Semua telah berkumpul di rumah Adibal untuk melihat keadaan Aristela, ketiga orang yang membuat gadis tersebut benar-benar tertekan sangat merasakan prihatin dan miris melihat Aristela yang terbaring pucat, terutama sang papah sendiri yang mulai mengelus wajah anaknya. "Papah enggak mencari tau apa alasan kamu tertekan seperti ini, maaf ... Papah terlalu emosi waktu tadi, seharusnya Papah menjadi teman dukamu di saat kamu membutuh seseorang," gumam Adibal, tetapi dia rasa semuanya percuma karena sang anak sudah pasti tak mendengarnya. Cahyani dan Abraham terus memandang Aristela, mereka melihat jika Aristela benar-benar nyaman jika sedang tidak sadarkan diri seperti itu. Aku terlalu keras padanya. Batin Abraham. Hanya itu yang dikatakan oleh Abraham, tidak ada respon lain, karena dia t

