Bab 1. Dua Telur

1141 Kata
"Serli, i love you." Serli hanya tertawa dengan mata yang menatap Amran, suaminya itu dari balik cermin. "Kau tidak mencintaiku?" Tanya Amran yang mulai bangun dari tidurnya dan mendekati Serli, sang istri yang kini sedang duduk di meja rias. "Tentu saja. Aku sangat mencintaimu, 'Mas." Jawab Serli dengan memasang senyuman manisnya. Amran yang melihat hal itu, langsung memeluk tubuh istrinya yang molek itu dari belakang, dan menciumi tengkuk istrinya dengan sangat lembut. "I want you, Baby," Kecup Amran di tengkuk Serli. Dan, Serli tentu saja tak mengelaknya. Ia memutar tubuhnya hingga menghadap Amran, ia lingkarkan kedua tangannya itu pada leher Amran dan mulai mengecup bibir suaminya itu dengan sangat intens. Merasa keinginannya di sambut baik, Amran menatap Serli penuh hasrat, lalu mulai membopong tubuh molek itu dan memindahkannya ke atas tempat tidur. "I love you," Dan belum sempat Serli berkata apapun lagi, Amran sudah lebih dulu melancarkan bibirnya pada tengkuk Serli hingga ia mengerang dengan begitu keras. "Arrghh, Mmm-as, You're the best sshhh," Desis Serli yang membuat Amran semakin semangat akan apa yang sedang ia perbuat. Amran benar-benar tak bisa menahan hasratnya lebih lama lagi. Racauan Serli membuatnya semakin b*******h. Amran mulai meluncurkan ciumannya ke setiap jengkal tubuh Serli yang ia temui. Tak terkecuali inti dari tubuh Serli itu sendiri yang membuat Serli mabuk dibuatnya. Desah Serli yang sangat seksi, membuat Amran semakin tak kuasa menahannya lebih lama lagi. Ia singkirkan seluruh benang yang menempel di tubuh istrinya itu, hingga tubuh molek itu terekspos dengan indahnya. Sungguh, ini adalah salah satu moment favorit yang selalu Amran tunggu-tunggu setiap malamnya. Lekuk tubuh yang begitu ideal dengan dua gunung kembar yang mengembul indah, pinggang yang ramping, serta pinggul yang lebar semakin terlihat seperti biola yang sempurna di mata Amran. Sebegitu candunya ia terhadap tubuh istrinya itu sendiri. Hingga Amran selalu merasa kagum atas apa yang dimiliki istrinya itu. Sementara Amran melanjutkan tugasnya, Serli tentu saja tak tinggal diam. Ia juga mulai mengerang, bahkan tak jarang ia juga harus meremas rambut suaminya itu ketika suaminya terlalu nakal di bawah sana. "Honey, aku sudah gak tahan," Ucap Amran, dengan suara yang berat. Saat itu, Serli bisa melihat dengan jelas bagaimana wajah suaminya itu yang sudah memerah, mata yang sudah sendu penuh gairah, serta entah sejak kapan tubuh suaminya itu ternyata sudah sangat polos. Polos? Ya seperti dirinya, tak ada yang tersisa sehelai benang pun di tubuh suaminya itu. Dan belum sempat Serli menjawabnya, Amran sudah lebih dulu menarik pinggulnya itu dan membenamkan senjatanya di bawah sana hingga Serli sempat mengerang kenikmatan. "Aaargh, honey. I love you, beib," Racau Amran yang masih memompa tubuh bagian bawahnya. Dan Serli tentu saja hanya bisa tersenyum manis. Apa yang sedang suaminya itu lakukan sekarang ini, nyatanya selalu terasa nikmat juga untuknya. "M-mas ssshhh," Desah Serli yang sudah bermandikan keringat. "Yes, beib aaaakkhhh... " Desah Amran yang sudah tak karuan. "Ak-u mau keluar aasrrggghhhh!!" **** "Kamu mau telur?" Tanya Amran yang kini tengah mengenakan celemek berwarna pink. Awalnya Serli hanya tertawa renyah, dan pandangannya jatuh ke bawah sana, tepatnya pada apa yang ada di balik celemek bagian bawah sana. Namun, Amran langsung melotot dengan spatula yang terangkat, seakan ia yang mau memukul Serli, istrinya itu dengan spatula tersebut. "Sudah cukup nakalnya, Sayang," Celetuk Amran yang dibarengi tawa Serli. "Oowh sh*t! Akal busukku ternyata terendus juga," Gelak Serli. Dan akibat perkataan itu Amran pun akhirnya ikut tergelak. Entah kenapa Serli yang selalu nakal dan lebih dominan dari padanya saat di tempat tidur, membuatnya selalu tertawa seperti sekarang ini. Ia kalah dari Serli. Itulah yang Amran pikirkan. "Ayolah sayang, apa kamu tidak capek? Kita bahkan sudah melakukannya tiga kali pagi ini!" Ucap Amran penuh penekanan. Namun, seperti yang sudah dibayangkan, Serli malah menggelengkan kepalanya cepat. "Jika itu denganmu, aku tidak pernah merasa capek." Dan lagi, Amran hanya tergelak di sana dengan tangan yang membawa piring yang sudah terisi nasi goreng dengan dua telur mata sapi setengah matang di atasnya. "Untuk kali ini, makanlah telur itu dulu." Ucap Amran dengan mengedipkan sebelah matanya, menggoda. Kali ini Serli lah yang tertawa. Ia benar - benar menyukai suaminya itu ketika ia sedang salah tingkah seperti ini. Menggemaskan sekali rasanya. "Baiklah," Ucap Serli yang mulai menyendokkan nasi goreng buatan suaminya itu ke dalam mulutnya. Amran yang masih dengan senyumnya kini mulai melepaskan celemek merah mudanya itu, dan melampirkannya di atas kursi makan. "Kamu mau berangkat sekarang?" Tanya Serli yang mulutnya masih penuh dengan nasi goreng. CUP Amran mengecup kening istrinya itu dengan lembut, "tentu, aku harus mencari uang agar istriku ini tidak tantrum ketika sedang meminta ice cream." Goda Amran lagi. Di situ, Serli sangat ingin tergelak. Kata ice cream yang dikatakan suaminya yang penuh penekanan itu, entah kenapa membuat otaknya traveling ke luar jalur. "Rencanamu apa hari ini?" Tanya Amran tiba-tiba. Serli sempat menghentikan kunyahannya, lalu menatap suaminya itu dengan genit. "Makan telur kamu," Tunjuk Serli pada dua buah telur yang sudah termakan separuhnya di atas piring. Mendengar hal itu, Amran hanya mengusap wajahnya dengan gemas. Ia gemas bukan main dengan ucapan istrinya itu. Jelas sekali jika Serli sedang menggoda dirinya. "Aku serius, 'sayang." Ucap Amran yang sudah sangat menyerah. Serli pun kembali tergelak. "Ok, ok. Aku mau ke butik, lalu siangnya aku akan pergi dengan teman-temanku," "Alisa?" Tebak Amran, penuh selidik. "Of course, siapa lagi?" Jawab Serli ringan. Amran pun mengangguk, lalu mulai mengambil jas hitam yang sudah siap bersama tas kerjanya yang ada di atas meja makan. "Ok, aku jemput nanti ketika makan siang, 'mau?" Tanya Amran yang sedang memakai jasnya itu. "Emh, kayanya gak dulu deh sayang. Soalnya aku ada janji bersama Alisa buat makan siang juga." Amran sempat menatap istrinya itu dengan tatapan kecewa. Ini adalah penolakan ajakan makan siangnya yang entah untuk ke sekian kalinya. "Apa kamu sesibuk itu?" Tanya Amran dengan nada yang terdengar kesal. Dan hal itu tentu saja disadari oleh Serli. "Ayolah sayang, bukankah kita sudah sepakat untuk tak saling mengontrol kesenangan kita masing-masing?" "I khow, but-" "Dan kamu juga setuju akan hal ini, 'kan? Karena hal ini jugalah salah satu alasanku kenapa aku mau menikah denganmu empat tahun lalu." Sela Serli, yang seakan tak membiarkan Amran untuk berbicara lebih. Amran sendiri, sebenarnya sangat ingin sekali untuk marah saat itu. Selama pernikahan mereka, hanya bisa di hitung jari mereka melakukan makan siang bersama. Tapi apalah daya, Serli tak hanya selalu dominan di tempat tidur saja, tapi juga di dalam rumah tangga. Ia yang selalu tak mau diatur ke mana pun ia pergi, apa yang ia mau, serta tak mau mencoba untuk mengerti suaminya itu, terkadang membuat Amran kesal bukan main. Namun, lagi, Amran bukan tipikal laki-laki yang mengekang juga. Motonya adalah jika apapun yang membuat Serli bahagia, ia akan selalu menurutinya. Se-cinta itu Amran terhadap istrinya hingga ia yang selalu mengalah, dan mengerti. "Ok, fine," Gumam Amran, "jadi, kapan kita bisa makan siang bersama?" Tanya Amran yang tak mau memperlebar masalah. "Emh," Gumam Serli, "gimana kalau besok?"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN