Seperti kata Tuan Daeron, penyesalan selalu datang di akhir.
Aku menyesal karena membiarkan Normen mengambil alih percakapan, dan malah menjerumuskan kami ke masalah yang lebih rumit.
Tanpa akses ke kota dan desa di Al-Valayne, kami masih bisa mengusahakan jalan lain. Sekarang, perjanjian Normen dan Aldcera, malah membuat kami harus lebih mendahulukam kepentingan pria itu.
Sejak awal, aku hanya berpikir bahwa awan gelap yang dimaksud Aldcera, adalah seekor monster yang mirip dengan singa raksasa di bawah gunung Alcyne.
Setelah berhasil tetap bertahan hidup melawan dua hewan raksasa, aku merasa percaya diri untuk melawan makhluk lain yang lebih berbahaya. Ternyata, awan gelap yang dimaksud Aldcera bukan berbentuk seekor binatang.
"Lain kali, aku akan memilih Eleandil untuk bernegosiasi," gumam Yared. "Aku lebih suka untuk bertarung melawan makhluk-makhluk aneh, ketimbang menggunakan otakku."
Gerutuan Yared tidak sepenuhnya salah. Perjanjian yang dibuat Normen dengan Aldcera, malah menjerumuskan kami ke sesuatu yang lebih buruk daripada singa raksasa.
Menurut cerita Aldcera, selama empat bulan terakhir, Alcyne dan Valayne sedang diteror oleh seorang pembunuh berantai, yang sudah menghilangkan tiga puluh enam nyawa. Semua korban itu memiliki ciri-ciri yang sama, yaitu wajah yang tanpa kulit.
Si pembunuh memang layak disebut sebagai awan gelap. Seseorang yang masih menguliti tubuh tanpa nyawa, tidak bisa disebut memiliki hati. Mungkin pembunuh itu sudah tidak memiliki perasaan, atau dia memang suka dengan kulit manusia.
Aldcera memberikan kami semacam gulungan surat yang terbuat dari kulit hewan, sebagai alat yang akan meyakinkan setiap petugas Alva yang menghentikan langkah kami.
Rasa penasaran yang kami bertiga miliki, akhirnya mengantarkan kami untuk membuka gulungan itu demi melihat isinya. Ternyata, gulungan yang cukup besar itu, hanya berisi gambar bunga Kanna. Dari ukurannya, gambar itu sepertinya berasal dari cincin Raja Al-Valayne.
Selain lambang kerajaan, di sudut kanan bawah gulungan itu, terdapat nama lengkap Aldcera, yang ditulis dengan tulisan miring. Tanda tangan pria itu.
"Namanya hanya Aldcera?" ucap Yared setelah menyadari tanda tangan Aldcera di sudut bawah gulungan ini.
"Aldcera, putra Aleoma," tegas Normen. "Begitulah cara orang-orang Alcyne maupun Valayne, untuk menyebut nama lengkap mereka sendiri."
Cara Normen menjelaskan setiap hal dengan cukup lengkap, membuatku teringat dengan Tuan Daeron. Guru yang sudah aku anggap seperti ayahku itu, selalu memiliki jawaban untuk setiap pertanyaan yang aku ajukan.
Beberapa hari lalu, mungkin aku akan mencurigai Normen karena pengetahuannya yang terlampau mengesankan. Sekarang, aku hanya akan menganggap pengetahuannya sebagai tambahan kekuatan bagi kami.
Penjelasan singkat dari Normen, hanya dibalas anggukan pelan. Lalu, Yared malah menunjuk gulungan yang terbuka di depan kami. "Kita bisa menggunakan surat ini untuk masuk ke semua kota dan desa di seluruh kerajaan ini?"
Karena jawaban atas pertanyaan Yared sudah dipaparkan oleh Aldcera, maka aku dan Normen tidak menjawabnya. Aku menggulung surat itu, dan memasukkannya ke saku celanaku.
"Satu jam ke arah selatan, dan kita akan sampai di Rowyn," gumamku sembari mulai melangkah untuk melanjutkan perjalanan. Normen juga ikut berjalan di sebelahku, untuk meninggalkan Yared yang masih menunggu jawaban dari pertanyaannya.
"Kalian tidak mau menjawabku?" gerutunya. Anak itu mulai mengejar kami dengan berlari kecil, sebelum akhirnya memaksa berada di tengah-tengahku dan Normen. "Kalian yakin tidak akan menyesal setelah mendengar ideku?"
"Dengan surat itu, bukankah kita bisa mencari Tequr di seluruh tempat yang berada di bawah kekuasaan Al-Valayne?" imbuh Yared.
"Memang bisa," jawab Normen dengan tenang. "Tapi kita tidak akan melakukannya. Menemukan pembunuh yang meneror kerajaan ini, adalah prioritas kita."
Meskipun aku setuju dengan keputusan Normen untuk tidak mencari Tequr, namun menyebut misi pencarian si pembunuh berantai sebagai sebuah prioritas terlalu berlebihan.
Bagiku, prioritas kami tetap mencari Tequr. Tapi kami tidak bisa melakukannya secara terbuka, melainkan dengan tetap berpura-pura menyelidiki kasus yang terjadi di kerajaan ini.
Normen pasti memiliki alasan untuk menganggap bahwa prioritas kami adalah mencari si pembunuh. Pria tua itu pasti akan menceritakan padaku dan Yared, saat waktunya sudah tepat. Yang perlu kulakukan adalah fokus dengan apa yang ada di depanku.
Setelah ide Yared ditolak dengan alasan yang masuk akal oleh Normen, kami melanjutkan perjalanan ke Rowyn dalam diam.
Rasa lapar memang sudah sepenuhnya hilang dari dalam diriku. Namun kakiku masih terlalu lelah untuk melakukan perjalanan jauh. Sesampainya di Rowyn, aku pasti akan langsung mencari penginapan dan segera tidur.
Untungnya, informasi yang diberikan oleh Aldcera bukanlah sebuah kebohongan. Kami bisa melihat siluet sebuah desa yang mungkin adalah Rowyn, setelah berjalan sekitar satu jam dari rumahnya.
Aldcera si petugas Alva, sedikit mengoreksi sudut pandang kami soal Rowyn. Pria itu mengatakan bahwa Rowyn adalah sebuah desa, alih-alih sebuah kota seperti yang dikatakan Normen. Karena itu, Aldcera memperingatkan kami agar tidak berharap lebih saat berada di Rowyn.
Semakin dekat dengan Rowyn, membuat jantungku semakin berdegup kencang. Padahal tidak ada singa raksasa, atau Ogrotso yang keluar dari desa ini.
Jika harus membandingkan dengan desa di Adon, maka aku harus mengakui kalau peradaban di Laustrowana sedikit lebih maju. Begitu pun sudut pandang mereka untuk menyebut sebuah tempat sebagai desa, kota, atau kota besar.
Di Adon, sebuah desa hanya berisi sekitar dua puluh sampai tiga puluh rumah dalam satu kawasan. Tidak ada pos penjaga, apalagi pagar yang melindungi dari serangan pihak luar. Desa-desa di Adon tidak bisa memproduksi bahan makanan sendiri. Sehingga yang mereka lakukan adalah menjual ternak atau hasil tanah, kepada kota terdekat.
Tekoa juga dikategorikan sebagai desa, karena jumlah rumah yang melingkari api besar di tengah, tidak lebih dari tiga puluh bangunan. Namun secara fungsi, Tekoa lebih layak disebut kota.
Klanku memiliki banyak ternak di sisi utara. Pos penjaga yang berjarak cukup jauh dari rumah warga, untuk bisa memberi peringatan dini jika ada bahaya. Tekoa juga lebih dari mampu, untuk menanam, memanen, dan membuat makanan sendiri.
Selama penjelajahanku ke hampir seluruh tempat di Adon, aku tidak pernah menemukan sebuah desa yang begitu besar, sekaligus menakjubkan seperti Rowyn.
Dari tempatku berdiri yang masih cukup jauh dari Rowyn, aku bisa melihat betapa gemerlapnya desa itu. Perbandingan yang bisa menyetarai Rowyn adalah kota Donuemont. Bedanya, Rowyn tidak dilindungi oleh pagar dari batu, melainkan pagar bambu yang dilapisi cairan berwarna hitam.
"Tempat ini adalah sebuah desa?" desah Yared yang juga tidak bisa menyembunyikan kekagumannya. "Aku bahkan hampir menangis, karena cahaya tempat ini sangat mirip dengan Donuemont saat sebuah festival berlangsung."
Meskipun aku tidak memiliki kenangan yang sama dengan Yared, aku tetap bisa merasakan perasaan anak itu. Sejauh apa pun dia melangkah, rumahnya tetap adalah Donuemont. Melihat sebuah desa yang mirip dengan tempat tinggalnya, pasti membuat Yared cukup emosional.
Namun hal itu tidak berlaku bagi Normen. Si prajurit tua yang seharusnya juga memiliki kenangan akan Donuemont, hanya menatap Rowyn tanpa ekspresi.
Aku mengikuti arah mata Normen, dan pandangannya berujung di sebuah rumah seukuran tempat tinggal Aldcera, yang berada tepat di samping gerbang masuk ke Rowyn.
"Jika gulungan ini tidak berhasil membuat kita masuk, apakah kau memiliki rencana cadangan?" bisikku ke telinga Normen.
Pria tua itu malah membuka telapak tangannya, sebelum menjawab pertanyaanku. "Berikan saja gulungan itu," jawabnya dingin. "Aku yang akan berbicara kepada penjaga gerbang."
Aku memberikan gulungan yang berisi lambang kerajaan Al-Valayne dan tanda tangan Aldcera kepada Normen. Pria tua itu langsung berjalan ke arah gerbang, setelah gulungan surat itu berada di tangannya.
Di belakangnya, aku dan Yared mengikuti langkah kaki tegas milik Normen. "Cukup menyenangkan saat kita bertiga bisa bekerja sama tanpa kecurigaan," ujar Yared sambil menepuk punggungku pelan.
"Meskipun tubuhku masih sangat sakit akibat melawan singa raksasa itu, ternyata makhluk itu membawa kepercayaan di antara kita bertiga," imbuh anak itu sambil tersenyum lebar.
Normen yang melangkah di barisan paling depan, sudah sampai di gerbang desa Rowyn. Sesuai dugaan Normen, si penjaga gerbang desa keluar dari rumah di samping gerbang, beberapa saat setelah Normen mengetuk pintunya.
Entah karena kami selalu datang di waktu tidur, atau memang para penjaga yang kami temui di kerajaan ini diperintahkan untuk selalu memasang wajah setengah tidur saat ada orang asing.
Sama seperti Aldcera, orang yang keluar dari dalam rumah di depan kami, hanya membuka sedikit matanya. Bahkan, orang ini masih sempat untuk menguap di depan kami.
Namun ada perbedaan yang jauh antara Aldcera dan orang di depan kami ini, terutama dalam hal penampilan.
Aldcera terlihat seperti seorang pria maskulin yang bisa diandalkan. Pakaiannya yang agak terlalu panjang, tidak bisa menyembunyikan fakta bahwa tubuh pria itu cukup kekar dan berotot. Sehingga saat dia mengatakan bahwa tugasnya adalah menjadi penjaga sisi utara Al-Valayne, aku tidak meragukannya sedikit pun.
Sedangkan pria di depan kami ini, memiliki perut buncit yang hampir merobek kancing kemejanya. Rambutnya yang terlalu panjang dan kusut, juga hampir membuatku mengira pria ini memelihara burung di atas kepalanya.
"Kau petugas Alva?" tanya Normen dengan nada tegas yang cukup keras. Mungkin dia mencoba bertanya sekaligus membangunkan pria itu dalam sekali serang.
Pria buncit itu mengangguk cepat, meskipun kelopak matanya masih setengah terbuka. "Kalian siapa?" tanya pria itu sambil menampar pipinya cukup keras.
Aku melihat keseluruhan pakaian pria itu dari atas sampai bawah. Ternyata alasan Normen menebak pria ini adalah petugas Alva, adalah pin berbentuk bunga Kanna yang tersemat pada kemeja di d**a orang ini.
"Kau sudah bangun!?" bentak Normen, hingga pria buncit itu sedikit tersentak.
Meskipun wajahnya masih mengantuk, pria itu sudah tampak lebih baik daripada beberapa saat lalu. Dia bahkan mempersilahkan kami masuk ke rumahnya dengan sopan, selagi dia masuk ke kamar mandi untuk mencuci wajahnya.
Rumah si pria buncit berbanding terbalik dengan penampilannya yang sembrono. Semua perabot dan ornamen yang ada di dalam sini, tampak ditata dengan rapi. Orang ini bahkan memiliki beberapa lukisan yang tergantung di dindingnya.
Secara ukuran, rumah ini tidak berbeda jauh dengan rumah Aldcera yang berada di tengah-tengah padang rumput luas. Perbedaan paling mencolok adalah rumah ini tidak memiliki perapian, sekaligus cerobong yang membuang asap hasil pembakaran. Mungkin karena ini berada di tengah pemukiman warga.
"Maafkan saya, karena menyambut kalian dengan setengah tertidur," ucap si pria buncit sambil berlari kecil ke meja tempat kami duduk melingkar.
Dia sudah berganti pakaian yang lebih formal. Di atas kemeja putihnya yang sederhana, dia memakai tambahan pakaian luar yang berbahan tebal, dan bagian belakangnya hingga mencapai betis. Tidak lupa pin bunga Kanna tetap tersemat rapi di pakaian luarnya.
"Kami datang ke sini, atas izin dari Aldcera," ujar Normen sambil memberikan gulungan surat kepada si pria buncit. "Dalam beberapa hari, kami akan tinggal di salah satu penginapan yang ada di desa ini. Kami ditugaskan untuk menyelidiki pembunuhan yang meneror kerajaan Al-Valayne."
Si pria buncit mengambil gulungan dari tangan Normen, lalu mulai membaca isinya. Pria itu sempat terdiam beberapa saat, sebelum dia mengembalikan gulungan itu kepada Normen.
"Pertama, nama saya adalah Valerio, putra Valeator," ujarnya setelah berdehem beberapa kali. "Di Rowyn, posisi saya hanya sebagai penjaga gerbang. Yang bisa saya lakukan hanya membiarkan kalian melewati gerbang ini."
"Untuk fasilitas seperti penginapan, makan, kuda, dan informasi terkait pembunuhan berantai yang terjadi selama beberapa bulan terakhir, tidak berada dalam wewenangku," sambung Valerio.
"Lalu, dengan siapa seharusnya kami berbicara?" sergahku.
"Petugas Alva, atau pasukan Alva dengan jabatan tinggi seperti perwira atau jenderal," jawab Valerio. "Rowyn bukanlah tempat untuk para orang-orang dengan jabatan tinggi seperti itu."
Aku menoleh kepada Normen, dan memberikan anggukan pelan kepadanya. Sebuah isyarat sederhana yang berarti aku sudah mengonfirmasi kejujuran dari Valerio.
"Artinya, kami tidak bisa mendapat detail kasus ini di Rowyn, karena tidak adanya para pejabat tinggi yang memiliki informasi kasus itu?" tanya Normen untuk memastikan kesimpulannya.
Valerio mengangguk dengan cepat. "Rowyn hanyalah sebuah desa kecil di utara Alcyne," desah pria itu. "Kunjungan orang-orang dengan pangkat tinggi, pasti akan segera menyebar di antara para warga."
Normen beranjak berdiri dari kursinya, lalu menbungkuk kepada Valerio untuk berpamitan. Aku dan Yared mengikuti tindakan Normen, dan segera keluar dari rumah Valerio setelah memberikan senyuman hangat kepada pria itu.
"El, Yared, ada ide?" tanya Normen dari depan kami.
"Tidur?" jawab Yared cepat.
Normen tiba-tiba berbalik badan, dan mencengkeram dua pundak Yared. "Kau masih bisa mengantuk di saat seperti ini?" desis pria tua itu.
Dengan wajah polos, Yared malah mengangguk tanpa beban. "Aku percaya jika kita menyewa sebuah penginapan dan tidur, maka akan ada ide yang masuk ke otakku besok pagi," usul anak itu.
Aku tidak bisa membantah Yared, karena setiap kata yang keluar dari mulut anak itu memang benar. Lebih dari informasi, yang kami butuhkan saat ini memang beristirahat dengan nyaman.
Normen mengerutkan keningnya, sehingga wajahnya tampak semakin tua. "Kalau begitu, kita harus segera mencari penginapan," katanya dengan riang.