"Apa yang dia katakan?" bisik Yared.
Beberapa saat lalu, aku masih ingat kalau Normen menyetujui usulku untuk tidak membunuh singa ini. Dan sekarang, dia malah menyuruh kami menjauh agar dia bisa membunuh sang hewan raksasa.
"Dia akan membunuh singa itu," jawabku tanpa melepaskan pandangku dari Normen yang sedang bersiap untuk menyerang sang singa.
Sama sepertiku, Yared juga memincingkan matanya, setelah mendengar jawabanku. Pemuda ini pasti juga sama penasarannya denganku, atas alasan berubahnya keputusan Normen.
"Bukankah kita harus menghentikannya?" tanya Yared padaku.
Aku tidak bisa menjawab pertanyaannya, karena aku terlampau fokus untuk melihat Normen. Prajurit tua itu membuatku sadar bahwa dia sekarang adalah orang yang berbeda.
"El?" Kali ini Yared menggoyangkan tubuhku, untuk meminta respon dariku.
"Mungkin kita tidak akan bisa menghentikannya," jawabku lirih.
Tepat setelah aku selesai menjawab Yared, Normen melakukan sesuatu yang membuktikan bahwa dugaanku hampir benar.
Pria tua itu melepas jubahnya, sehingga dia hanya memakai baju zirah untuk melindungi tubuhnya. Dia berlari kencang untuk menerjang sang singa, dengan tombak perak di tangannya.
Sang singa melipat sayap besarnya, dan bersiap menyambut serangan Normen dengan meregangkan dua kaki depannya. Pertarungan ini mungkin akan berakhir jika salah satunya kehilangan nyawa.
"MATI KAU!" raung Normen sembali menolakkan kakinya ke tanah, hingga dia melompat tinggi. Bahkan terlalu tinggi untuk ukuran seorang manusia, karena dia sekarang berada tepat di depan wajah sang singa.
"Dia bisa melompat setinggi itu," gumam Yared dengan takjub di sebelahku. "Apa lagi yang dia sembunyikan dari kita?"
Aku juga sama kesalnya dengan Yared, namun aku memilih untuk tidak berkomentar apa pun. Salah satu alasannya, karena aku ingin melihat hal lain yang disembunyikan oleh Normen.
Kedua mata singa raksasa itu terus mengikuti pergerakan Normen, hingga sang kepala pengawal Raja Donater sejajar dengan kedua mata singa itu.
Sebelum hewan itu siap merespon Normen, pria tua itu sudah mengayunkan tombaknya, dan membuat luka yang cukup dalam di bawah mata kiri sang singa.
Tidak seperti semua serangan kami sebelumnya, serangan Normen benar-benar sangat telak. Darah mengucur deras memenuhi wajah sang singa, hingga rambut yang melingkari leher hewan itu juga basah karena darah.
Namun Normen belum selesai. Dia berlari ke sisi kiri sang singa dengan kecepatan tinggi, seolah dia tidak bertempur selama seharian ini. Prajurit tua itu berhenti di depan perut sang singa dan kembali melompat tinggi.
Mungkin karena hewan raksasa itu terluka di bawah matanya, dan lukanya cukup dalam, pergerakannya tidak secepat sebelum dia terluka.
Hewan itu terlambat untuk menghindari serangan Normen ke sisi kiri perutnya. Sama seperti luka di wajahnya, luka di sisi kiri sang singa juga mengucurkan darah yang cukup deras.
Normen tidak sedang bercanda saat dia mengatakan akan membunuh singa raksasa ini. Melihatnya bertarung dengan tombak itu, membuatku percaya akan kemampuannya.
Dua luka yang dia buat ke hewan itu, menandakan sebesar apa kekuatan Normen. Bahkan dia bisa melompat hingga setinggi badan sang singa.
Aku harus memilih saat ini juga. Membantu Normen membunuh singa raksasa yang menghadang jalan kami, atau melakukan rencana pertama kami. Meninggalkan hewan ini di dalam gunung, agar tetap menjaga perebutan kekuasaan di antara dua kelompok yang berseteru.
Keselamatan kami memang lebih penting, namun membiarkan dua kelompok itu berperang, bisa jadi berakibat panjang untuk keselamatan Laustrowana di masa yang akan datang.
Singa ini bisa menjadi alasan untuk kedamaian, atau kehancuran bagi Laustrowana. Karena aku adalah seorang elf, maka aku sudah memutuskan pilihan yang harus aku ambil. Aku harus menyelamatkan singa ini.
Aku melompat ke atas paha kaki belakang sang singa, dan mulai memanjati tubuhnya. Di atas punggung hewan besar ini, aku bisa melihat wajah Normen dengan jelas.
"Kau tidak boleh membunuh hewan ini, perang akan pecah di gunung Alcyne, jika singa ini mati!" seruku sambil menghunus pedang-panah dari punggungku.
Normen mengangguk padaku. Aku hampir saja percaya kalau prajurit tua itu menyetujui usulku. Ternyata aku salah. Normen sama sekali tidak mendengarkanku.
Pria tua itu mengayunkan tombaknya ke samping dengan gerakan memutar. Jaraknya terlalu jauh untuk bisa mengenai tubuh sang singa, namun wajah Normen menunjukkan bahwa dia sangat yakin dengan serangannya.
Sebuah kekuatan tersembunyi lain dari tombak miliknya. Senjata itu membesar dan memanjang hingga berhasil mencapai empat kaki sang singa di bawahku. Berat dari senjata itu juga ikut bertambah seiring dengan bertambahnya ukuran tombak itu.
Akibatnya sudah jelas. Sang singa yang tidak mengira bahwa tombak Normen bisa memanjang, langsung terjegal hingga hewan raksasa itu terjatuh dengan suara berdebum yang cukup keras. Bahkan langit-langit di atasku juga bergetar, tepat seperti sebelum hewan ini muncul.
Aku yang berada di atas punggung sang singa, juga ikut terlempar ke dinding gua yang dingin ini. Serangan Normen yang sangat kuat itu, cukup untuk membuat punggungku hampir patah.
Yang lebih mengejutkan adalah tombak miliknya sudah kembali ke ukuran semula. Sebenarnya ada berapa banyak rahasia yang dimiliki pria tua itu?
Aku merasa kesusahan untuk berdiri, karena tubuhku seperti baru saja ditabrak oleh batu yang sangat besar. Namun sang singa raksasa langsung berdiri, meskipun baru saja menerima serangan kuat dari Normen.
Akhirnya singa ini mengaum sangat keras, hingga beberapa batu yang mencuat dari langit-langit, jatuh karena getaran yang dihasilkan oleh auman sang singa. Hewan ini sudah sangat marah.
Sayap yang tadinya terlipat, kembali dibentangkan hingga batas maksimal. Singa raksasa sudah siap untuk melawan Normen hingga hasil akhirnya ditentukan.
Sekarang atau tidak sama sekali. Serangan yang dilancarkan oleh keduanya, pasti akan membuat salah satu dari mereka akan meregang nyawa.
Aku tidak bisa membiarkan Normen meninggal. Meskipun pria tua itu kadang menyebalkan, tapi dia adalah sekutu yang sangat berguna. Kekuatan besar, dan kebijakannya sangat dibutuhkan untuk bisa mengalahkan Tequr. Begitu pun sang singa raksasa yang bertempat tinggal di dalam gunung ini. Keduanya tidak boleh bertarung secara habis-habisan.
Sebelum aku menahan Normen yang berjarak paling dekat denganku, sekaligus lebih masuk akal untuk diingatkan, Yared sudah sampai di sebelah pria tua itu.
"Kau tidak bisa membunuhnya," ujar Yared dengan lirih, namun terdengar tegas. "Dia adalah penjaga gunung ini. Kau hanya perlu melukainya cukup parah, agar tidak sanggup mengejar kita."
Selagi aku berjalan mendekat ke arah Normen, sang singa juga melangkah pelan ke arah musuh besarnya. Prajurit tua itu sudah benar-benar memicu kemarahan hewan raksasa ini.
"Normen Harv kau harus sadar!" bentakku sambil menepuk pipinya dengan cukup keras.
Namun pria tua itu hanya menatap ke satu arah. Sang singa yang mendekat ke arahnya dengan langkah pelan, dan raut wajah yang sangat berbahaya.
Aku menyadari sesuatu yang mungkin mengubah kepribadian Normen. Tombak perak yang berada sangat kuat dalam genggamannya. Senjata aneh ini pasti adalah alasan di balik perubahan sikap Normen Harv.
Dengan tekad yang bulat, dan kegesitan khas para elf, aku berusaha merebut tombak perak yang berada dalam genggamannya. Sebuah tindakan akan aku sesali hingga beberapa tahun mendatang.
Saat aku merebut tombak itu, sorot mata Normen yang hanya fokus terhadap sang singa langsung mengarah padaku. Pria itu hanya menatapku dengan napas berat.
"Kau harus berhenti," ujarku lirih.
Normen hanya menghentakkan tombaknya. Gerakan kecil darinya langsung membuatku terpental hingga berada di samping singa raksasa yang berjalan ke arah Normen.
Belum cukup dengan membuatku terpental, Normen malah berlari menerjangku dengan kecepatan yang mengagumkan. Aku merasakan sesuatu yang aneh menguar dari dalam dirinya. Aura membunuh.
Pria tua itu melompatiku, dan mendarat di belakangku. Tepat saat kedua kakinya sudah menjejak tanah, dia mengayunkan tombaknya kepadaku tanpa ragu.
Rasa sakit menjalar ke seluruh tubuhku. Sumber rasa sakit itu adalah luka yang terbuka lebar di atas perutku. Dan yang menyebabkan luka ini adalah Normen Harv. Orang yang ada di pihakku.
"Jangan pernah mencoba merebut Arator dariku," geram Normen dengan sorot mata yang jauh berbeda dengan dirinya yang biasa. Aku sungguh tidak bisa mengenalinya lagi.
Normen melompat tinggi lagi, namun kali ini dia menargetkan singa raksasa yang sudah dalam keadaan marah. Tidak ada lagi yang menghentikan pertarungan dua makhluk kuat itu.
Untuk pertama kalinya sejak kami bertemu singa ini, hewan raksasa itu menyerang lebih dulu. Bukan dengan salah satu dari empat kakinya, melainkan dengan bagian tubuh yang tidak dia pakai selama bertarung dengan kami. Ekor kalajengkingnya.
Sang singa menyerang Normen yang masih berada di udara dengan ujung tajam ekornya. Meskipun Normen berhasil menghindari serangan ekor sang singa, namun dia gagal menghindari pukulan kaki hewan raksasa itu.
Pria itu terhuyung di udara. Sebelum Normen berhasil mendapatkan keseimbangannya kembali, sayap kiri sang singa sudah menghantamnya hingga dia menabrak ke dinding gua.
Aku berlari ke arah Normen untuk membantunya berdiri. Namun banyak cairan merah tiba-tiba ditumpahkan ke arah Normen. Bukan hanya kepada pria tua itu, tapi ke seluruh ruangan ini. Semua hal yang ada di sekitarku mulai berwarna merah. Kekuatan menyebalkan ini, memilih waktu kemunculan yang sangat buruk.
Bukannya terus berlari ke arah Normen, kedua kakiku malah berlari ke arah sang singa untuk menerjang hewan raksasa yang ada di belakangku itu.
Sama seperti saat menyerang Normen, singa ini juga menyerangku dengan kecepatan yang tidak akan bisa ditangkis olehku, jika aku tidak masuk ke fase kekuatan tersembunyiku.
Karena semua pandanganku menjadi merah, maka tubuhku bisa dengan mudah menghindari setiao serangannya.
Aku berhasil sampai di kaki depan sang singa, dan mulai memanjat ke atasnya. Namun aku tidak berusaha ke atas punggung hewan ini, melainkan langsung melompat ke sebelah kepala sang singa.
Sesuai dugaanku, reaksi cepat dari sang singa akan memaksanya menoleh kepadaku. Situasi yang sangat mendukung untuk sebuah pukulan telak ke pipi hewan itu.
Jika pandanganku tidak berwarna merah, maka pukulanku hanya seperti sebuah gigitan semut. Sekarang ini, semua hal yang ada di pandanganju hanya memiliki satu warna. Merah tua.
Sang singa raksasa sedikit terhuyung akibat pukulanku, namun dia berhasil menemukan keseimbangannya, sehingga dia tidak terjatuh.
Tepat saat aku mendarat dengan baik, seseorang menjadikan di punggungku sebagai tumpuan untuk lompatannya.
Aku melihat ke atas, dan sosok itu adalah Normen dengan tombak yang semakin membesar selagi dia berada di udara.
Sebuah serangan yang berasal dari ayunan sederhana tombak dengan ukuran raksasa, langsung membuat singa itu jatuh berguling karena terkena mata tombak di pipinya.
Aku juga belum selesai. Singa yang terkapar itu adalah makanan empuk bagiku. Aku menerjang hewan raksasa itu, dengan semangat membunuh yang begitu besar.
Di sebelahku, Normen juga berlari dengan kecepatan yang hampir sama denganku. Pria itu membawa tombak peraknya. Riwayat singa raksasa ini sudah tamat. Hari ini hewan raksasa penguasa gunung Alcyne akan mati di tangan Normen dan Eleandil.
Tanganku sudah siap untuk melancarkan pukulan terakhir kepada sang singa. Sedangkan Normen juga sudah mengangkat tombaknya untuk menyelesaikan pertarungan panjang hari ini. Target kami berdua sama. Kepala sang singa.
Tiba-tiba Yared berdiri di depan kepala sang singa, sehingga pemuda itu berada di jalur pukulanku. Aku tidak bisa menghentikan seranganku, dan Normen mungkin juga ada di situasi yang sama.
Namun anugerah Yared jauh lebih besar dari kekuatanku, maupun senjata hebat milik Normen. Karena baik genggaman tanganku maupun mata tombak Normen, sama-sama terhenti di udara. Serangan kami hanya berjarak satu ruas jari, dengan wajah Yared.
Wajah Yared begitu tenang. Pemuda ini bahkan tersenyum padaku, dengan sebuah senyuman yang aneh. Bibirnya melengkung, namun matanya tidak tersenyum seperti bibirnya. Senyum anak ini hanya berhenti di bibirnya.
"Ternyata harus aku yang turun tangan untuk menghentikan kalian berdua," ujarnya. Yared bahkan menelengkan kepalanya, sambil tertawa kecil di hadapanku.
Aku sudah pernah melihat Nagluk dan para musuh Yared yang membeku di depannya, karena mengancam keselamatan Yared. Namun aku tidak pernah membayangkan kalau aku sendiri yang merasakan anugerah milih Yared Harv.
Seluruh tubuhku seolah baru saja masuk ke dalam danau yang membeku sepenuhnya. Dingin, kaku, dan ketakutan. Tiga perasaan yang ada di hatiku sekarang.
Di belakang Yared yang sedang tersenyum kepada kami, sang singa raksasa sudah pulih dan mencoba berdiri dengan empat kakinya.
"Belakangmu!" seruku dan Normen bersamaan.
Yared menoleh dengan cepat, namun singa raksasa itu lebih pintar daripada yang kami pikirkan.
Hewan itu tidak menyerang Yared dengan bagian tubuhnya. Sang singa raksasa merentangkan kedua sayapnya, lalu mengepakkan dua sayap lebar itu tepat di depan kami. Anugerah Yared tidak aktif karena singa raksasa ini memang tidak menyerang Yared, sehingga membuat Yared terancam.
Akibatnya cukup menguntungkan bagi kami, maupun bagi singa itu sendiri. Angin yang dihasilkan dua sayap besar singa itu, sanggup membuat kami bertiga terhempas hingga menghancurkan dinding gua ini.
Sang singa tidak mati, begitu juga kami. Bahkan kami bertiga juga mendapatkan apa yang kami cari. Jalan keluar.