Bab 9 - Rahasia Setiap Orang

1982 Kata
Aku tidak tahu berapa lama kami berguling di lereng gunung Alcyne. Untungnya aku masih dalam mode mata merah, sehingga aku bisa melindungi Yared agar tidak bertubrukan dengan lereng gunung yang tidak rata. Setelah tanah sudah tidak terlalu miring, akhirnya kami berhenti berguling. Yang pertama kali berdiri adalah Normen Harv, dengan pedang besar yang dia dapat dari klanku. "Katakan, dari mana asal kekuatanmu itu!" bentak Normen kepadaku. Pria itu langsung duduk di atasku yang sedang terlentang, dan mengarahkan pedangnya ke leherku. "Kau sendiri? Dari mana asal tombak perak yang selalu kau sembunyikan itu?" balasku lirih. "Apakah hanya kau yang boleh memiliki rahasia?" Pria itu semakin menekankan gagang pedangnya padaku. "Jangan membalikkan pertanyaanku," geramnya. "Aku sedang tidak ingin bercanda. Jelaskan padaku asal kekuatanmu!" "Hanya jika kau mengatakan asal tombakmu!" sergahku lantang. Kami berdua saling beradu tatapan. Meskipun aku berada di bawahnya, aku masih bisa menyerang Normen dengan pisau di saku celanaku. Aku hanya perlu menunggunya menyerangku lebih dulu. Selama beberapa saat, yang terdengar adalah suara napas berat milik kami berdua. Aku tahu kalau Normen tidak akan menyerangku. Buktinya dia mengarahkan gagang pedangnya ke leherku, bukan mata pedangnya. Pria tua ini hanya ingin mengetahui fakta dibalik kekuatanku. "Kalian berdua masih ada waktu untuk bertengkar?" gerutu Yared. Aku mengintip ke belakang Normen, untuk mengetahui apa yang dilakukan anak itu. Yared sedang mengendus pasir di genggaman tangannya, dengan raut wajah serius. "Sudah selesai?" katanya lagi, tanpa menoleh kepada kami berdua. "Kalian bisa membantuku untuk memastikan rumput di bawah ini. Aku tidak terlalu ingat dengan baunya, tapi aku cukup yakin kalau rumput ini adalah yang aku pikirkan." Normen kembali mengarahkan pandangannya kepadaku. "Kau harus menjelaskan soal kekuatanmu, setelah kita memeriksa rumput itu," ujarnya lirih. "Hanya aku?" balasku. "Kau tidak berniat menjelaskan soal tombak itu pada kami?" "Oh, ayolah!" rintih Yared. "Setelah sama-sama selamat dari singa raksasa itu, kalian masih membahas sesuatu yang tidak penting? Bantu aku memeriksa rumput ini!" Normen akhirnya beranjak dari atasku sambil menggertakkan giginya. "Aku akan mengawasimu!" ujarnya lirih sambil menunjukku. Aku membersihkan debu yang ada di pakaianku, akibat berguling cukup lama di lereng gunung ini. Setelah itu aku bergegas ke sebelah Yared, untuk memeriksa sesuatu yang dia temukan. Anak itu memegang rumput dengan bentuk aneh di tangannya. Daripada disebut rumput, benda di tangan Yared lebih cocok disebut sebagai bunga. Dan aku tahu jenis bunga itu. Tanaman itu berukuran kecil, karena hanya memenuhi satu ruas jari tangan milik Yared. Ada dua daun yang tampak seperti kelopak bunga. Namun karena bentuknya memanjang, Yared mengiranya sebagai rumput asli daerah sini. "Kanna," gumam Normen sembari mengendus bunga yang dia petik sendiri dari bawahnya. "Hanya itu?" gerutu Yared. Dia menyilangkan dua tangan di depan dadanya. "Tidak ada lagi penjelasan lebih lanjut, atau bunga itu adalah salah satu rahasiamu?" Sindiran Yared tepat sasaran, karena Normen langsung melirik Yared dengan tajam. "Bunga ini tidak termasuk dalam rahasiaku," desis Normen. "Eleandil adalah yang lebih mungkin, untuk menganggap bahwa bunga ini adalah rahasianya." Yared beralih menatapku, dengan sorot mata yang sama saat dia menyindir Normen. "Kau juga tidak mau rahasiamu diketahui oleh kami?" tanya anak itu. Hanya dua orang di seluruh Ueter yang mengetahui kekuatan rahasiaku. Tuan Daeron dan putranya, Briaron. Aku sempat memakai kekuatanku di depan Amicia, Lass dan Mamrodou saat melawan serangga raksasa. Namun saat itu aku menyalurkan kekuatanku ke anak panah, bukan dengan tangan kosong seperti yang sudah dua kali dilihat oleh Normen dan Yared. Bahkan aku sampai naik ke puncak pohon tertinggi Hutan Hitam, agar tidak ada yang melihatku sedang memakai kekuatan rahasiaku. Karena sebenarnya, kekuatan ini sangat memalukan bagiku. Sekarang dua orang di depanku ini sudah melihatku berubah menjadi orang lain, sampai dua kali dengan waktu yang begitu dekat. Tidak ada alasan bagiku untuk menyembunyikan fakta kekuatanku lebih lama lagi. Aku mungkin akan menghabiskan banyak waktu dengan dua orang ini untuk menyusuri Laustrowana, hingga teman-teman kami di Adon menyadari bahwa kami menghilang. Artinya, demostrasi kekuatanku mungkin tidak akan berakhir hari ini. Meskipun aku sangat tidak ingin menggunakannya, tapi aku tidak bisa mengontrol keadaan di sekitarku. Siapa yang menjamin perjalanan kami akan tenang, dan tidak bertemu musuh yang kuat? Meskipun dua orang ini memiliki sisi menyebalkan, aku tidak ingin kehilangan mereka berdua. Dan saat kekuatan rahasiaku aktif, aku bisa saja menyerang mereka. Aku memutuskan untuk memberi tahu soal kekuatanku kepada mereka. "Aku lahir dari dua orang tua yang berbeda ras," ucapku pelan. Normen dan Yared langsung menatapku dengan takjub, karena mereka mungkin tidak berekspetasi bahwa aku akan menceritakan rahasiaku secepat ini. "Ayahku adalah seorang manusia dari Oater, sedangkan ibuku adalah seorang elf klan Zabash. Adikku memilih untuk menjadi manusia, sedangkan aku memilih menjadi elf," paparku. Mereka berdua menunduk saat aku menyebut soal adikku. Aku baru menyadari sebuah fakta penting, bahwa mereka berdua ada di Tekoa saat Lass menemukan mayat adikku di Hutan Hitam. Dua orang ini sudah mengalami banyak hal bersamaku. Mengingat fakta itu membuatku semakin leluasa untuk menceritakan lebih banyak soal diriku kepada mereka. Bertahan selama ini di pihak yang sama denganku, adalah bukti bahwa dua orang ini layak diberikan kepercayaan lebih. "Karena aku adalah keturunan klan Zabash, maka aku bisa mengakses kekuatan istimewa, sekaligus kutukan mereka." Aku menarik napas panjang, karena kalimat selanjutnya akan lebih berat. "Seluruh indraku dan kekuatanku akan bertambah berlipat kali ganda saat aku meminum darah." Aku menelan ludahku sendiri. "Sampai saat ini, aku hanya mengakses kekuatanku di saat genting dan menggunakan darahku sendiri." Aku sangat siap jika Normen dan Yared langsung mengangkat pedang mereka masing-masing untuk menyerangku. Namun dua orang itu malah hanya menganggukkan kepala. "Saat melihat kaln Zabash berada di pihak Tequr, aku sangat kecewa dan marah. Namun aku menahan perasaanku, agar pihak yang benar tetap menang," akuku. "Untuk melawan Tequr, kau tidak bisa memakai perasaanmu," timpal Normen. "Penyihir itu selalu memakai Ogrotso yang memiliki wajah orang-orang terdekat lawannga, untuk menghancurkan mental lawannya." "Selain itu, aku tidak yakin kalau kekuatanmu hanya itu. Tiga ratus tahun tinggal di bersama klan Daeron pasti akan membuatmu menjadi elf yang bisa memakai dua kekuatan dari klan besar. Apa aku salah?" tebak Normen. Seperti biasa, Normen akan menjadi sangat menyebalkan jika berhubungan dengan pengamatan dan pengambilan keputusan. Pria tua ini seolah bisa melihat semua hal hanya dengan bola mata hitamnya. Karena aku tidak memiliki alasan lain, maka aku terpaksa untuk berkata jujur kepada dua orang ini. "Normen benar, aku menggabungkan kekuatan klan Daeron dan Zabash," paparku. "Klan Daeron adalah yang terbaik dalam menggunakan sihir hutan. Terutama untuk membuat sihir itu lebih sederhana, efektif, namun juga mematikan. Klan Daeron juga lebih kuat di tempat yang memiliki sedikit cahaya. Karena itu kami disebut elf malam." "Atas saran Tuan Daeron, aku bisa mengakses kekuatan tertinggiku saat aku memiliki dua keadaan. Meminum darah dalam jumlah banyak, dan berada di tempat gelap," sambungku. "Apa akibatnya bagi tubuhmu?" tanya Yared sambil memandangku dengan tajam. "Tubuhku akan sangat kelelahan hingga bisa membuatku pingsan, saat aku menggunakan dua kekuatan itu dalam waktu yang lama." "Dan kau tidak pingsan saat melawan singa raksasa?" balas Yared lagi. Aku menggelengkan kepalaku dengan muram. "Tubuhku tidak terlalu lelah, seperti saat aku melawan tujuh elf klan Zabash sendirian," akuku sembari melirik Normen. Prajurit tua itu langsung mengangkat kedua tangannya. "Oke, aku akan berkata jujur kepada kalian," desahnya. "Tombak ini memang bukan senjata sembarangan. Senjata ini selalu diperebutkan oleh banyak orang kuat selama bertahun-tahun. Dan aku sudah memiliki tombak ini selama empat puluh tahun terakhir." Mendengar informasi soal tombak itu, membuatku mengerti alasan Normen langsung menyerangku saat aku mencoba merebut tombaknya. Senjata ini bukan hanya kuat, namun juga sebuah benda yang sangat berharga. "Tombak ini adalah salah satu dari senjata Xenia yang menjadi legenda. Tombak ini adalah penguasa tanah, dan aku masih belum benar-benar menguasai kekuatan penuh senjata ini." "Aku jarang menggunakannya, karena aku takut diincar oleh orang yang memahami identitas senjata ini." Normen menunjukku dan Yared bergantian. "Dan aku memercayai kalian." "Sama seperti kekuatan Eleandil yang terlalu besar, hingga dapat menguasai tubuhnya sendiri. Tombak ini juga melakukan hal yang sama padaku." "Saat aku menggunakannya, maka tujuanku hanya satu. Mengalahkan lawan yang ada di depanku. Bukannya menguasai senjata kuat itu, aku malah dikuasai oleh senjata itu." "Karena itu, saat sorot mata Eleandil berubah menjadi merah, dan aku sudah memutuskan menggunakan tombak ini. Menjauhlah dari kami berdua," pesan Normen kepada Yared. Namun Yared bukanlah pemuda yang penurut. Anak itu malah tertawa geli, sambil menunjuk kami bergantian. "Sehebat apa pun kalian, tetap anugerahku yang bisa menghentikan kalian," cemoohnya. "Aku tidak pandai untuk menyombongkan diri. Yang aku tahu, anugerahku tidak pernah gagal saat melawan manusia, elf, kurcaci atau orc terkuat sekali pun," imbuhnya. Normen melirikku dengan canggung, dan aku juga membalas lirikannya. Akhirnya kami bertiga berani untuk saling terbuka satu sama lain, soal kekuatan dan kemampuan kami. Mulai saat ini, kami akan bertarung lebih solid dari pada sebelumnya. "Lalu, bagaimana dengan bunga atau rumput itu?" Yared mengubah topik pembicaraan kami. "Apakah kita masih ada di wilayah klan Zabash?" Aku menggelengkan kepalaku cepat. "Bunga Kanna tidak hanya tumbuh di wilayah klan Zabash, tapi juga tumbuh di...." Aku tidak melanjutkan kalimatku, karena aku mendadak mengingat sesuatu. Yared mengangguk sambil tersenyum puas kepadaku. "Kerajaan kembar Al-Valayne, kita sudah dekat dengan mereka. Bunga Kanna selalu berhubungan dengan kerajaan itu." Meskipun aku tidak pernah pergi ke Laustrowana, tapi aku tidak pernah melupakan pelajaran dari Tuan Daeron di masa mudaku. Tuan Daeron mengatakan kepadaku, Briaron, dan Tequr, bahwa Laustrowana memiliki banyak suku kecil, klan elf, dan makhluk-makhluk aneh yang hidup di atasnya. Namun, Laustrowana hanya memiliki tiga kerajaan besar. Preant yang terkenal dengan pembagian pasukan berdasarkan senjata. Kerajaan yang tidak dipimpin oleh seorang Raja, melainkan Pangeran. Panjaga utama pulau Laustrowana di sisi timur, yang berbatasan langsung dengan kerajaan Orc Agung, Ashborne. Selanjutnya kerajaan Skardolav. Dipimpin oleh tirani dari wangsa Knox, yang memiliki ideologi aneh, dan anehnya efektif. Skardolav adalah kerajaan yang tidak pernah ada pemberontakan, karena seluruh rakyatnya begitu memuja wangsa Knox. Terakhir adalah kerajaan kembar dengan lambang bunga Kanna, yang menguasai seluruh bagian utara Laustrowana. Kerajaan Alcyne-Valayne, yang biasa disingkat Al-Valayne. Kerajaan yang tidak pernah berhenti untuk melakukan perang saudara, namun tetap berdiri kokoh. Tuan Daeron mengajarkan kepada kami, bahwa meskipun Skardolav dan Preant tumbuh semakin kuat. Keduanya akan memilih untuk memerangi satu sama lain, ketimbang bersatu untuk menyerang Al-Valayne. Semua Knox yang berkuasa, maupun Pangeran Preant, memiliki etika moral yang selalu mereka junjung tinggi. Al-Valayne adalah kerajaan yang harus mereka lindungi, bukan kerajaan yang harus mereka taklukkan. Sampai sekarang, aku masih ingat betul dengan pelajaran itu. Begitu pun dengan rasa penasaran yang melekat di hatiku, akan alasan Al-Valayne malah dilindungi oleh dua kerajaan di selatan. Kerajaan yang sering terjadi perang saudara, seharusnya merupakan kerajaan rapuh yang mudah untuk diinvasi. Namun Preant dan Skardolav malah memilih untuk saling membenci, ketimbang melihat ke utara. "Berarti pegunungan yang tempat klan Zabash, orang berjubah, dan singa raksasa itu, memang pegunungan Alcyne," gumam Normen. "Kita benar-benar berada di Laustrowana." Perkataan Normen langsung memaksaku untuk kembali ke kenyataan. Sebuah dugaan yang kami harap tidak terjadi, benar-benar telah menjadi fakta. Bunga Kanna hanya tumbuh di utara Laustrowana, dan melihat bunga ini di bawah kaki kami, sudah menandakan bahwa tanah yang kami injak bukanlah Adon. "Kita ke Alcyne?" usul Yared dengan senyum lebar. Karena aku tidak memiliki pengalaman di Laustrowana, maka tubuhku langsung bergerak sendiri untuk menghadap ke Normen. Prajurit tua itu mengangkat alisnya, saat menyadari aku dan Yared menunggu keputusannya. Bahkan keningnya yang sudah memiliki keriput di sana sini, seolah baru saja ditambahkan banyak keriput lain. "Seingatku, ada kota besar di dekat pegunungan Alcyne, yang bisa kita kunjungi," ujar Normen. "Di kota itu, kita bisa menentukan langkah selanjutnya setelah mendapat informasi soal keadaan politik di Al-Valayne." "Terakhir kali aku berkunjung ke Al-Valayne, mereka sedang mengalami perang saudara yang kesekian. Sehingga aku malah menjadi prajurit dadakan, padahal tujuanku adalah berlibur." "Sekarang, aku tidak akan melakukan kesalahan yang sama. Kita akan mencari informasi soal raja yang berkuasa, dan kemungkinan pecahnya perang saudara di Al-Valayne, sebelum memutuskan untuk menginap beberapa hari di sini," sambungnya. "Setelah itu?" sergah Yared. "Bukankah kita seharusnya pulang ke Adon, dan membantu perang di Adijaya?" "Mungkin perang di Adijaya sudah selesai," timpalku dengan tenang.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN