Selain pengetahuan, Normen juga memiliki uang dalam berbagai jenis.
Kami berhasil mendapatkan tiga kamar dari sebuah penginapan kecil yang dekat dengan gerbang masuk Rowyn, berkat persediaan uang milik Normen.
Prajurit tua itu bahkan tidak mengambil kembaliannya, meskipun si pemilik penginapan memaksakan diri untuk memberikan kamar paling besar berkat uangnya yang bernilai besar.
"Novas, Dondar, bahkan Kepeng. Diam-diam, dia menyembunyikan uang dari kita," gerutu seseorang dari sebelahku, yang hampir membuatku menyerangnya dengan senjataku.
Ternyata si penyusup adalah Yared. Pemuda itu sudah menanggalkan jubahnya, sehingga hanya menyisakan kemeja hijau tua yang sederhana, bersama celana kain sepanjang lutut.
"Pintumu terbuka sedikit, jadi aku masuk dengan sangat senyap," katanya sambil mengedipkan sebelah matanya padaku.
Dua orang yang dibuang bersamaku di Laustrowana sudah mengedipkan mata mereka kepadaku masing-masing sekali. Aku bahkan tidak akan terkejut jika Normen mengakui Yared sebagai anaknya.
"Bukannya kau yang mengusulkan untuk tidur?" sindirku sambil mengusir anak itu dari tempat tidurku. "Lalu, kenapa kau malah menggangguku yang sudah bersiap untuk tidur?"
Yared berpindah duduk di atas meja kecil yang ada di sebelah ranjangku. Sedangkan aku langsung membaringkan tubuhku di tempat tidur empuk, sambil membelakangi Yared.
"Aku memikirkan soal pembunuhan berantai yang ada di kerajaan ini," gumamnya. "Tiga puluh enam nyawa sudah berhasil dia bunuh, dan orang itu tetap luput dari penyelidikan semua divisi militer kerajaan ini selama empat bulan."
"Tiga puluh pembunuhan dan orang itu erhasil melakukan aksi tanpa satu pun saksi, adalah sesuatu yang hampir mustahil. Belum lagi masalah menguliti wajah, yang harus dilakukan dengan cepat di tempat korbannya terbunuh."
"Daripada alasan pelaku, aku lebih suka untuk mengetahui metodenya. Orang ini pasti adalah seseorang yang mengenal setiap kota dan desa di Al-Valayne dengan baik," imbuhnya.
Logika Yared ternyata juga cukup bagus, untuk seorang pemuda yang sulit untuk bersosialisasi. Sudut pandang yang dia katakan, membuatku memikirkan sebuah metode penyelidikan yang bisa kami terapkan esok hari.
Di tengah malam seperti saat ini, aku tidak bisa melihat raut wajah warga Rowyn saat melihat orang asing yang masuk ke desa mereka. Besok adalah waktu yang tepat untuk melihat ketakutan yang tersirat di wajah setiap orang.
Aku menyesal karena telah meremehkan pembunuhan berantai yang terjadi di kerajaan ini, karena terus berusaha melawan Tequr selama beberapa tahun terakhir.
Setiap teror tetap merupakan teror. Tidak ada jenisnya, karena akibatnya tetap sama. Ketakutan warga yang menimbulkan kecurigaan ke sekeliling mereka, malah akan membuat perang bisa terjadi kapan saja.
Entah pembunuh yang telah menghilangkan hampir empat puluh nyawa, atau seorang penyihir agung yang hampir menguasai sebuah pulau, keduanya sama-sama merupakan wujud dari teror.
Dan seperti terakhir kali kami melawan teror dalam wujud penyihir agung, aku akan menggunakan metode yang sama untuk mengungkap identitas pembunuh ini.
Aku berbalik untuk menghadap Yared. "Kau percaya jika tidak ada satu pun saksi?" tanyaku pada anak itu. "Atau apakah kau percaya jika pembunuh itu tidak pernah melakukan aksinya di Rowyn?"
"Valerio mengatakan bahwa para petinggi sangat jarang untuk berkunjung ke sini," balas Yared dengan suara rendah.
"Petinggi militer, bukan berarti si pembunuh," sergahku. "Raut wajah Valerio sudah cukup membuktikan bahwa salah satu korban dari si pembunuh, adalah warga desa ini."
"Dengan jarangnya para petinggi militer berkunjung ke sini, malah membuat Rowyn menjadi tempat yang paling nyaman untuk melakukan tindakan kriminal."
"Jika aku menjadi si pembunuh, maka aku melakukan aksi terbanyak di desa ini. Kemungkinan untuk tertangkap basah, juga akan jauh lebih kecil jika berada di Rowyn," imbuhku.
Yared terdiam mendengar pendapatku. Anak itu terus memandangiku sambil merapatkan bibirnya. Dia pasti menungguku untuk mengambil keputusan.
"Kita tidur," putusku.
Si pemuda aneh langsung membelalak terkejut. Dia mungkin berharap aku mengajaknya ke luar penginapan ini pada malam hari. Namun aku memang tidak berniat untuk melakukan penyelidikan malam ini. Aku terlalu lelah untuk itu.
Karena aku tidak mengatakan kalimat lagi, maka Yared meninggalkan kamarku dengan lesu. Anak itu memiliki rasa penasaran yang tinggi, bersama ide-ide yang cemerlang. Namun aku tidak bisa membahayakan hidupnya.
Meskipun lawan kami hanya membunuh tiga puluh enam orang, bukan berarti orang itu lebih lemah daripada Tequr. Fakta bahwa dia menguliti wajah korbannya, adalah bukti kuat dari keberanian, atau kenekatan orang itu.
Selepas kepergian Yared, aku berusaha untuk memejamkan kedua mataku untuk tidur. Namun ada pikiran yang menggangguku, dan membuatku terus gagal untuk tertidur.
Aku meremehkan kasus ini saat Aldcera pertama kali menceritakan pada kami. Setelah Yared mengutarakan sudut pandangnya, aku memiliki sebuah dugaan yang terus memaksaku untuk membuktikannya sendiri.
Rasa kantuk yang tadinya menjalar di seluruh tubuhku, malah menghilang karena pikiran yang terus muncul di otakku. Akhirnya aku mengalah, dan melangkah keluar dari kamarku dengan langkah senyap.
Yared dan Normen tidak boleh menyadari kepergianku. Selain tidak ingin mengganggu istirahat mereka, aku juga tidak berniat membuktikan dugaanku di bawah pengawasan dua orang itu.
Bar yang ada di lantai bawah penginapan kami, ternyata sangat ramai, sehingga tidak ada yang menyadari kedatanganku.
Aku bergegas keluar dari penginapan, dengan mencoba untuk tidak terlalu mencolok. Tujuanku adalah rumah Valerio, si penjaga gerbang Rowyn.
Jalan utama desa Rowyn tidak seramai bar di lantai bawah penginapanku. Lilin-lilin kecil yang menerangi jalanan desa ini memang membuat Rowyn tampak lebih terang. Namun tidak ada satu pun warga yang masih terjaga di tengah malam seperti ini.
Di depan rumah Valerio, aku sempat berpikir untuk langsung membuka pintu rumahnya. Si penjaga gerbang dengan perut buncit itu, pasti sedang melanjutkan tidurnya yang telah kami ganggu.
"Anda tidak tidur?"
Aku langsung mengayunkan pedangku ke belakangku, tempat si pemilik suara yang menyapaku dengan ramah.
Valerio dengan perut buncitnya berhasil menunduk di saat yang tepat, sehingga pedangku hanya menebas angin di atas kepalanya.
Seperti Aldcera yang berhasil menghindari seranganku, Valerio juga cukup gesit mengingat bentuk badannya yang menimbulkan kesan berat dan lamban.
Aku menaruh jari telunjukku di bibirku, dan menarik lengan Valerio untuk segera masuk ke rumahnya. Penjaga gerbang Rowyn tidak menolak ajakanku. Dia malah membukakan pintu rumahnya, dan menyambutku dengan sopan.
"Mau teh, atau kopi?" tanya Valerio setelah melihatku duduk di kursi ruang tamunya.
"Tidak perlu," jawabku cepat. "Aku perlu meminta informasi darimu, dan aku tahu kalau kau memiliki jawaban atas pertanyaanku. Dari tiga puluh enam korban itu, ada berapa korban yang berasal dari Rowyn?"
Pertanyaanku membuat Valerio langsung menelan ludah dengan gugup. "Saya tidak mengerti maksud Anda," ujarnya setengah berbisik. "Saya tidak memiliki informasi sepenting itu. Saya hanyalah seorang penjaga gerbang."
"Kalau begitu, aku akan mengubah pertanyaannya," balasku. "Siapa yang memerintahkanmu untuk tidak menceritakan detail kasus ini kepada semua orang?"
Valerio kembali menelan ludahnya, sembari menggosokkan dua telapak tangannya. "Sa... Saya juga tidak bisa mengatakannya," jawab Valerio dengan menggelengkan kepalanya.
Aku menarik napas panjang dari hidungku, dan menghembuskannya lewat mulutku. Aku sangat tergoda untuk menghajar pria pengecut yang ada di depanku ini, namun aku juga tidak tega melihatnya.
Melihat setiap gerakan kecil yang dilakukan Valerio, membuatku merasa dugaanku hampir benar. Pria ini menyembunyikan suatu fakta penting dari kasus pembunuhan berantai ini. Dan alasannya tidak bisa memberi tahuku, karena kemungkinan besar dia memiliki peran di kasus ini.
"Valerio, putra Valeator, kau sungguh tetap akan bersikap seperti ini?" tanyaku tajam.
Aku beranjak berdiri dari kursiku, dan berjalan ke pintu rumahnya. Pria buncit itu mengetukkan kaki kanannya ke lantai dengan cepat. Aku harus menekannya sedikit lebih keras, agar dia bisa memberi yang aku mau.
"Kau mengenal Aldcera, putra Aleoma?" desisku sembari menutup pintu rumahnya. "Bagaimana jika orang itu datang ke Rowyn, dan memerintahkanmu untuk mengatakan semua yang kau tahu kepada kami?"
Telapak kaki Valerio yang mengetuk lantai tiba-tiba berhenti. Keringat mengucur deras di seluruh wajahnya.
"Mengapa Anda menyebut soal Tuan Aldcera?" tanyanya pelan. "Bukankah Anda hanya bertemu sejenak dengannya? Anda tidak akan kembali ke rumahnya, kan?"
"Kami tidak hanya bertemu sebentar," balasku sengit. "Aku bertarung dengan Aldcera, sebelum akhirnya dia setuju untuk memberiku bantuan. Syaratnya, kami harus memecahkan misteri yang terjadi di kerajaan ini."
"Bantuan yang aku minta kepadanya jauh lebih berarti daripada menemukan pembunuh berantai yang meneror kalian. Kau masih mau menyembunyikan fakta yang seharusnya kau katakan kepada kami?"
"Aldcera bahkan memberi tanda tangannya dan materai Raja kepada kami. Bijaklah dalam memilih pilihan yang ada di depanmu," imbuhku.
Kaki Valerio yang tadinya berhenti mengetuk lantai, kembali bergerak dengan cepat. Bahkan jari-jari tangannya juga ikut mengetuk meja kayu miliknya.
Raut wajah gelisah yang ditunjukkan oleh Valerio mengingatkanku pada wajah elf klanku, saat mereka menunggu Ogrotso muncul di Hutan Hitam.
Ketakutan adalah perasaan yang akan menggerogoti logika. Ketakutan adalah awal dari semua tindakan bodoh, yang menyebabkan masalah besar di kemudian hari.
Hari itu, para elf memiliki Tuan Daeron, Briaron, dan aku yang berada di sisi mereka. Kami bertiga memastikan bahwa kami bisa diandalkan, dan bisa menjadi sumber harapan mereka. Itulah yang tidak dimiliki oleh Valerio, atau mungkin semua warga di kerajaan ini.
"Anda berjanji tidak akan mengatakan ini kepada siapa pun?" rintih Valerio tanpa melihatku. "Bahkan kepasa Tuan Aldcera, atau para petinggi yang lain?"
"Aku tidak pandai untuk membuat janji," kataku tegas. "Tapi aku bisa memastikan bahwa posisimu tetap aman. Pembunuh itu tidak akan mengincarmu, sedangkan para petinggi tidak akan tahu bahwa kau mengatakan rahasia kasus ini padaku."
"Kau bisa tetap bekerja sebagai penjaga gerbang, dan memberi nafkah kepada keluargamu. Aku tidak memintamu untuk melakukan hal lain. Cukup dengan informasi soal aksi yang dilakukan si pembunuh itu di Rowyn," sambungku.
Valerio mulai menegakkan bahunya. Pria buncit itu berdiri dari kursinya, lalu mulai menutup semua gorden jendelanya. Tidak lupa dia juga mengunci pintu rumah, dan memadamkan lilin yang menerangi ruangan ini.
Dalam gelap, aku bisa melihat Valerio mengatur napasnya secara perlahan. Pria ini berani mengambil sebuah pilihan sulit, meskipun di depannya hanya ada seorang elf asing.
Artinya, dia memang membutuhkan seseorang yang bisa berbagi beban ini. Rahasia yang dia pegang, pasti terlalu berat. Apalagi dengan tekanan dari para petinggi untuk memaksanya bungkam, dan tidak berkata apa pun.
"Tujuh dari tiga puluh enam korbannya, ditemukan di sini. Hanya satu di antaranya yang bukan warga asli Rowyn. Sedangkan ada total empat belas korban yang berasal dari Rowyn," papar Valerio dengan suara rendah yang sangat jelas.
"Sampai dua bulan lalu, para petugas maupun petinggi Alva sering menginap di Rowyn. Namun semuanya berubah setelah mayat anak perempuan seorang perwira tingkat tinggi, ditemukan di depan gerbang Rowyn yang aku jaga."
"Awalnya aku dicurigai, bahkan dianggap sebagai tersangka utama. Aku sudah siap dengan konsekuensi itu, karena mayat itu ditemukan di dekat rumahku." Valerio menghembuskan napas panjang. "Namun aku menyadari ada sesuatu yang aneh, saat aku diinterogasi."
"Katakan!" perintahku pelan.
"Pertanyaan interogasi yang diajukan kepadaku, tidak ada hubungannya sama sekali dengan kasus ini," ujar Valerio dengan suara yang semakin rendah. "Ayah dari anak perempuan itu juga merasakan hal yang sama, karena dia mengawasi proses interogasiku."
"Bagaimana contoh pertanyaannya?" tanyaku lagi.
"Apakah kau melihat pelakunya? Apakah ada saksi selain dirimu? Apakah kau yakin tidak ada yang melihat si pelaku? Apakah tidak ada yang menginap di rumahmu pada malam itu?" papar Valerio. "Hanya pertanyaan sejenis itu yang ditanyakan oleh mereka."
Pertanyaan yang diajukan para petugas yang menginterogasi Valerio, tidak terdengar seperti pertanyaan untuk mencari pelaku. Seharusnya yang ditanyakan kepada Valerio adalah kronologis, bukan saksi yang mungkin melihat kejadian itu.
Inilah yang membuat Valerio ketakutan. Bukan karena si pembunuh itu telah menghilangkan banyak nyawa, tapi karena si pembunuh seolah memiliki tameng yang sangat kuat. Para petinggi militer kerajaan ini.
"Aku mengerti maksudmu," kataku pelan. "Apakah kau memiliki informasi lain yang perlu aku ketahui?"
Valerio mulai nyaman denganku, karena permintaanku langsung dia balas dengan merenung sambil menatap langit-langit rumahnya.
"Kejadian malam itu, juga ada sedikit yang aneh," ujar Val dengan mata yang berbinar-binar. "Aku sangat yakin kalau gadis itu tidak dibunuh di depan gerbang utara Rowyn. Aku bahkan sangat yakin."
"Alasannya?"
"Karena anak itu tidak pernah keluar dari desa ini. Batas paling utara untuk anak itu adalah rumahku. Dia tidak mungkin melewati gerbang utara, dan bertemu si pembunuh di sana," jawabnya tegas.
"Maksudmu, kau menebak bahwa si pembunuh melakukan aksinya di dalam desa ini, lalu membawa mayat itu keluar, agar tersangkanya menjadi orang luar?" tebakku.
Valerio memetik jarinya cukup keras. "Itulah yang selalu ada di pikiranku!" pekiknya bangga. "Si pembunuh ada di dalam Rowyn malam itu, dan orang itu ingin membuatku menjadi penjahatnya!"
"Kau yakin ingatanmu tidak salah?" tanyaku untuk memastikan. "Kau sungguh mengenal anak perempuan yang mati malam itu?"
Pria buncit itu menganggukkan kepalanya dengan sangat cepat. "Aku sangat mengenalnya," katanya bangga. "Ayahnya adalah teman dekatku, dan dia sering menitipkan putrinya kepadaku."
"Siapa nama gadis itu?" balasku.
Val terkejut mendengar pertanyaanku. "Kau tidak tahu?" protesnya. "Dia adalah putri tunggal Tuan Aldcera, yang kau temui di padang rumput dekat pegunungan Alcyne."