Bab 16 - Kesaksian Pertama

2046 Kata
Pilihanku adalah menanyai setiap warga, sekaligus mencari pria bertopi yang kuperlakukan dengan kasar di dekat mayat Valerio. Normen tahu apa yang harus dia lakukan dengan mayat Valerio, karena dia memiliki pengalaman untuk menyelidiki kasus kriminal seperti saat ini. Jadi, aku bisa mempercayakan mayat Valerio padanya. Sejak berbincang sebentar dengan Normen, Yared juga meninggalkan kami berdua tanpa berpamitan padaku. Aku berasumsi kalau anak itu sudah mendapat tugas dari Normen. Aku adalah seorang elf, dan aku menolak untuk hanya berpangku tangan. Dan dari semua yang Normen paparkan padaku, aku sudah tahu apa yang harus aku lakukan. Mencari saksi dan informasi dari para warga Rowyn. Meskipun aku sudah tahu kalau mereka akan bersikap tertutup padaku, aku akan tetap mencobanya. Aku harus lapang d**a akibat tindakanku berlaku kasar di depan umum. Emosi yang membuncah dalam hatiku, membuatku gelap mata dalam sesaat. Aku merasa marah dan bodoh, karena tidak menyadari bahwa waktu yang dipilih oleh si pembunuh untuk menghabisi Valerio, adalah saat aku pulang dari rumahnya. Orang gila itu mengawasi rumah Valerio dan tetap menungguku keluar dari pintunya, dengan sangat sabar. Itulah alasanku langsung diliputi kemarahan, setelah melihat Valerio telah berubah menjadi mayat. Sebelum ini, aku tidak membuat kasus pembunuhan berantai ini menjadi masalah pribadi. Sekarang, aku akan sangat serius untuk menangkap si pelaku yang berani meremehkanku, dan melakukan aksinya tepat di depan mataku. Di otakku, sudah ada satu orang yang kutanyai sebagai saksi. Si pemilik penginapan yang kamarnya disewa oleh Normen untuk kami bertiga. Alasannya sederhana. Penginapan adalah tempat untuk berkumpulnya para warga, dan sebuah penginapan pasti lebih banyak dihuni oleh orang dari luar desa. Si pembunuh tidak mungkin melakukan aksinya tanpa persiapan matang, setelah dia menentukan targetnya. Dia pasti perlu mengawasi sang target selama beberapa saat, sebelum dia memutuskaj hari untuk membunuh targetnya. Semua hal yang sangat rahasia itu, hanya bisa dilakukan di sebuah ruangan yang tidak akan mungkin dimasuki oleh orang lain. Kamar penginapan. Karena lokasi pembunuhan dan rumah sang korban sama-sama berada di depan gerbang utara, maka aku tinggal mencari penginapan yang paling berpotensi untuk dijadikan tempat persembunyian bagi si pembunuh. Dan penginapanku adalah yang paling dekat dengan gerbang utara. Saat aku membuka pintu penginapan, semua orang yang ada di bar, langsung menatapku dengan wajah penasaran. Namun tujuanku hanya satu. Meja kasir, yang dibaliknya berdiri si pria pemilik penginapan. "Aku ingin berbicara denganmu, sebentar saja," kataku sopan kepada pria berusia sekitar tiga puluh tahunan itu. Tidak ada penolakan atau bantahan. Pria itu langsung mengikuti langkahku ke lantai atas. Bahkan di wajahnya tidak terlihat kegelisahan sedikit pun, seolah dia sudah menunggu momen ini. Kami berhenti di ujung lorong lantai atas, yang tersembunyi dari pandangan orang-orang, setelah aku memastikan tidak ada yang mengikuti kami. "Ada apa?" Bukan aku yang memulai percakapan, melainkan si pemilik penginapan yang bertanya padaku dengan sangat tenang. "Kau tahu ada pembunuhan di depan gerbang utara?" tanyaku. Pria itu mengangguk pelan, lalu mengangkat bahunya. "Aku tahu, tapi aku peduli," jawabnya singkat. "Kau mencurigaiku sebagai pembunuhnya?" Meskipun dia menjawab pertanyaanku dengan seenaknya, aku tidak merasakan aura jahat, atau sesuatu yang mencurigakan dari orang ini. Malahan, aku merasakan kalau setiap kata yang keluar dari mulutnya adalah kejujuran. Aku mengulurkan tanganku kepadanya. "Namaku Eleandil, aku seorang elf dari klan Daeron di pulau Adon," kataku. "Aku harap, kita bisa bekerja sama." Pria itu memandangi wajahku, lalu tanganku dengan penuh kecurigaan. Namun akhirnya dia menyambut uluran tanganku, meskipun aku tahu dia terpaksa melakukannya. "Kinbold, putra Ranbold," ujarnya. "Aku tidak peduli dengan ras atau asalmu, yang kupedulikan adalah para tamu di penginapanku. Jadi, aku harus menolak tawaran kerja sama yang kau tawarkan." Setelah menolakku, Kinbold langsung berbalik badan dan melangkah ke arah tangga, untuk kembali ke lantai bawah. Tapi aku belum menyerah, karena aku memang tidak pernah diajarkan untuk menyerah. Aku mengejarnya, dan menghadang langkah orang itu tepat di depan mulut anak tangga. "Kau hanya perlu mengatakan kepadaku, semua identitas orang asing yang menginap di sini, selain aku dan teman-temanku," pintaku dengan suara rendah. Dengan wajah datarnya, Kinbold malah mendorongku ke samping dengan pelan, sehingga dia melewatiku dengan mudah. Aku tidak mau melakukan kekerasan, karena hal itu akan semakin membuat para saksi tidak mau memberi kesaksian mereka. Sehingga yang aku lakukan adalah mengejarnya sekali lagi. Normen datang di saat yang tepat. Pria tua itu berdiri di hadapan Kinbold, dengan mengangkat dua keping koin emas bergambar bunga Kanna. "Katakan semua yang kau tahu, dan aku akan memberimu dua Novas, untuk setiap informasi yang menurutku penting," ujar Normen dengan tegas. Wajah Kinbold menegang, tetapi mata pria itu hanya fokus kepada dua keping koin di tangan Normen. Diam-diam aku berharap kalau Kinbold akan mengambil tawaran Normen. "Aku akan mengatakannya," putus Kinbold dengan suara berat. "Dan aku tidak mau mengatakannya di sini. Bawa aku ke salah satu kamar kalian, dan pastikan tidak ada seorang pun yang mendengar percakapan kita." Normen mengangguk pelan padaku. Aku segera memimpin jalan, untuk membawa dua orang itu ke kamarku yang berada di ujung lorong. Meskipun aku sudah sering melihat koin emas maupun perak dengan berbagai macam lambang, aku masih tidak terbiasa dengan sifat manusia yang melakukan segalanya demi memperbanyak koin mereka. Di Tekoa, kami tidak pernah menjual sesuatu. Semua yang aku miliki adalah milikku, dan jika ada elf lain yang membutuhkannya, maka aku akan memberikan barang itu, tanpa perlu ditukar apa pun. Namun manusia tidak melakukan hal tersebut. Mereka menanam, memanen, bahkan membuat berbagai macam makanan hanya untuk dibawa ke pasar, dan dijual ke orang lain. Kinbold yang terlihat memiliki prinsip yang teguh pun, tetap kalah saat melihat tawaran koin dari Normen. Apakah prinsip manusia hanya memperbanyak hartanya, yang malah menghilangkan alasan mereka untuk hidup? Bahkan ada beberapa perang yang terjadi antara dua kerajaan, atau dua suku, hanya karena perebutan emas. Sesuatu yang sangat aneh di mataku. "Duduk, lalu katakan," ucap Normen dengan dingin, sambil melemparkan dua koin emas yang ada di tangannya, ke ranjang kasurku, tepat di sebelah Kinbold. Kinbold mengambil dua koin itu, baru duduk di ranjangku sambil menyilangkan kakinya. "Satu informasi penting, untuk dua Novas?" tanya Kinbold untuk memastikan perjanjian yang dia buat. "Kau melupakan sesuatu," timpal Normen. "Jika aku menganggapnya penting. Penilaianku akan informasi yang kau berikan, adalah sumber uangmu." Pemilik penginapan mendengus, lalu mengangguk dengan terpaksa. "Pertama, aku harus memberi kalian kesaksian soal dua orang asing yang menginap di tempat ini, selama tiga hari terakhir." "Salah satunya sudah pergi pagi ini, sedangkan satunya masih belum kembali, setelah ikut keluar untuk melihat keramaian yang diakibatkan oleh penemuan mayat Valerio. Apakah menurutmu ini informasi penting?" tanya Kinbold dengan bangga. "Lanjutkan," balas Normen dengan suara berat. Kinbold mengangkat alisnya. "Jika kau perlu nama kedua orang itu, aku akan menjualnya dengan harga lima Novas," katanya santai. "Kau tidak perlu memaksakan diri, jika uangmu hampir habis." Normen merogoh kantong celananya, lalu melemparkan enam koin emas kepada Kinbold dengan wajah datar. "Dua koin sisanya, untuk informasi yang kau tahu soal Valerio." Kinbold tertawa pelan, sembari memungut dua koin yang jatuh ke lantai. "Ternyata Anda cukup kaya, untuk ukuran seorang pengembara," kekehnya. "Aku akan memberikan yang kau mau." "Orang pertama bernama Ezra, putra Ezmar. Seorang anak muda yang tiga kali mendaftar sebagai petugas Alva, dan tiga kali ditolak. Dia berasal dari desa kecil bernama Uldes, sebelah selatan Hutan Utara." "Jika ditambah dengan hari ini, dia sudah menginap selama tiga hari. Setiap kali menyewa kamar, dia selalu meminta kamar di lantai bawah. Aku tidak pernah menanyakan alasannya, tapi aku menduga kalau kakinya sedikit cacat." "Hanya dengan menjadi pemilik penginapan, kau bisa mengetahui informasi serinci itu?" selaku tanpa menyembunyikan kekagumanku. Kinbold memandangiku dengan wajah datarnya. Tapi aku bisa melihat kalau pria ini menahan diri untuk tidak tersenyum, karena aku melihat lekukan kecil di sudut bibirnya. "Ezra adalah pelanggan tetapku, jadi aku mengetahui banyak hal soal dia, karena kami sudah kenal sejak lama," jawab Kinbold. "Bekerja di bidang ini, menuntutmu untuk mengetahui banyak hal yang tidak diketahui oleh orang lain." "Agar kau bisa menjualnya?" dengus Normen. "Bukan hanya kau, tapi para pemilik penginapan di seluruh Ueter, selalu menjual informasi yang berkaitan dengan pelanggannya." Kritikan dari Normen, malah dianggap sebuah pujian oleh Kinbold. Pria itu malah tersenyum bangga sambil memeriksa saku kemejanya, untuk melihat koin yang dia dapatkan dari Normen. Sebuah fakta mengerikan yang lain, dari kehidupan para manusia. Mereka membangun tempat megah dengan banyak kamar, lalu menyewakan kamar kosong untuk para pengembara yang melewati desa, atau kota mereka. Dan ternyata, penghasilan mereka tidak hanya berasal dari uang sewa, tapi juga dari menjual informasi para pelanggan, seperti yang dilakukan Kinbold saat ini. Untungnya aku tidak pernah menginap di penginapan, saat aku berkunjung ke desa atau kota milik manusia. Aku selalu memilih untuk tidur di hutan, karena aku tidak memiliki koin yang mereka gunakan untuk alat tukar. Kebenaran akan soal jual informasi ini, akan selalu aku ingat. Seandainya di masa depan aku terpaksa menginap di sebuah penginapan, maka aku akan mengunci mulutku saat si pemilik penginapan menanyakan hal-hal yang bersifat pribadi padaku. "Soal Ezra, anak itu keluar tadi pagi, beberapa jam sebelum matahari terbit," kata Kinbold melanjutkan pemaparannya. "Aku tidak melihat wajahnya saat dia pergi, tapi gerak-gerik anak itu membuatku berpikir bahwa dia telah mencuri sesuatu dari kamarnya." Normen tetap mempertahankan wajahnya yang mengeras. Sepertinya pria tua itu ingin tampak menakutkan di depan Kinbold. "Bagaimana dengan tersangka kedua?" tanya Normen. "Tersangka kedua bernama Hugbert Udo. Seorang pria dewasa dengan badan kekar dan kumis pirang yang terlalu panjang." Kinbold menatap langit-langit sambil menggosok dagunya. "Dari logatnya, orang itu mungkin berasal dari Skardolav." "Logat Skardolav?" selaku. "Suara berat, intonasi aneh yang membuatmu terdengar sedang memarahi orang lain, dan tidak bisa mengatakan huruf 'r' dengan baik," ucap Normen. Dia menepuk pundakku pelan. "Kau akan mengerti, saat bertemu salah satu dari mereka." Kinbold memberi acungan jempol juga senyuman kepada Normen yang telah menjelaskan tentang logat Skardolav kepadaku, dengan jelas dan rinci. "Lanjutkan!" perintahku, yang langsung membuatnya kembali memasang wajah datar. "Hugbert baru pertama kali menginap di penginapanku. Namun saat dia minum di lantai bawah, ternyata dia mengenal banyak orang di desa ini." "Setelah aku bertanya kepada para tetanggaku, mereka mengatakan bahwa Hugbert sering datang ke Rowyn dan menginap di daerah selatan Rowyn. Dia bahkan cukup terkenal karena kebaikannya dalam membantu para petani di selatan." "Saat teriakan akibat penemuan mayat Valerio menggema di sepenjuru desa ini, Hugbert juga ikut berlari ke luar. Namun dia belum kembali ke penginapan sampai sekarang," imbuhnya. "Ada kemungkinan dia pergi ke selatan?" tanyaku. Kinbold menggeleng dengan yakin. "Semua barang bawaannya masih ada di kamar yang ada tepat di depan tangga," jawab Kinbold. "Dia tidak mungkin pergi ke selatan, tanpa membawa barang-barangnya." Normen beranjak dari tempatnya. Sejak tadi, prajurit tua itu bersandar di pintu kamarku sambil mendengarkan setiap kalimat yang diucapkan oleh Kinbold. Sekarang, dia mengambil kursi di sudut kamarku, dan menaruk kursi itu di hadapan Kinbold. "Katakan semua yang kau tahu soal Valerio," ujarnya lirih. Normen duduk di kursi kosong itu, sembari menyilangkan kakinya. "Kau sudah menerima bayaranmu." "Valerio...," gumam Kinbold. "Menurutku tidak ada yang istimewa dari anak itu. Dia berhasil menjadi penjaga gerbang, karena ayahnya mengorbankan nyawa untuk Raja. Padahal, dia sama sekali tidak pantas untuk masuk di dalam jajaran kemiliteran." "Dia berteman dengan seorang petugas Alva berpangkat tinggi, hingga petugas Alva itu sering berkunjung ke sini, untuk sekedar menitipkan anaknya pada Valerio. Hasilnya, anak perempuan itu mati, dan sang ayah dipindahtugaskan ke batas utara Alcyne." "Singkatnya, Valerio adalah seorang pembawa sial. Dia layak untuk mati dan dibunuh oleh si pencuri wajah," geramnya pelan. Dugaanku akan karakter Kinbold bahwa dia merupakan pribadi yang jujur, semakin dipertegas olehnya sendiri. Caranya mendeskripsikan Valerio dari sudut pandangnya, menunjukkan bahwa Kinbold tidak akan berbohong. Aku memang marah saat melihat Valerio terbunuh. Tapi alasan kemarahanku bukan karena aku memiliki ikatan dengannya, tapi lebih kepada si pembunuh yang berani melakukan aksinya di depanku. Karena itu, aku tidak membantah semua cacian yang dilayangkan oleh Kinbold kepada Valerio. Setiap orang memiliki cara yang berbeda untuk mengenal orang lain. "Masih ada yang lain?" tanya Normen. "Aku baru ingat kalau ada satu orang asing lagi, yang keluar dari penginapan pada malam kemarin!" pekik Kinbold. Pria itu beranjak berdiri dari ranjangku, dan melangkah ke pintu keluar. "Teman kalian si pemuda aneh itu, keluar dari penginapan, setelah dia keluar dari kamarmu," bisiknya sambil menunjukku. "Yang aneh adalah, dia kembali ke penginapan sesaat sebelum elf ini pulang dari rumah Valerio. Bukankah itu aneh?" kekehnya pelan, sembari bergegas keluar dari kamarku. Sebelum aku menutup pintu kamarku, Yared berada di depan pintu dengan wajah muram. "Dia membicarakanku, kan?" tanyanya dengan suara malas.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN