Bab 15 - Musuh yang Terlalu Berani

2052 Kata
Aku semakin sulit untuk tidur, setelah informasi yang aku dapat dari Valerio. Selama perjalanan kembali ke kamarku, aku memikirkan untuk langsung menceritakan semua yang aku tahu kepada Normen dan Yared. Tanggung jawab untuk menemukan si pembunuh, bukan hanya ada di pundakku. Namun aku segera mengurungkan niatku, setelah aku melihat lantai bawah penginapan kami yang begitu sepi. Entah aku yang terlalu lama berada di rumah Valerio, atau orang-orang yang tadi minum di lantai ini, sudah terlalu lelah sehingga mereka pulang lebih cepat. Dengan tidak adanya keramaian di bawah, maka waktu tidur untuk dua temanku itu pasti lebih berkualitas lagi. Tanpa gangguan suara berisik dari lantai bawah, mereka akan memulihkan energi yang sudah terkuras selama perjalanan dari Hutan Utara. Aku juga perlu memulihkan energiku di tempat tidur yang layak. Ada banyak waktu di esok hari, untuk mengabarkan semua informasi yang aku dapatkan, kepada Normen dan Yared. Karena kamarku berada di ujung lorong lantai atas, maka aku harus melewati kamar Normen, lalu kamar milik Yared, untuk sampai ke kamarku. Pintu kamar Normen memang tertutup rapat. Namun pintu kamar Yared sedikit terbuka, dan memperlihatkan sebuah pemandangan yang membuatku penasaran. Alih-alih tidur, Yared malah duduk di ranjangnya, sembari memegang sebuah buku yang cukup tebal. Dia tidak membuka buku itu, namun bibirnya yang mengerucut, membuktikan bahwa dia sedang kebingungan. Aku ingin menanyakan isi buku itu, dan alasannya berpikir keras di tengah malam. Tetapi aku mengurungkan niatku, dan memilih untuk masuk kamarku untuk mengistirahatkan tubuhku. Ranjang empuk penginapan ini, membuatku langsung tertidur begitu tubuhku berbaring di atasnya. Hari ini, aku sudah melakukan yang terbaik. ***** Aku bangun di saat fajar baru saja menyingsing. Bahkan bulan masih belum hilang sepenuhnya, saat aku memandang ke luar lewat jendela kamarku. Malam yang panjang sudah selesai. Pergantian hari menandakan dimulainya peranku menjadi penyidik kasus, bersama dua temanku. Dari seorang wakil jenderal klan Daeron yang lebih mengandalkan otot, aku harus mulai belajar untuk lebih menggunakan otakku. Penyelidikan seperti ini, lebih membutuhkan otak daripada otot. "Kau sudah bangun?" Yared menyapaku dengan riang. Anak itu bahkan membawa buku yang membuatnya berpikir keras kemarin malam. Dia mendekap buku itu di depan dadanya, seolah benda itu adalah hartanya yang paling berharga. Beberapa detik kemudian, Normen juga muncul di depan pintu kamarku dengan rambut yang sudah tersisir rapi. Pria tua itu bahkan sudah mandi sepagi ini, akibat tidak menyentuh air selama beberpa hari terakhir. Aku menutup pintu kamarku, dan menyuruh mereka untuk duduk di atas ranjangku tanpa suara. Dua orang itu langsung melakukan isyarat dariku dengan patuh. "Jangan bereaksi atau menimbulkan suara sedikit pun," ancamku dengan sedikit merendahkan suaraku. "Aku mendapat banyak informasi dari Valerio, dan aku bisa memastikan kalau fakta ini akan mempercepat penyelidikan kita." Keduanya mengangguk pelan, dan menatapku dengan seksama. Karena mereka sudah fokus, aku mulai menceritakan semua yang aku dapat dari Valerio, tanpa melewatkan satu kata pun. Beberapa kali aku bisa melihat Normen berniat membantahku, namun pria itu mengurungkan niatnya, karena peringatanku di awal. Aku menutup cerita soal kasus pembunuhan berantai ini, dengan fakta bahwa salah satu dari tiga puluh enam korban itu adalah anak perempuan Aldcera. Sebuah fakta yang membuatku pulang dari rumah Valerio dengan linglung. "Ternyata Pak Aldcera itu memang tidak sepenuhnya baik," gumam Yared. "Dia memakai kita sebagai alatnya untuk membalas dendam akan kematian putrinya." "Atau dia hanya ingin keadilan," timpal Normen pelan. "Aldcera mungkin sudah memiliki daftar tersangka di otaknya. Apalagi menurut cerita Valerio, pelakunya kemungkinan besar berasal dari militer kerajaan dengan pangkat tinggi." "Karena itu akses yang diberikan Aldcera sampai memiliki materai Raja. Sekarang aku paham alasannya memberikan kita gulungan berharga itu," imbuh Normen sambil menunjuk gulungan surat yang berada di atas meja kecil di samping ranjangku. "Kenapa?" tanya Yared polos. "Agar saat kita mengetahui tersangka pembunuhan, kita tetap memiliki hak yang kuat," jawabku. "Materai Raja akan membuat para petinggi militer tidak berani menolak permintaan kita." "Atau kita yang akan mati, karena berani menentang kuasa mereka," timpal Normen tajam. Meskipun membuat suasana menjadi cukup suram akibat komentarnya, namun perkataan Normen memang adalah sebuah kebenaran. Memiliki gulungan berisi materai Raja dan tanda tangan seorang petugas Alva, bukanlah jaminan bahwa kami akan diterima oleh semua orang-orang berkuasa itu. Mereka bisa saja menerima untuk diinterogasi oleh kami, namun kami juga bisa saja dibunuh dalam perjalanan pulang. Berdasarkan semua informasi yang sudah kami kumpulkan, maka yang perlu kami lakukan adalah mencari saksi mata yang kemungkinan besar masih ada di desa ini. Sebelum aku menyampaikan ide untuk mencari saksi di antara para warga, sebuah teriakan yang memekakkan telinga terdengar dari luar penginapan. Kami langsung menuruni tangga dan bergegas ke luar penginapan untuk mencari sumber suara. Lantai bawah penginapan kami bahkan tidak terdapat satu pun orang. Mereka semua keluar untuk mencari tahu alasan seseorang berteriak di pagi yang cerah ini. Bukan hanya para orang-orang yang minum di lantai bawah. Semua warga Rowyn mulai berbondong-bondong keluar dari rumah mereka masing-masing, karena mendengar teriakan yang masih belum berhenti. Aku memimpin Normen dan Yared untuk menyeruak menuju ke sumber suara itu. Aku bisa menebak bahwa sumber teriakan itu tidak terlalu jauh dari penginapan kami. Untungnya jalan utama desa Rowyn memiliki lebar yang cukup besar. Kami tidak perlu mendorong orang-orang demi bisa sampai ke sumber suara. Yang perlu kami lakukan hanya menghindari punggung-punggung penasaran yang memenuhi jalan utama. Ujung dari suara teriakan itu adalah rumah kecil di sebelah gerbang utara desa ini. Rumah Valerio. Aku semakin mempercepat langkahku, karena aku memiliki firasat buruk setelah melihat kerumunan orang yang berbentuk melingkar di depan gerbang utara, menjadi lebih padat. Mereka semua melihat sesuatu yang tergeletak di tanah, dengan wajah ngeri. Tak jauh di depan mereka, terbaring tubuh seorang pria tanpa kulit di wajahnya. Di wajah pria itu hanya ada dua bola mata yang membelalak, dan dikelilingi oleh daging berwarna merah cerah. Darah sudah mengering di kemeja putihnya. Bahkan bekas tusukan yang ada di perutnya juga tidak lagi mengeluarkan darah. Saat aku berjalan ke sebelahnya, aku melihat sebuah pin kecil berbentuk bunga Kanna tersemat di kemejanya yang berlumuran darah. Mayat ini sudah pasti adalah Valerio, putra Valeator. Aku mencengkeram lengan seorang pria yang paling dekat dengan mayat Val. "Siapa yang pertama kali menemukannya?" desakku. Pria yang memakai topi bundar dari kulit hewan itu, malah mencoba melepaskan cengkeramanku, daripada memilih untuk menjawab pertanyaan yang aku ajukan padanya. "Katakan saja," desisku tajam sambil memperkuat cengkeramanku di pergelangan tangannya. Tiba-tiba, Normen merangsek di antara aku dan pria bertopi itu, sehingga aku harus melepaskan cengkeraman tanganku. "Dia mungkin adalah orang yang bisa membantu kita!" pekikku kesal. "Atau mungkin, kau akan menjadi tersangka," balas Normen sengit. Pria tua itu mendekatkan mulutnya ke telingaku. "Semua warga Rowyn sedang mengawasimu, karena kau terlihat seolah menyerang orang bertopi tadi." "Menurutmu, siapa yang akan mereka jadikan tersangka utama? Kau yang adalah orang asing, atau dia yang hanya berdiri di dekat mayat?" imbuh Normen. Prajurit tua ini benar. Aku harus mengendalikan diriku, agar kami tidak berada di situasi yang sulit. Jika kami yang balik diinterogasi, maka tujuan kami untuk menemukan si pembunuh akan semakin tidak mungkin. Tindakan pertama yang aku lakukan adalah mengatur napasku, sehingga Normen bisa menjauhkan wajahnya dari telingaku. Setelah itu, aku harus menatap balik para warga yang menjadikanku tontonan pagi. Jika dicurigai melakukan sesuatu yang tidak kau lakukan, maka cara untuk menepis kecurigaan orang-orang di sekitarmu adalah menatap mereka dengan kepercayaan diri. "Kau membawa gulungannya?" tanya Normen pelan. Pria itu membuka telapak tangannya di depanku, sambil mengedikkan kepalanya ke arah saku kemejaku. Aku mengeluarkan gulungan surat yang diberikan Aldcera kepada kami, dan memberikannya kepada Normen, tanpa tahu apa rencananya. Yared yang sejah tadi tidak berbicara, berdiri di sebelahku sambil membusungkan dadanya. "Kau harus tampak berwibawa, karena Pak Tua itu pasti akan memberikan sebuah pengumuman," katanya. Tidak lama setelah Yared mengucapkan sarannya, Normen benar-benar membuat pengumuman selagi dia membuka gulungan surat itu. "Salam untuk warga Rowyn, desa paling utara di kerajaan Alcyne!" ucap Normen dengan suara lantangnya yang berwibawa. Pria itu lalu membungkuk cukup rendah di hadapan para warga yang mulai berkumpul karena tertarik kepadanya. Aku dan Yared tidak mau Normen membungkuk sendirian, sehingga kami berdua ikut membungkuk kepada para warga, meskipun tidak serendah yang dilakukan Normen. Normen membalikkan gulungan surat yang telah dia buka, agar para warga bisa melihatnya. "Kami bertiga telah mendapat titah dari seorang petugas Alva bernama Aldcera, putra Aleoma, untuk menyelidiki kasus yang meneror kalian selama empat bulan terakhir!" "Bahkan, di surat ini terdapat materai Raja, yang membuktikan bahwa Tuan Aldcera sudah mendapat perintah langsung dari Raja, untuk memilih orang yang sanggup menangkap si pembunuh!" "Kadang kala, kami mungkin akan bersikap kasar kepada kalian, bukan karena kami membenci kalian. Tapi tugas kami mengharuskan kami untuk mencurigai setiap orang, tanpa terkecuali!" Normen diam sejenak untuk membiarkan para warga mencerna perkataannya. "Tuan Valerio adalah sosok yang membantu kami selama satu hari kami ada di Rowyn, dan dia langsung dibunuh setelah memberi kami informasi penting!" Normen memandang sekeliling, untuk bisa beradu pandangan ke setiap warga desa Rowyn. "Karena itu, biarkan kami menyelidiki kasus ini, dan kembalilah ke rumah kalian!" Beberapa warga yang terlihat cukup berumur, terlihat tidak puas dengan pengumuman Normen yang lebih terdengar seperti ancaman. Sedangkan para anak-anak muda seumuran Yared, langsung memilih untuk kembali ke rumah mereka. Ada sekitar enam orang yang masih memandangi kami dari jauh. Selama mereka tidak mengganggu kami, maka aku juga tidak akan mengusir mereka. Aku harus lebih bersyukur karena kerumunan warga benar-benar sudah pergi, dan tidak penasaran dengan apa yang kami lakukan. "Periksa suhu tubuh mayat, juga bekas luka lain yang bisa menuntun kita untuk menemukan si pelaku," ujar Normen sambil menunjukku. "Kau adalah seorang elf, dan seharusnya kau bisa melakukan permintaanku." Sebelum aku bisa membantah permintaan yang lebih terdengar seperti perintah itu, si prajurit tua dari Donater sudah bergegas menghampiri Yared yang ada di depan rumah Valerio. Aku tidak bisa mendengar percakapan dua orang itu dari tempatku berdiri. Namun aku bisa menebak kalau Normen juga memberi Yared sebuah perintah, karena pemuda itu hanya mengangguk dengan patuh. Beberapa saat setelah aku menyentuh pergelangan tangan mayat Valerio, Normen sudah berjongkok di sebelahku. "Sudah bisa memperkirakan?" tanyanya. Aku menggeleng pelan. "Denyut nadinya sudah benar-benar tidak bisa aku rasakan," kataku dengan tetap berusaha fokus. "Mungkin dia sudah tak bernyawa sekitar tiga hingga empat jam lalu." "Tepat saat kau keluar dari rumahnya?" balas Normen dengan mengangkat alisnya. "Kau mencurigaiku?" balasku dengan sengit. "Tidak akan," jawabnya tenang. Padahal, aku sudah siap untuk menerima semua tuduhan yang akan dia lontarkan padaku. Ternyata Normen malah memilih untuk menjaga perasaanku, karena kami baru saja berteman. Prajurit tua itu menunjuk bekas tusukan di perut Valerio, yang cukuo dalam. "Luka di perutnya tidak cocok dengan pedang-panahmu, atau pedang klan Daeron," terangnya. "Selain itu, gaya bertarungmu tidak cocok dengan luka itu." Ternyata Normen tidak mencurigaiku bukan karena dia percaya padaku. Melainkan karena aku memang tidak mungkin menyerang Valerio, berdasarkan logika sederhananya. Saat dia mengatakan kepada warga Rowyn bahwa tugas kami adalah mencurigai semua orang, Normen sedang tidak bercanda. Dia benar-benar hampir mencurigaiku, setelah kami bertarung bersama melawan klan Zabash dan seekor singa raksasa. "Kau perlu mengatakan sesuatu padaku?" tanya Normen dengan penasaran. Aku baru menyadari bahwa pemaparannya yang detail, membuatku terus memandangi pria tua ini, meskipun dia sudah berpindah dari sebelahku, ke hadapanku. "Boleh aku menanyakan sesuatu?" Normen mengangkat bahunya dengan santai. "Jika pertanyaanmu adalah sesuatu yang penting, maka aku akan menjawabnya." "Kau pernah menangani kasus pembunuhan, selama menjadi pengawa Raja Donater?" Prajurit tua itu mengangguk cepat. "Di masa mudaku, aku adalah kepala bagian di militer Donater yang menangani misteri," paparnya. "Karena itu, aku sudah terbiasa dalam menemukan pelaku kejahatan rumit seperti ini." "Itu alasanmu menerima perjanjian yang dibuat oleh Aldcera?" tebakku. "Karena kau terbiasa melakukan ini?" "Salah." Normen menggoyangkan jari telunjuknya pelan. "Aku tidak akan menerima perjanjian itu, jika Aldcera mengatakan bahwa awan gelap yang dia maksud adalah kasus rumit seperti ini." "Di atas segalanya, aku akan lebih memilih mencari Tequr demi keselamatan dan keamanan rakyat Donater Selatan. Namun semuanya terlambat. Aldcera mendapatkan yang dia mau, sedangkan kita terjebak di situasi rumit ini." "Tidak ada yang bisa kita lakukan, selain mencoba menyelesaikan kasus ini secepat mungkin," imbuhnya. "Puas dengan penjelasanku?" Aku tidak bisa mengatakan puas, dengan mulutku sendiri. Kepala prajurit tua ini akan semakin membesar, jika aku mengatakan secara jelas, bahwa aku menyetujui setiap pilihannya. Jadi, yang harus aku lakukan adalah mengubah topik. "Pembunuh itu bukankah masih belum jauh dari Rowyn?" tanyaku. Pertanyaanku membuat Normen langsung berdiri, selagi dia sedang sedang membuka kemeja Valerio dan memeriksa setiap luka di tubuh pria buncit itu. "Belum jauh, atau malah belum keluar dari Rowyn," katanya pelan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN