, para warga di sisi itu malah mengurung diri di rumah mereka masing-masing. Teror dari si pembunuh lewat tampilan mayat Valerio membuat mereka tidak berani keluar dari rumah. Suasana itu tidak berlaku di sisi timur desa. Para warga masih tetap berjualan. Anak-anak kecil dibiarkan bermain di jalan desa. Sedangkan beberapa wanita terlihat berkerumun sambil membicarakan sesuatu dengan wajah ngeri. Saat aku melewati mereka, beberapa wanita itu berbisik soal elf yang kasar, atau orang asing yang tiba-tiba menjadi penyelidik. Akibat tindakan bodohku, dan pengumuman dari Normen, kabar soal kami sudah tersiar ke seluruh penjuru Rowyn. Aku tidak tahu harus memulai dari mana, untuk mencari keberadaan Ezra. Normen hanya menebak jika Ezra pergi ke timur, karena desa yang adalah kampung halamannya berada di sisi timur kota ini. Jujur, aku tidak berharap terlalu tinggi untuk bisa menemukan Ezra. Tujuanku ke sisi timur desa ini, adalah memeriksa tebakan Normen. Jika Ezra tidak ada di timur desa ini, maka aku tinggal kembali ke penginapan, dan memaksa Kinbold buka mulut tentang buku aneh yang dicuri oleh Yared. Seseorang dari sisi kananku, tiba-tiba menarik lenganku. Dengan cepat, aku langsung memuntir lengan orang itu, dan balik menyerangnya. Ternyata, dia adalah pria bertopi bundar, yang membuatku mendapat sebutan elf kasar oleh warga desa ini. Aku melepaskan lengannya yang sekali lagi berada dalam cengkeramanku. Sebelum aku sempat mengatakan sesuatu, orang itu malah membuka topinya dan membungkuk di depanku. "Maafkan saya, karena telah membuat kalian kesusahan mencari pelaku," ujar pria itu. "Seharusnya, aku memberikan kesaksianku sebagai orang pertama yang menemukan mayat Val." Ternyata orang ini bukan hanya pria yang berdiri paling dekat dengan mayat Valerio. Orang ini juga yang pertama kali menemukan mayat Valerio, dan menyebabkan keributan di pagi tadi. Aku mengarahkan pandanganku ke belakang pria ini. Sebuah rumah yang tidak terlalu besar, dengan halaman luas ada di belakangnya. "Itu rumahmu?" tanyaku pelan, sambil menunjuk rumah di belakangnya. Pria itu menoleh ke belakangnya, untuk melihat sesuatu yang kutunjuk. Setelah itu, dia mengangguk untuk memberi konfirmasi atas pertanyaanku. Aku mendorong pria itu dengan halus ke arah rumahnya, sebelum para wanita dengan rasa penasaran tinggi di ujung jalan tadi, tidak melihat kami sedang bercakap-cakap. "Kita berbicara di dalam rumahmu!" perintahku tegas, dengan suara rendah. Tidak seperti di depan mayat Valerio, pria ini menurutiku tanpa bertanya apa pun. Dia menuntunku masuk ke dalam rumahnya, dengan langkah yang sopan. "Anda mau minum sesuatu?" tanyanya. Aku mengibaskan tanganku. "Duduklah," kataku. "Sekarang ini aku tidak sedang bertamu di rumahmu. Katakan keadaan saat pertama kali kau menemukan mayat Val." Pria itu mengangguk pelan, lalu dia duduk di hadapanku sesuai perintahku. "Saya menemui Val, karena saya perlu meminjam sesuatu di rumahnya," katanya. "Kami sudah berjanji di malam sebelumnya, untuk bertemu di saat hari masih pagi. Karena aku tidak ingin seorang pun melihatku berada di depan rumahnya." "Aku tidak memiliki firasat atau niat apa pun. Aku hanya perlu mengambil sesuatu yang ingin aku pinjam. Namun saat aku tiba di depan rumahnya, dia malah sudah terkapar tanpa nyawa," sambungnya. "Apa yang kau pinjam?" balasku. Pria itu sedikit gelisah akan pertanyaanku. Bola matanya sedikit bergetar, meskipun seluruh tubuhnya masih memaksakan diri untuk tenang. Ingatan akan mayat Valerio, tiba-tiba muncul di otakku. Penjaga gerbang itu menemuiku dengan memakai pakaian santai, dan dia meninggal dengan kemeja putih penuh darah. Di awal aku melihat mayatnya, aku tidak melihat sesuatu yang aneh darinya. Hingga akhirnya aku menyadari keanehan itu, setelah pria di depanku ini mengatakan bahwa dia meminjam sesuatu dari Valerio "Sa... Saya sudah mengembalikan barang itu," kata pria itu dengan suara bergetar. "Saya benar-benar tidak ada hubungannya dengan kematian Val." "Pin bunga Kanna," desisku. Aku menatap tajam kedua mata pria di depanku. "Kau meminjam pin itu dari Valerio, dan mengembalikannya sebelum aku sampai di lokasi pembunuhan. Itu alasannya kau masih ada di samping mayat." Pria ini memaksakan diri untuk menganggukkan kepalanya. Karena aku berhasil menebak benda yang dia pinjam, tubuh pria ini malah semakin bergetar hebat. Aku bisa merasakan kegelisahan yang memenuhi dirinya. Aku mencoba untuk menyatukan kepingan teka-teki yang telah terkumpul. Pin bunga Kanna milik Valerio, seharusnya tidak ada di mayatnya, karena pria ini baru saja mengembalikan pin itu setelah dia menemukan mayat Val. Alih-alih meminjam sesuatu yang lebih berguna, pria ini malah memilih sebuah pin dengan gambar lambang kerajaannya. Bahkan orang ini memaksakan diri untuk bertemu dengan si pemilik pin di pagi buta. Alasannya, agar tidak ada seorang pun yang tahu. Apakah sebuah pin bisa membuat kekacauan, sehingga dia perlu menyembunyikan fakta soal benda yang dia pinjam? Lalu, apa alasannya meminjam sebuah pin, dalam waktu sesingkat itu? Setahuku, pin bunga Kanna dipakai oleh para prajurit atau petugas yang ada di kerajaan Al-Valayne. Selain Valerio, aku juga melihat orang lain yang memakai pin itu. Aldcera, putra Aleoma. Tiba-tiba, sebuah dugaan yang sedikit liar muncul di pikiranku. "Siapa namamu?" tanyaku kepada pria ini, untuk membuktikan dugaan yang muncul di otakku. Pria itu sedikit tersentak, karena sejak tadi dia duduk dengan menundukkan kepalanya. "Zafra, putra Ezmar," jawabnya dengan sedikit ragu. Aku hampir tidak bisa menahan bibirku yang mulai melengkung. Sebuah kebetulan yang sangat aneh, sekaligus menyenangkan. Padahal, aku menduga bahwa pria ini adalah Ezra. Namun ada beberapa hal dari pria ini yang tidak sesuai dengan deskripsi Kinbold. Pemilik penginalan itu mengatakan bahwa Ezra adalah seorang anak muda dengan mimpi untuk merantau, bukan pria berumu tiga puluh tahunan yang sudah memiliki rumah. Tangan kananku juga sudah berada di gagang pedang yang tersimpan di balik kemeja luarku. Aku sangat siap untuk memakai senjataku, saat orang ini tiba-tiba melarikan diri saat aku menanyakan namanya. Meskipun aku tidak langsung menemukan Ezra, setidaknya orang di depanku ini, pasti memiliki hubungan dengan Ezra. Baik Ezra maupun Zafra, keduanya adalah putra dari orang yang sama. Ezmar. "Anda sudah selesai menanyaiku, kan?" cicit Zafra dengan ragu. Dia sudah berhasil berdiri dari kursinga, namun aku masih bisa melihat kegelisahan dalam sorot matanya. "Belum," jawabku lirih, namun tajam. "Ada satu pertanyaan yang perlu kau jawab." Zafra menelan ludahnya, dan semakin terlihat gelisah saat mendengarku mengatakan bahwa aku masih belum selesai untuk menanyainya. Semakin dia berusaha untuk tetap tenang, maka kegelisahannya juga semakin tampak lebih jelas. "Ayahmu adalah Ezmar, benar?" tanyaku. Sebuah tarikan napas panjang dari Zafra, mengiringi anggukan kepalanya yang terlihat sangat canggung. "Apakah kau pernah bertemu orang lain yang bernama sama dengan ayahmu?" tanyaku lagi. Pertanyaan keduaku semakin membuat sorot mata Zafra tampak lebih gelisah. Aku menangkap sebuah hal yang tampak aneh dari gelagatnya. Bola mata Zafra beberapa kali bergerak ke arah yang sama. Sesuatu pasti berada di belakangku. "Tidak pernah," jawab Zafra pelan. "Ayahku adalah satu-satu orang bernama Ezmar yang pernah aku temui, juga aku kenal." Sekilas, aku melihat tangan Zafra yang tadinya bergetar, malah sekarang berubah menjadi kepalan yang terlihat cukup keras. Sedikit tekanan lagi, maka pria ini akan mengatakan yang sebenarnya padaku. Aku berusaha untuk tidak memasang ekspresi apa pun di wajahku. Pria ini belum boleh menyerangku, sebelum aku mendapatkan informasi soal Ezra, yang mungkin masih berkerabat dengannya. "Seseorang mengatakan kepadaku, bahwa putra Ezmar tidak hanya kau saja," ujarku pelan. "Dia memiliki seorang putra lagi yang bermimpi untuk menjadi petugas Alva, benar?" Raut wajah Zafra semakin menegang, yang menandakan tebakanku memang benar. Aku hanya perlu tetap tenang selama beberapa saat lagi, agar pria ini bisa memberi informasi soal Ezra. "Ezra, putra Ezmar, dia adalah adik kandungmu?" tanyaku tajam. Zafra menggelengkan kepalanya dengan cepat. Namun keringatnya malah membasahi seluruh wajahnnya. "Aku tidak tahu apa yang kau katakan," balasnya. Pria itu beranjak berdiri dari kursinya, namun aku langsung mencengkeram lengannya seperti saat pertama kali kami bertemu. "Kau tidak akan pergi kemana pun, sebelum kau mengatakan di—" BUK! Sebuah pukulan keras dari Zafra, mendarat di pipi kananku sebelum aku bisa bereaksi. Pukulan itu membuatku terhuyung dan harus berpegangan ke kursi yang ada di sebelahku. "Pergi dari sini!" raung Zafra sambil membuka pintu rumahnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN