Bab 12 - Petugas Alva

1982 Kata
Lain kali, aku akan belajar untuk menyingkirkan perasaan tidak enak yang sering muncul di saat yang tidak tepat. Contohnya adalah saat ini. Seharusnya kami bertiga langsung kabur dari rumah ini, setelah menggetok kepala si pemilik rumah, dan menghabiskan makanannya. Bukan malah memperkenalkan diri, karena tidak sanggup berbuat jahat. Normen dan Yared bisa saja mengabaikan kebaikan Aldcera, namun tidak denganku. Aku berhutang budi pada orang ini, karena telah menyelamatkanku dari kelaparan. Karena itu aku memilih untuk membalas perkenalan dirinya, dengan memperkenalkan diriku sendiri. "Aku Eleandil, seorang elf klan Daeron," ujarku. Aku tidak peduli meskipun Normen memelototiku, dan Yared menundukkan kepalanya dengan muram. Jika mereka tidak bisa membalas kebaikan orang ini, maka aku yang akan melakukannya. Aldcera mengangkat alisnya dengan tatapan ragu kepadaku. Namun pria itu tetap mengangguk pelan. "Setahuku, klan Daeron tidak tinggal di Laustrowana," gumamnya. "Memang bukan," timpal Normen. "Dia berasal dari pulau Adon, begitu juga dengan kami berdua. Kami memiliki misi penting untuk dilakukan di Laustrowana." "Karena itu, kami tidak bisa memberi tahu lebih banyak soal identitas kami. Misi yang harus kami lakukan di sini, sangat rahasia," imbuh Normen. Selain kebijaksanaan dan kekuatan yang begitu besar, Normen juga memiliki kecerdikan yang cukup membuatku kagum. Semua yang dia katakan memang tidak sepenuhnya benar. Namun pria tua itu juga tidak berbohong. Kami memang baru saja diberi misi oleh Tuan Daeron lewat Eol, untuk mencari dan membunuh Tequr. Tapi kami tidak dituntut untuk menyembunyikan identitas. Aku juga ragu kalau orang ini akan mengetahui identitas kami, hanya dengan nama. Respon pertama dari Aldcera adalah mengangkat kedua tangannya, sembari mengerucutkan bibirnya. "Oke, aku paham maksud kalian," ujarnya. "Karena itu, aku juga tidak bisa membiarkan kalian masuk ke wilayah Alcyne." Pria itu berbalik badan dan membelakangi kami. "Aku tidak percaya jika kalian berasal dari Adon, karena tidak ada yang bisa masuk ke Laustrowana lewat bagian barat. Pelabuhan yang berfungsi di pulau ini, hanya pelabuhan di sisi timur." "Selain itu, Alcyne maupun Valayne sedang berada dalam ketakutan." Aldcera memasukkan tangannya ke saku pakaiannya. "Sepertinya, kalian adalah alasan dibalik awan kelam yang menyelimuti kerajaan kembar selama beberapa bulan terakhir." Ternyata Aldcera memiliki alasan untuk membelakangi kami. Pria ini menghunus sebilah pedang dari balik pakaian panjangnya, dan langsung mengarah padaku. Aku hampir saja gagal menghindari serangannya, meskipun ayunan pedang Aldcera seolah memiliki kecepatan normal. Untungnya aku adalah seorang elf. Jika Normen atau Yared yang ada di tempatku, maka sudah pasti riwayat mereka akan tamat di rumah ini. Serangan mendadak dari si pemilik rumah, menyebabkan dua teman baruku langsung menarik senjata mereka masing-masing. "Biarkan aku yang melawannya!" seruku dengam cepat. "Kalian berdua keluar dari rumah ini, dan usahakan tidak ada orang yang akan melihat pertarungan di dalam sini!" Normen memandangiku selama beberapa saat, sebelum Yared menariknya keluar dari rumah ini. Sifat dasar elf yang ada dalam diriku, memaksaku untuk tidak melukai pria di depanku ini. Dan mengeluarkan Normen dari sini, adalah langkah yang paling tepat. Aldcera membiarkan dua temanku melewatinya, dan pergi ke pintu masuk rumah ini sesuai perintahku. Padahal, aku sudah menduga kalau pria ini akan menyerang mereka berdua secara mendadak. "Kau cukup memiliki keberanian, untuk ukuran seorang elf," ujar Aldcera sambil memutar pedang di tangannya. "Namun hari ini, aku tidak berniat untuk kalah darimu. Jadi bersiaplah untuk terluka cukup parah." Dari tempatku berdiri, aku bisa melihat bahwa Normen dan Yared sudah berhasil keluar dari rumah ini dengan selamat. Sekarang, dengan hanya aku dan Aldcera di dalam rumah ini, maka semuanya tergantung padaku. "Boleh aku memberimu saran?" kataku dengan mencoba tersenyum kepadanya. Aldcera membalas senyumanku dengan mengangguk pelan. "Aku tidak pernah menolak saran dari orang lain," balasnya. "Sekali pun saran itu berasal dari mulut seorang penjahat." Di antara seluruh elf klan Daeron, otakku memang terkenal cukup hebat untuk menyatukan banyak kepingan informasi, menjadi sebuah dugaan yang sangat dekat dengan fakta. Meskipun aku tidak setenang Briaron, dan selicik Tequr, aku tetap diberkahi dengan otak yang pintar. Sudah cukup lama sejak terakhir kali aku menggunakan otakku, untuk mengakhiri pertempuran, bahkan sebelum pertempuran berlangsung. Akhir-akhir ini aku lebih sering menggunakan otakku untuk mengalahkan musuhku, ketimbang mencegah pertempuran. Metode itu yang mungkin membuatku lebih tampak seperti para orc yang menyukai kekerasan, ketimbang para elf yang terkenal bijak. Saat ini, aku memiliki kesempatan untuk memperbaiki reputasiku di depan pria ini. Jika aku dapat membuat kesimpulan dari beberapa informasi kecil yang dia berikan, maka identitasku sebagai seorang elf, akan memiliki kesan baik di matanya. Selagi kami berdua hanya mengarahkan pedang ke satu sama lain, aku mencoba untuk menggunakan logikaku. Waktuku tidak terlalu panjang, karena Aldcera pasti akan menyerangku jika dia mendapat momentum. Aldcera menyebut soal awan gelap yang menaungi langit kerajaan Alcyne, saat kami meminta izinnya untuk masuk ke wilayah Al-Valayne. Bahkan, Aldcera juga menyebut kami sebagai biang keladi atas turunnya awan gelap itu. Awan gelap yang dikatakan orang ini, mungkin tidak berarti secara harafiah. Dari caranya berbicara pun, aku bisa memahami bahwa orang ini menggunakan metafora yang terselubung. "Saran dariku cukup sederhana," kataku pelan. "Pertama, kau harus menurunkan senjatamu, karena aku ingin kita tidak saling memenggal, saat berdiskusi." "Aku menolak," balas Aldcera singkat. Pria itu menggerakkan ujung pedangnya ke atas, sebagai isyarat agar aku melanjutkan dengan poin keduaku. Orang ini memiliki rasa curiga yang begitu besar. Mungkin karena dia adalah seorang prajurit, atau pengawal, sehingga dia terbiasa untuk mencurigai segala sesuatu. Namun aku tidak akan menyerah. Aku sangat yakin dengan dugaanku, bahwa orang ini sebenarnya adalah orang baik. Dia hanya melakukan tugasnya untuk mencurigai orang asing yang berusaha masuk ke Rowyn. "Kedua, aku harus menceritakan fakta yang asli, akan kedatangan kami di sini," sambungku. Kali ini, aku memberanikan diri untuk mengembalikan senjataku ke dalam sarungnya. "Lanjutkan, aku bisa menilai kejujuran seseorang, dari setiap gerakan kecil yang dia lakukan," balas Aldcera tajam. Meskipun aku sudah tidak bersenjata, pria ini tetap mengacungkan mata pedangnya ke wajahku. Aku takut kalau pilihan yang aku ambil ternyata adalah sebuah kesalahan. Tapi aku harus mengambil pilihan ini, karena memang beginilah cara hidup seorang elf. "Kami dibuang," kataku. "Lebih tepatnya, kami terkena sihir seseorang, dan orang itu membuang kami ke Laustrowana." Sorot mata Aldcera yang tadinya cukup tenang, berubah menjadi sorot mata yang penuh dengan rasa penasaran. Melihat orang ini mempercayaiku, membuatku semakin ingin mengatakan fakta yang sebenarnya. Sudah saatnya untuk menepis semua kebohongan yang telah diucapkan Normen beberapa saat lalu. "Tequr Lolazar, mungkin warga pulau ini tidak pernah mendengar namanya. Namun, orang itu sudah berhasil menjadi teror untuk pulau Adon. Tequr bahkan memiliki keberanian untuk memerangi Halingga, dan berusaha merebut Adijaya," paparku. "Aku tidak perlu mengenal namanya," ucap Aldcera. "Dari ceritamu, orang itu sepertinya terlalu bodoh. Selama ribuan tahun, tidak akan ada yang berani menyerang Halingga, apalagi Adijaya." "Orang-orang Adon pasti adalah sekumpulan penakut yang tidak bisa memakai otak mereka. Untuk mengalahkan Halingga, kau perlu mengumpulkan pasukan yang berjumlah dua kali lipat lebih banyak ketimbang para pasukan Halingga." "Bahkan Skardolav yang sangat ambisius pun, tidak akan melakukan perbuatan senekat itu. Orang bernama Tequr yang kau sebutkan itu, sudah pasti adalah orang bodoh," sambung Aldcera. Ternyata beginilah pandangan orang Laustrowana terhadap pulau Adon. Aku mengira Tuan Daeron hanya mengada-ada saat mengatakan bahwa Laustrowana tidak peduli sedikit pun kepada Adon. Setelah mendengar Aldcera, aku sadar bahwa perkataan Tuan Daeron hari itu adalah kebenaran. Orang ini adalah seorang petugas dari kerajaan besar di utara Laustrowana. Dia mendapat tugas untuk menjaga sisi utara kerajaannya dari orang asing yang akan masuk. Pemikiran orang ini bisa jadi mewakili pemikiran seluruh warga di Laustrowana, tentang cara mereka melihat Adon. Bagi orang-orang di pulau ini, Adon hanya sebuah pulau kecil yang berisi sekumpulan orang bodoh. Bahkan, dia tidak peduli sama sekali dengan keselamatan para warga Adon. Bukan hanya itu, dia meremehkan kekuatan Tequr Lolazar, dan mengatakan bahwa perbuatan yang dilakukan sang penyihir adalah tindakan bodoh. Sedangkan di sisi lain, aku dan dua temanku tidak berniat pulang ke Adon, demi mencari Tequr di pulau ini. Sebuah pikiran jahat muncul di otakku, untuk membiarkan kekuatan Tequr semakin tumbuh di pulau ini. Akhirnya, Laustrowana akan bernasib sama dengan Adon, atau malah lebih buruk. "Masih ada alasan lain?" tanya Aldcera dengan senyum yang hanya melengkung di sisi kiri bibirnya. "Kalau tidak ada, maka lebih baik kalian pulang ke Adon, dan mengurungkan niat untuk masuk ke Al-Valayne." Aldcera menyarungkan pedangnya, lalu mengangkat alisnya. Setelah itu, dia berbalik dan melangkah menuju ke pintu utama rumahnya. "Tujuh ribu," gumamku. "Tequr memiliki tujuh ribu pasukan di bawah komandonya." Aku memang sengaja menggumam dengan cukup keras. Aldcera yang mendengarku, akhirnya menoleh kepadaku. "Apa katamu?" ujarnya. "Tequr Lolazar yang kau sebut bodoh, berhasil membuat tujuh ribu pasukan yang berasal dari manusia, orc, elf, dan kurcaci," ucapku lirih. "Dia bukan orang bodoh. Tequr adalah teror yang hidup dalam wujud penyihir." Sebelum Aldcera memotong kalimatku, aku langsung melanjutkan perkataanku. "Adon hampir hancur dalam satu hari, jika mereka tidak memilih untuk bersatu. Dan sekarang, Tequr ada di pulau ini. Pulau Laustrowana. Pulaumu." "Misiku dan dua orang yang ada di luar itu adalah mencari Tequr, sebelum dia sempat membuat pasukan untuk memerangi kerajaan lain. Jika kau tidak mengizinkan kami untuk masuk ke Rowyn, maka kami bisa saja pulang ke Adon tanpa beban." "Peringatanku hanya satu. Tequr Lolazar mrmiliki otak yang sangat cerdik dan licik. Menurutmu, kenapa dia harus melepaskan Laustrowana, saat dia sudah ada di pulau ini?" ujarku lirih. Aldcera memiringkan kepalanya sambil menatapku tajam. Seharusnya setiap kalimat yang keluar dari mulutku, membuat orang ini berpikir ulang untuk meremehkan Tequr. Akhirnya, Aldcera menjawabku setelah merapatkan bibirnya selama beberapa detik. "Aku masih tidak percaya dengan semua yang kau katakan," akunya. "Namun sorot mata, dan nada suaramu menunjukkan bahwa kau mengatakan kebenaran. Jika ada orang yang seberbahaya itu di Laustrowana, maka aku harus segera memperingatkan seluruh petugas Alva, agar segera mencari Tequr." "Tetapi, masalah di Al-Valayne bukan hanya itu." Aldcera menarik napas panjang. "Kerajaanku benar-benar sedang dibayangi awan gelap. Para petinggi tidak akan peduli dengan keberadaan Tequr, akibat awan gelap yang ada di sini." "Ada sesuatu yang lebih gelap daripada semua ceritaku soal Tequr?" balasku sengit. Aldcera memaksakan diri untuk mengangguk pelan. "Ceritamu soal Tequr, tidak akan dianggap oleh para petinggi, karena orang itu belum muncul di sini." "Sedangkan dalam beberapa bulan terakhir, kerajaan Alcyne dan Valayne sedang berusaha mencari seseorang yang benar-benar meneror kami," imbuhnya. "Kita buat perjanjian!" seru Normen sembari melangkah ke arah kami. Aku dan Aldcera langsung memandangi dua orang yang seharusnya berada di liar, hingga kami selesai berbicara. Dengan Normen yang menjadi pemimpinnya, mereka berdua masuk ke rumah Aldcera dengan senyum yang aneh. "Tunggu di luar seben—" Normen mengangkat jari telunjuknya di depan wajahku. "Sekarang, giliranku yang berbicara kepada Tuan Aldcera," sela prajurit tua itu dengan tatapan menyebalkan. "Aku mau membuat perjanjian denganmu, sebagai seorang petugas Alva, boleh?" Normen mengulang permintaanya. Kali ini, dia mengusirku dari hadapan Aldcera, dan mendudukkan dirinya di kursi itu. Wajah Aldcera masih tetap datar. Namun pria itu mengizinkan Normen mengatakan perjanjian, dengan sebuah anggukan. Mau tidak mau, aku membiarkannya mengambil alih tempatku. Namun aku tidak akan meninggalkan Normen sendirian. Aku tidak mau jika pria tua ini malah mengatakan hal-hal aneh kepada Aldcera. "Jadi, aku akan membuat perjanjian sederhana antara kau dan aku yang mewakili dua orang ini," ujar Normen dengan antusias. "Kami perlu mencari Tequr Lolazar di seluruh sudut kerajaanmu. Karena itu, kami membutuhkan semacam identitas khusus, yang akan membuat kami mudah melewati para penjaga di setiap kota." "Akan sangat merepotkan bagi kami, jika di setiap tempat yang kami kunjungi, kami harus berhadapan dengan petugas Alva sepertimu. Kau paham maksudku, kan?" tanya Normen. Aldcera mendengus, lalu tertawa pelan. "Aku bisa memberi kalian identitas itu, namun di mana letak keuntunganku?" balasnya. Inilah yang aku tunggu. Normen seharusnya menyiapkan hadiah yang tidak terlalu besar kepada Aldcera, hanya untuk ditukar akses memasuki setiap kota dan desa di Al-Valayne. "Kami akan membantumu menyelesaikan masalah awan gelap di kerajaan ini," ucap Normen. "Sesuai perkataan Eleandil, tidak ada yang lebih gelap ketimbang Tequr Lolazar. Dan kami bertiga sudah pernah melawannya." Akhirnya tawa yang mungkin sudah lama ditahan oleh Aldcera pecah. Di sela tawanya, dia berkata, "Aku setuju dengan perjanjian itu. Kalian bahkan aku persilahkan masuk ke Rowyn mulai saat ini!"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN