"Elf bisa hidup di dalam gunung?" gerutu Normen sambil tetap mempertahankan kecepatan larinya.
"Kau yakin mereka adalah elf, bukan kurcaci? Bukankah hanya kurcaci yang bisa menggali gunung hingga sedalam ini?" sambungnya.
Aku tidak bisa menjawabnya. Napas dan tenagaku hampir habis, akibat mengakses kekuatan yang paling aku benci. Yang ada di pikiranku hanya berlari sejauh mungkin dari rumah klan Zabash.
Karena tidak ada jawaban yang keluar dari mulutku, maka Normen melanjutkan memimpin jalan tanpa mengoceh lagi.
Pandanganku semakin memudar. Kelopak mataku beberapa kali hampir menutup sendiri. Sosok Normen Harv pun, semakin jauh dari tempatku.
Sebelum aku jatuh tertidur, aku menoleh ke belakang. Untungnya tidak ada tanda klan Zabash yang sedang mengejar kami. Fakta yang cukup untuk membuatku tidur dengan tenang.
*****
"Hei, bangun!" bisik Normen sambil menggoyangkan tubuhku dengan cepat.
Tidak ada satu pun otot di tubuhku yang tidak meraung kesakitan. Aku masih butuh istirahat lebih lama, namun keadaan di sekitarku sepertinya jauh lebih mendesak.
Langit-langit gua dari salah satu gunung di pegunungan Alcyne (mungkin), adalah yang pertama kali menyambutku.
Saat aku memandang ke sekelilingku, ternyata aku tidak lagi berada di aula besar tempatku jatuh pingsan.
Normen dan Yared membawaku ke sebuah ruangan tanpa pintu, yang memiliki banyak pilar sebagai penopang.
Ruangan ini memiliki sebuah jurang, yang dasarnya tidak bisa terlihat oleh kedua mataku. Aku tidak akan terlalu penasaran dengan isi jurang yang berada tepat di sebelahku.
Karena aku pernah mengunjungi kota para kurcaci di pegunungan selatan pulau Adon, aku bisa menebak bahwa tempat ini mungkin dibuat oleh para kurcaci.
Meskipun sekarang tidak memiliki penghuni, namun setelah pilar yang masih teguh berdiri, tanah dingin yang diukir banyak motif indah, juga kobaran api yang tetap menyala dan dimasukkan ke dalam dinding, adalah bukti dari pekerjaan tangan para kurcaci.
Mereka adalah yang terbaik jika menyangkut soal penggalian dan dekorasi. Selera seni mereka adalah yang paling tinggi, jika mereka bergerak di dalam gunung.
"Kau akan terus memandangi sekitarmu!" sentak Normen dengan pelan, namun tetap menimbulkan gema.
Aku mengangkat tanganku, untuk memberi isyarat padanya, bahwa aku mengerti maksud pria tua itu, bahwa kami harus segera pergi dari tempat ini.
Tubuhku sedikit terhuyung saat aku mencoba berdiri. Namun Yared yang entah dari mana, tiba-tiba menangkapku dengan sigap.
"Dia masih belum bisa berjalan!" pekik Yared.
Informasi itu langsung membuat Normen menoleh ke belakang. "Benarkah?" tanya pria tua itu, dengan wajah cemas. Baru kali ini aku melihat Normen mencemaskan seseorang, dan orang itu adalah aku.
"Beberapa saat lagi, tubuhku akan kembali normal," ujarku.
Yared meraih lengan kananku, dan merangkulkannya di leher kecilnya. "Sampai kau bisa berjalan sendiri, aku akan membantumu," ucapnya lirih.
Melihatku berjalan dengan bantuan Yared, membuat Normen berbalik dan kembali melangkah untuk memimpin jalan kami.
Selama hidupku, aku hanya menyusuri hutan, kota, dan desa yang ada di pulau Adon. Aku tidak pernah mencoba untuk mendaki gunung, atau masuk ke dalam gunung.
Terakhir kali, sekaligus pertama kalinya aku masuk ke dalam gunung, adalah saat Tuan Daeron memberiku dan Briaron perintah, untuk berkunjung ke kota kurcaci di selatan Adon.
Hari itu aku mengagumi rumah para kurcaci, sekaligus menyakinkan diriku sendiri, agar aku tidak perlu masuk lagi ke dalam gunung. Ternyata harapanku terlalu tinggi.
Sekarang, aku bukan hanya masuk ke dalam gunung, melainkan tersesat dan mungkin sedang dikejar-kejar oleh klan elf yang juga tinggal di dalam sini.
Ruangan dengan pilar besar sudah berada di belakang kami. Normen membawa kami untuk kembali ke jalan utama tempat ini, yang tampak seperti sebuah terowongan besar.
Prajurit tua itu sesekali menoleh ke belakang, untuk memastikan tidak ada orang yang mengikuti kami. Dan di belakang kami, memang tidak ada suara sama sekali.
Kedua kakiku akhirnya menemukan fungsinya. Aku bisa berdiri dengan tegak, sehingga bisa melepaskan tanganku yang melingkar di leher Yared.
Untuk beberapa saat, kami hanya terus berlari semakin jauh, sambil berharap akan ada sebuah pintu keluar, atau sebuah jendela yang bisa melihat ke luar gunung.
Napas yang terengah-engah, dan suara derap kaki kamilah, yang memenuhi bagian dalam gunung ini. Semoga kami tidak mengganggu siapa pun.
Seharusnya aku tidak berharap apa pun, karena yang terjadi padaku selalu hal yang berlawanan dengan harapanku.
Tepat saat Normen berbelok di tikungan yang mengarah ke kiri, pria tua itu malah mundur perlahan. Dia melihat kami dengan tatapan yang mengerikan, seolah baru saja melihat sesuatu yang berbahaya.
Semakin dia menjauhi belokan itu, sesuatu yang menghadangnya terus maju untuk mendekatinya. Hingga akhirnya kami yang di belakang, bisa melihat si penghadang.
Kumpulan orang (mungkin dua belas atau lebih) dengan jubah hitam yang terlalu besar, hingga menutupi wajah mereka. Pemimpin mereka berjalan di tengah, dengan sebilah pedang yang terhunus di tangannya.
Mereka terus berjalan mendekati Normen, sedangkan prajurit tua itu juga terus melangkah mundur ke arah kami.
"Sepertinya kita juga harus mundur," bisik Yared. Pemuda itu menoleh ke belakang, dan dia mulai mengumpat. "Kita pasti mati di sini," ujarnya.
"Putar balik!" perintah Normen saat dia sudah berada di sebelahku. Namun Yared langsung menggelengkan kepalanya dengan wajah muram.
Aku dan Normen melihat ke belakang secara bersamaan. Sesuai informasi dari Yared, kemungkinan besar kami akan mati di sini.
Di belakang kami, para elf klan Zabash dengan baju zirah lengkap, sedang menunggu kami ke arah mereka.
Tidak ada elf bergaun putih, namun si pemimpin klan Zabash ini memiliki wajah yang lebih menakutkan. Di wajahnya terdapat sebuah luka besar yang memanjang dari pelipis, hingga berakhir di lehernya.
Elf yang berada di tengah barisan itu, memegang sebuah pisau kecil, dengan mata pisau yang menghadap ke belakangnya. Sedangkan elf yang lain membawa pedang besar yang persis seperti milik para orc.
"Salam, para penyusup," sapa orang bertudung yang ada di depan kami. "Kalian masih berani tinggal di sini? Padahal, aku sudah mengusir kalian berkali-kali."
Aku sudah siap untuk membuka mulutku, dan membalas perkataan orang itu. Tapi Normen mencengkeram lenganku, sebelum aku sempat mengucapkan sesuatu.
"Dia berbicara kepada para elf," bisik Normen.
Prajurit tua itu benar. Para elf tidak melihat kami sama sekali, mereka hanya fokus melihat orang-orang bertudung yang ada di depan kami.
"Kalian tidak memiliki hak untuk mengusir ras lain yang tinggal di gunung ini!" seru elf dengan luka besar di wajahnya. "Kami berhak untuk tinggal di hutan ini!"
Suasana yang semakin panas, membuat Normen menarik tanganku dan Yared untuk bergerak ke sisi kanan kami.
"Lebih baik, kita menunggu mereka saling bertarung, dengan tetap berada di sudut yang gelap," usul Normen lirih.
Rencana yang sangat bijaksana, dari sang pengawal Raja Donater. Kami tidak perlu mengalahkan dua kelompok ini. Yang perlu kami lakukan adalah menonton keduanya saling bertarung.
"Hanya para kurcaci yang boleh tinggal di dalam gunung!" bentak pemimpin orang bertudung, hingga menimbulkan gema yang cukup keras. "Gunung tidak pernah terbuka untuk kalian!"
Pertempuran hampir pecah, karena pemimpin klan Zabash sudah melangkah maju beberapa langkah, begitu juga beberapa orang bertudung.
"Jika kalian berpikir kalau kalian bisa mengalahkan kami, maka majulah! Kami akan menyambut kalian dengan mata pedang!" seru pemimpin orang-orang bertudung.
Pemimpin elf klan Zabash meludah di depannya. Namun dia tidak melangkahkan kakinya ke depan. Klan Zabash tetap berdiri di tempatnya.
Dari pengamatanku, dua kelompok ini sepertinya memiliki sejarah panjang yang sangat buruk. Tapi dua kelompok ini terlihat sama-sama saling menahan diri, agar tidak pecah perang.
Inilah klan Zabash yang aku kenali. Mereka memang mencintai darah, namun logika mereka adalah salah satu yang terbaik di kalangan para elf.
Klan Zabash memiliki pertimbangan yang hampir selalu tepat. Mereka tidak akan melakukan sesuatu yang merugikan, dan memiliki kemungkinan kecil untuk menang.
Meskipun mereka sakit hati atas cemooh orang-orang bertudung ini, namun mereka tidak menyerang secara terbuka. Klan Zabash mungkin bisa menang, tapi banyaknya anggota klan yang gugur, akan membuat mereka tetap rugi.
Karena itulah aku sedikit tidak percaya dengan fakta klan Zabash membela Tequr. Apakah di mata klan Zabash, penyihir itu memiliki kemungkinan menang lebih besar daripada pasukan Halingga?
"Kami akan kembali ke wilayah kami, namun kami harus membawa mereka!" seru pemimpin klan Zabash sembari menunjuk ke arah kami.
Pemimpin orang-orang bertudung mendengus, lalu tertawa. "Kalian masih tidak mengerti situasi kalian?" cemoohnya. "Kalian tidak memiliki hak untuk tetap di sini. Sekarang kalian malah meminta sesuatu, apa kalian bodoh!?"
"Kalian benar-benar meremehkan kami!" sergah pemimpin klan Zabash. "Kami tidak akan ting—"
Elf dengan luka besar di wajahnya itu, tidak bisa menyelesaikan kalimatnya karena gemuruh di langit-langit yang ada di atas kami.
Semua orang langsung mengunci rapat mulut masing-masing. Beberapa elf bahkan menahan napas, akibat suara gemuruh yang datang tiba-tiba.
Hanya karena langit-langit yang bergetar itu, para orang bertudung pun juga mundur beberapa langkah. Padahal mereka berani mencemooh klan Zabash beberapa saat lalu.
Yang mengejutkanku adalah mereka benar-benar berbalik untuk kembali ke tempat mereka muncul, tanpa mengatakan apa pun.
Para elf klan Zabash sempat melihat kami, sebelum mereka kembali. Aku sedikit berharap kalau mereka akan menyerang kami. Namun mereka malah tetap melangkah ke wilayah mereka.
"Gemuruh itu pasti menandakan sesuatu," gumam Yared pelan.
"Sesuatu yang pasti jauh lebih kuat daripada mereka," imbuh Normen.
Dugaan kedua orang itu mungkin benar. Gemuruh yang menggetarkan langit-langit gua di dalam gunung, dan memukul mundur dua kelompok yang saling membenci, pasti menyimpan sebuah fakta.
Di sisi lain, kami juga tidak bisa kabur kemana pun. Jalan ke sisi kiri adalah wilayah klan Zabash yang talah kami lewati. Sedangkan arah kanan akan membawa kami ke tempat orang-orang berjubah hitam.
Mereka bisa saja hanya berpura-pura dan menunggu kami melewati jalan yang mereka ambil. Penyergapan akan lebih mudah dilakukan jika kami yang datang sendiri, ketimbang harus berperang melawan kelompok lain.
Langit-langit bagian dalam gunung ini kembali berguncang hebat. Bahkan, beberapa batu tajam yang menempel di atas kami sampai terjatuh. Sesuatu yang besar memang sedang mendekati kami.
"Kita ke kanan?" usul Normen lirih.
Aku mengangguk setuju, begitu juga Yared. Kami sudah bertemu dengan klan Zabash, dan mereka tidak menyambut kami dengan baik. Para orang bertudung itu, mungkin bisa menjadi pilihan yang lebih baik ketimbang klan Zabash.
Saat Normen baru saja mengambil beberapa langkah, tiba-tiba sesuatu yang amat besar jatuh di depan kami.
Debu yang berasal dari serpihan batu di atas kami, memenuhi udara di sekitar kami. Aku langsung menutupi mataku, agar kami bisa melihat sesuatu yang ada di depan kami.
"El, tetap diam," ujar Normen lirih, saat aku sedang menutupi mataku.
Tenggorokanku tercekat setelah aku melihat sesuatu yang besar di hadapan kami. Keberuntunganku sepertinya begitu buruk selama beberapa hari terakhir.
Melawan Ogrotso di Hutan Hitam, Mazrog, Votlior, bahkan Adijaya. Menghabiskan waktu bersama Normen dalam dua periode. Dan terakhir, bertemu (juga terpaksa melawan) binatang dengan ukuran yang sangat besar.
Di depan kami, seekor singa dengan ekor panjang yang melengkung ke atas bak kalajengking, sedang menatap kami dengan tatapan siap untuk membunuh.
Singa ini memiliki kulit berwarna merah seperti darah, di setengah bagian depan tubuhnya. Sedangkan setengah tubuh bagian belakangnya, berwarna hitam kecoklatan, seperti warna kalajengking.
Empat kakinya memiliki wujud kaki singa. Namun dia dua sisi tubuhnya terdapat sayap besar yang terlipat, dan tampak seperti sayap milik kelelawar.
Yang terburuk dari binatang ini adalah ukurannya. Singa ini memiliki tinggi tiga kali elf dewasa, dan panjangnya mungkin setara dengan lima elf yang berbaring. Serangga raksasa saja sudah menyebalkan, apalagi seekor singa raksasa dengan ekor menyengat seperti kalajengking.
Tanganku bergerak sendiri ke belakang punggungku, dan bersiap untuk menarik pedang-panahku, jika makhluk ini menyerang kami.
Yared menahan napasnya di sebelahku. Tangan pemuda itu sudah menggenggam pisau yang tersarung di belakang punggungnya. Tindakan pencegahan yang baik, karena jika kami mengacungkan senjata, maka binatang ini mungkin akan menganggap kami menyerangnya.
Singa itu melangkah mendekat ke arah kami dengan langkah pelan. Semakin dekat dengan kami, maka semakin erat pula genggaman tangan kami bertiga ke senjata masing-masing.
"Bertarung atau lari, kita harus menentukan pilihan," desis Normen lirih. "Binatang ini tidak akan melepaskan kita dengan mudah."
Dari tempatku berdiri, aku hanya bisa melihat satu jalan. Bagian bawah perut singa ini, adalah satu-satunya jalan yang terbuka. Dan jalan itu akan membawa kami ke tempat para orang-orang bertudung.
Namun aku tidak yakin dengan keselamatan kami, jika memaksakan diri untuk melewati singa ini. Alih-alih berhasil dan selamat, kami mungkin malah tergencek oleh badan binatang besar ini.
Pelajaran yang aku dapat dari melawan serangga raksasa di Hutan Hitam, juga membuatku sedikit sangsi dengan rencana kabur dari seekor binatang raksasa. Sama seperti sang serangga raksasa yang merupakan penghuni asli Hutan Hitam, singa ini pasti merupakan penguasa gua bawah gunung. Hewan ini pasti akan mengejar kami, jika kami memilih untuk berlari, karena dia pasti hafal dengan setiap tikungan gua ini.
Aku menghunus pedang-panah yang sejak tadi berada dalam genggamanku. Sang singa melihat senjataku, dan hewan ini langsung berada dalam posisi siaga.
"Kita bertarung," tegasku.