"Serang kakinya, satu orang akan mencoba untuk naik ke atasnya!" seru Normen kepadaku.
Tidak seperti serangga raksasa Hutan Hitam yang agresif, singa ini memiliki gerakan yang jauh lebih tenang. Fakta itulah yang membuat hewan ini sukit dikalahkan.
Pertarungan kami dengan sang hewan raksasa terkesan berat sebelah. Sang singa hanya menghindari setiap serangan kami, tanpa berusaha untuk menyerang balik.
Hewan ini juga menggeram pelan, bukan mengaum keras seperti singa ukuran normal. Namun sorot mata hewan ini sangat menakutkan, karena kedua matanya tidak pernah melepaskan salah satu dari kami bertiga.
Para hewan raksasa mungkin diberkahi bola mata yang dapat bergerak cepat, sehingga akan sangat membantu mereka dalam pertempuran.
Rencana milik Normen seharusnya adalah rencana yang brilian. Hanya saja eksekusi dari rencananya akan membutuhkan waktu yang cukup lama.
Normen tidak perlu membagi tugas pada kami. Di antara kami bertiga, hanya aku yang sanggup untuk naik di atas singa ini. Kegesitan dan kelenturan tubuh elf, adalah dua hal yang diperlukan untuk sampai di atas punggung sang singa.
Namun semua itu hanya ada di otakku. Tidak seperti serangga raksasa yang pernah aku lawan, singa ini benar-benar tidak mengizinkan siapa pun mendekatinya.
Yang lebih sulit lagi, sang singa seolah bisa menebak setiap serangan yang kami lancarkan. Tubuh besarnya tidak membuat hewan ini mudah untuk diserang. Sebaliknya, serangan kami tidak ada yang berhasil mengenainya.
"Menyebar, paksa dia untuk fokus kepada satu orang saja!" seruku lantang.
Aku berguling ke sisi kanan sang singa, sedangkan Normen ke sisi kirinya. Yared berada tepat di depan hewan raksasa itu, hanya dengan berbekal sebilah pisau.
Rencanaku hampir berhasil saat aku melihat sang singa menyerang Yared dengan kaki depannya. Namun saat aku bersiap untuk melompat ke perut singa itu, dia langsung menoleh ke arahku, dan membuka mulutnya untuk menerkamku.
Puji syukur kepada para Xenia, karena aku adalah seorang elf. Dengan sigap, aku langsung menjadikan pedangku sebagai tameng untuk mencegah deretan gigi tajam hewan itu untuk mencabikku.
Kami harus menata ulang serangan, agar bisa naik ke punggung sang singa. Itulah rencanaku sebelum aku melihat Normen berada di atas punggung hewan raksasa itu.
Ternyata prajurit tua itu memanfaatkan waktu sempit saat sang singa hanya fokus padaku, untuk menaiki punggung sang singa. Memiliki seorang kepala pengawal Raja Donater di pihakmu, adalah sebuah keuntungan yang besar.
Tanpa aba-aba, Normen langsung menghujamkan mata pedangnya ke punggung singa raksasa itu. Tidak ada auman kesakitan. Yang terdengar hanya sebuah geraman pelan penuh amarah, yang berasal dari mulut hewan raksasa itu.
Kejadian selanjutnya membuatku cukup bergidik ngeri. Sang singa menggoyangkan tubuhnya dengan kencang, hingga Normen harus berpegangan pada gagang pedangnya yang menancap di tubuh hewan itu.
Namun sang binatang raksasa jauh lebih kuat. Pengawal Raja Donater terlempar dari punggung hewan itu, dan melayang di udara. Singa raksasa belum selesai dengan demonstrasi kekuatannya.
Tanpa ampun, kaki depan singa itu langsung menghantam tubuh Normen yang masih di udara. Prajurit tua itu terpental cukup jauh, hingga ke lorong yang mengarah ke tempat para elf klan Zabash.
Dari tempatku berdiri, aku bahkan bisa mendengar suara sesuatu yang patah. Semoga bukan tulang atau sendi-sendi dari prajurit tua itu.
Mengalahkan Normen bukan akhir dari serangan balasan sang singa raksasa. Hewan itu memukulku – atau menginjakku – dengan kaki depannya.
Aku berhasil menghindari serangannya. Dengan cepat, aku mengganti senjataku menjadi busur panah, dan mulai melesatkan dua sampai tiga anak panah dalam sekali tembak.
Hasilnya sangat tidak memuaskan. Beberapa mata anak panahku memang berhasil menembus kulit singa itu, namun anak panah kecil bukan sebuah masalah bagi sang singa raksasa.
Hewan itu mematahkan semua anak panahku yang menancap ke tubuhnya, seperti membersihkan kutu yang membuat tubuhnya gatal.
Makhluk ini terlampau kuat. Tidak ada cara lain untuk mengalahkannya, kecuali dengan memakai kekuatan tersembunyi yang tidak ingin aku pakai.
Aku menerjang sang singa. Kali ini, aku tidak memakai senjata apa pun, karena aku hanya bersiap untuk menerima serangannya. Aku membutuhkan darah keluar dari tubuhku.
Yared melihatku melewatinya, lalu dia mencengkeram lenganku sehingga aku berhenti mendekat ke arah sang singa.
"Anugerahku, aku akan mencobanya!" tegas Yared dengan kilat di matanya.
Pemuda ini mengatakannya dengan napas yang hampir habis. Sebuah bukti bahwa Yared bukanlah petarung yang memiliki stamina dan kebugaran. Namun aku melihat sesuatu yang lain dalam dirinya. Sesuatu yang sama yang kulihat dari diri Lass dan Amicia. Keberanian.
Yared tidak meminta izinku. Dia menghentikanku agar aku tidak mengganggunya. Tepat setelah dia mengusulkan diri untuk memakai anugerahnya, pemuda itu langsung berlari sekencang mungkin untuk menyerang sang singa.
Tidak ada yang boleh mengganggu Yared, jika menginginkan anugerahnya aktif. Pemuda itu harus berada dalam keadaan terancam, agar sang pengancam tidak bisa menggerakkan tubuhnya.
Anugerah yang mengerikan, namun harus tidak selalu berguna, jika ada roh lain yang lebih besar. Pemuda itu sempat tidak berguna saat berada di Hutan Hitam, karena kekuatan Hutan Hitam menghalangi pemakaian sihir apa pun selain sihir hutan. Sedangkan di perang Adijaya, Yared yang menyerang bersama Nagluk adalah kombinasi yang sempurna.
Selama kami berada di bawah gunung ini, Yared tidak pernah sekali pun membahas soal anugerahnya. Terlebih saat dia berada di ruangan yang terpisah, saat kami ditangkap oleh klan Zabash.
Seharusnya Yared bisa dengan mudah mengalahkan klan Zabash, seperti saat dia berhasil mempermalukan Nagluk di Kilug. Namun pemuda itu malah diselamatkan oleh Normen, saat aku berhasil memojokkan Arasne.
Sejak saat itu, aku tidak berharap lebih dengan anugerah Yared selama kami masih beradai di bawah gunung. Tebakanku kekuatan yang melingkupi gunung ini, mungkin sama besarnya dengan kekuatan yang ada di Hutan Hitam.
Yared mungkin menyadari bahwa anugerahnya bisa saja tidak aktif. Fakta bahwa dia masih mengusulkan diri dan maju menyerang singa raksasa, adalah bukti yang cukup untuk keberanian kecil yang dia miliki.
Awalnya sang singa tidak memedulikan serangan Yared. Hewan itu hanya menghindari setiap hujaman pisau yang diayunkan oleh Yared. Hingga akhirnya sesuatu terjadi.
Aku yang hanya fokus untuk melihat Yared, tidak menyadari bahwa Normen sudah bangkit lagi. Prajurit tua itu tiba-tiba sudah berdiri di atas punggung sang singa. Kali ini, aku bisa melihat bagian tubuh yang diincar oleh Normen Harv.
Alih-alih langsung menancapkan pedangnya ke punggung singa itu seperti terakhir kali, pria tua itu malah berlari di atas punggung hewan raksasa itu. Tujuannya jelas. Kepala hewan itu.
Sebelum singa itu menjadi siaga karena pergerakan Normen di atas punggungnya, aku ikut menerjang hewan itu dengan pedang di tanganku. Jika kami beruntung, serangan Normen dan anugerah Yared bisa berhasil bersamaan.
Kulit sang singa yang cukup tebal, ternyata mengeluarkan beberapa tetes darah dari luka yang kami sebabkan. Ada alasan hewan ini lebih memilih untuk menghindar, ketimbang menyerang secara ganas seperti serangga raksasa. Kulit sang singa tidak setebal milik serangga Hutan Hitam.
Yared terus menyerang kaki depan singa ini. Sedangkan aku memilih untuk menyerang setiap bagian tubuh sang singa, sembari terus bergerak mengelilinginya. Hewan ini akan sulit untuk menyamai kecepatanku.
Dari sudut mataku, aku bisa melihat bahwa Normen sudah sampai di atas kepala sang singa, selagi singa ini masih fokus untuk menahan setiap seranganku.
Normen menancapkan pedangnya ke kepala sang singa tanpa teriakan atau raungan. Dia melakukannya dalam diam, karena tidak ingin hewan ini segera menyadari keberadaannya.
Bukannya menancap, pedang Normen malah terpental setelah bertemu dengan tulang kepala sang singa. Hewan ini akhirnya menyadari ada seseorang yang bergerak di kepalanya.
Meskipun aku berada tepat di depan wajahnya, hewan ini malah mengarahkan bola matanya ke atas, untuk mencari sesuatu yang bergerak di kepalanya.
"Cepat turun!" seruku.
Pria tua itu mengerti maksudku. Dia segera melompat dari atas kepala sang singa, dan menjatuhkan dirinya ke lantai gua yang dingin.
Rintihan Normen terdengar oleh hewan itu, sehingga singa ini langsung beralih ke sumber suara, yang adalah Normen.
Binatang raksasa itu sudah mengangkat kakinya untuk menginjak Normen yang masih kesakitan. Dan seseorang tiba-tiba melesat di antara Normen dan telapak kaki sang singa.
Tidak ada kejutan. Orang itu adalah Yared yang merentangkan tangan dan menutup matanya, untuk bersiap menerima serangan sang singa.
Normen menahan napasnya, sedangkan aku langsung berlari ke arah Yared. Instingku mengatakan bahwa anugerah pemuda itu tidak akan berefek kepada makhluk raksasa ini.
"Berhenti!" raung Yared dengan putus asa.
Kaki depan sang singa hanya berjarak satu jengkal dari wajah Yared. Namun binatang itu tidak berhasil membuat tubuh Yared menjadi seoggok daging. Sebaliknya, anugerah dari pemuda itu berhasil aktif di saat yang tepat.
Singa raksasa itu menggeram pelan. Kali ini bukan geraman penuh amarah, tapi sebuah geraman yang menandakan bahwa hewan itu sedang kebingungan.
Bukan hanya satu kaki depannya yang terangkat, melainkan seluruh tubuh hewan itu tidak bergerak sama sekali. Hanya bola matanya yang bergerak dengan liar, untuk melihatku, Normen, dan Yared secara bergantian.
"Kau berhasil!" seru Normen sambil menghembuskan napas panjang.
Aku menghampiri Yared yang di wajahnya hampir saja membekas telapak kaki seekor singa. Pemuda itu langsung terhuyung dalam pelukanku, saat aku tiba di sebelahnya.
Keringat mengalir deras di seluruh tubuh Yared, hingga pakaiannya menjadi basah. Namun ada sebuah senyum yang terlihat tulus di wajah anak ini.
"Aku berhasil," gumamnya lirih. Bahkan si pemilik anugerah pun, tidak percaya bahwa dirinya berhasil membuat seekor singa raksasa membeku.
Dengan perlahan aku membiarkan Yared duduk di lantai gua. Lalu aku mengulurkan tangan ke Normen untuk membantunya berdiri.
"Kita tinggalkan dia di sini?" usul Normen sembari melirik singa raksasa yang melihat ke arah kami. "Aku tidak yakin kalau senjata kita bisa membunuhnya."
Jika aku harus memutuskan langkah selanjutnya, maka aku akan memilih untuk membunuh singa ini. Namun ada sesuatu yang terbersit di pikiranku, soal alasan keberadaan hewan ini di dalam gunung Alcyne.
"Singa ini mungkin adalah alasan dibalik kedamaian semu yang ada di tempat ini," ujarku. Aku melihat ke jalan yang berada di dua sisiku.
Setiap jalan itu akan mengarah ke wilayah salah satu dari kelompok yang sama-sama berniat menangkap kami. Dan satu-satunya alasan yang membuat dua kelompok itu mengurungkan niat untuk bertarung adalah singa di depan kami.
Membunuh singa ini, bisa jadi bukan pilihan yang bijak. Kami mungkin malah melepaskan bibit perang besar antara dua kelompok yang menguasai gunung ini, karena membunuh penguasa sesungguhnya dari gunung Alcyne.
"Aku juga berpikiran sama," timpal Normen. "Kita tidak boleh sembarangan membunuh makhluk yang memiliki kekuatan sebesar ini."
"Kalau begitu, aku harus memerintahkan sesuatu padanya," ucap Yared. Pemuda itu mencoba berdiri setelah merasa kakinya sudah cukup kuat. "Kita tidak bisa sekedar meninggalakannya."
"Anugerahku bisa saja tiba-tiba tidak aktif, dan hewan ini bisa menyerang kita lagi. Aku harus menjauhkan binatang ini sejauh mungkin dari kita," papar Yared. Dia melihat dua jalan yang ada di kedua sisi kami. "Kalian sudah menentukan tujuan?"
"Para orang bertudung," jawab Normen. "Kita harus mencoba sesuatu yang baru. Para klan Zabash kemungkinan akan bersikap sama, saat melihat kita lagi."
Saran Normen terdengar masuk akal. Kami bisan mencoba bernegosiasi dengan para orang bertudung hitam itu, ketimbang kembali ke tempat para elf klan Zabash.
"Singa raksasa, pergilah sejauh mungkin dari sini, hingga kau tidak bisa melihat kami!" seru Yared di depan sang hewan raksasa itu.
Awalnya sang singa masih menatap Yared dengan tajam. Namun beberapa saat kemudian, hewan itu membuka sayap kelelawarnya yang ternyata cukup lebar. Lalu, singa itu mengepakkan kedua sayapnya.
Tubuh hewan raksasa itu terangkat sedikit demi sedikit, hingga akhirnya kepala sang singa menyentuh langit-langit gua dan menimbulkan suara gemuruh yang memekakkan telinga.
"Jangan terbang, kau bisa berlari saja!" seru Yared dengan cepat. Perintah yang dia katakan sebelumnya tidak terlalu spesifik, sehingga sang singa malah memilih untuk memakai sayapnya.
Namun semua sudah terlambat. Sang singa yang awalnya hanya melihat ke atas, malah kembali melihat kami. Dan tiba-tiba hewan raksasa itu menukik tajam ke arah kami, dengan kecepatan yang sanggup untuk membuat kami langsung tewas seketika.
Untungnya aku berhasil mendorong Normen dan Yared ke sisi kiri, dan aku bisa melemparkan diriku ke sisi kanan. Sang singa melewati kami dengan sayap yang masih terbuka lebar, dan tubuh melayang di udara.
"Perintahmu gagal!" tanyaku.
"Mungkin!" balas Yared dari depanku. "Aku bisa mencobanya lagi!"
Singa itu terbang ke arah Yared, sehingga membuatku langsung berteriak kencang, "Awas!"
Normen menyadarinya. Pria tua itu mendorong Yared dari jalur serangan sang hewan raksasa, dan memblokir jalur itu dengan tubuhnya sendiri.
Sebuah tombak dengan gagang berwarna perak, dengan mata tombak dari emas, berada di genggaman Normen. Prajurit tua itu memiliki sorot mata yang jauh berbeda dari sebelumnya.
"Menjauh dariku, aku akan membunuh singa menyebalkan ini," desis Normen Harv.