Sambil menghapus derai matanya, Aristela merasakan sebuah tepukan di pundaknya, dia berbalik dan menatap pelaku yang ternyata Abraham. "Ada apa lagi? Apakah kau belum menuntaskan kalimatmu untuk menghinaku?" tanya Aristela dan Abraham mendekat kemudian berbisik, "Siapa yang menyuruhmu pergi? Aku sudah repot memesan makanan mewah hanya untuk kita berdua agar kenyang sehabis berseteru. Kau pun harus memerhatikan orang-orang yang sedang menganggapku penjahat sekarang, kau ingin mempermalukanku, hm?" Kelembutan Abraham hanya sebatas formalitas di depan umum, Aristela membenci hal itu. Namun, dia hanya pasrah karena sekarang merupakan situasi yang tidak tepat untuk menyurahkan amarahnya kepada pria ini. Aristela memilih untuk menurut dan kembali ke tempat semula, Abraham mengode Aristela deng

